PERKEMBANGAN EMOSI, SOSIAL, DAN SPIRITUAL PESERTA DIDIK

Get Started. It's Free
or sign up with your email address
PERKEMBANGAN EMOSI, SOSIAL, DAN SPIRITUAL PESERTA DIDIK by Mind Map: PERKEMBANGAN EMOSI, SOSIAL, DAN  SPIRITUAL PESERTA DIDIK

1. A. Pengertian Perkembangan Emosi, Sosial, dan Spiritual Peserta Didik

1.1. Emosi adalah perasaan yang ada dalam diri individu. Emosi dapat berupa perasaan senang atau tidak senang, perasaan baik atau buruk. Emosi juga didefinisikan sebagai “berbagai perasaan yang kuat” (World Book 2015, 690)

1.2. Pondasi perkembangan psikososial mencakup emosi dan pengalaman awal anak bersama dengan orang tua. Anak memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain. Kebutuhan sebagai makhluk sosial ini telah aktif dikembangkan anak sejak lahir (Papalia and Feldman 2001).

1.3. Fungsi emosi terhadap perkembangan anak antara lain (Darmiah 2020), pertama merupakan bentuk komunikasi Kedua, emosi berperan dalam mempengaruhi kepribadian dan penyesuaian diri anak dengan lingkungan sosialnya

2. B. Karakteristik Perkembangan Emosi, Sosial, dan Spiritual

2.1. Lewis dan Rosenblam (Stewart, 1985) mengutarakan proses terjadinya emosi atau mekanisme emosi melalui lima tahapan (Alison Clarke-Stewart, Susan Friedman, and Joanna Barbara Koch 1985)

2.2. Lebih lanjut, Syamsuddin (2000) menggambarkan mekanisme emosi dalam rumusan yang lebih ringkas. Emosi adalah gabungan lima komponen (elicitors, receptors, state, expression, experience)

2.2.1. (1) variabel stimulus, merupakan rangsangan yang menimbulkan emosi disebut sebagai variabel stimulus

2.2.2. (2) variabel organik, merupakan perubahan-perubahan fisiologis yang 4 terjadi saat mengalami emosi disebut sebagai variabel organik

2.2.3. (3) variabel respon, merupakan pola sambutan ekspresif atas terjadinya pengalaman emosi disebut sebagai variabel respon.

3. C. Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi, Sosial, dan Spiritual Peserta Didik

3.1. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi

3.1.1. a. Pengaruh Keadaan Individu Sendiri

3.1.2. b. Konflik-konflik dalam proses perkembangan. Dalam menjalani fase perkembangan, tiap anak melalui berbagai macam konflik perkembangan.

3.1.3. c. Faktor lingkungan. Emosi anak akan positif jika lingkungan juga positif, begitu sebaliknya. Faktor lingkungan ini terbagi tiga, yakni (1) Lingkungan Keluarga (2) Lingkungan tempat tinggal (3) Lingkungan sekolah

3.2. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial

3.2.1. a. Faktor individu Faktor individu ini termasuk kematangan. Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan psikis.

3.2.2. b. Faktor Lingkungan Keluarga Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya.

3.2.3. c. Faktor Dari Luar Rumah Faktor di luar rumah adalah wadah bagi anak untuk bersosialisasi di luar rumah anak akan bertemu dengan orang yang lebih banyak, seperti teman sebaya, orang yang lebih kecil darinya, orang dewasa, sehingga sosialnya akan berjalan sesuai dengan perannya di lingkungan tersebut.

3.2.4. d. Faktor Pengaruh Pengalaman Sosial Anak Jika seorang anak memiliki pengalaman sosial yang buruk, seperti tidak diperbolehkan main keluar rumah oleh orang tuanya, maka hal itu, akan berpengaruh bagi proses sosialisasinya kepada lingkungan sekitarnya yang berbeda di luar rumah.

3.3. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Spiritual

3.3.1. a. Lingkungan keluarga, merupakan lingkungan pertama yang mempengaruhi perkembangan moral seseorang. Biasanya tingkah laku seseorang berasal dari bawaan ajaran orang tuanya

3.3.2. b. Lingkungan sekolah. Di sekolah, anak-anak mempelajari nilai-nilai norma yang berlaku di masyarakat sehingga mereka juga dapat menentukan mana tindakan yang baik dan boleh dilakukan, atas bimbingan guru

3.3.3. c. Lingkungan pergaulan. Pergaulan juga turut mempengaruhi moral seseorang. Pada masa remaja, biasanya seseorang selalu ingin mencoba suatu hal yang baru, dan selalu ada rasa tidak enak apabila menolak ajakan teman

3.3.4. d. Lingkungan masyarakat. Masyarakat memiliki pengaruh terhadap pembentukan moral, sebab adanya kontrol dari masyarakat itu sendiri, berupa sanksi-sanksi sosial untuk pelanggarnya.

3.3.5. e. Faktor genetis atau pengaruh sifat-sifat bawaan (hereditas). Hereditas diartikan sebagai totalitas karakteristik individu, dan diwariskan orang tua kepada anak, atau segala potensi

3.3.6. f. Tingkat penalaran. Makin tinggi tingkat penalaran seseorang menurut tahap-tahap perkembangan Piaget, makin tinggi pula tingkat moral seseorang

4. D. Implikasi Perkembangan Emosi, Sosial, dan Spiritual Peserta Didik dalam Pembelajaran Menurut Golemen (1995) terdapat cara-cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan kecerdasan emosi

4.1. 1. Guru dan orang tua tidak boleh membuat jarak sosial, tapi harus lebih dekat dengan peseta didik.

4.2. 2. Guru atau orang tua harus terampil dalam mengobservasi berbagai karakter emosi dan perilaku sosial anak, terutama yang diekspresikan melalui tampilan fisik, mental, dan psikologis

4.3. 3. Guru dan orang tua harus memiliki kemampuan dan keterampilan dalam merekam, mencatat, dan membuat prediksi tentang perbuatan apa yang akan menyertai peserta didik. Untuk itu, ada baiknya setiap observer, terutama guru

4.4. Sekolah dituntut untuk membantu peserta didik dalam mengembangkan moral spiritual, sehingga mereka dapat menjadi manusia yang beradab. dengan cara : 1. Menjadikan pendidikan wahana kondusif bagi peserta didik untuk menghayati agamanya, tidak hanya bersifat teoritis, tetapi penghayatan yang benar-benar dikonstruksi dari pengalaman keberagamaan.

4.5. 2. Membantu peserta didik mengembangkan rasa ketuhanan melalui pendekatan spiritual parenting seperti:

4.5.1. a. Memupuk hubungan sadar anak dengan Tuhan melalui doa setiap hari

4.5.2. b. Menanyakan kepada anak sebagaimana Tuhan terlibat dalam aktivitasnya seharihari

4.5.3. c. Memberikan kesadaran kepada anak bahwa tuhan akan membimbing kita apabila kita meminta.

4.5.4. d. Menyuruh anak merenungkan bahwa Tuhan itu ada dalam jiwa mereka dengan cara menjelaskan bahwa mereka tidak dapat melihat diri mereka tumbuh atau mendengar darah mengalir.

4.6. 3. Materi yang disampaikan guru dalam kelas adalah materi yang secara langsung dapat menyentuh permasalahan keagamaan yang dialami peserta didik

4.7. 4. Menanamkan nilai-nilai Islam yang terkait dengan masalah ibadah dilakukan dengan memaparkan hikmah yang terkandung dari sebuah pelaksanaan ibadah.