Get Started. It's Free
or sign up with your email address
Rocket clouds
BATU BARA by Mind Map: BATU BARA

1. Subbituminous merupakan batubara yang mengandung nilai kalori >8300 BTU/lb - <11500 BTU/lb. Terdiri atas beberapa grup, yaitu: 1. Subbituminous A ; Merupakan batubara dalam rank subbituminous yang mempunyai nilai kalori sebesar >10500 BTU/lb - <11500 BTU/lb (dalam keadaan dry). 2. Subbituminous B ; Merupakan batubara dalam rank subbituminous yang mempunyai nilai kalori sebesar >9500 BTU/lb - <10500 BTU/lb (dalam keadaan dry). 3. Subbituminous C ; Merupakan batubara dalam rank subbituminous yang mempunyai nilai kalori sebesar >8300 BTU/lb - <9500 BTU/lb (dalam keadaan dry). 1 BTU/lb = 2.326 kJ/kg 1 MJ/kg = 238.8 kcal/kg 1 MJ/kg = 430 BTU/lb MACHFUD PRIYO UTOMO, 10

2. Dampak Pembakaran Sub bituminus terhadap Lingkungan Pembakaran batubara sub-bituminous dapat menyebabkan emisi berbahaya yang meliputi partikulat (PM), sulfur oxides (SOx), nitrogen oxides (NOx), dan merkuri (Hg). Batubara sub-bituminous juga menghasilkan abu yang memiliki kadar alkali lebih tinggi dibanding abu batubara lainnya. Karakteristik ini dapat membantu mengurangi hujan asam yang disebabkan oleh emisi pembangkit listrik tenaga batu bara. Menambahkan batubara sub-bituminous ke batubara bituminous memperkenalkan produk samping alkali yang mengikat senyawa belerang yang dilepaskan oleh batubara bitumen, dan karena itu mengurangi pembentukan kabut asam. Sheila Asyifa 23

3. Teori ini mengatakan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan batubara. Terbentuknya ditempat di mana tumbuh-tumbuhan asal itu berada. Dengan demikian maka setelah tumbuhan tersebut mati, belum mengalami proses transportasi segera tertutup oleh lapisan sedimen dan mengalami proses coalification. Jenis batubara yang berbentuk dengan cara ini mempunyai penyebaran luas dan merata, kualitasnya lebih baik karena kadar abunya relatif kecil. Batubara yang terbentuk ini di Indonesia Salah satu SAWAHLUNTO, SUMATERA BARAT. IRFAN AFRINALDI S. (8)

4. Antrasit dianggap “non-clinkering” dan terbakar bebas, karena ketika dinyalakan batubara jenis ini tidak meng-“kokas” atau mengelembung / menyatu bersama. Partikulat, atau jelaga, dari pembakaran antrasit dapat dikurangi dengan konfigurasi tungku dan beban boiler yang tepat. Filter kain, electrostatic precipitators (ESP), dan scrubber dapat digunakan untuk mengurangi polusi partikulat dari boiler berbahan bakar antrasit. Antrasit yang dihaluskan sebelum dibakar menghasilkan partikel lebih banyak. (Praditya Firmansyah, 18)

5. Antrasit dianggap “non-clinkering” dan terbakar bebas, karena ketika dinyalakan batubara jenis ini tidak meng-“kokas” atau mengelembung / menyatu bersama. Partikulat, atau jelaga, dari pembakaran antrasit dapat dikurangi dengan konfigurasi tungku dan beban boiler yang tepat. Filter kain, electrostatic precipitators (ESP), dan scrubber dapat digunakan untuk mengurangi polusi partikulat dari boiler berbahan bakar antrasit. Antrasit yang dihaluskan sebelum dibakar menghasilkan partikel lebih banyak.

6. CONTOH DAERAH BATU BARA DENGAN TEORI DRIFT

7. GAMBUT

7.1. SEJARAH GAMBUT. Gambut adalah lahan basah yang terbentuk dari timbunan materi organik yang berasal dari sisa-sisa pohon, rerumputan, lumut, dan jasad hewan yang membusuk. Timbunan tersebut menumpuk selama ribuan tahun hingga membentuk endapan yang tebal. Pada umumnya, gambut ditemukan di area genangan air, seperti rawa, cekungan antara sungai, maupun daerah pesisir. Gambut terbentuk ketika bumi menghangat sekitar tahun 9.600 Sebelum Masehi. Gambut yang terbentuk pada sekitar tahun tersebut dikenal sebagai gambut pedalaman. Seiring meningkatnya permukaan laut, terbentuklah gambut di daerah delta (daratan sekitar sungai) dan pantai. Berbeda dengan gambut pedalaman, gambut di daerah ini mengandung kandungan mineral dari air sungai dan pantai akibat pasang surut air laut dan air sungai. MUHAMMAD RAIHAN ABIMANYU (ABSEN 15)

7.2. Sifat sifat gambut 1. Berpori 2. Material belum terkompaksi 3. Memiliki kadar air di atas 75% 4. Sangat mudah teroksidasi 5. Memiliki nilai kalori yang paling rendah. 6. Kandungan karbon kurang dari 60% (Marliyana absen 11)

7.3. Sifat Kimia Gambut Ketebalan horison organik, sifat subsoil dan frekuensi luapan air sungai mempengaruhi komposisi kimia gambut. Pada tanah gambut yang sering mendapat luapan, semakin banyak kandungan mineral tanah sehingga relatif lebih subur. Tanah gambut tropis mempunyai kandungan mineral yang rendah dengan kandungan bahan organik lebih dari 90%. Secara kimiawi gambut bereaksi masam (pH di bawah 4) . Gambut dangkal pH lebih tinggi (4,0-5,1), gambut dalam (3,1-3,9). Kandungan N total tinggi tetapi tidak tersedia bagi tanaman karena rasio C/N yang tinggi. Kandungan unsur mikro khususnya Cu, B dan Zn sangat rendah (Farhan Maulana Rahman / Absen 05)

8. LIGNITE

8.1. Lignit kadang-kadang disebut "brown coal," yang merupakan batubara berkualitas terendah batubara yang paling rapuh. Batubara ini lebih lembut, disebut batubara geologis "muda" dan berada relatif dekat dengan permukaan bumi. Karena tingginya relativitas berat terhadap jumlah panas, lignit biasanya digunakan dalam bentuk bubuk batubara untuk pembangkit listrik berbahan bakar batubara di dekat tambang. Kadar air pada lignit tinggi dan harus dikeringkan untuk mengurangi kadar air sera untuk meningkatkan nilai kalor bahan bakar. Proses pengeringan membutuhkan energi, tetapi dapat juga digunakan untuk mengurangi zat volatil dan belerang. (Galuh ineza Maulidya, 6)

8.2. Lignit memiliki nilai kalor sekitar 4.000 sampai 8.300 Btu per pound. ASTM D388 - 05 Standard Classification of Coals by Rank. Reynaldi Ziqri 22

8.3. Lignit atau Batubara coklat adalah Batubara dengan kandungan air berkisar 35-75% dari beratnya. (Muhammat Taufiq Hidayat 16)

9. BITUMINOUS

9.1. Bituminous, adalah jenis batubara yang lebih tinggi tingkatan kualitasnya. Mayoritas berwarna hitam, namun kadang masih ada yang berwarna coklat tua. Dinamakan bituminous dikarenakan adanya kandungan bitumen/aspal. Batubara jenis ini memiliki kandungan karbon sebanyak 60-80%, dan sisanya berupa air, udara, hidrogen, dan sulfur. (Ratri A : 21)

9.2. Batu Bata Bituminous Merupakan Rank batubara yang memiliki persentase fixed carbon sebesar <69% - <86% serta persentase kandungan volatile matter >32% - <22%. Terdiri atas beberapa grup, yaitu: 1. Low - Volatile Bituminous yang memiliki kandungan fixed carbon sebesar >78% - <86% dan persentase kandungan volatile matternya sebesar >14% - <22% (dalam keadaan dry). 2. Medium – Volatile Bituminous yang memiliki kandungan fixed carbon sebesar >69% - <78% dan persentase kandungan volatile matter sebesar >22% - <31% (dalam keadaan dry). Tio Hilmi A. - 26

9.3. Bituminus (C80OH5O15), merupakan kelas batubara yang memiliki kandungan kalori antara 5833 kcal/kg – 7777 kcal/kg, dengan unsur karbon (C) 68% – 86% dan kadar air 8% – 10% dari beratnya. Bituminous paling banyak ditambang di Australia hadaffa 07

10. ANTRACHITE

10.1. Rank Anthracitic Merupakan Rank batubara paling tinggi, merupakan batubara berkualitas paling baik dimana persentase kandungan fixed carbonnya berkisar 86% - 98%. Terdiri atas beberapa grup, yaitu: Meta – Anthracite ; Merupakan grup batubara pada rank anthracite yang memiliki kualitas paling baik, dimana kandungan fixed carbonnya bisa mencapai >98% serta persentase kandungan volatile matternya <2% (dalam keadaan dry). Anthracite ; Merupakan grup batubara pada rank anthracite yang mengandung persentase fixed carbon >92% - <98% serta persentase kandungan volatile matternya >2% - <8% (dalam keadaan dry). Semi – Anthracite ; Merupakan grup batubara pada rank anthracite yang mengandung persentase fixed carbon >86% - <92% serta persentase kandungan volatile matternya >9% - <14% (dalam keadaan dry). (Ody Trias S [17])

10.2. Antrasit Antrasit (C94OH3O3) dengan ciri : . kelas batu bara tertinggi . warna hitam berkilauan (luster) metalik · mengandung antara 86% - 98% unsur karbon (C) dengan kadar air kurang dari 8%. · Material terkompaksi dengan kuat · Mempunyai kandungan air rendah · Mempunyai kandungan karbon padat tinggi · Mempunyai kandungan karbon terbang rendah · Relatif sulit teroksidasi · Nilai panas yang dihasilkan tinggi. (sigit dwi prianto, no absen 24)

10.3. ANTRASIT Antrasit adalah batu bara yang tidak menghasilkan asap apabila dibakar, karena berkarbonisasi dengan sangat baik. Pembakaran berlangsung singkat dan tidak menghasilkan asap saat dibakar, karena sangat sedikitnya unsur yang mudah menguap, dengan 3-7% dari tingkat penguapan, dan kandungan karbon yang sangat tinggi, dengan kandungan 85-95%. Sangat keras, hitam, dan mempunyai kilap seperti logam tanggung: sulit terbakar, dan jika terbakar dengan nyala kecil Nilai kalorinya tertinggi 8000 kkal/kg. Meskipun tidak dibakar sampai titik pengapiannya 490 ℃, antrasit memiliki daya pemanasan yang sangat kuat, dan menghasilkan panas yang konstan selama dibakar. Hal ini sebagian besar dihasilkan pada zaman Paleozoikum, sedangkan beberapa batubara dari zaman Kenozoikum berubah menjadi antrasit karena metamorfosis yang dinamis atau panas disebabkan oleh perubahan bentuk (deformasi) kerak bumi atau batuan vulkanik secara terus menerus (Adin Mahendra, Absen 1)

11. KOKAS

11.1. KOKAS Kokas adalah bahan karbon padat yang berasal dari distilasi batubara, rendah abu dan rendah sulfur. Kokas batubara berwarna abu-abu, keras, dan berongga. Kokas sebenarnya dapat terbentuk secara alami, namun bentuk yang umum digunakan adalah buatan manusia. Ramdana 20 , Okss

11.2. Produksi Kokas Kandunagan volatil dari batubara -termasuk air, gas batubara, dan batu bara-tar- didorong keluar karena dipanggang dalam tungku atau oven pengap pada suhu setinggi 2.000 ° C (3.600 ° F) meskipun biasanya sekitar 1.000-1.100 ° C ( 1832-2012 ° F). Fasilitas paling modern oven kokas tetap menghasilkan "produk sampingan". Saat ini, hidrokarbon volatil juga dimanfaatkan, setelah pemurnian, dalam proses pembakaran yang terpisah untuk menghasilkan energi. Tungku kokas (oven) membakar gas hidrokarbon yang dihasilkan oleh proses pembuatan kokas mengakibatkan terjadinya proses karbonisasi. Batubara bitumen harus memenuhi seperangkat kriteria untuk digunakan sebagai kokas batubara, ditentukan oleh teknik uji batubara tertentu. Termasuk diantaranya kadar air, kadar abu, sulfur, kandungan volatil, tar, dan plastisitas. Pengujian ini ditargetkan untuk menghasilkan kokas dengan kekuatan yang sesuai (umumnya diukur oleh coke strength after reaction (CSR). Pengujian lainnya juga dipertimbangkan, termasuk untuk memastikan coke tidak menggelembung terlalu banyak selama produksi dan menghancurkan oven melalui tekanan dinding yang berlebihan. Semakin besar zat terbang (volatil) dalam batubara, semakin banyak byproduk diproduksi. Umumnya tingkat 26-29% zat terbang dalam campuran batubara dianggap baik untuk tujuan mendapatkan kokas. Jadi jenis batubara lain bisa dicampur secara proporsional untuk mencapai tingkat volatil yang dapat diterima sebelum proses produksi kokas dimulai. Kokas alami terbentuk ketika lapisan batubara dipotong oleh intrusi vulkanik. Gangguan ini memanaskan batubara di sekitarnya dalam suasana anoxic sehingga terbentuklah zona kokas (biasanya beberapa meter) di sepanjang gangguan itu. Namun, kokas alami sangat bervariasi dalam hal kekuatan dan kadar abunya, dan umumnya dianggap tidak dapat dijual kecuali dalam beberapa kasus sebagai produk termal. Thoha Rifai 25

11.3. Kokas merupakan produk yang terbesar tonasenya hasil destilasi batubara. Kebutuhan akan kokas bergantung pada kebutuhan akan baja. Kira-kira 98 persen produksi ter batubara didapat dari tanur hasil sampingan. Dewasa ini, dengan banyaknya aromatik yang dihasilkan industri migas, hasil utama distilasi batubara beralih menjadi penyediaan kokas untuk industri baja. Walaupun kokas dapat juga dibuat dari migas, ada dua macam prosedur pengkokasan batubara, yaitu proses sarang tawon (bee – hive) dan proses hasil samping (by – product). Proses sarang tawon merupakan proses yang sangat kuno. Pada tabor hasil sampingan, muatan berupa batubara, yang campurannya diatur dengan teliti, dipanaskan dari dua sisi sehingga kalor mengalir ke tengah, dengan demikian menghasilkan kokas yang lebih kecil dan lebih padat dari yang dihasilkan pada tanur sarang tawon Muhammad Egy Saputra (14).

12. ANALISA PROXIMATE

12.1. Tujuan coal proximate analysis adalah untuk menentukan jumlah fixed carbon (FC), volatile matters (VM), moisture dan ash di sampel batubara dalam satuan persen berat (wt. %) dan di kalkulasi dalam beberapa different bases seperti AR (as-received) basis, AD (air-dried) basis, DB (dry-basis), DAF (dry, ash free) basis dan DMMF (dry, mineral-matter-free) basis. Salah satu standar metode untuk coal proximate analysis adalah ASTM D3172-13 Standard Practice for Proximate Analysis of Coal and Coke. Metode ini dapat digunakan untuk menetapkan peringkat batubara, menunjukkan the ratio of combustible to incombustible constituents, memberikan dasar untuk membeli dan menjual, dan mengevaluasi untuk benefisiasi atau untuk tujuan lain. Selain itu ada juga ASTM D7582-12 Standard Test Methods for Proximate Analysis of Coal and Coke by Macro Thermogravimetric Analysis. Metode ini meliputi pengujian instrumen penentuan moisture, volatile matter, dan ash, dan perhitungan fixed carbon dalam analisis sampel batubara dan coke yang dipreparasi sesuai dengan D2013 dan D346. (Muhamad Reza Setiawan, 13)

13. ANALISA ULTIMATE

13.1. Analisa Ultimat (analisa elementer) adalah analisa dalam penentuan jumlah unsur Karbon (Carbon atau C), Hidrogen (Hydrogen atau H), Oksigen (Oxygen atau O), Nitrogen (Nytrogen atau N) dan Sulfur (Sulphur atau S). Christian Pasaribu_3

13.2. Prosedur analisis ultimat ini cukup ringkas, dengan memasukkan sampel karbon ke dalam alat dan hasil analisis akan muncul kemudian pada layar computer. Analisis ultimat untuk menentukan kadar karbon (C), hidrogen (H), nitrogen (N) menggunakan alat LECO CHN 2000 dengan teknik infra merah (IR) dan analisis sulfur memakai LECO SC 632 dengan teknik infra merah. Metode yang digunakan berdasarkan ASTM (American Society for Testing and Materials) - IRHAM FADHIL (9)

14. CONTOH DAERAH BATU BARA DENGAN TEORI IN SITU

14.1. Tanjungenim, Sumatera Selatan wilayah Sumatera Selatan juga terkenal dengan pertambangan batu baranya. Pertambangan ini terdapat di bukit Asam. Per jamnya, pertambangan ini bisa memproduksi 1.500 sampai dengan 1.700 ton batu. Pertambangan batu bara di Sumsel ini sudah ada sejak tahun 1919 ketika zaman kolonial Belanda. Setelah penjajahan Belanda berakhir, pemerintah di tahun 1950 meresmikan pembentukan sebuah perusahaan pertambangan negara yang dikenal dengan nama PN TABA. ( RAKHA : 19)