1. Aksis Hipotalamus - Pituitari Anterior - Ovarium
1.1. Sistem HPO axis terbagi menjadi 2 regulasi
1.1.1. Positive Feedback
1.1.1.1. Amplifikasi respon gonadotropin terhadap GnRH oleh Estradiol.
1.1.2. Negative Feedback
1.2. Mekanisme aksi
1.2.1. Di Hipotalamus, neurosecretory cells mensintesis dan melepaskan GnRH
1.2.2. GnRH dilepaskan ke Hypothalamic–Hypophysial–portal circulation
1.2.3. Direspon oleh Gonadotrope di Pituitari anterior
1.2.3.1. Sekresi FSH
1.2.3.1.1. Menstimulasi perkembangan dan pematangan folikel2 ovarium
1.2.3.2. Sekresi LH
1.2.3.2.1. Menstimulasi ovulasi & pembentukan corpus luteum
1.3. Hormon Regulasi
1.3.1. GnRH
1.3.1.1. Mengendalikan pelepasan FSH dan LH dari Pituitari anterior
1.3.2. FSH
1.3.2.1. Berperan dalam fase folikuler siklus menstruasi
1.3.2.2. Merangsang pertumbuhan & pematangan folikel ovarium (proliferasi folikel menjadi folikel de graff)
1.3.2.3. Regulasi produksi Estradiol dan inhibin B di sel2 granulosa
1.3.3. LH
1.3.3.1. Menstimulasi ovulasi
1.3.3.2. Menstimulasi sekresi inhibin A oleh sel2 granulosa-lutein dari corpus luteum
1.3.4. Estradiol
1.3.4.1. Menjaga dinding endometrium tidak mengalami peluruhan
1.3.5. Prolaktin
1.3.5.1. Menginhibisi sintesis/sekresi GnRH pada level hipotalamus-pituitari
1.3.6. TSH
1.3.6.1. Menjaga stabilitas HPO axis
1.3.7. Estrogen
1.3.7.1. Mempertebal dinding endometrium
1.3.7.2. Meningkatkan motilitas myometrium
1.3.7.3. Produksi lapisan tipis
1.3.8. Progesteron
1.3.8.1. Menjaga kondisi uterus selama kehamilan (uterus jadi bentuk sekretori)
1.3.8.2. Menurunkan motilitas miometrium
1.3.8.3. Produksi lendir serviks bersifat asam (cegah polysperma)
2. Penyebab
2.1. Disregulasi sistem neuroendokrin
2.2. tidak seimbangnya axis HPO,
2.3. produksi gonadotropin (FSH dan LH) yang lebih banyak.
2.4. GnRH lebih memicu produksi LH daripada FSH, menyebabkan meningkatnya LH:FSH
2.5. Insulin potensiasi ovarium dan korteks adrenal
2.5.1. steroidogenesis.
2.6. Sex Hormone Binding Globulin diturunkan
3. Anatomi dan Fisiologi Female Reproductive Organ
3.1. Ovarium
3.1.1. Memproduksi gamet (oosit sekunder yang akan berkembang menjadi ovum (sel telur) setelah fertilisasi)
3.1.2. Produksi hormon (progesterone, estrogen, inhibin, dan relaxin oleh korpus luteum )
3.2. Uterus
3.2.1. tempat implantasi sel telur yang telah difertilisasi,
3.2.2. perkembangan janin selama kehamilan,
3.3. Tuba Falopii
3.3.1. Tempat terjadinya ovulasi
3.3.2. Tempat berjalannya sel telur dari ovarium menuju rahim
3.4. Vagina
3.4.1. Wadah insersi penis ketika berhubungan seks,
3.4.2. tempat pengeluaran cairan menstruasi
3.5. Vulva
3.5.1. Organ eksternal
4. Tipe Kontrasepsi
4.1. Kontrasepsi Oral Tunggal
4.1.1. Definisi
4.1.1.1. Progesterone Only Pill (POP) untuk wanita kontraindikasi COC
4.1.2. Metode
4.1.2.1. Mini pills
4.1.2.2. DMPA injection
4.1.2.3. Etonogestrel implant
4.1.2.4. Levonogestrel IUDs
4.1.3. Efek samping
4.1.3.1. jerawat
4.1.3.2. kista ovarium folikuler.
4.1.3.3. Menstruasi tidak teratur
4.1.4. Mekanisme Kerja
4.1.4.1. Meningkatkan kekentalan mukus pada serviks
4.1.4.1.1. hambatan pada penetrasi sperma
4.1.4.2. Meningkatkan motilitas otot polos di vagina
4.1.4.2.1. Pergerakan ovum terhambat menuju tuba falopii
4.1.4.3. Inhibisi hormon dan anovulasi
4.1.4.3.1. umpan balik negatif ke kelenjar pituitari s
4.1.5. Farmakokinetika
4.1.5.1. Generasi 1
4.1.5.1.1. Contoh obat
4.1.5.2. Generasi 2
4.1.5.2.1. Contoh obat
4.1.5.3. Generasi 3
4.1.5.3.1. Contoh obat
4.2. Kontrasepsi Oral Kombinasi
4.2.1. Definisi
4.2.1.1. kombinasi Estrogen & Progesteron yang memberikan efikasi tinggi jika digunakan konsisten serta efek pola menstruasi yang relatif reguler
4.2.2. Metode
4.2.2.1. Kombinasi Estrogen dan Progesteron
4.2.3. Efek samping
4.2.3.1. unscheduled vaginal bleeding → 30%--50% users during the initial 3 months of use.
4.2.4. Mekanisme Kerja
4.2.4.1. Meningkatkan kekentalan mukus pada serviks
4.2.4.2. Estrogen
4.2.4.2.1. menghambat produksi FSH dan LH
4.2.4.3. Progesteron
4.2.4.3.1. Mengurangi sekresi hormon LH s
4.2.5. Golongan Obat
4.2.5.1. Generasi 1
4.2.5.1.1. EE + Norethindrone Acetate
4.2.5.1.2. EE + Ethynodiol Diacetate
4.2.5.1.3. EE + Norethindrone
4.2.5.1.4. EE + Norgestrel
4.2.5.2. Generasi 2
4.2.5.2.1. EE + Levonorgestrel
4.2.5.3. Generasi 3
4.2.5.3.1. EE + Norgestimate
4.2.5.3.2. EE + Desogestrel
4.2.6. Dosis
4.2.6.1. Monofasik
4.2.6.1.1. jumlah tetap dalam setiap pil aktif
4.2.6.2. Bifasik
4.2.6.2.1. dosis nya akan berubah sebanyak 2 kali atau meningkat setelah setengah siklus.
4.2.6.3. Trifasik
4.2.6.3.1. dosisnya berubah sebanyak 3 kali dalam 1 siklus.
4.2.7. Cara Penggunaan
4.2.7.1. Berikan sejumlah pack pil sesuai preferensi pengguna (13 packs = 1 year supply)
4.2.7.2. konsumsi 1 pil setiap hari.
4.2.7.3. Lanjut ke 21 dan 28 pill packs
4.3. Kontrasepsi Oral Emergency
4.3.1. Definisi
4.3.1.1. unprotected sexual intercourse.
4.3.2. Metode
4.3.2.1. Ethinylestradiol dan Levonorgestrel
4.3.2.2. EC containing UPA (Ulipristal acetate)
4.3.2.3. Copper-releasing IUDs
4.3.3. Efek samping
4.3.3.1. mual-muntah, irregular bleeding (biasanya sembuh pada siklus menstruasi berikutnya), pusing, dan abdominal pain.
4.3.4. Gol Obat
4.3.4.1. Progestrin&estrogen
4.3.4.1.1. Mengurangi sekresi hormon LH sehingga menghambat ovulasi saat fase luteal menstruasi
4.3.4.2. Ulipristal Acetate
4.3.4.2.1. berfungsi sebagai modulator reseptor progesteron selektif, bertindak sebagai agonis parsial pada PR
4.3.4.3. Copper IUD
4.3.4.3.1. reaksi inflamasi di dalam endometrium yang mengganggu viabilitas, motilitas, dan pembuahan sperma
5. Generasi terbaru memiliki profil farmakokinetika yang lebih baik dalam aspek BA dan waktu paruh, dan juga onset yang lebih cepat
6. Gejala
6.1. Periode menstruasi ireguler
6.2. Hiperandrogenisme
6.3. Polycystic ovaries
7. Digunakaan saat
7.1. Kerusakan/salah menggunakan kondom
7.2. 3 atau lebih hari berturut-turut lupa menggunakan COC
7.3. Lebih dari 27 jam setelah pengambilan kontrasepsi tunggal progestogen
7.4. Lebih dari 36 jam setelah pengambilan kontrasepsi tunggal desogestrel
7.5. Kegagalan tablet atau lapisan spermisida sebelum hubungan
7.6. Kegagalan penggunaan metode barrier di hari subur dalam siklus ketika menggunakan metode fertility awareness
8. Kriteria Penggunaan Kontrrasepsi (WHO)
8.1. Kategori
8.1.1. 1
8.1.1.1. tidak ada larangan penggunaan kontrasepsi pada kondisi terkait.
8.1.2. 2
8.1.2.1. Metode kontrasepsi tertentu dapat digunakan tetapi monitoring perlu dilakukan.
8.1.3. 3
8.1.3.1. memerlukan pertimbangan medis sebelum pemakaian kontrasepsi; alternatif lain perlu dikonsiderasi.
8.1.4. 4
8.1.4.1. Kondisi yang tidak memungkinkan / tidak aman dengan pemakaian kontrasepsi.
9. Diminum selama 28 haro
10. Menstruation Related disorders
10.1. Amenorrhea
10.1.1. Kondisi tidak terjadinya menstruasi >6 bulan padawanita berumur 12 hingga 49 tahun
10.1.1.1. Terbagi
10.1.1.1.1. Amenorrhea Primer
10.1.1.1.2. Amenorrhea Sekunder
10.1.2. Oosit matang dibawa ke tuba falopi
10.1.2.1. Reorganisasi dinding sel folikel
10.1.2.1.1. negative feedback (level hipotalamus - pituitari) ---- frekuensi LH pulse melambat
10.1.2.2. Hypertrophy dan hyperplasia sel
10.1.2.3. sekresei
10.1.2.3.1. progresteron
10.1.2.3.2. estradiol
10.1.3. Obat terapi
10.1.4. Conjugated Estrogen: Premarin
10.1.4.1. Mekanisme
10.1.4.1.1. Berikatan pada nuclear receptor.
10.1.4.2. Efek samping
10.1.4.2.1. Vasodilatasi, hipertensi, vaginitis
10.1.4.3. Dosis
10.1.4.3.1. PO: 1,25 mg daily (3 minggu on, 1 minggu off)
10.1.5. Ethinyl Estradiol patch: Alora
10.1.5.1. Mekanisme
10.1.5.1.1. Estrogen intraseluler pada manusia yang poten).
10.1.5.2. Efek samping
10.1.5.2.1. Edema, nyeri, erythema kulit
10.1.5.3. Dosis
10.1.5.3.1. 50 mcg/24 jam
10.1.6. Oral MPA: Provera
10.1.6.1. Mekanisme
10.1.6.1.1. Derivat progesterone yang mengubah endometrium
10.1.6.2. Efek samping
10.1.6.2.1. BB turun , pusing
10.1.6.3. Dosis
10.1.6.3.1. PO: 5–10 mg pada hari ke 14–25 of the cycle
10.2. Dysmenorrhea
10.2.1. Nyeri selama siklus menstruasi.
10.2.1.1. Terbagi
10.2.1.1.1. Dysmenorrhea Primer
10.2.1.1.2. Dysmenorrhea Sekunder
10.2.2. Gejala Umum
10.2.2.1. Nyeri pada abdomen bagian bawah
10.2.2.2. Keram
10.2.2.3. Nausea
10.2.2.4. Mual
10.2.2.5. Sakit kepala
10.2.2.6. Kelelahan
10.2.3. Naproxen
10.2.3.1. Indikasi
10.2.3.1.1. Primary Dysmenorrhea
10.2.3.2. Efek Samping
10.2.3.2.1. Primary Dysmenorrhea
10.2.3.3. Dosisi
10.2.3.3.1. Awal 500 mg, dilanjuti 250 mg/6–8 jam sesuai kebutuhan
10.2.4. CHC: Ethinyl Estradiol + Levonorgestrel
10.2.4.1. Indikasi
10.2.4.1.1. Kontrasepso
10.2.4.2. Efek samping
10.2.4.2.1. Mual, dysmenorrhea, peningkatan berat badan
10.2.4.3. Dosis
10.2.4.3.1. 1 tab/hari selama 21 hari;
10.3. Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS)
10.3.1. Folikel tidak berkembang dengan baik
10.3.2. tidak menghasilkan telur secara reguler.
10.3.3. lapisan luar folikel lebih tebal dari normalnyaL
10.3.4. Golongan Obat
10.3.4.1. COC: Etinil Estradiol dan Levonorgestrel
10.3.4.1.1. Indikasi
10.3.4.1.2. Efek samping
10.3.4.1.3. Satu tablet PO per hari selama 21 hari
10.3.4.2. Progestin: Medroxyprogesterone acetate
10.3.4.2.1. Indikasi
10.3.4.2.2. Efek Samping
10.3.4.2.3. Dosis
11. Hubungan Estrogen dan Progesteron dalam dunia kontrasepsi
11.1. Mekanisme Kontrasepsi
11.1.1. Estrogen
11.1.1.1. Umpan balik negatif Estrogen ke Kelenjar hipofisis
11.1.1.2. Menurunkan amplitudo hormon pelepas Gonadotropin
11.1.1.3. lonjakan pelepasan LH
11.1.1.4. Folikel tidak berkembang
11.1.1.5. Tidak ada peningkatan kadar estradiol
11.1.1.6. Ovulasi Dicegah
11.1.2. Progesteron
11.1.2.1. Umpan balik negatif Progesteron ke Hipotalamus
11.1.2.2. Menurunkan frekuensi denyut hormon pelepas Gonadotropin
11.1.2.3. Mengurangi sekresi hormon LH saat fase luteal siklus
11.1.2.4. Folikel tidak berkembang
11.1.2.5. Tidak ada peningkatan kadar estradiol
11.1.2.6. Ovulasi Dicegah
12. Postovulation
12.1. Luteal phase
12.2. Secretory phase
13. Ovulation
14. Preovulation
14.1. Mens phase
14.2. Proliferation phase
15. Siklus Regulasi Menstruasi dan Kehamilan
15.1. Siklus Uterine
15.1.1. terdiri dari
15.1.1.1. Proliferation phase
15.1.1.1.1. Bersamaan dengan Follicular phase untuk mempersiapkan fertilisasi dan implantasi.
15.1.1.1.2. Estrogen mempertebal dinding Endometrium
15.1.1.2. Secretory phase
15.1.1.2.1. Bersamaan dengan Luteal phase
15.1.1.2.2. Penebalan endometrium
15.1.1.2.3. Penebalan miometrium
15.1.1.2.4. Produksi lendir serviks
15.1.1.3. Menstrual phase
15.1.1.3.1. Jika fertilisasi tidak terjadi
15.2. Diatur dua siklus berkesinambungan
15.3. Siklus Ovarium
15.3.1. terdiri dari
15.3.1.1. Follicular phase
15.3.1.1.1. Kadar FSH & LH meningkat; Estrodiol sedikit
15.3.1.1.2. Stimulasi pertumbuhan folikel & produksi Estrogen
15.3.1.2. Ovulation phase
15.3.1.2.1. LH meningkat, folikel mengalami rupture
15.3.1.3. Luteus phase
15.3.1.3.1. rupture terbentuk corpus luteum setelah ovulasi.
16. bleeding for 2-7 days
17. Oleh Progesteron
18. Fertilisasi
18.1. Tidak terjadi
18.1.1. Corpus luteum hilang (setelah 14 hari)
18.1.1.1. Sekresi Progesteron dan estradiol (-)
18.2. Terjadi
18.2.1. Syncytiotrophoblast dari embrio produksi HCG
18.2.1.1. Corpus Luteum bertahan