1. Sejarah hazard
2. Dampak Hazard
2.1. cidera fisik
2.1.1. jenis
2.1.1.1. luka pada fisik
2.1.1.2. kerusakan pada organ dalam
2.1.1.3. patah tulang
2.1.2. penyebab
2.1.2.1. terjadinya kecelakaan kerja
2.1.2.2. bekerja tidak mematuhi keselamatan kerja
2.1.2.3. terpapar bahan berbahaya secara langsung maupun tidak langsung
2.1.3. dampak
2.1.3.1. menghambat produktivitas
2.1.3.2. menyebabkan kerugian finansial perusahaan maupun individu
2.1.3.3. dapat berpengaruh jangka panjang fisik yang sudah pernah jatuh tidak akan bisa kembali normal 100%
2.1.4. hal yang dapat kita lakukan
2.1.4.1. menggunakan APD yang sesuai
2.1.4.2. melakukan pelatihan dan pemahaman mengenai keselamatan kerja
2.1.5. kecelakaan fisik
2.2. kecelakaan kerja
2.2.1. jenis
2.2.1.1. kecelakaan pada kendaraan yang kita gunakan saat bekerja
2.2.1.2. trouble pada sistem kelistrikan
2.2.1.3. melakukan perawatan medis dan rehabilitasi pada pekerja yang terkena cidera
2.2.2. penyebab
2.2.2.1. tidak mematuhi prosedur dan protokol yang telah ditetapkan
2.2.2.2. cuaca yang ekstrem di sekitar membuat pekerjaan tidak stabil
2.2.2.3. kelalaian pada pekerja
2.2.3. dampak
2.2.3.1. dapat mengakibatkan cidera pada fisik
2.2.3.2. menyebabkan kerusakan lingkungan di area sekitar yang kena
2.2.3.3. menyebabkan kerugian
2.2.4. hal yang dapat kita lakukan
2.2.4.1. menggunakan APD yang sesuai
2.2.4.2. melakukan inspeksi rutin
2.2.4.3. melakukan pelatihan
2.3. kerusakan pada lingkungan
2.3.1. jenis
2.3.1.1. kerusakan pada habitat sekitar
2.3.1.2. kerusakan pada tanah di area perusahaan dan membuat tanah menjadi tercemar dan tidak subur
2.3.1.3. tercemarnya air di area sekitar karena limbah perusahaan
2.3.2. penyebab
2.3.2.1. penggundulan hutan ,penimbunan sungai
2.3.2.2. pembuangan limbah ke sungai yang membuat areanya tercemar
2.3.2.3. penggunaan bahan berbahaya yang menyebabkan radiasi
2.3.3. dampak
2.3.3.1. hancurnya habitat hewan maupun tumbuhan sekitar
2.3.3.2. mengakibatkan terjadinya kerusakan pada ekosistem di lingkungan sekitar area perusahaan
2.3.3.3. mengganggu kesehatan manusia yang tinggal di sekitar
2.3.4. hal yang dapat kita lakukan
2.3.4.1. pengelolaan limbah yang baik dan terstruktur agar tidak mengganggu lingkungan
2.3.4.2. mengurangi penggunaan bahan berbahaya
2.3.4.3. melakukan pemantauan dan pemeliharaan lingkungan secara rutin
3. Jenis-jenis
3.1. bahaya fisik
3.1.1. contoh
3.1.1.1. bekerja dengan peralatan bertegangan tinggi
3.1.1.2. sambungan kabel yang salah
3.1.1.3. layout area kerja yang berantakan
3.1.1.4. kondisi pencahayaan area kerja
3.1.1.5. lantai yang tidak rata
3.1.2. cara untuk mengurangi bahaya fisik
3.1.2.1. evaluasi resiko
3.1.2.2. mendesain tatanan kerja yang ergonomis
3.1.2.3. menggunakan APD
3.1.2.4. pemeliharaan peralatan
3.1.2.5. pelatihan dan edukasi
3.2. bahaya ergonomi
3.2.1. contoh
3.2.1.1. desain yang buruk pada pencahayaan
3.2.1.2. kebisingan di lingkungan kerja
3.2.1.3. desain pada objek kerja beban
3.2.2. cara untuk mengurangi resiko bahaya ergonomi
3.2.2.1. evaluasi tatanan kerja
3.2.2.2. pemilihan alat
3.2.2.3. pelatihan dan edukasi
3.3. bahaya kimia
3.3.1. contoh
3.3.1.1. bahan pelarut
3.3.1.2. zat beracun
3.3.1.3. logam berat
3.3.2. untuk mencegah risiko bahaya kimia
3.3.2.1. menggunakan APD yang sesuai
3.3.2.2. menghindari kontak langsung dengan penyimpanan bahan kimia
3.3.2.3. pelatihan dan edukasi
3.4. bahaya biologi
3.4.1. contoh
3.4.1.1. penyebaran penyakit
3.4.1.2. paparan jamur
3.4.1.3. lumut
3.4.2. untuk mencegah bahaya biologi
3.4.2.1. Vaksinasi
3.4.2.2. menggunakan APD
3.4.2.3. sanitasi
3.5. bahaya psikologi
3.5.1. contoh
3.5.1.1. stres
3.5.1.2. mobbing
3.5.1.3. ketidak adilan
3.5.2. untuk mengurangi bahaya psikologi
3.5.2.1. penilaian resiko psikologis
3.5.2.2. pelatihan karyawan
3.5.2.3. kebijakan perusahaan yang jelas
4. merencanakan hra
5. Pengertian Hazard
6. Penyebab Hazard
6.1. Natural hazard
6.1.1. jenis
6.1.1.1. kebisingan
6.1.1.2. suhu
6.1.1.3. kebocoran bahan kimia
6.1.2. penyebab
6.1.2.1. lingkungan kerja buruk
6.1.2.2. perubahan iklim
6.1.2.3. kegiatan konstruksi disekitar
6.1.3. dampak
6.1.3.1. gangguan kesehatan
6.1.3.2. kerusakan peralatan
6.1.3.3. kecelakaan kerja
6.1.4. cara pengendalian
6.1.4.1. penggunaan APD
6.1.4.2. pengaturan kualitas udara
6.1.4.3. pemeliharaan lingkungan
6.2. Man-made Hazard
6.2.1. tipe
6.2.1.1. kesalahan dalam memahami informasi
6.2.1.2. salah dalam mengambil keputusan
6.2.1.3. kesalahan dalam melakukan suatu tindakan
6.2.2. penyebab
6.2.2.1. kurangnya pelatihan pada pekerja
6.2.2.2. kelelahan dari pekerja
6.2.2.3. kurangnya pengetahuan dari para pekerja tentang keselamatan
6.2.3. dampak
6.2.3.1. dapat mengakibatkan cidera
6.2.3.2. dapat menimbulkan kecelakaan kerja
6.2.3.3. dapat menyebabkan kerugian finansial
6.2.4. cara pengendalian
6.2.4.1. melakukan pelatihan dan pengembangan para pekerja
6.2.4.2. menggunakan alat bantu dan menggunakan sistem otomasi otomatis
6.2.4.3. melakukan penjadwalan dan perencanaan tugas
6.3. kegagalan peralatan
6.3.1. jenis
6.3.1.1. kegagalan dalam kelistrikan
6.3.1.2. kerusakan pada mesin
6.3.1.3. kerusakan pada alat elektronik yang digunakan
6.3.2. penyebab
6.3.2.1. terjadinya korosi
6.3.2.2. kecacatan pada suatu alat
6.3.2.3. kurangnya pemeliharaan dan perawatan pada alat
6.3.3. dampak
6.3.3.1. menyebabkan ditundanya produksi
6.3.3.2. menyebabkan sebuah kerugian pada perusahaan
6.3.3.3. bisa menyebabkan sebuah kecelakaan kerja
6.3.4. cara pengendalian
6.3.4.1. melakukan perawatan dan pengecekan alat secara rutin
6.3.4.2. mengganti atau memperbaiki pada alat yang sudah kelihatan tua dan usang
6.3.4.3. penggantian pada suku cadang yang sudah tidak layak
7. Analisis
7.1. HIRADC
7.1.1. tahapan
7.1.1.1. identifikasi bahaya
7.1.1.2. penilaian resiko
7.1.1.3. penentuan kendali
7.1.2. tujuan
7.1.2.1. mengidentifikasi segala jenis bahaya yang dapat menjadi potensi kecelakaan
7.1.2.2. mempertimbangkan kemungkinan terjadinya bahaya
7.1.2.3. merencanakan menyusun dan memantau pengendalian yang bertujuan untuk mengontrol resiko
7.2. HAZOP
7.2.1. tahapan
7.2.1.1. membentuk tim hazop
7.2.1.2. mengidentifikasi elemen dan parameter
7.2.1.3. memperhitungkan efek variasi
7.2.1.4. identifikasi titik bahaya
7.2.2. tujuan
7.2.2.1. untuk evaluasi
7.2.2.2. untuk mengetahui jenis permasalahan
7.2.2.3. untuk kontrol akhir
7.3. HRA
7.3.1. tahapan
7.3.1.1. antisipasi
7.3.1.2. rekognisi
7.3.1.3. identifikasi bahaya
7.3.1.4. evaluasi resiko
7.3.2. tujuan
7.3.2.1. untuk mengevaluasi risiko kesehatan yang terkait dengan paparan faktor risiko tertentu
7.4. PHA
7.4.1. tahapan
7.4.1.1. membentuk tim pha
7.4.1.2. mendefinisikan sistem yang akan dianalisis
7.4.1.3. mengidentifikasi bahaya
7.4.1.4. mau estimasi konsekuensi dan frekuensi untuk menilai risiko
7.4.2. tujuan
7.4.2.1. untuk mengidentifikasi dan mengurangi resiko terkait dengan produk yang akan diluncurkan