KEBUTUHAN KHUSUS BERBASIS KECERDASAN

Get Started. It's Free
or sign up with your email address
KEBUTUHAN KHUSUS BERBASIS KECERDASAN by Mind Map: KEBUTUHAN KHUSUS BERBASIS KECERDASAN

1. INTELLECTUAL DISABILITY

1.1. Definisi Intelectual disability merupakan keterbatasan fungsi dan perilaku adaptif yang signifikan seperti keterampilan adaptif konseptual, sosial, dan praktis. Disabilitas ini biasanya terjadi sebelum usia 18 (Schalock et al.,2010, p. 1) dalam (Schalock,2019)

1.1.1. FAKTOR

1.1.1.1. PRENATAL Biomedis : gangguan kromosom, gangguan metabolisme, infeksi transplacental (misalnya rubella, herpes, HIV), paparan racun atau teratogen (misalnya alkohol, timbal,merkuri), kurang gizi (misalnya ibu kekurangan yodium) Sosial : kemiskinan, malnutrisi ibu,kekerasan dalam rumah tangga, kurangnya perawatan prenatal Perilaku: penggunaan obat orang tua, Ketidakdewasaan Pendidikan : disabilitas orang tua tanpa mendukung, kurangnya peluang pendidikan

1.1.1.2. PERINATAL Biomedis: prematuritas, cedera kelahiran, hipoksia, gangguan neonatal, ketidakcocokan rhesus Sosial : kurangnya akses ke perawatan kelahiran Perilaku : penolakan orang tua untuk merawat, penelantaran anak oleh orang tua Pendidikan : kurangnya rujukan medis untuk layanan intervensi saat melahirkan

1.1.1.3. POSTNATAL Biomedis : cedera otak traumatis, kekurangan gizi, gangguan degeneratif atau kejang,Racun Sosial : kurangnya stimulasi yang memadai, keluarga kemiskinan, penyakit kronis, institusionalisasi Perilaku : kekerasan atau penelantaran anak, perilaku anak yang sulit Pendidikan : diagnosis tertunda, tidak memadai intervensi dini, layanan pendidikan khusus yang tidak memadai, dukungan keluarga yang tidak memadai

1.2. CARA IDENTIFIKASI

1.2.1. 1. Menggunakan DDST (Denver Development Screening Test) → terjadi gangguan pada aspek personal sosial, bahasa, maupun motorik 2. Setelah umur 6 tahun dapat dilakukan tes IQ

1.3. CIRI-CIRI

1.3.1. 1. Anak mengalami keterlambatan pada perkembangannya, seperti duduk, merangkak, berjalan, dan berbicara. 2. Anak sulit dalam menguasai kemampuannya, seperti berpakaian, buang air di kamar mandi (potty training), dan makan sendiri. 3. Anak adanya masalah perilaku dalam dirinya, seperti tantrum yang meledak-ledak, kolik, hiperaktivitas, serta tidur yang tidak teratur. 4. Anak punya masalah mengingat, menyelesaikan masalah, atau berpikir logis. 5. Anak tidak memiliki ketertarikan dengan mainan yang sesuai usianya atau enggan bermain bersama teman sebaya. 6. https://youtu.be/MltFlfLsutc

1.4. SUMBER

1.4.1. http://staffnew.uny.ac.id/upload/132326899/pendidikan/materi+kuliah+psikiatri+anak.pdf Schalock, R. L. (2015). Intellectual Disability. The Encyclopedia of Clinical Psychology, 1–7. doi:10.1002/9781118625392.wbecp062 https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3635298/mengenal-kondisi-disabilitas-intelektual

2. SLOW LEARNER

2.1. DEFINISI

2.1.1. Hadi (2016) dalam (Rofiah & Rofiana, 2017) Slow learner adalah anak yang memiliki potensi intelektual sedikit dibawah rata-rata anak seusianya tetapi bukan tuna grahita, biasanya mereka memiliki IQ antara 70-89. Anak slow learner tidak harus bersekolah di sekolah inklusi seperti siswa berkebutuhan khusus lain. Melalui bantuan dan tambahan waktu mereka masih bisa belajar di kelas regular. Namun akan timbul beberapa masalah yang akan mereka hadapi nantinya. Dalam hal akademik, mereka lambat dalam menyerap pelajaran, terutama dalam kemampuan bahasa, angka, dan konsep. Secara kemampuan sosial mereka merasa tidak aman, menarik diri, kurang percaya diri hingga perasaan rendah diri.

2.2. FAKTOR

2.2.1. FAKTOR EMOSIONAL

2.2.1.1. Tidak menyukai kepribadian guru

2.2.1.2. Sikap negatif orang tua terhadap sekolah yang menciptakan sikap yang sama pada anak

2.2.1.3. Memiliki perasaan tidak mampu

2.2.1.4. Kurangnya kepercayaan diri dan kebutuhan untuk berprestasi

2.2.1.5. Ketakutan dan kecemasan ekstrem yang menimbulkan pencapaian yang buruk

2.2.2. FAKTOR PERSONAL

2.2.2.1. Memiliki penyakit jangka panjang

2.2.2.2. Lama absen dari sekolah

2.2.2.3. Adanya cacat fisik yang tidak terdeteksi

2.2.2.4. Memiliki kemampuan kognitif yang buruk

2.2.3. FAKTOR LINGKUNGAN

2.2.3.1. Kualitas pengajaran yang buruk

2.2.3.2. Memilih bahan yang tidak memadai atau canggih

2.2.3.3. Ketidakcocokkan antara rumah dan sekolah

2.2.3.4. Pindah sekolah berulang kali dan akibatnya terhadap gaya dan konten pengajaran

2.2.3.5. Fasilitas rumah yang buruk untuk keterampilan belajar

2.3. PENANGANAN

2.3.1. REMEDIAL INSTRUCTION

2.3.1.1. Remedial Instruction sangat memudahkan siswa karena dapat membantu siswa dalam mencapai prestasi yang lebih baik. Hal ini mengacu pada perkembangan pengajaran atau pengembangan pada peningkatan kompetensi siswa

2.3.2. INDIVIDUAL INSTRUCTION