1. Dysfunctional Behavior
1.1. Depression
1.1.1. misjudge self-performance, atau menghapus pencapaian pribadi dari ingatan
1.1.2. Membuat jusgement yang salah karena standard nya terlalu tinggi dan tidak realistis sehingga semua pencapaian akan dihtiung gagal
1.1.3. Judge dirinya buruk dan cenderung memperlakukan dirinya kurang baik
1.2. Phobias
1.2.1. Ketakutan yang parah yang bisa mengganggu kehidupan sehari-hari seseorang, diperkuat dengan faktor determinan - negative reward ketika mereka berhasil menghindari sumber ketakutan
1.3. Aggressive behaviors
1.3.1. Timbul karena observasi terhadap orang lain, pengalaman langsung yang menimbulkan reinforcement, training, instruksi, atau kepercayaan. Dilanjutkan karena:
1.3.1.1. Mendapat positif reinforcement ketika menyakiti korban
1.3.1.2. Mendapat reinforcement negatif ketika menghindari atau melawan konsekuensi permusuhan dari agresi orang lain
1.3.1.3. Menerima punishment yaitu luka atau bahaya jika tidak berperilaku agresif
1.3.1.4. melakukan sekf-reinforcement dengan cara hidup sesuai dengan personal standard nya
1.3.1.5. Melihat orang lain mendapat reward ketika berperilaku agresif dan sebaliknya
2. Triadic Reciprocal Causation
2.1. Pertemuan dan event ini dapat dikontrol, dapat dihindari dan dapat ditingkatkan kemungkinan terjadinya.
2.2. Environment
2.2.1. Chance Encounters
2.2.1.1. Pertemuan dengan orang yang unfamiliar satu sama lain
2.2.2. Fortuitous Events
2.2.2.1. Pengalaman di lingkungan yang tidak terduga dan direncanakan
2.3. Person (Human Agency)
2.3.1. Core Features
2.3.1.1. Intentionality
2.3.1.1.1. Planning and Actions
2.3.1.2. Forethought
2.3.1.2.1. Set goals serta perilaku apa untuk mencapainya
2.3.1.3. Self-Reactiveness
2.3.1.3.1. Memonitor perilaku pribadi apakah sudah tepat berprogres menuju goals yang spesifik dan realistis
2.3.1.4. Self-Reflectiveness
2.3.1.4.1. Refleksi terkait goal, value, atau belief yang dipegang serta makna tujuan hidup tersebut.
2.3.2. Self-Efficacy
2.3.2.1. Kepercayaan diri seseorang bahwa mereka mampu melakukan suatu perilaku. Dapat ditingkatkan atau dikurangi dengan :
2.3.2.1.1. Mastery Experience
2.3.2.1.2. Social Modeling
2.3.2.1.3. Social Persuasion
2.3.2.1.4. Physical and emotional state
2.3.3. Proxy Agency
2.3.3.1. Mengandalkan orang lain untuk mencapai goal tertentu. Goalnya sehat -> dokter
2.3.4. Collective Efficacy
2.3.4.1. Kepercayaan yang orang-orang punya bahwa kemampuan mereka yang disatukan bisa membawa pencapaian yang positif bagi kelompok. Faktor yang memengaruhi:
2.3.4.1.1. Dunia Transnasional
2.3.4.1.2. Teknologi yang tidak bisa dipahami atau dipercaya
2.3.4.1.3. Birokrasi yang mencegah perubahan sosial
2.3.4.1.4. Permasalahan manusia berskala besar
2.4. Behavior
2.4.1. Self Regulation
2.4.1.1. Jika individu memiliki kemampuan atau faktor baik dalam human agency, maka mereka memiliki kapasitas untuk meregulasi perilakunya sendiri.
2.4.1.1.1. Secara reaktif mengurangi jarak antara pencapaian pribadi dan tujuan yang ada. Setelah itu secara proaktif membuat tujuan atau goal yang lebih tinggi lagi.
3. LEARNING
3.1. Observational Learning
3.1.1. Modelling
3.1.1.1. Karakter
3.1.1.1.1. Dari Model
3.1.1.1.2. Dari Pengamat
3.1.1.1.3. Dari konsekuensi perilaku yang dimodelkan
3.1.1.2. Proses
3.1.1.2.1. Attention
3.1.1.2.2. Representation
3.1.1.2.3. Behavioral Production
3.1.1.2.4. Motivation
3.2. Enactive Learning - evaluate about the consequences of one's behavior
3.2.1. Fungsi
3.2.1.1. inform us about the effect of our action
3.2.1.2. menambah kecenderungan melakukan perilaku yang sifatnya mengantisipasi
3.2.1.3. Untuk me-reinforce perilaku
3.2.1.3.1. Walaupun seringkali tidak sadar dan otomatis, bagi bandura agar proses belajar itu efektif ketika terdapat Cognitive intervention dari individu.
4. Therapy
4.1. Tujuan utama dari Terapi sosial kognitif bandura adalah Self-Regulation.
4.1.1. Strategi
4.1.1.1. 1. Menghasut perubahan dalam perilaku
4.1.1.1.1. Phobia akan gelap, coba berada di ruangan gelap dan membuka mata
4.1.1.2. 2. Mengeneralisasi kan perubahan spesifik tersebut
4.1.1.2.1. tidak hanya diruangan tapi oba di malam hari diluar, dll
4.1.1.3. 3 Mempertahankan perilaku baru tersebut.
4.1.1.3.1. mencegah terjadi relapse, di maintain perilaku tidak takut gelapnya
4.1.2. Pendekatan dasar terapi
4.1.2.1. Cognitive Mediation, menggunakan kognisi untuk menignkatkan SE. Ketika seseorang merasa mampu mengerjakan tugas yang sulit, mereka bisa menghadapi hal yang sebelumnya mengintimidasi.
4.1.2.1.1. Overt or Vicarious modeling
4.1.2.1.2. Covert or cognitive modeling
4.1.2.1.3. Enactive Mastery
5. Concept of Humanity
5.1. Plastic and Flexible
5.1.1. Kemampuan membuat pengalaman lalu menjadi pelajaran untuk yang akan datang
5.2. Goal-directed
5.2.1. sadar akan kemungkinan yang akan datang dan mengantisipasi nya dari sekarang
5.3. Optimistic
5.3.1. mampu mempelajari perilaku baru
5.4. Social Factors
5.4.1. Genetic berpengaruh dari variable Personal factors namun dengan model B-P-E tidak begitu penting jadinya.
5.5. Freedom
5.5.1. jumlah pilihan yang bisa dipilih oleh seseorang dan haknya untuk memilih
5.6. Causality vs teleology
5.6.1. Moderate, Ada tujuan kedepan dan juga motivasi dalam diri walaupun sementara.
5.7. Conscious Thought
5.7.1. terdapat self-monitoring, dll harus conscious di proses belajar itu
5.8. Uniqueness
5.8.1. Namun dimoderasi atau ada kesamaan dari manusia2 berdasarkan pengaruh sosial dan biologis
6. Related Research
6.1. Self-Efficacy dan Diabetes
6.1.1. Semakin tinggi SE -> rendahnya level depresi, lebih mendengar dan mengerjakan perkataan dokter, sedikit atau berkurangnya gejala diabetes.
6.1.1.1. Pentingya memiliki rasa bisa mengontol perilaku diri sendiri untuk bisa mengatur penyakit seperti diabetes.
6.2. Moral Disengagement dan Bullying
6.2.1. Bullying semkain menignkat kemungkinannya ketika murid secara individual menggunakan disengaged justification terhadap perilakunya kepada korban.
6.2.1.1. Membuat intervensi -> membenahi justification dari anak muridnya itu.
6.3. Social cognitive theory "Goes Global"
6.3.1. Menggunakan teori ini untuk menyelesaikan masalah global
6.3.1.1. Ilustrasi bagaimana teori kepribadian bisa membuat gambaran solusi terkait masalah global