1. transfer
1.1. faktor-faktor yang mempengaruhi transfer
2. pemecahan masalah
2.1. strategi pemecahan masalah : algoritma dan heuristik
2.2. faktor-faktor kognitif yang mempengaruhi pemecahan masalah
2.3. menggunakan teknologi komputer untuk mendorong pemecahan masalah
3. Contoh proses kognitif tingkat tinggi
3.1. Berpikir tingkat tinggi adalah operasi kognitif yang banyak dibutuhkan pada proses-proses berpikir yang terjadi dalam short-term memory. Bagaimana Melatih Siswa Berpikir Tingkat Tinggi? Di Indonesia, proses pembelajaran yang melatih siswa berpikir tingkat tinggi memiliki beberapa kendala. Salah satunya adalah terlalu dominannya peran guru di sekolah sebagai penyebar ilmu atau sumber ilmu (teacher center) belum student center; dan fokus pendidikan di sekolah lebih pada yang bersifat menghafal/pengetahuan faktual. Siswa hanya dianggap sebagai sebuah wadah yang akan diisi dengan ilmu oleh guru. Kendala lain yang sebenarnya sudah cukup klasik namun memang sulit dipecahkan, adalah sistem penilaian prestasi siswa yang lebih banyak didasarkan melalui tes-tes yang sifatnya menguji kemampuan kognitif tingkat rendah. Siswa yang dicap sebagai siswa yang pintar atau sukses adalah siswa yang lulus ujian. Ini merupakan masalah lama yang sampai sekarang masih merupakan polemik yang cukup seru bagi dunia pendidikan di Indonesia. Diperlukan Higher Order Questions (rich questions), pertanyaan yang meminta siswa untuk menyimpulkan, hypothesise, menganalisis, menerapkan, mensintesis, mengevaluasi, membandingkan, kontras atau membayangkan, menunjukkan jawaban tingkat tinggi. Untuk menjawab Higher Order Questions (rich questions) diperlukan penalaran tingkat tinggi yaitu cara berpikir logis yang tinggi, berpikir logis yang tinggi sangat diperlukan siswa dalam proses pembelajaran di kelas khususnya dalam menjawab pertanyaan, karena siswa perlu menggunakan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan yang dimilikinya dan menghubungkannya ke dalam situasi baru.
3.1.1. Berpikir tingkat tinggi (higher order thingking/HOT) adalah proses berpikir yang mengharuskan siswa untuk memanipulasi informasi dan ide-ide dalam cara tertentu yang memberi mereka pengertian dan implikasi baru. Kegiatan tersebut misalnya mulai dari menggabungkan fakta dan ide dalam proses mensintesis, melakukan generalisasi, menjelaskan, melakukan hipotesis dan analisis, dan akhirnya sampai pada suatu kesimpulan. Proses berpikir tingkat tinggi memberikan kesempatan bagi siswa yaitu. Pertama, melontarkan pertanyaan, memberikan kesempatan untuk menghargai dan mengakui partisipasi dan pengambilan risiko siswa. Kedua, bertanya memberikan kesempatan untuk mengasah dan membuka pikiran siswa tentang konsep yang sedang dipelajari dan tentang pikiran mereka sendiri di balik konsep tersebut. Contoh penerapannya yaitu seperti dalam pembelajaran geografi, guru dapat memulai dari masalah yang ada di sekitar siswa, seperti masalah banjir, kemacetan kota, kematian bayi yang tinggi, masalah kemiskinan, dan banyak lagi permasalahan lingkungan siswa yang itu semuanya merupakan objek material pembelajaran geografi di sekolah, yang senantiasa mengundang rasa ingin tahu, intuisi, dan berpikir dalam berbagai cara. Nah untuk mengembangkan inteligensi dalam pembelajaran berkaitan erat dengan pemecahan masalah, karena pemecahan masalah dalam konteks dunia nyata melibatkan berbagai cara untuk memahami dan cara untuk mempelajari. Dalam pembelajaran di sekolah, seorang guru sebaiknya memulai pelajaran dengan menentukan masalah (posing problem) tentang suatu fenomena. Keterampilan yang melibatkan analisis, evaluasi dan sintesis (penciptaan pengetahuan baru) dianggap suatu tatanan yang lebih tinggi, memerlukan pembelajaran yang berbeda dan metode pengajaran, Berpikir tingkat tinggi melibatkan pembelajaran keterampilan Menghakimi kompleks seperti berpikir kritis dan pemecahan masalah. Siswa harus dapat berpikir dan bernalar dalam menjawab pertanyaan – pertanyaan untuk memecahkan suatu masalah dalam pembelajaran.