Prinsip & Praktik Ekonomi Islam

Track your sales prospects right from the first qualification call

Get Started. It's Free
or sign up with your email address
Rocket clouds
Prinsip & Praktik Ekonomi Islam by Mind Map: Prinsip & Praktik Ekonomi Islam

1. Syirkah & Perbankan

1.1. Syirkah

1.1.1. Pengertian

1.1.1.1. Secara bahasa, kata syirkah (perseroan) berarti mencampurkan dua bagian atau lebih sehingga tidak dapat lagi dibedakan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya.

1.1.1.2. Secara istilah, syirkah adalah suatu akad yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih yang bersepakat untuk melakukan suatu usaha dengan tujuan memperoleh keuntungan.

1.1.2. Rukun & Syarat Syirkah

1.1.2.1. 1) Dua belah pihak yang berakad (‘aqidani).

1.1.2.2. 2) Objek akad yang disebut juga ma’qud ‘alaihi mencakup pekerjaan atau modal.

1.1.2.3. 3) Akad atau yang disebut juga dengan istilah ṡigat.

1.1.3. Macam-Macam Syirkah

1.1.3.1. Syirkah Inan

1.1.3.1.1. Syirkah ‘inān adalah syirkah antara dua pihak atau lebih yang masing- masing memberi kontribusi kerja (amal) dan modal (mal). Syirkah ini hukumnya boleh berdasarkan dalil sunah dan ijma’ sahabat.

1.1.3.2. Syirkah ‘Abdān

1.1.3.2.1. Syirkah ‘abdān adalah syirkah antara dua pihak atau lebih yang masing-masing hanya memberikan kontribusi kerja (amal), tanpa kontribusi modal (amal). Syirkah ini juga disebut syirkah ‘amal.

1.1.3.3. Syirkah Wujuh

1.1.3.3.1. Syirkah wujūh adalah kerja sama karena didasarkan pada kedudukan, ketokohan, atau keahlian (wujuh) seseorang di tengah masyarakat

1.1.3.4. Syirkah Mufawadah

1.1.3.4.1. Syirkah mufāwaḍah adalah syirkah antara dua pihak atau lebih yang menggabungkan semua jenis syirkah di atas.

1.1.3.5. Mudarabah

1.1.3.5.1. Muḍārabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak, di mana pihak pertama menyediakan semua modal (ṡāhibul māl), pihak lainnya menjadi pengelola atau pengusaha (muḍarrib).

1.1.3.6. Musāqah, Muzāra’ah, dan Mukhābarah

1.1.3.6.1. Musāqah adalah kerja sama antara pemilik kebun dan petani di mana sang pemilik kebun menyerahkan kepada petani agar dipelihara dan hasil panennya nanti akan dibagi dua menurut persentase yang ditentukan pada waktu akad.

1.1.3.6.2. Muzāra’ah adalah kerja sama dalam bidang pertanian antara pemilik lahan dan petani penggarap di mana benih tanamannya berasal dari petani.

1.1.3.6.3. Mukhābarah ialah kerja sama dalam bidang pertanian antara pemilik lahan dan petani penggarap di mana benih tanamannya berasal dari pemilik lahan.

1.2. Perbankan

1.2.1. Pengertian

1.2.1.1. Bank adalah sebuah lembaga keuangan yang bergerak dalam menghimpun dana masyarakat dan disalurkannya kembali dengan menggunakan sistem bunga.

1.2.2. Macam-Macam Bank

1.2.2.1. a. Bank Konvensional

1.2.2.1.1. Bank konvensional ialah bank yang fungsi utamanya menghimpun dana untuk disalurkan kepada yang memerlukan, baik perorangan maupunbadan usaha, guna mengembangkan usahanya dengan menggunakan sistem bunga.

1.2.2.2. b. Bank Islam atau Bank Syari’ah

1.2.2.2.1. Bank Islam atau bank syari’ah ialah bank yang menjalankan operasinya menurut syariat Islam.

1.2.2.2.2. Cara Bersih dari Riba

2. Macam-Macam Mu'amalah

2.1. Jual-Beli

2.1.1. Jual-beli menurut syariat agama ialah kesepakatan tukar-menukar benda untuk memiliki benda tersebut selamanya.

2.1.2. Rukun & Syarat Jual-Beli

2.1.2.1. 1) Penjual dan pembelinya haruslah: a) ballig, b) berakal sehat, c) atas kehendak sendiri.

2.1.2.2. 2) Uang dan barangnya haruslah: a) halal dan suci. b) bermanfaat. c) Keadaan barang dapat diserahterimakan. d) Keadaan barang diketahui oleh penjual dan pembeli. e) Milik sendiri.

2.1.2.3. 3) Ijab Qobul

2.1.3. Khiyar

2.1.3.1. Khiyār adalah bebas memutuskan antara meneruskan jual-beli atau membatalkannya. Islam memperbolehkan melakukan khiyār karena jual-beli haruslah berdasarkan suka sama suka, tanpa ada unsur paksaan sedikit pun.

2.1.3.2. Macam-Macam Khiyar

2.1.3.2.1. a) Khiyār Majelis, adalah selama penjual dan pembeli masih berada di tempat berlangsungnya transaksi/tawar-menawar, keduanya berhak memutuskan meneruskan atau membatalkan jual-beli.

2.1.3.2.2. b) Khiyār Syarat, adalah khiyar yang dijadikan syarat dalam jual-beli.

2.1.3.2.3. c) Khiyār Aibi (cacat), adalah pembeli boleh mengembalikan barang yang dibelinya jika terdapat cacat yang dapat mengurangi kualitas atau nilai barang tersebut, namun hendaknya dilakukan sesegera mungkin.

2.1.4. Riba

2.1.4.1. Ribā adalah bunga uang atau nilai lebih atas penukaran barang. Hal ini sering terjadi dalam pertukaran bahan makanan, perak, emas, dan pinjam-meminjam.

2.1.4.2. Guna Menghindari Riba

2.1.4.2.1. Untuk menghindari riba ditetapkan syarat: a) sama timbangan ukurannya; atau b) dilakukan serah terima saat itu juga, c) secara tunai.

2.1.4.3. Macam-Macam Riba

2.1.4.3.1. a) Ribā Faḍli, adalah pertukaran barang sejenis yang tidak sama timbangannya.

2.1.4.3.2. b) Ribā Qorḍi, adalah pinjammeminjam dengan syarat harus memberi kelebihan saat mengembalikannya.

2.1.4.3.3. c) Ribā Yādi, adalah akad jual-beli barang sejenis dan sama timbangannya, namun penjual dan pembeli berpisah sebelum melakukan serah terima.

2.1.4.3.4. d) RibāNas³’ah, adalah akad jual-beli dengan penyerahan barang beberapa waktu kemudian.

2.2. Utang-Piutang

2.2.1. Utang-piutang adalah menyerahkan harta dan benda kepada seseorang dengan catatan akan dikembalikan pada waktu kemudian.

2.2.2. Rukun Utang-Piutang

2.2.2.1. Rukun utang-piutang ada tiga, yaitu: 1) yang berpiutang dan yang berutang 2) ada harta atau barang 3) Lafadz kesepakatan.

2.3. Sewa-Menyewa

2.3.1. Sewa-menyewa dalam fiqih Islam disebut ijārah, artinya imbalan yang harus diterima oleh seseorang atas jasa yang diberikannya.

2.3.2. Syarat & Rukun Sewa-Menyewa

2.3.2.1. 1) Yang menyewakan dan yang menyewa haruslah telah ballig dan berakal sehat.

2.3.2.2. 2) Sewa-menyewa dilangsungkan atas kemauan masing-masing, bukan karena dipaksa.

2.3.2.3. 3) Barang tersebut menjadi hak sepenuhnya orang yang menyewakan, atau walinya.

2.3.2.4. 4) Ditentukan barangnya serta keadaan dan sifat-sifatnya.

2.3.2.5. 5) Manfaat yang akan diambil dari barang tersebut harus diketahui secara jelas oleh kedua belah pihak.

2.3.2.6. 6) Berapa lama memanfaatkan barang tersebut harus disebutkan dengan jelas.

2.3.2.7. 7) Harga sewa dan cara pembayarannya juga harus ditentukan dengan jelas serta disepakati bersama.

2.3.2.7.1. haruslah diketahui secara jelas dan disepakati bersama sebelumnya hal-hal berikut. 1) Jenis pekerjaan dan jam kerjanya. 2) Berapa lama masa kerja. 3) Berapa gaji dan bagaimana sistem pembayarannya: harian, bulanan, mingguan ataukah borongan? 4) Tunjangan-tunjangan seperti transpor, kesehatan, dan lain-lain, kalau ada.

3. Mu'amalah

3.1. Pengertian

3.1.1. Dalam KBBI Mu'amalah artinya adalah hal-hal yang termasuk urusan kemasyarakatan.

3.1.2. Dalam Ilmu Fiqih Islam Muamalah artinya tukarmenukar barang atau sesuatu yang memberi manfaat dengan cara yang ditempuhnya.

3.2. Larangan

3.2.1. Dalam transaksi ekonomi, Islam melarang beberapa hal di antaranya seperti berikut. 1. Tidak boleh mempergunakan cara-cara yang batil. 2. Tidak boleh melakukan kegiatan riba. 3. Tidak boleh dengan cara-cara ẓāl³m (aniaya). 4. Tidak boleh mempermainkan takaran, timbangan, kualitas, dan kehalalan. 5. Tidak boleh dengan cara-cara spekulasi/berjudi. 6. Tidak boleh melakukan transaksi jual-beli barang haram.

4. Asuransi Syariah

4.1. Pengertian

4.1.1. Asuransi berasal dari bahasa Belanda, assurantie yang artinya pertanggungan.

4.1.2. Dalam bahasa Arab dikenal dengan at-Ta’min yang berarti pertanggungan, perlindungan, keamanan, ketenangan atau bebas dari perasaan takut.