Harta dalam islam dengan metode tafsir maudhu’i

Get Started. It's Free
or sign up with your email address
Harta dalam islam dengan metode tafsir maudhu’i by Mind Map: Harta dalam islam dengan metode tafsir maudhu’i

1. Larangan Memakan Hatta Orang Lain secara Bathil (tidak Benar)'. Tafsir Q.S. al-Baqarah: 188

1.1. Dalam TesfirJaldlain disebutkan bahwa asbdb an-nuzul ayat ini adalah seperti yang diketengahkan oleh Ibn Abi Hatim dan Sa'id ibn Jubair, katanya "'Umru al-Qais ibn 'Abis dan 'Abdan ibn Asywa' al­ Hadhrami terlibat dalam salah satu pertikaian mengenai tanah mereka, hingga 'Umru al-Qais ibn 'Abis dan 'Abdan ibn Asywa' al­ Hadhrami terlibat dalam salah satu pertikaian mengenai tanah mereka, hingga 'Umru al-Qais hendak mengucapkan sumpahnya dalam hal itu maka mengenai dirinya turunlah ayat ini

2. Harta sebagai Fitnah (Ujian) bagi Manusia: Tafsir Q.S. al­ Baqarah: 155

2.1. Ayat ini menyebutkan mengenai harta sebagai salah satu ujian bagi manusia, Allah memberikan karunia-Nya berupa harta, tidak hanya sebagai anugerah namun juga sebagai bald' (ujian), untuk mengetahui apakah hamba-Nya termasuk orang-orang yang bersyukur atau termasuk orang yang kufiir.

3. Harta sebagai Sarana Berbuat Kebajikan: Tafsir Q.S. al­ Baqarah: 195

3.1. Imam Ibn Katsir membawakan perkataan Imam Bukhari clalam menafsirkan ayat ini, katanya bahwa ayat ini turun berkenaan clengan masalah nafkah.23 Sementara clalam Tafsir Jaldlain disebutkan riwayat clari Abu Dawucl clan TirmidzI yang dinyatakan sah riwayatnya oleh Ibn Hibban, Hakim clan lain-lain, dari Abu Ayyub al-Anshan, bahwa "ayat ini diturunkan kepada kita clari golongan Anshar, yaitu tatkala Allah menjadikan Islam sebagai agama yang jaya hingga para penyokongnya tidak sedikit jumlahnya, berkatalah sebagian kita pacla yang lain secara rahasia bahwa harta benda kita telah habis dan Allah telah mengangkat agama kita menjadi jaya maka kita harus menjaganya! Dan turunlah ayat ini

4. Harta Sebagai Sarana Betjihad di jalan Allah: Tafsir Q.S. at­ Taubah: 20

4.1. Asbdb an-Nuzul clari ayat ke-20 surat at-Taubah ini adalah lanjutan dari ayat sebelumnya di mana disebutkan bahwa Imam Abu Hatim telah membawakan sebuah dtsar melalui jalur periwayatan 'Ali bin Abu Thalhah clari Ibn 'Abbas yang telah menceritakan, bahwa ayahnya yang bernama al-'Abbas sewaktu ditawan kaum muslimin pacla saat perang Badr mengatakan, "Jika kalian telah mendahului kami dalam masuk Islam, berhijrah clan berjihacl, sesungguhnya kami (telah menclahului kalian) clalam hal memakmurkan Masjicl Al-Haram, memberi minum jamaah haji clan menyantuni orang-orang miskin." Maka turunlah firman-Nya, "Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepacla orang-orang yang mengerjakan haji.