STROKE HEMORAGIK

Get Started. It's Free
or sign up with your email address
STROKE HEMORAGIK by Mind Map: STROKE HEMORAGIK

1. Pengertian

1.1. Stroke hemoragik adalah disfungsi neurologi fokal akut yang disebabkan oleh perdarahan primer substansi otak yang terjadi secara spontan bukan karena trauma kapitis melainkan pecahnya pembuluh arteri, vena dan kapiler. Perdarahan otak dibagi dua (Wijaya & Putri, 2013 dalam Lestari, 2017)

2. Etiologi

2.1. Terhalangnya suplai darah ke otak pada stroke perdarahan (stroke hemoragik) disebabkan oleh arteri yang mensuplai darah ke otak pecah. Penyebabnya misalnya tekanan darah yang mendadak tinggi dan atau oleh stress psikis berat. Peningkatan tekanan darah yang mendadak tinggi juga dapat disebabkan oleh trauma kepala atau peningkatan tekanan lainnya, seperti mengedan, batuk keras, mengangkat beban, dan sebagainya. Pembuluh darah pecah umumnya karena arteri tersebut berdinding tipis berbentuk balon yang disebut aneurisma atau arteri yang lecet bekas plak aterosklerotik (Junaidi, 2011).

3. Tanda dan Gejala

3.1. Kelumpuhan wajah atau anggota badan sebelah (hemiparise) atau hemiplegia (paralisis) yang timbul secara mendadak.

3.2. Gangguan sensibilitas pada satu atau lebih anggota badan

3.3. Penurunan kesadaran (konfusi, delirium, letargi, stupor, atau koma), terjadi akibat perdarahan, kerusakan otak kemudian menekan batang otak atau terjadinya gangguan metabolik otak akibat hipoksia

3.4. Afasia (kesulitan dalam bicara)

3.5. Disatri (bicara cedel atau pelo)

3.6. Gangguan penglihatan, diplopia

3.7. Disfagia

3.8. Inkontinensia

3.9. Vertigo, mual, muntah, nyeri kepala, terjadi karena peningkatan tekanan intrakranial, edema serebri

4. Komplikasi

4.1. Gangguan Komunikasi

4.2. Kesulitan Menelan

4.3. Inkontinensia

4.4. Luka Tekan

5. Pemeriksaan Penunjang

5.1. Laboratorium

5.1.1. Pemeriksaan darah lengkap

5.1.2. Test darah koagulasi

5.1.3. Test kimia darah

5.2. Radiologi

5.2.1. CT Scan (Computed Tomography Scan)

5.2.2. MRI (Magnetic Resonance Imaging)

5.2.3. Angiogram

5.2.4. Ekokardiogram

5.2.5. Lumbal Puncture atau Fungsi Lumbal

5.2.6. Ultrasonografi Doppler

5.2.7. EEG (Electro ensefalography)

6. Pengkajian

6.1. Identitas Klien

6.2. Riwayat Keperawatan

6.2.1. Keluhan Utama

6.2.1.1. Alasan klien untuk meminta pertolongan tenaga kesehatan, biasanya yang terjadi pada penderita stroke ialah kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara pelo, tidak dapat berkomunikasi dan penurunan tingkat kesadaran.

6.2.2. Riwayat Kesehatan Sekarang

6.2.2.1. Kehilangan komunikasi

6.2.2.2. Gangguan persepsi

6.2.2.3. Kehilangan motorik

6.2.2.4. Adanya kesulitan dalam aktifitas karena kelemahan, atau paralisis (hemiplegia), merasa mudah lelah.

6.2.3. Riwayat Kesehatan Dahulu

6.2.4. Riwayat Kesehatan Keluarga

6.3. Pengkajian Fokus B6

6.3.1. B1 Breathing

6.3.2. B2 (Blood/sirkulasi)

6.3.3. B3 (Brain/persarafan otak)

6.3.4. B4 (Bladder/Perkemihan)

6.3.5. B5 (Bowel/Pencernaan)

6.3.6. B6 (Bone/Tulang dan integumen)

6.4. Pemeriksaan Fisik

6.4.1. Tanda-Tanda Vital

6.4.2. Status Gizi : BB dan TB

6.4.3. Pemeriksaan Head to Toe

6.5. Pemeriksaan Neurologis

6.5.1. N I (Nervus olfaktorius)

6.5.2. N II (Nervus optikus)

6.5.3. N III (Nervus troklear)

6.5.4. N IV & VI (Nervus okulomotorius dan nervus abducens)

6.5.5. N V (Nervus Trigeminus )

6.5.6. N VII (Nervus fasialis )

6.5.7. N VIII (Nervus Vestibulocochlearis)

6.5.8. N IX & X (Nervus glosofaringius dan Nervus Vagus)

6.5.9. N XI (Nervus Aksesorius)

6.5.10. N XII (Nervus Hipoglosus)

7. Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul

7.1. Ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral b.d peningkatan TIK

7.2. Hambatan mobilitas fisik b.d hemiparase/hemiplegia

7.3. Kerusakan komunikasi verbal b.d disartria, disfasia/afasia

7.4. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d peningkatan sekret, kemampuan batuk menurun/batuk efektif

7.5. Gangguan persepsi sensori b.d disfungsi persepsi visual spasial dan kehilangan sensori.

7.6. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan menelan/reflek menelan turun.

7.7. Gangguan eliminasi alvi dan urin b.d disfungsi kandung kemih dan saluran cerna/inkontinensia

7.8. Resiko dekubitus b.d faktor mekanik, hambatan mobilitas fisik, tirah baring dan suhu lingkungan ekstrem

7.9. Resiko jatuh b.d keterbatasan mobilitas fisik

8. Intervensi Keperawatan

8.1. Monitor TIK

8.1.1. Monitor neurologi

8.1.1.1. Monitor tanda-tanda vital

8.1.1.1.1. Pengaturan hemodinamik

8.2. Peningkatan mekanika tubuh

8.2.1. Terapi latihan: Ambulasi

8.3. Peningkatan komunikasi: Kurang bicara

8.4. Manajemen jalan napas

8.5. Manajemen nutrisi

8.5.1. Manajemen gangguan makan

8.5.1.1. Manajemen elektolit/cairan

8.6. Perawatan inkontenisa urine dan alvi

8.7. Pengecekan kulit

8.7.1. Pengaturan posisi

8.7.1.1. Pencegahan luka tekan

8.7.1.1.1. Manajemen tekanan

8.8. Kontrol infeksi

9. Evaluasi Keperawatan

9.1. Evaluasi keperawatan dilakukan dalam bentuk pendekatan SOAP