KAFALAH (Ipha Oktoviani 192111240)

Get Started. It's Free
or sign up with your email address
KAFALAH (Ipha Oktoviani 192111240) by Mind Map: KAFALAH  (Ipha Oktoviani 192111240)

1. Pengertian

1.1. Menurut Sutedi, kafalah adalah transaksi di mana pihak pertama bersedia menjadi penanggung atas kegiatan yang dilakukan oleh pihak kedua, sepanjang sesuai dengan yang diperjanjikan di mana pihak pertama menerima imbalan berupa fee atau komisi.

2. Rukun dan Syarat

2.1. Kafil/Dhamin/Za’im (Orang yang menjamin) Syaratkan harus baligh, berakal, tidak dicegah membelanjakan hartanya (mahjur) dan dilakukan dengan kehendak sendiri.

2.2. Makful Lahu/Madhmum Lahu/ Madmun Lahu (Orang yang berpiutang) Disyaratkan dikenal/diketahui oleh penjamin dan berakal.

2.3. Makful ‘Anhu/Madhmum ‘Anhu (Orang yang berhutang) Disyaratkan memiliki kemampuan menyerahkan objek kafalah, baik secara langsung maupun, diwakilkan dan harus dikenal baik oleh Kafil

2.4. Makful Bih/Madhmum Bih (Utang/Barang/Orang) Disyaratkan dapat diketahui, tetap keadaannya/ mengikat, benar-benar menjadi tanggung jawab Makful ‘Anhu mampu dipenuhi Kafil.

2.5. Shigat (Ijab dan Qabul) Disyaratkan mengandung makna jaminan, tidak digantungkan atas sesuatu dan tidak bersifat sementara.

3. Isu Terkini

3.1. akad kafalah adalah karena penggunaannya lebih mudah dan tidak rumit, prosesnya pun juga lebih mudah jika dibandingkan dengan akad hiwalah yang harus melibatkan pihak pertama yang memberikan hutang kepada nasabah. Dengan arti jika menggunakan akad hiwalah, maka pada saat akad, pihak pertama, yaitu LKK harus mengikuti dan tercantum dalam akad tersebut, sedangkan pada akad kafalah tidak diperlukan keikutsertaan LKK, cukup pihak BMT dan nasabah yang akan melakukan akad. Pihak BMT menjelaskan bahwa akad kafalah yang dipilih BMT dan digunakan untuk pembiayaan take over adalah akad yang paling tepat dan sesuai dengan syariat

4. Dasar Hukum

4.1. Al-Qur'an

4.1.1. Q.S Yusuf: 66 Q.S Yusuf: 72

4.1.1.1. Berdasarkan ayat disamping, kafalah telah ada sejak zaman Nabi Yusuf as, yang diqiyaskan sebagai jaminan yang diberikan oleh raja kepada rakyatnya, apabila masyarakatnya dapat mengembalikan piala raja. Hal ini bermakna bahwa kafalah memiliki maslahat yang besar bagi umat islam, karena dapat saling tolong-menolong terhadap orang yang membutuhkan

4.2. As-Sunnah

4.2.1. Dalam satu riwayat yang dishahihkan oleh Bukhari, Nabi Muhammad SAW bersabda: Bersumber dari Salamah Al-Akwa’, dia berkata, “Aku berada di dekat Nabi Muhammad SAW. Tiba-tiba ada jenazah yang dibawa kepada beliau. Keluarganya semua berkata, Ya Rasulullah, tolong sembahyangi dia,” Rasulullah SAW berkata, “Tidak.” Kemudian Rasulullah bertanya, “Apakah dia punya tanggungan utang?” Mereka menjawab, “Punya tiga dinar.” Rasulullah bersabda, “Kalau begitu sembahyangkanlah teman kalian itu.” Abu Qatadah lalu menyahut, “Sembahyangkanlah dia wahai Rasulullah. Biarlah aku yang membayar utangnya.” Maka Rasulullah pun berkenan menyembahyangkannya. (HR. Bukhari)

5. Berakhirnya Kafalah

5.1. Ketika utang telah diselesaikan, baik oleh orang yang berutang atau oleh penjamin

5.2. Ketika utang tersebut telah dialihkan (transfer utang/hawalah)

5.3. Ketika penjamin menyelesaikan ke pihak lain melalui proses arbitrasedengan kreditor

5.4. Kreditor dapat mengakhiri kontrak kafalah walaupun penjamin tidak menyetujuinya

5.5. Kreditor melepaskan utangnya kepada orang yang berutang, tidak pada penjamin

6. Fatwa DSN MUI NO: 11/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Kafalah

6.1. Pertama: Ketentuan Umum Kafalah

6.2. Kedua : Rukun dan Syarat Kafalah

6.3. Ketiga : Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.