DINAMIKA SEJARAH PERJUANGAN MUHAMMADIYAH DARI AWAL SAMPAI SEKARANG
作者:Citra Kumala Dewi
1. KEPEMIMPINAN H.AR FAKHRUDIN(1968-1990) H. Ar Fakhrudin menjadi ketua umum Muhammadiyah terlama. Sosok yang sering disapa sebagai Pak AR ini dikenal sebagai pribadi sederhana, bersahaja, dan memberikan ceramah yang menyejukkan. Pada periode kepemimpinannya, Pak AR menonjolkan untuk Me-Muhammadiyahkan lagi Muhammadiyah. Pada masa ini, Pak AR ditantang untuk mengubah asas Islam dengan Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi di Indonesia. Muhammadiyah akhirnya mengambil sikap Siasat Jalur Helem yang berarti untuk sementara, namun berdasarkan Islam. Beberapa kegiatan yang penting dalam periode ini antara lain ikut membidani lahirnya Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), konsep kaderisasi dan pedoman pembinaan yang tersusun, dan juga pengukuhan Khittah Muhammadiyah di Ponorogo pada Muktamar ke-40.
1.1. KEPEMIMPINAN K.H AZHAR BASYIR (1990-1994) Sosoknya dikenal sebagai tokoh kharismatik pejuang perang sabil, namun sekaligus ulama yang sederhana. Periode kepemimpinannya menghasilkan program jangka panjang Muhammadiyah 25 tahun yang terdiri dari bidang Konsolidasi Gerakan, bidang Pengkajian dan Pengembangan, dan bidang Kemasyarakatan.
2. KEPEMIMPINAN Dr. KH Haedar Nashir pada Muktamar ke-47 Makassar, 7 Agustus 2015, Din Syamsuddin digantikan oleh Dr. KH Haedar Nashir. Haedar sendiri bukan nama baru di kalangan Muhammadiyah. Ia merintis dari menjadi ketua PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Sekretaris PP Muhammadiyah dan akhirnya menjadi ketua umum. Haedar dikenal sebagai sosok cerdas, dan sering memberikan ide-ide soal pembaruan Islam. Hal ini tercermin dalam salah satu bukunya berjudul Muhammadiyah sebagai Gerakan Pembaharuan. Di era sekarang ini, Muhammadiyah bertekad mendudukan Islam lebih maju, bukan hanya Islam yang hanya mengusung toleransi dan kemanusiaan, tetapi juga Islam yang objektif dan Islam yang membangun adab bangsa. Muhammadiyah di bawah pimpinan Haedar Nashir berupaya agar hadir dan menyentuh isu-isu publik yang menyangkut kehidupan banyak orang. Selain itu, Muhammadiyah juga berupaya untuk tetap menjaga khittah dan prinsipnya, agar tak terlibat dalam politik praktis. Seperti diketahui memasuki tahun politik 2019, Muhammadiyah diguncang isu keberpihakan politik. Namun, melalui Haedar Nashir, Muhammadiyah menegaskan tetap akan kembali ke khittah dan kepribadian organisasi, yaitu organisasi sosial keagamaan. Itulah sejarah Muhammadiyah di Indonesia. Semoga kita bisa belajar dari perkembangan tersebut.
3. Masa Orde Baru (1968-1995)
3.1. KEPEMIMPINAN K.H FAKIH USMAN(Putusan muktamar ke-37 1968) Setelah memerangi PKI dan antek-anteknya, Muhammadiyah masuk ke periode Orde Baru yang saat itu Indonesia dalam masa pemerintahan Presiden Soeharto. Pada Muktamar ke-37 1968, Muhammadiyah telah menetapkan KH Fakih Usman sebagai ketua umum. Namun tak lama kemudian beliau wafat dan digantikan oleh wakil ketua I, yaitu H. Ar Fakhrudin berdasarkan Sidang Tanwir.
4. Masa Reformasi dan Pasca Reformasi (1995-2015)
4.1. KEPEMIMPINAN Dr.H AMIEN RAIS (1995-2000) KH Azhar Basyir tidak sampai akhir periode kepemimpinan karena ia meninggal dunia pada 28 Juni 1994. Jabatan Ketua Umum Muhammadiyah kemudian dilanjutkan oleh Dr H Amien Rais yang dikukuhkan pada Muktamar 1995 di Yogyakarta. Amien Rais di periode selanjutnya juga terpilih kembali ketua umum yakni periode 1995-2000. Tidak bisa dipungkiri aktivitas Amien Rais di Muhammadiyah dilatari keprihatinannya atas kondisi politik nasional yang menurutnya perlu direformasi. Setelah rezim Soeharto lengser, Amien Rais mendirikan Majelis Amanah Rakyat (MARA) sebagai bentuk solusi pasca-reformasi. Ia lantas membentuk Partai Amanat Nasional (PAN) yang secara fenomenal mampu sukses di pemilu 1999. Berkat kesuksesan PAN berada di 5 besar perolehan suara nasional, Amien Rais didapuk menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI). Namun konsekuensinya, Amien harus melepas jabatan Ketua Umum Muhammadiyah.
4.2. KEPEMIMPINAN Prof.Dr. A Syafii Maarif (2000-2005) Posisi Amien Rais digantikan oleh Prof.Dr. Ahmad Syafii Maarif. Pria yang akrab disapa Buya Safii dikenal sebagai tokoh yang pluralis dan tak sedikit menyumbang gagasan-gagasan keislaman untuk Muhammadiyah dan Indonesia. Pada masa kepemimpinannya, Buya Safii mengedepankan proses dinamisasi Muhammadiyah agar secara optimal menggerakkan usaha-usaha tajdid dan cita-cita pencerahan yang ingin diraihnya. Salah satunya adalah mendorong kebangkitan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) sebagai pelaku sejarah masa depan yang disiapkan Muhammadiyah.
4.3. KEPEMIMPINAN Prof.Dr.KH Din Syamsuddin (2005-2010) Ketua Umum Muhammadiyah berganti lagi pada 2005. Dalam muktamar ke-44 di Jakarta, terpilihlah nama Prof. Dr. KH Din Syamsuddin. Din Syamsuddin dikenal sebagai politisi partai Golongan Karya (Golkar) sebelum menjadi ketua. Din mempunyai pemikiran kritis terhadap pemerintah. Ia juga dikenal sebagai sosok yang plural, toleran terhadap agama lain, namun masih memegang prinsip Islam secara kuat. Di bawah kepemimpinan Din, Muhammadiyah mampu tampil di kancah internasional. Hal ini ditunjukkan melalui aktifnya Muhammadiyah dalam isu perdamaian, multikulturalisme, dialog antaragama, dan resolusi konflik. Sebagai contoh, Muhammadiyah turut memprakarsai World Peace Forum bersama Center for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC).
4.4. KEPEMIMPINAN Prof. Dr. KH Din Syamsuddin (Periode ke-2 / 2010-2015) Muhammadiyah juga aktif sebagai anggota ICG (International Contact Group) dalam penyelesaian konflik Filipina. Din Syamsuddin sukses menjadi ketua umum Muhammadiyah dalam dua periode. Pada Muktamar Muhammadiyah ke-45, ia kembali terpilih menjadi ketua umum untuk periode 2010-2015.
5. Masa Sekarang (2015-sekarang)
6. Citra Kumala Dewi Xl Akuntansi
7. KEPEMIMPINAN A.R SUTAN MANSYUR (1952-1959) Setelah Ki Bagus Hadikusumo, kepemimpinan Muhammadiyah berlanjut ke Ahmad Rasyid Sutan Mansyur(1952-1959). Sutan Mansyur memperkuat Ruh Tauhid, salah satunya dengan adanya Khittah Palembang. Salah satu kegiatan yang penting adalah sidang tanwir, yang membahas Konsepsi Negara Islam di Pekajangan, Pekalongan pada 1955, Sidang Tanwir pada 1956 yang salah satu isinya masalah politik bagi Muhammadiyah diserahkan pada partai Masyumi. sehingga partai masyumi menjadi bagian terpenting dalam perkembangan sejarah Muhammadiyah.
8. KEPEMIMPINAN H.M Yunus Anies (1959-1962) Pada periode kepemimpinannya, negara mengalami goncangan sosial politik yang cukup besar, namun ia berhasil membawa Muhammadiyah terus berjalan menetap pada jati dirinya. Majelis Pustaka menjadi salah satu yang paling menonjol perannya dalam periode ini. Muhammadiyah mulai membenahi dokumentasi, juga penulisan yang ditujukan untuk penelitian. Selain mengumpulkan arsip-arsip, Majelis Pustaka juga menghasilkan penerbitan buku riwayat hidup dan Almanak Muhammadiyah.
9. KEPEMIMPINAN KH. Ahmad Badawi (1962-1968) KH. Ahmad Badawi merupakan tokoh yang luas wawasannya dan pengetahuan agamanya dapat diterima semua kalangan. Di bawah kepemimpinannya, Muhammadiyah dengan tegas bersikap memerangi PKI dan antek-anteknya. Pada masa itu, negara sedang menghadapi teror PKI. Sementara keadaan politik tidak menentu dan kondisi sosial ekonomi sangat buruk, dibuktikan dengan potret kemiskinan yang ada dimana-mana. K.H.A Badawi secara tegas menyatakan Membubarkan PKI adalah Ibadah. Dua pasukan yang disiapkan Muhammadiyah saat G 30 S PKI pecah adalah Tapak Suci dan KOKAM (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah). Muhammadiyah diberikan fungsi politis oleh pemerintah untuk dapat duduk di DPR dan MPR sehingga bisa memerangi PKI. Namun setelah keadaan mereda, Muhammadiyah kembali ke khittahnya menjadi organisasi keagamaan yang bergerak di bidang sosial.
10. Masa Setelah Kemerdekaan (1952-1968)
11. Masa Sebelum Kemerdekaan (1923-1943)
11.1. KEPEMIMPINAN K. H Ibrahim (1923-1932) Kepemimpinan K.H Ahmad Dahlan dilanjutkan oleh K. H Ibrahim, yang merupakan adik iparnya, atau adik kandung istri Ahmad Dahlan, yakni Nyai Walidah. Di bawah pimpinan K. H Ibrahim, Muhammadiyah mulai berkembang dan menyasar daerah-daerah di luar pulau Jawa, Sebagai ulama yang tak pernah mengenyam pendidikan model barat, K.H Ibrahim juga mulai mendirikan majelis tarjih sebagai unsur pembantu pimpinan Muhammadiyah. Juga ada dua ordo organisasi Muhammadiyah dari golongan pemuda, yakni Nasyiatul Aisyiyah dan Pemuda Muhammadiyah. Beberapa aktivitas yang menjadi unggulan antara lain pendirian “Fonds Dachlan” yakni sebuah yayasan untuk membiayai sekolah anak-anak kurang mampu pada 1924, mengadakan khitanan massal untuk pertama kali pada 1925, pemakaian tahun Islam dalam pencatatan surat- menyurat dan Sholat Hari Raya di lapangan pada Muktamar 1926 Surabaya. Keputusan Muhammadiyah tidak berpolitik namun hanya memperbaiki akhlak orang yang berpolitik (tidak melarang anggotanya untuk berpolitik praktis) pada Muktamar 1927 di Pekalongan. K.H Ibrahim menjadi ketua Muhammadiyah hingga 1932.
11.2. Setelah era kepemimpinan K.H Ibrahim, Muhammadiyah dipimpin oleh K.H Hisyam dari 1932 hingga 1936. K.H Hisyam merupakan murid langsung dari K.H Ahmad Dahlan dan diresmikan menjadi ketua umum Muhammadiyah dalam muktamar di Yogyakarta pada 1934. Pada masa kepemimpinan K.H Hisyam, pendidikan menjadi salah satu hal yang paling menonjol karena menjadi fokus utama program-programnya. Pada muktamar 1934 misalnya, pengubahan nama sekolah berbahasa Belanda menjadi bahasa Indonesia, Volkschool menjadi Sekolah Rakyat. Pada 1936, juga diputuskan untuk mendirikan sekolah tinggi dan mendirikan Majelis Pertolongan & Kesehatan Muhammadiyah (MPKM). K. H Hisyam juga menertibkan
11.3. KEPEMIMPINAN K.H Mas Mansyur (1936-1942) Pada Oktober 1936, era kepemimpinan beralih ke K.H Mas Mansyur. K.H Mas Mansyur dikenal sebagai tokoh yang kreatif serta pemberani sehingga aktif dalam pemurnian kembali paham agama yang menjadi garis besar di Muhammadiyah.Dua program yang menonjol dari K.H Mas Mansyur adalah pemanfaatan Majelis Tarjih dengan membuat “Masalah Lima” (Dunia, Agama, Qiyas, Sabilillah, dan Ibadah) serta “Langkah Dua Belas” untuk mengggerakkan Muhammadiyah lebih dinamis dan berbobot. Program ini begitu penting dalam sejarah muhammadiyah di Indonesia. Beberapa kegiatan yang menjadi unggulannya yaitu, pembentukan Bank Muhammadiyah pada muktamar 1937, ikut mempelopori MIAI (Majelisul Islam A’la Indonesia), menentang pelarangan guru mengajar disekolah Muhammadiyah oleh Belanda (Ondewijs Ordonansi) hingga mengeluarkan gerakan menghimpun dana untuk kaum dhu’afa (Franco Amal).
12. MASA KEMERDEKAAN (1942-1952)
12.1. KEPEMIMPINAN K.H Bagus Hadikusumo (1942-1952) Pada 1942, beliau ditunjuk untuk menggantikan posisi KH Mas Mansur sebagai ketua umum Muhammadiyah. Semasa kepemimpinannya di Muhammadiyah, Hadikusumo juga tergabung dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Dalam sidang-sidang PPKI, Ki Bagus Hadikusumo memperjuangkan agar Islam menjadi pilar dalam dasar negara. Ki Bagus Hadikusumo menjalankan perannya sebagai ketua Muhammadiyah dengan pemikiran-pemikiran yang modern. Tidak hanya mementingkan keagamannya saja, tetapi membantu proses kemerdekaan Indonesia.