PSIKOLOGI DIAGNOSTIK 1

Tugas Psikologi Mervie

Get Started. It's Free
or sign up with your email address
Rocket clouds
PSIKOLOGI DIAGNOSTIK 1 by Mind Map: PSIKOLOGI DIAGNOSTIK 1

1. BAB 2 : SEJARAH TES PSIKOLOGI

1.1. Bentuk dasar tes berawal pada tahun 2200 SM di China, menggunakan ujian tertulis yg sangat melelahkan untuk menyeleksi pejabat pelayanan sipil

1.2. Pertengahan hingga tahun 1800-an, Dokter dan Psikiater mengembangkan Prosedur Standar untuk mengungkap ciri serta luasnya gejala pada orang yang sakit mental dan cedera otak

1.2.1. Contoh : Hubert von Grashey mengembakan cikal-bakal drum ingatan untuk mengetes keterampilan pengenalan visual pada pasien cedera otak

1.3. Psikologi modern bermula pada instrumen kuningan yang berkembang Eropa pada akhir 1800-an.

1.3.1. Contoh : Pelopor pengembangan tes seperti Sir Francis Galton mendemokrasikan mengukur pikiran yg objektif dan bisa diulang

1.4. Wilhelm Wundt, mendirikan lab Psikologi pertama pada tahun 1879 di Leipzig, Jerman.

1.5. Tes mental muncul pada tahun 1890 dalam sebuah makalah klasik oleh James McKeen Cattell.

1.6. Akhir dekade 1800-an, muncul suatu humanisme baru, terhadap orang-orang yang terbelakang secara mental yang tercermin dalam upaya diagnostik dan membantu memunculkan bagi tes intelegensi awal.

1.7. Alfred Binet menemukan tes Intelegensi yang pertama.

1.8. Pada tahun 1905 Binet & Simon mengembangkan tes intelegensi pertama yg bermanfaat di Paris, Prancis.

1.9. Pada tahun 1912, Stern mengajukan pembagian umur mental dengan umur kronologis untuk mendapatkan suatu hasil pembagian intelegensi.

1.10. Tes intelegensi nonverbal dikembangkan pada awal 1900-an untuk memudahkan pengujian para imigran yg tidak mampu berbahasa Inggris.

1.11. Pada 1916, Lewis Sterman merilis Stamford Binet, suatu revisi skala Binet.

1.12. PD I, Robert Yerkes mengepalai tim psikolog menghasilkan Army Alpha, yaitu tes kelompok bermuatan verbal untuk para calon tentara berkemampuan rata-rata dan cerdas.

1.13. Army Beta, yaitu suatu tes kelompok non verbal bagi para calon tentara yg buta aksara, dan tidak mampu berbahasa Inggris

1.14. C.C. Brigham menggunakan hasil tes intelegensi individual dan kelompok untuk membuktikan perbedaan etnis dan intelegensi.

1.15. Tes Apersepsi Tematik (TAT) diperkenalkan oleh Murray & Morgan didasarkan pada hipotesis proyektif.

1.16. Pengukuran minat vokasional, diawali dengan inventory minat Carnegie, dari Yoakum yang dikembangkan pada tahun 1919 - 1920.

2. BAB 3 : NORMA DAN REALBILITAS

2.1. Norma terdiri atas sampel para peserta uji yang merupakan perwakilan populasi dari yg menjadi sasaran tes tersebut.

2.2. Pengukuran kecenderungan sentral untuk suatu kumpulan mencakup mean, median, modus.

2.3. Variabilitas bagi kelompok, skor mencakup varians, akar kuadratnya, dan standar deviasi merupakan pengukuran yang lebih disukai dalam pengukuran psikologi

2.4. Distribusi skor tes kelompok besar peserta heterogen, kerap sama dengan distribusi normal.

2.5. Distribusi miring adalah di mana skor bertumpuk pada sisi bawah (miring positif) atau sisi atas (miring negatif).

2.6. Persentil menunjukkan persentase orang dalam sampel standarisasi yg memperoleh skor di bawah skor mentah tersebut.

2.7. Skor standar menunjukkan skor mentah peserta tes menyangkut jaraknya dari mean dalam unit standar deviasi.

2.8. Pendekatan paling umum untuk menyeleksi kelompok normal adalah sampling acak per stratifikasi.

2.9. Pada tes, penting untuk menyediakan norma umur dan norma kelas tersendiri.

2.10. Norma lokal dan subkelompok bermanfaat jika suatu subkelompok yang telah diidentifikasi memiliki kinerja yg baik atau buruk pada tes ketimbang tes standardisasi.

2.11. Tabel ekspentasi bentuk standarisasi tes yg menggambarkan hubungan yg ditetapkan antar skor tes dan hasil yg diharapkan pada tugas yg relevan.

2.12. Tes rujukan kriteria membandingkan hasil tes dengan wilayah konten yang telah ditetapkan dengan baik

2.13. Realibilitas merupakan sikap konsistensi pengukuran.

2.14. Setiap skor tes mempengaruhi dua faktor

2.14.1. 1. Faktor yg berkontribusi pada konsistensi, yakni sifat stabil yg berusaha diukur oleh penguji

2.14.2. 2. Faktor yang berkontribusi pada inkonsistensi, yang mencakup variabel subjek, tes dan situasional.

2.15. Kesalahan pengukuran dapat terjadi dalam pemilihan soal, pelaksaan tes, dan pemberian skor tes.

2.16. Asumsi dasar teori pengukuran klasik

2.16.1. Kesalahan pengukuran bersifat acak

2.16.2. Mean, kesalahan pengukuran = 0

2.16.3. Skor sesungguhnya dan skor kesalahan tidak berkorelasi.

2.16.4. Kesalahan pada tes yang berbeda tidak berkorelasi

2.17. Teori respon soal (IRT - Item Response Theory) mengajukan suatu dimensi keterampilan atau sifat dasar yang menjadi dasar bagi semua soal tes dan menghipotesiskan bahwa setiap responden memiliki jumlah tertentu sifat klaten yang diukur.

2.18. Realibilitas memiliki hubungan terbalik dengan kesalahan pengukuran standar (SEM - Standard Error of Measurement)

3. BAB 4 : VALIDITAS DAN PENGEMBANGAN TES

3.1. Validitas tes adalah seberapa jauh tes tersebut mengukur apa yang diukurnya

3.2. Validitas tes dikelompokkan dalam tiga kategori...

3.2.1. 1. Validitas Isi

3.2.2. 2. Validitas Kriteria

3.2.3. 3. Validitas Konstruk

3.3. Validitas Isi ditentukan oleh di mana pertanyaan, tugas, atau soal pada sebuah tes merepresentasikan keragaman perilaku ketika tes tersebut dirancang untuk mearik sampelnya.

3.4. Suatu tes memiliki validitas muka, jika tampak valid bagi pengguna, penguji, terutama para peserta tes.

3.5. Validitas kriteria, ketika suatu tes efektif dalam memprediksi kinerja atas suatu hasil pengukuran yg sesuai.

3.6. Ketika tes digunakan untuk tujuan prediksi, perlu dikembangkan bersamaan dengan regresi.

3.7. Korelasi antara tes dan kriteria, diketahui sebagai koefisien validitas.

3.8. Standard Error of Estimate, merupakan margin error yang diharapkan dalam skor kriteria yang terprediksi.

3.9. Konstruk adalah kualitas atau traid, teoritis yang tidak berwujud, yang membedakan individu

3.10. Konstruk tes dibagi menjadi enam...

3.10.1. Mendefinisikan tes

3.10.2. Mendefinisikan soal

3.10.3. Memilih metode scalling

3.10.4. Membuat soal

3.10.5. Menguji soal

3.10.6. Merevisi tes dan mempublikasian tes

3.11. 4 skala pengukuran

3.11.1. Skala nominal

3.11.2. Skala ordinal

3.11.3. Skala interval

3.11.4. Skala rasio

3.12. Terdapat berbagai metode scaling, ada 3 macam...

3.12.1. Scaling absolut

3.12.2. Skala linkert

3.12.3. Pembuatan skala rasional

3.13. Soal tes dapat ditulis dalam berbagai format, termasuk pilihan ganda, respon terbuka, benar/salah dan pilihan -paksa-

3.14. Tujuan analisis soal : menetapkan soal uji coba yang harus dipertahankan, direvisi, dan dihilangkan

3.15. Validitas hilang mengacu pada validitas ulang yang dilakukan pada suatu tes dengan sampel baru sebagai peserta tes

3.16. Tes harus disesuaikan bagi pengguna tes agar dapat diterima secara luas oleh para Psikolog dan pendidik

4. BAB 1 APLIKASI DAN KONSEKUENSI TES PSIKOLOGI

4.1. DEFINISI TES

4.1.1. tes adalah suatu prosedur standar untuk mengambil sampel perilaku dan menggambarkannya dalam kategori atau skor

4.2. JENIS-JENIS TES

4.2.1. Tes Intelegensi : Mengukur kemampuan sesorang dalam bidang yang relatif luas, seperti pemahaman verbal, pengaturan persepsi atau penalaran

4.2.2. Tes Bakat: Mengukur kemampuan atas suatu tugas atau jenis keterampilan yg relatif spesifik

4.2.3. Tes Prestasi : Mengukur tingkat pembelajaran, keberhasilan atau pencapaian dalam suatu subjek atau tugas

4.2.4. Tes Kreativitas : Mengukur pemikiran baru dan asli

4.2.5. Tes Kepribadian : Mengukur sifat, ciri, perilaku yang menentukan individualitas seseorang

4.2.6. Tes Minat : Mengukur referensi seseorang terhadap aktivitas atau topik tertentu, dan karenanya, membantu menentapkan pilihan pekerjaan

4.2.7. Prosedur perilaku : Secara objektif menggambarkan, menghitung, mengidentifikasi perilaku yang mendahului dan konsekuensi perilaku tersebut

4.2.8. Tes Neuron Psikologis : Digunakan dalam penilaian terhadap orang yang diduga memiliki disfungsi otak.

4.3. PENGGUNAAN TES

4.3.1. Klasifikasi

4.3.2. Penempatan

4.3.3. Penyaringan

4.3.4. Diagnosis

4.3.5. Sertifikasi

4.4. PROSEDUR YANG DIPERLUKAN DALAM PELAKSANAAN TES

4.4.1. Sensitivitas terhadap keterbatasan

4.4.2. Prosedur yang diperlukan dalam tes kelompok

4.5. TANGGUNG JAWAB PARA PENGGUNA TES

4.5.1. Kepentingan terbaik klien

4.5.2. Kerahasiaan dan kewajiban untuk memperingatkan

4.5.3. Keahlian penggunaan tes

4.5.4. Pernyataan Persetujuan

4.5.5. Penulisan laporan yang bertanggung jawab

4.5.6. Penyampaian hasil tes

5. BAB 5 TEORI DAN TES INDIVIDUAL, INTELEGENSI SERTA PRESTASI

5.1. Intelegensi meliputi dua aspek

5.1.1. Kapasitas belajar dari pengalaman

5.1.2. Kapasitas beradaptasi dengan suatu lingkungan

5.2. Teori intelegensi pertama pada akhir tahun 1800-an yg menekankan pada ketajaman sensoris.

5.3. Tahun 1900-an, Charles Spearman mengusulkan bahwa intelegensi terdiri dari 2 faktor

5.3.1. Faktor tunggal

5.3.2. Faktor Spesifik

5.4. L.L. Thurstone mempunyai pandangan intelegensi terdiri dari 7 faktor kelompok

5.4.1. Pemahaman Verbal

5.4.2. Kelancaran kata

5.4.3. angka,

5.4.4. spasial

5.4.5. Ingatan Asosiatif

5.4.6. Persepsi kecepatan

5.4.7. penalaran induktif

5.5. J.P. Guilford mengusulkan model struktur intelegensi (SOI - Structure of Intelegency) menyimpulkan pandangan tentang sifat dasar intelegensi yang memiliki banyak sisi

5.6. Gardner mengusulkan teori intelegensi majemuk yg secara bebas didasarkan pada studi tentang hubungan perilaku otak

5.7. R. Sternberg mengusulkan teori intelegensi triarchic dengan aspek berikut...

5.7.1. Intelegensi komponensial

5.7.2. Intelegensi kontekstual

5.8. Tes Wechsler yg pertama adalah Wechsler-Bellevue diterbitkan pada tahun 1939

5.9. The Wechsler Adult Intellegence Scale-IV (WAIS-IV) adalah tes intelegensi individual untuk orang dewasa yg banyak digunakan

5.10. Wechsler Intellegence Scale for Children-IV (WISC-IV) adalah tes untuk anak usia 6 - 6,5 tahun.

5.11. The Troit Test of Learning Aptitude-4 (DLTA-4) adalah pengukuran intelegensi umum yang baik.

5.12. The Kaufman Assessment Battery for Children (KABC-2) adalah tes untuk anak-anak dan remaja usia 3-18 tahun.

5.13. The Kaufman Adolescent and Adult Intelegence Test (KAIT) merupakan penilaian intelegensi singkat yang secara umum tersusun dalam model Fluid dan CHC.

5.14. The Kaufman Brief Intellegence Test-2 (KBIT-2) adalah tes penyaringan intelegensi umum standar yang terdiri dari Pembendaharaan Kata dan Matriks.

5.15. Tes prestasi individual Kaufman Tes of Educational Achievement-II (KTEA-II) dirancang untuk mengukur kemajuan siswa dalam bidang akademis spt membaca, matematika, bahsa tertulis dan ekspresi lisan.

6. BAB 6 : TES KELOMPOK DAN KONTROVERSI DALAM TES KEMAMPUAN

6.1. Multidimensional pattitude battery (MAB-II) tes intelegensi kelompok pilihan ganda yang dirancang menjadi tes tertulis

6.2. Tes kemampuan kognitif (cognitive ability test) adalah representasi dari berbagai tes kombinasi bagi tes multilevel berbasis sekolah

6.3. Tes Intelegensi Adil-Budaya (CFIT) adalah pengukuran nonverbal intelegensi cair yang berupaya meminimalkan bias budaya.

6.4. Matrix progresif Raven (RPM), merupakan tes non verbal penalaran induktif yang memiliki 3 versi berbeda

6.5. Tes bakat diferensial, dibagi menjadi 8

6.5.1. Penalaran verbal

6.5.2. Penalaran Numerik

6.5.3. Penalaran Abstrak

6.5.4. Kecepatan dan Akurasi Perseptual

6.5.5. Penalaran Mekanis

6.5.6. Hubungan Ruang

6.5.7. Ejaan

6.5.8. Penggunaan Bahasa

6.6. GATB (General Aptitude Test Battery) terbagi menjadi 9

6.6.1. Kemampuan belajar umum

6.6.2. Bakat Verbal

6.6.3. Bakat Numerik

6.6.4. Bakat Spasial

6.6.5. Persepsi Bentuk

6.6.6. Persepsi Klerikal

6.6.7. Koordinasi Motorik

6.6.8. Kecekatan Jari

6.6.9. Kecekatan Manual

6.7. ASVAB (Armed Services Vocational Aptitude Battery) digunakan oleh Dinas Ketentaraan untuk menyaring dan menempatkan tentara baru.

6.8. SAT (Scolastic Assesment Test), tes pengukuran skolastik dan ACT (American College Test), tes perguruan tinggi Amerika.

6.9. GRE (Graduate Record Exam), adalah tes ujian umum nilai pasca sarjana.

6.10. MCAT (Medical College At Mission Test), tes penerimaan sekolah kedokteran dan LSAT (Law School at Mission Test), tes penerimaan sekolah hukum.

6.11. Tes Prestasi Metropolitan, tes kombnasi multilevel untuk tingkat TK hingga kelas XII

6.12. Tes Perkembangan Pendidikan Umum (GED - General Educational Development) dilaksanakan di seluruh negeri utk sertifikasi kesetaraan SMU.

7. BAB 7 : TES POPULASI KHUSUS

7.1. Gesell Develop Mental Schedules (GDS) mengukur kemajuan perkembangan para bayi sejak usia 4 minggu hinga 60 bulan

7.2. Neonatal Behavioral Assesment Scale (NBAS) untuk assessment terhadap perilaku bayi yang baru lahir.

7.3. Ordinal Scales of Pschycology Logical Development sebagai instrument pengukuran berbasis teori Piaget, mengukur perkembangan pada usia 2 minggu hingga 2 tahun.

7.4. Baile Scales of INVEFS And NTODDLER Development adalah Perkembangan mental dan motorik anak sejak usia 1-24 bln.

7.5. Differential Ability Scales, anak usia 2 tahun 6 bulan hingga 7 tahun 11 bulan

7.6. Wechsler Press School and Primary Scale of Intelegence (WPPSI) untuk anak usia 2,5 hingga 7 tahun 3 bln.

7.7. Stamford-Bineth Inteligence Scales for Early Childhood untuk anak usia 2,5 - 7 tahun 3 bln. Mengungkapkan informasi penting mengenai perilaku subjek saat melaksanakan tes.

7.8. Developmental Indicators for Assesment of Learning adalah penyaringan pra-sekolah yang bermanfaat dalam assesment motorik.

7.9. Home observation for the measurement of the envriontment (HOME), perkembangan anak yang dirancang berdasarkan observasi in home dan dengan pengasuhan utama.

7.10. Leiter International Performance Scale Revised, pengukuran perorganisasian, perseptual dan kemampuan penalaran pengadministrasiannya tdk memiliki batasan waktu

7.11. Good Enough -Harris Drawing Test- sebuah instrument penyaringan singkat untuk mengukur intelegensi

7.12. Hiskey Nebraska Test of Learning Aptitude, skala kinerja nirbahasa bagi anak usia 3-17 tahun.

7.13. Test of Nonverbal Intelegence (TONI), sebuah test bebas bahasa, yang menggunakan metode pilihan ganda untuk mengukur keterampilan kognitif.

7.14. Peabody Picture Vocabulary Test (PPVT) pengukuran cepat terhadap kosa kata lisan para penderita tuli atau gangguan yang berkaitan dengan bahasa dan kemampuan berbicara

7.15. Haptic Intelligence Scale For The Adult Bilnd (HISAB) bagi para penderita gangguan pengelihatan yang mencakup Perkins - Binet

7.16. Inventory for Client and Agency Planning (ICAP) menentukan kebutuhan pelayanan khusus seperti pelayanan perawat pribadi bagi penderita retardasi mental dan disabilitas lainnya

7.17. Scales of Independent Behavior-R (SIB-R) mengukur perilaku adiptif yang sangat bermanfaat dalam asesmen retardasi mental