Lafadz Dilihat dari Jelas dan Tidaknya Dalalah

Get Started. It's Free
or sign up with your email address
Rocket clouds
Lafadz Dilihat dari Jelas dan Tidaknya Dalalah by Mind Map: Lafadz Dilihat dari Jelas dan Tidaknya Dalalah

1. Lafadz dengan Dilalah yang Jelas

1.1. Zhahir

1.1.1. Pengertian

1.1.1.1. Bahasa

1.1.1.1.1. Zhahir berarti sesuatu yang jelas , kebalikan dari samar

1.1.1.2. Istilah

1.1.1.2.1. Menurut Al - Sarkhisi , Zahir adalah Sesuatu yang dapat diketahui maksudnya dari pendengaran itu sendiri tanpa harus dipikirkan terlebih dahulu

1.1.1.2.2. Menurut Al - Bazdawi , Zahir adalah suatu nama bagi seluruh perkataan yang jelas maksudnya bagi pendengar, melalui bentuk lafazh itu sendiri

1.1.1.2.3. Menurut Muhammad Adib, Zahir adalah suatu lafazh yang menunujukkan suatu makna dengan rumusan lafash itu sendiri tanpa menunggu qarinah yang ada di luar lafazh itu sendiri , namun mempunyai kemungkinan di takshis , di takwil, dan nasakh

1.1.2. Contoh

1.1.2.1. HR.Bukhari صَلُّوْ ا كَمَارَاَ يْتُمُونِى اُصَلِّىْ "Salatlah seperti kamu lihat aku melakukan shalat" Apabila lafal mujmal mendapat penjelasan dari syara’ tetapi tidak secara sempurna dan pasti maka masih perlu ijtihad untuk menjelaskannya. Jika demikian yang terjadi, mujmal menjadi musykil, sehingga untuk mujmal yang semacam ini diberlakukan ketentuan pada musykil

1.2. Nash

1.2.1. Pengertian

1.2.1.1. Bahasa

1.2.1.1.1. Menurut bahasa Nash adalah raf’u asy-syai’ atau munculnya segala sesuatu yang tampak.

1.2.1.2. Istilah

1.2.1.2.1. Menurut ulama Hanafiyah, Nash adalahLafazh yang dengan sighatnya sendiri menunjukkan makna yang dimaksud secara langsung menurut apa yang diungkapkan, dan ada kemungkinan ditakwilkan

1.2.1.2.2. Menurut ulama syafi'Iyah, Nash adalah lafal yang menunjukkan kepada sesuatu pengertian yang tidak menerima makna yang lain

1.2.1.2.3. Menurut Ad-Dabusi, Nash adalah suatu lafazh yang maknanya lebih jelas daripada zhahir bila ia dibandingkan dengan lafaszh zhahir

1.2.1.2.4. Menurut Al- Bazdawi, Nash adalah lafazh yang lebih jelas maknanya daripada makna lafazh zhahir yang diambil dari si pembicaranya bukan dari rumusan bahasa itu sendiri

1.2.2. Contoh

1.2.2.1. QS. Al-Baqarah (2) ayat 275: وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا “Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” Secara nash, ayat tersebut bertujuan untuk menyatakan perbedaan nyata antara jual beli dengan riba sebagai sanggahan terhadap pendapat orang yang menganggapnya sama. Hal ini dapat dipahami dari ungkapan keseluruhan ayat tersebut. Meskipun maksud ayat ini sudah sangat jelas, namun dari ayat ini dapat pula dipahami maksud lain, yaitu halalnya hukum jual beli dan haramnya hukum riba.Pemahaman ini disebut pemahaman secara zhahir.

1.3. Mufassar

1.3.1. Pengertian

1.3.1.1. Bahasa

1.3.1.1.1. Menurut bahasan Mufassar yakni menyingkap, atau sesuatu yang sudah tersingkap

1.3.1.2. Istilah

1.3.1.2.1. Menurut Al-Uddah, Mufassar adalah Sesuatu lafaz yang dapat diketahui maknanya dari lafaznya sendiri tanpa memerlukan qarinah yang menafsirkannya

1.3.1.2.2. Menurut As-Sarakhsi, Mufassar adalah Suatu nama untuk sesuatu yang terbuka dan dapat diketahui maksudnya dengan jelas serta tidak ada kemungkinan di takwil

1.3.2. Macam - macam Mufassar

1.3.2.1. 1. Menurut asalnya, lafaz itu memang sudah jelas dan terinci sehingga tidak perlu penjelasan lebih lanjut

1.3.2.1.1. Contoh : QS. An-Nur (24) ayat 4 : وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ " Dan orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang baik (berzina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka delapan puluh kali, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka untuk selama-lamanya. Mereka itulah orang-orang yang fasik" Bilangan yang ditetapkan dalam ayat ini jelas dan terurai yaitu delapan puluh kali dera, tidak ada kemungkinan untuk dipahami dengan lebih atau kurang dari bilangan itu

1.3.2.2. 2. Asalnya lafaz itu belum jelas (ijmal) dan memberikan kemungkinan beberapa pemahaman artinya. Kemudian datang dalil lain yang menjelaskan artinya sehingga ia menjadi jelas. Lafaz seperti itu, juga disebut dengan “mubayyan”.

1.3.2.2.1. Contoh : QS. An-Nisa (4) ayat 92: وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ إِلَّا أَنْ يَصَّدَّقُوا "Dan Barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu).” Ayat ini menyangkut keharusan menyerahkan diyat kepada keluarga korban, tetapi tidak dijelaskan mengenai jumlah, bentuk, dan macam diyat yang harus diserahkan itu. Sesudah turun ayat ini datang penjelasan dari Nabi dalam sunnah yang merinci keadaan dan cara membayar diyat itu sehingga ayat di atas menjadi terinci dan jelas artinya.

1.3.3. Contoh

1.3.3.1. QS. al-Nur : 4 وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاء فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً  “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera”. Lafazh ثَمَانِينَ  yang berarti 80, sama sekali tidak membutuhkan takwil, karena merupakan kata bilangan yang sudah tetap, tidak perlu ditambah atau dikurangani.

1.4. Muhkam

1.4.1. Pengertian

1.4.1.1. Bahasa

1.4.1.1.1. Muhkam menurut bahasa diambil dari kata ahkama , yang berarti atqama yaitu pasti dan tegas.

1.4.1.2. Istilah

1.4.1.2.1. Menurut Syaikh Abu Zahrah, muhkam ialah suatu lafal yang menunjukkan kepada pengertian yang jelas dengan tidak menerima takwil dan takhshis

1.4.1.2.2. New Topic

1.4.2. Contoh

1.4.3. Macam - macam Muhkam

1.4.3.1. 1.Muhkam lizhatihi atau muhkam dengan sendirinya bila tidak ada kemungkinan untuk pembatalan atau nasakh itu disebabkan oleh nash (teks) itu sendiri. Tidak mungkin nasakh muncul dari lafaz-nya dan diikuti pula oleh penjelasan bahwa hukum dalam lafaz itu tidak mungkin di-nasakh

1.4.3.2. 2. Muhkam lighairihi atau Muhkam karena faktor luar bila tidak didapatnya lafaz itu dinaskh bukan karena nash atau teksnya itu sendiri tetapi karena tidak ada nash menasakhnya. Lafaz dalam bentuk ini dalam istilah ushul disebut lafaz yang qath'i penunjukannya terhadap hukum

2. Lafadz yang Tidak Jelas Dalalahnya

2.1. Khafi

2.1.1. Pengertian

2.1.1.1. Bahasa

2.1.1.1.1. khafi menurut bahasa adalah tidak jelas atau tersembunyi.

2.1.1.2. Istilah

2.1.1.2.1. Menurut Adib Salih adalah suatu lafal zhahir yang jelas maknanya, tetapi lafal tersebut menjadi tidak jelas karena ada hal baru yang mengubahnya, sehingga untuk mengatasinya tidak ada jalan lain, kecuali dengan penelitian yang mendalam.

2.1.1.2.2. Menurut Prof. Dr. Abdul Wahhab Khallaf, khafi adalah lafal yang dari segi penujukannya kepada makna adalah jelas, namun ketidakjelasan timbul ketika menerapkan pengertian itu kepada kasus tertentu. Ketidakjelasan itu disebabkan karena bentuk kasus itu tidak persis sama dengan kasus yang ditunjukan oleh suatu dalil.

2.1.2. Contoh

2.1.2.1. Surat al-Mâidah ayat 38 : وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ Artinya : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

2.1.2.1.1. Dalam ayat tersebut secara umum pengertian pencuri cukup jelas, yaitu orang yang mengambil harta orang lain secara sembunyi dari tempat penyimpanan yang layak baginya. Ketidak jelasan timbul ketika menerapkan ayat itu kepada tukang copet yang secara lihai bisa memanfaatkan kelalaian seseorang untuk menguras hartanya apakah termasuk kedalam pengertian pencuri atau tidak? Untuk mencari jawabannya adalah dengan jalan ijtihad, dengan meneliti apakah pengertian itu termasuk ke dalam pengertian ayat sesuai dengan dengan cara suatu lafal menunjukkan suatu pengertian

2.2. Musykil

2.2.1. Pengertian

2.2.1.1. Bahasa

2.2.1.1.1. sulit atau sesuatu yang tidak jelas perbedaannya

2.2.1.2. Istilah

2.2.1.2.1. Menurut istilah ulama ushul adalah lafaz yang bentuknya itu tidak dapat menunjukkan kepada artinya, bahkan harus ada qorinah (petunjuk) dari luar yang dapat menjelaskan apa yang dimaksud daripadanya.

2.2.1.2.2. musykil adalah suatu lafal yang tidak jelas maksudnya karena ada unsur kerumitan, sehingga untuk mengetahui maksudnya diperlukan ada indikator tertentu untuk dapat menjelaskan kerumitan itu, dengan jalan pembahasan dan pemikiran yang mendalam

2.2.2. Contoh

2.2.2.1. Lafal quru’ (jamak dari qur’un) dalam ayat 228 surat al-baqarah: Kata quru dalam ayat tersebut dalam pemakaian bahasa arab bisa berarti masa suci dan bisa pula berarti masa haid. Imam syafii mengartikannya dengan masa suci, sedangkan Abu Hanifah mengartikannya dengan masa haid. Masing-masing mengambil kesimpulan yang berbeda itu didasarkan kepada qarinah atau dalil dari luar yang berbeda pula. Begitulah setiap lafal musykil dalam al-quran dan sunnah, untuk memahaminya memerlukan upaya ijtihad dalam mencari tanda-tanda atau dalil-dalil yang membantu untuk memperjelas pengertiannya.

2.3. Mujmal

2.3.1. Pengertian

2.3.1.1. Bahasa

2.3.1.1.1. Secara bahasa Mujmal berarti samar

2.3.1.2. Istilah

2.3.1.2.1. Menurut Imam Sarakhasi, mujmal adalah suatu lafal yang tidak dapat dipahami maksudnya kecuali ada penjelasan dari yang menegeluarkan lafal mujmal itu dan melalui penjelasannnya diketahui makasud lafal tersebut

2.3.1.2.2. Menurut Wahbah al-zuhaili, mujmal adalah lafal yang sulit dipahami maksudnya kecuali melalui penjelasan dari mutakallim (orang yang mengucapkan).

2.3.1.2.3. Menurut Jalaluddun Abd.Rahman, mujmal adalah lafal yang dalalahnya tidak jelas

2.3.2. Contoh

2.3.2.1. QS.Al-Baqarah:43 وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ “Dan laksanakanlah shalat…" Apabila terhadap lafal mujmal itu mendapat penjelasan dari syara’ secara sempurna maka mujmal menjadi mufassar. Ayat diatas dijelaskan melalui hadis Nabi Muhammad saw. Baik dengan perkataan maupun perbuatan yang menjelaskan detail-detailnya, mengenai rukun, syarat, dan caranya.

2.3.2.2. HR.Bukhari صَلُّوْ ا كَمَارَاَ يْتُمُونِى اُصَلِّىْ "Salatlah seperti kamu lihat aku melakukan shalat" Apabila lafal mujmal mendapat penjelasan dari syara’ tetapi tidak secara sempurna dan pasti maka masih perlu ijtihad untuk menjelaskannya. Jika demikian yang terjadi, mujmal menjadi musykil, sehingga untuk mujmal yang semacam ini diberlakukan ketentuan pada musykil

2.4. Mutasyabih

2.4.1. Pengertian

2.4.1.1. Bahasa

2.4.1.1.1. sesuatu yang mempunyai kemiripan dan atau simpang siur.

2.4.1.2. Istilah

2.4.1.2.1. mutsyabih adalah lafal yang tidak jelas artinya dan mengandung simpang siur serta tidak ditemukan indikator-indikator yang menentukan atau mendekati makna yang dimaksud lafal tersebut dan tidak ada pula penjelasan dari yang mengeluarkan lafal tersebut

2.4.2. Contoh

2.4.2.1. Bentuk huruf-huruf terpotong-potong yang biasa terletak di awal surah. Misalnya alif, lam, mim yang terletak di awal surah Al-Baqarah.