1. PERTEMUAN 1
1.1. Aturan dasar integral
1.1.1. Definisi integral
1.1.1.1. Integral (invers)
1.1.2. Integral tak tentu
1.1.2.1. Rumus
1.1.3. Aturan dasar integral tak tentu
1.1.3.1. Aturan fungsi aljabar
1.1.3.1.1. Rumus
1.1.3.2. Aturan kelinearan
1.1.3.2.1. ∫kf(x)dx=k ∫f(x)dx, k= efisien
1.1.3.2.2. ∫[f(x)+g(x)]dx= ∫ f(x)dx ∫ g(x)dx
1.1.3.2.3. ∫ [f(x)-g(x)]dx= ∫ f(X)dx- ∫ g(x)dx
2. Pertemuan 2
2.1. Aturan substitusi tak tentu
2.1.1. Definisi aturan substitusi
2.1.1.1. Aturan substitusi merupakan atuarn dalam integral yang digunakan ketika proses pengintegralan tidak bisa diselesaikan denga rumus rumus dasar integral
2.1.2. Integral dengan substitusi
2.1.2.1. soal harus berbentuk ∫ [g(x)'g'(x)dx
2.1.2.2. Turunkan fungsi u sehingga di peroleh du =......dx
3. Pertemuan 3
3.1. Integral tak tentu fungsi trigonometri
3.1.1. Definisi fungsi trigonometri
3.1.1.1. Trigonometri diartikan sebagai sebuah cabang matmatika yeng mempelajari hubungan yeng meliputi panjang dan tiga sudut segitiga siku siku
3.1.2. Integral tak tentu fingsi terigonometri
3.1.2.1. Bentuk integral yang integralnya berbentuk fungsi trigonometri dan memiliki variabel yang tak terbatas
3.1.3. Rumus dasar trigonometri
3.1.3.1. ∫ sinxdx=-cosx+c
3.1.3.2. ∫ cosxdx=sinx+c
3.1.3.3. ∫ -sinxdx=cosx+c
3.1.3.4. ∫ -cosxdx=-sinx+c
3.1.4. Aturan kelinearan integral tak tentu fungsi trigonometri
3.1.4.1. ∫kf(x)dx=k ∫ f(x)dx,k=koefisien
3.1.4.2. ∫ [f(x)+g(X)dx= ∫ f(X)dx+ ∫ g(x)dx
3.1.4.3. ∫ [f(x)-g(c)dx= ∫ f(x)dx- ∫ g(x)dx
4. Pertemuan 4
4.1. Aturan substansi integral fungsi trigonometri
4.1.1. Bentuk baku integral
4.1.1.1. rumus
4.1.2. Rumus rumus dasar integral fungsi trigonometri
4.1.2.1. ∫ sin u dx= -cos u + c
4.1.2.2. ∫ cos u dx = sin u +c
5. Pertemuan 5
5.1. Integral tentu fungsi aljabar
5.1.1. Definisi penjumlahan rieman
5.1.1.1. penjumlahan rieman merupakan metode untuk menentukan luas saerah yang dibatasi oleh kurva pada interval tertentu
5.1.2. Definisi integral tentu
5.1.2.1. integral tentu adalah limit dari rieman
6. Pertemuan 6
6.1. Integral tentu fungsi trigonometri
6.1.1. Batas integral tentu fungsi trigonometri
6.1.1.1. kuadran 1
6.1.1.1.1. sin (90° − α) = cos α cos (90° − α) = sin α tan (90° − α) = cot α
6.1.1.2. Kuadran 2
6.1.1.2.1. sin (90° + α) = cos α cos (90° + α) = -sin α tan (90° + α) = -cot α sin (180° − α) = sin α cos (180° − α) = -cos α tan (180° − α) = -tan α
6.1.1.3. Kuadran 3
6.1.1.3.1. sin (180° + α) = -sin α cos (180° + α) = -cos α tan (180° + α) = tan α sin (270° − α) = -cos α cos (270° − α) = -sin α tan (270° − α) = cot α
6.1.1.4. Kuadran 4
6.1.1.4.1. sin (270° + α) = -cos α cos (270° + α) = sin α tan (270° + α) = -cot α sin (360° − α) = -sin α cos (360° − α) = cos α tan (360° − α) = -tan α
6.1.2. Aturan dasar integral tentu fungsi trigonometri
6.1.2.1. f(x)dx=[f(x)]a\b=f(b)-f(a)
7. Pertemuan 7
7.1. Aturan substitusi integral tentu fungsi aljabar
7.1.1. Definisi integral substitusi
7.1.2. Integral substitusi
8. Pertemuan 8
8.1. Aturan substitusi tentu fungsi trigonometri
8.1.1. Definisi integral tentu fungsi trigonometri
8.1.1.1. Integral tentu dengan interval tertutup [a,b] pada fungsi trigonometri
8.1.2. Menyelesaikan integral tentu fungsi trigonometri dengan substitusi
9. Pertemuan 9
9.1. Aturan substitusi integral tak tentu fungsi eksponensial
9.1.1. Definisi fungsi eksponensial
9.1.2. Integral tak tentu fungsi eksponensial
9.1.3. Menyelesikan integral tak tentu fungsi eksponensial
10. Pertemuan 10
10.1. Aturan substitusi integral tentu fungsi eksponensial
10.1.1. Eksponensial dengan logaritma natural
10.1.2. Sifat sifat fungsi eksponensial
10.1.3. Integral tentu dan aturan fungsi eksponensial
10.1.4. Menyelesaikan integral tentu fungsi eksponensial dengan substitusi
11. Pertemuan 11
11.1. Integral fungsi rasional
11.1.1. Definisi fungsi rasional
11.1.1.1. Fungsi rasional sejati
11.1.1.2. Fungsi rasional tidak sejati
11.1.2. Integral fungsi rasional
12. Pertemuan 12
12.1. Integral parsial tak tentu
12.1.1. Cara 1
12.1.1.1. Mengubah soa; dengan memisalkan soal integral f(x)dx menjadi bentuk integral u dv
12.1.2. Cara 2
12.1.2.1. Ubah fungsi intergral menjadi bentuk integral u dv, sehingga diperoleh ungsi u dan dv
13. Pertemuan 13
13.1. Integral parsial tentu
14. Pertemuan 14
14.1. Luas daerah yang dibatasi sumbu x dan y
14.1.1. Menentukan luas daerah diatas sumbu x
14.1.2. Menentukan luas daerah dibawah sumbu x
14.1.3. Menentukan luas daerah sumbu y
15. Pertemuan 15
15.1. Luas daerah yang dibatasi garis kurva dan dua kurva
15.1.1. Daerah yang dibatsi garis kurva dan dua kurva
15.1.2. Menentukan luas daerah yang dibatasi garis kurva dan dua kurva
16. Pertemuan 16
16.1. Volume bidang putar dengan metode cakram
16.1.1. Definisi metode cakram
16.1.2. Metode cakram pada bidang putar terhadap sumbu x
16.1.3. Metode cakram pada bidang putar terhadap sumbu y
17. Pertemuan 17
17.1. Volume bidang putar dengan metode kulit tabung
17.1.1. Definisi metode kulit tabung
17.1.2. Menentukan volume bidang putar dengan metode kulit tabung
18. Pertemuan 18
18.1. Volume bidang putar dengan metode cincin
18.1.1. Definisi metode cincin
18.1.2. Menentukan volume bidang putar dengan metode cincin
18.1.2.1. Metode cincin pada bidang putar terhadap sumbu x