PSIKOPATOLOGI ANAK

Jetzt loslegen. Gratis!
oder registrieren mit Ihrer E-Mail-Adresse
PSIKOPATOLOGI ANAK von Mind Map: PSIKOPATOLOGI ANAK

1. ATTACHMENT PROBLEM

1.1. a lasting psychological connectedness between human beings" (keterhubungan psikologis antar manusia yang bersifat menetap (tahan lama)) (Bowlby, 1969).

1.1.1. REACTIVE ATTACHMENT DISORDER

1.1.1.1. Disorder ini membuat anak tidak mau berinteraksi dengan orang lain karena pengalaman buruk dalam berinteraksi dengan orang dewasa di masa kecil, tampak tidak bahagia, tidak memiliki emosi ketika berinteraksi, sulit menenangkan diri ketika stress dan tidak mencari perlindungan ketika marah atau sedih.

1.1.1.2. DSM-V : A. Pola tingkahlaku terhambat dan menarik diri secara emosional terhadap pengasuh (orang dewasa), yang bersifat konsisten, yang tampil dalam bentuk kedua tingkahlaku berikut ini: 1. anak jarang sekali mencari kenyamanan atau perlindungan ketika mengalami distress. 2. anak jarang sekali berespon terhadap kenyamananatau penghiburan ketika alami distress. B. Terdapat gangguan sosial dan emosional yang menetap, yang ditandai dengan tampilnya minimal dua dari tiga gejala tingkahlaku berikut ini: 1. menunjukkan respon sosial dan emosional yang amat minimal terhadap orang lain 2. afek atau emosi positif amat terbatas (jarang tampil, amat sedikit) 3. mudah marah, merasa sedih atau ketakutan tanpa sebab yang jelas, bahkan dalam interaksi yang tidak mengancam dengan tokoh pengasuh (orang dewasa).C. Anak telah mengalami pola pengasuhan/perawatan yang amat sangat tidak layak, yang tampak dari minimal salah satu dari yang berikut ini: Mengalami penelantaran dan deprivasi sosial yang ekstrem dalam bentuk terus menerus tidak dipenuhinya kebutuhan emosional dasar, seperti menikmati rasa nyaman, memeroleh perangsangan emosional dan afeksi, oleh pengasuh dewasa. Mengalami pergantian pengasuh utama berulangkali, sehingga membatasi kesempatan untuk membangun attachment yang stabil ( sering pindah panti asuhan atau ganti orangtua angkat) Dibesarkan dalam lingkungan pengasuhan luar biasa yang amat membatasi kemungkinan untuk membangun attachment yang terarah dan selektif (dibesarkan di lingkungan dengan satu pengasuh untuk 40 anak). C. Anak telah mengalami pola pengasuhan/perawatan yang amat sangat tidak layak, yang tampak dari minimal salah satu dari yang berikut ini: 1.Mengalami penelantaran dan deprivasi sosial yang ekstrem dalam bentuk terus menerus tidak dipenuhinya kebutuhan emosional dasar, seperti menikmati rasa nyaman, memeroleh perangsangan emosional dan afeksi, oleh pengasuh dewasa. 2.Mengalami pergantian pengasuh utama berulangkali, sehingga membatasi kesempatan untuk membangun attachment yang stabil ( sering pindah panti asuhan atau ganti orangtua angkat) 3.Dibesarkan dalam lingkungan pengasuhan luar biasa yang amat membatasi kemungkinan untuk membangun attachment yang terarah dan selektif (dibesarkan di lingkungan dengan satu pengasuh untuk 40 anak). D.Cara pengasuhan pada kriteria C diduga kuat menyebabkan gangguan tingkahlaku pada kriteria A (Tingkahlaku pada kriteria A muncul/terjadi setelah anak mengalami pengasuhan seperti pada kriteria C). E.Gejala yang ditampilkan tidak memenuhi syarat untuk diagnose Autism Spectrum disorder. F.Gejala/tingkahlaku sudah tampil jelas sebelum anak berusia 5 tahun. G.Anak berusia perkembangan minimal 9 bulan. Persistent : Jika gangguan sudah tampil selama lebih dari 12 bulan Parah (severe) : Jika anak menunjukkan semua gejala gangguan, dan setiap gejala tampil dengan kadar yang kuat.

1.1.1.3. Etiologi : Attachment yang tidak secure,

1.1.1.4. Komorbiditas : Gangguan bahasa Autism Spectrum ID ADHD Anxiety Disorder Affective Disorder Behavior Syndrome Somatoform Dis. Conduct Disorder Stress Elimination Disorder

1.1.1.5. risk factors: abuse dan neglect, Separation from parent (kematian, tidak ada) Hospitalization (perawatan medis berulang/kronis) Orangtua alami gangguan mental (depresi, narkoba) Pengalaman traumatik (tipe-1, tipe-2) Pengalaman dalam interaksi dengan orangtua atau pengasuh, pengasuhan di masa kecil, yang tidak mendukung terbangunnya secure attachment

1.1.1.6. Faktor protektif : IQ tinggi, resiliensi tinggi, terdapat support system (Sekolah, teman,dll).

1.1.2. Perbedaan antar keduanya : RAD bersifat pasif, semua emosi menjadi tidak ditunjukan, menjadi tidak terlihat apakah di sedih atau stress, tidak ada keinginan untuk menjalin sesuatu secara emosi. Sedangkan DSED menjadi aktif dalam mencari kelekatan emosional, berlebihan mencari perhatian, tidak di filter kepada siapa dia dekat, tidak ada rasa takut dan mudah percaya

1.1.3. DISINHIBITED SOCIAL ENGAGEMENT DISORDER

1.1.3.1. Disorder ini membuat anak Terlalu antusias dalam berinteraksi atau dalam usaha menjalin kelekatan emosional dengan orang lain, ngikut kesiapa saja tanpa mempertanyakan, terlalu ramah dan akrab, banyak tingkah tidak cemas,dll.

1.1.3.2. DSM -V : A. Pola tingkahlaku aktif mendekati dan aktif berinteraksi dengan orang dewasa tak dikenal, yang tampil minimal dalam dua bentuk tingkahlaku berikut ini: Kurang/tidak segan mendekati atau berinteraksi dengan orang dewasa yang asing (tidak dikenal) Kata-kata dan tindakan fisik terlalu akrab (tidak sesuai norma sosial atau usia) Tidak berusaha menemukan orangtua (pengasuh) kembali, setelah pergi jauh atau terpisah, bahkan dalam situasi lingkungan asing (tidak dikenal). Bersedia diajak pergi orang asing, tanpa ragu. B. Tingkahlaku pada kriteria A tidak terbatas pada tindakan impulsif (seperti pada AD/HD), namun mencakup socially disinhibited behavior (lancang) Anak telah mengalami pola pengasuhan (perawatan) yang amat sangat tidak layak, yang tampak dari minimal salah satu dari yang berikut ini: Mengalami penelantaran dan deprivasi sosial yang ekstrem dalam bentuk terus menerus tidak dipenuhinya kebutuhan emosional dasar, seperti menikmati rasa nyaman, memeroleh perangsangan emosional dan afeksi, oleh pengasuh dewasa. Mengalami pergantian pengasuh utama berulangkali, sehingga membatasi kesempatan untuk membangun attachment yang stabil ( sering pindah panti asuhan atau ganti orangtua angkat) Dibesarkan dalam lingkungan pengasuhan luar biasa yang amat membatasi kemungkinan untuk membangun attachment yang terarah dan selektif (dibesarkan di lingkungan dengan satu pengasuh untuk 40 anak). Cara pengasuhan pada kriteria C diduga kuat menyebabkan gangguan tingkahlaku pada kriteria A (Tingkahlaku pada kriteria A muncul/terjadi setelah anak mengalami pengasuhan seperti pada kriteria C). Anak berusia perkembangan minimal 9 bulan. Persistent : Jika gangguan sudah tampil selama lebih dari 12 bulan Parah (severe): Jika anak menunjukkan semua gejala gangguan, dan setiap gejala tampil dengan kadar yang kuat.

1.1.3.3. Etiologi : Attachment yang tidak secure

1.1.3.4. Komorbiditas :

1.1.3.4.1. Komorbiditas : Antisocial behavior Borderline Personality Disorders (BPD) Masalah dalam interaksi antar pribadi (hubungan antar pasangan, suami-istri) Anxiety Disorders Gangguan bahasa Autism Spectrum ID ADHD Anxiety Disorder Affective Disorder Behavior Syndrome Somatoform Dis. Conduct Disorder Stress Elimination Disorder

1.1.3.4.2. Faktor Resiko : Dibesarkan di panti asuhan di masa bayi atau awal masa kanak-kanak. Kesulitan hidup (kemiskinan) dan kondisi kesehatan mental orangtua ( orangtua remaja, narkoba, depresi, gangguan kepribadian) yang memengaruhi kemampuan orangtua membangun attachment dengan anak (Oliveira, dkk, 2013). Faktor protektif : IQ tinggi, resiliensi tinggi, terdapat support system (Sekolah, teman,dll).

2. ANXIETY PROBLEMS

2.1. Ditandai kecemasan yang kuat berlebihan dan mengganggu atau menghambat fungsi individu. Neurotic paradox: Kegagalan menghilangkan pola tingkahlaku yang merugikan atau menghambat diri, perasaan cemas terus bertahan, meski tidak ada hal (bahaya) yang mengancam.

2.1.1. SEPARATION ANXIETY

2.1.1.1. Separation Anxiety Disorder ditandai ketakutan atau kecemasan kuat berlebihan mengenai keadaan jauh dari rumah atau jauh/terpisah dari tokoh attachment (berlebihan, membatasi fungsi)

2.1.1.2. DSM-V, untuk anak -anak dan Dewasa A. Ketakutan / kecemasan berlebihan tidak sesuai usia/perkembangan terkait keterpisahan dengan tokoh yang miliki kelekatan kuat dengan individu (minimal tiga di antara yang berikut ini): 1. Merasa distress berlebihan ketika mengantisipasi atau sedang berada jauh dari rumah/tokoh attachment. 2. Cemas berlebihan terkait kemungkinan kehilangan atau hal buruk menimpa tokoh attachment mis: sakit, celaka, bencana, kematian 3. Cemas berlebihan mengenai kemungkinan akan alami hal yang tidak diinginkan (diculik, tersesat, kecelakaan, jatuh sakit) 4. Enggan atau menolak keras pergi jauh dari rumah, ke sekolah, ke tempat kerja dll. karena takut berpisah. 5. Ketakutan berlebihan/ menolak keras berada sendirian tanpa tokoh attachment di rumah atau setting lainnya 6. Enggan atau menolak keras menginap di luar rumah, atau tidur tanpa ditemani tokoh attachment. 7. Mimpi buruk berulang dengan tema keterpisahan. 8. Sering muncul keluhan fisik (sakit kepala, sakit perut, mual, muntah) ketika sedang terpisah dari atau mengantisipasi akan berpisah dari tokoh attachment Ketakutan, kecemasan atau tingkahlaku menghindar terus menerus terjadi/dialami dalam kurun waktu minimal 4 minggu bagi anak-anak dan remaja, serta 6 bulan bagi orang dewasa. Gejala gangguan menimbulkan distress klinis yang signifikan atau hambatan/gangguan sosial, akademik, terkait pekerjaan, atau fungsi dalam bidang kehidupan penting lainnya. Gangguan tersebut tidak lebih baik dijelaskan dengan klasifikasi gangguan mental lainnya, misalnya menolak ke luar rumah karena amat sangat sulit hadapi perubahan (ASD) Ada delusi / halusinasi terkait keterpisahan (gangguan psikotik) menolak keluar rumah tanpa diteman orang tepercaya (agora phobia) kekhawatiran terkait kemungkinan orang terkasih mengalami kesehatan buruk atau malapetaka (generalized anxiety disorder) kecemasan terkait akan terjangkit penyakit (illness anxiety disorder) B.Ketakutan, kecemasan atau tingkahlaku menghindar terus menerus terjadi/dialami dalam kurun waktu minimal 4 minggu bagi anak-anak dan remaja,serta 6 bulan bagi orang dewasa. C.Gejala gangguan menimbulkan distress klinis yang signifikan atau hambatan/ gangguan sosial, akademik, terkait pekerjaan, atau fungsi dalam bidang kehidupan penting lainnya. D.Gangguan tersebut tidak lebih baik dijelaskan dengan klasifikasi gangguan mental lainnya,misalnya; 1. menolak keluar rumah karena amat sangat sulit hadapiperubahan(ASD) 2. Ada delusi/ halusinasi terkait keterpisahan (gangguanpsikotik) 3. menolak keluar rumah tanpa ditemani orang tepercaya (agoraphobia) 4. kekhawatiran terkait kemungkinan orang terkasih mengalami kesehatan buruk atau malapetaka (generalizedanxiety disorder) 5. kecemasan terkait akan terjangkit penyakit (illness anxiety disorder)

2.1.1.3. Etiologi : Munculnya SAD pada usia paling dini dibandingkan gangguan kecemasan lainnya (usia 7-8 tahun)

2.1.1.4. Komorbiditas : Pada lebih dari 1/3 anak dan remaja yang mengalami SAD, gangguan terus bertahan sampai memasuki usia dewasa. Pada usia dewasa cenderung mengalami: Kesulitan menjalin hubungan (pertemanan, romantik) Gangguan kecemasan lain dan masalah kesehatan mental. Gangguan fungsi dalam kehidupan sosial atau personal.

2.1.1.5. Faktor resiko : SAD terkait situasi stress umum yang dihadapi pada suatu saat: Misal: pindah lingkungan tempat tinggal, masuk sekolah baru

2.1.1.6. Faktor protektof ; Pemeriksaan pada usia lebih muda, mendapat intervensi diawal

2.1.2. Perbedaan : SAD hanya kecemsan yang mencakup ketika individu berpisah dari sesuatu yang familiar dan bertemu situasi baru, sedangkan SAC kecemasan ketika bertemu orang meskipun bukan orang baru namun untuk berkomunikasi saja menimbulkan kecemasan yang tidak normal

2.1.3. SOCIAL ANXIETY

2.1.3.1. Disorder ini membuat anak-anak dengan SOC sangat emosional, takut situasi sosial, menarik diri, merasa sedih dan kesepian. merasa cemas menghadapi situasi atau untuk melakukan kegiatan sehari-hari yang “biasa”. Mereka kerap mengalami stres dalam interaksi dengan orang lain , tidak mampu mengatasinya antara lain karena kurang memiliki keterampilan sosial yang memadai.

2.1.3.2. DSM-V : A.Ketakutan atau kecemasan yang jelas akan satu atau lebih situasi sosial yang memungkinkan anak dinilai atau diteliti. Misalnya termasuk interaksi sosial (bercakap-cakap, ngobrol, bertemu orang baru/tak dikenal), diamati orang (makan, minum) atau melakukan sesuatu di hadapan orang banyak (presentasi, beri sambutan). Untuk anak-anak: kecemasan harus terjadi ketika berada di lingkungan teman sebaya, bukan hanya di hadapan orang dewasa. B.Individu takut bahwa ia akan lakukan sesuatu atau menunjukkan gejala kecemasan, yang akan dinilai negatif (Tingkahlaku yang merendahkan atau memalukan, membuat orang tidak suka atau marah) C.Situasi sosial tersebut hampir selalu menimbulkan rasa takut atau cemas. Cat: pada anak-anak, rasa takut atau cemas dapat dinyatakan dengan tangisan, mengamuk, diam tak bergerak, menggelendot, menjauh atau tidak mau berbicara dalam situasi sosial. D.Situasi sosial selalu dihindari atau dihadapi dengan ketakutan atau kecemasan yang kuat. E.Rasa takut atau cemas yang dirasakan tidak sebanding dengan bahaya nyata yang terkandung pada situasi sosial dan dengan konteks sosial budaya.

2.1.3.3. Etiologi : trauma, atau kejadian yang menyebabkan Ketakutan yang jelas dan dirasakan terus menerus terhadap situasi sosial atau kegiatan yang menghadapkan anak pada penilaian dan kemungkinan “dipermalukan”.

2.1.3.4. Komorbiditas : anxiety disorder lain, ada 2/3 dari anak dengan SOC Depresi mayor dan konsumsi obat/alkohol: 20%

2.1.3.5. Karakteristik terkait ; Cognitive disturbances Physical symptoms Social and emotional deficits Anxiety and depression

2.1.3.6. Faktor Resiko : Tekanan budaya

2.1.3.7. Faktor protektif : CBT sedini mungkin

3. TRAUMA RELATED DISORDER

3.1. Trauma (luka,cidera) adalah respon emosional terhadap kejadian yang buruk seperti kecelakaan, pemerkosaan, bencana alam (APA). Tidak semua peristiwa buruk itu akan --> gejala trauma tapi (Potentially Traumatic Event)

3.1.1. PTSD

3.1.1.1. Gangguan kecemasan yang sangat menghambat, merusak fungsi individu dalam kehidupan sehari-hari. Terjadi akibat mengalami langsung, menyaksikan orang lain menghadapi peristiwa yang mengancam keselamatan jiwa, menghadapi risiko kematian atau luka parah, atau tindak kekerasan seksual (APA, DSM-5, 2013). sistem alarm (smoke detector) rusak 🡪 sinyal bahaya terus menyala, meski pun bahaya sudah berlalu, hyperarousal terus berlangsung

3.1.1.2. A. Terpapar pada kematian atau ancaman th keselamatan jiwa, terluka parah, atau tindak kekerasan seksual : 1. Mengalami langsung suatu pengalaman traumatik 2. Menyaksikan dengan mata kepala sendiri, peristiwa traumatik terjadi pada orang lain, utamanya pengasuh utamanya. (tidak termasuk peristiwa yang disaksikan melalui media elektronik, televisi, film atau gambar). 3. Mendengar atau mengetahui bahwa suatu peristiwa traumatik terjadi pada tokoh orangtua atau pengasuh. B. Gejala intrusi terkait pengalaman traumatik, yang mulai terjadi setelah dialaminya peristiwa traumatik (satu/lebih) di antara yang berikut ini: 1. Berulangkali muncul ingatan buruk yang bersifat intrusif, tidak dapat dicegah meski tidak diinginkan. Ingatan intrusif dan spontan mungkin tidak terlihat menimbulkan distress pada anak, dapat tampil dalam bentuk pengulangan kembali pengalaman traumatik dalam kegiatan bermain. 2. Mimpi buruk berulang, dengan isi atau perasaan yang berhubungan dengan pengalaman traumatik. Pada anak mungkin sulit untuk memastikan bahwa isi mimpi buruk yang menakutkan berkaitan dengan pengalaman traumatik 3. Reaksi disosiatif (misalnya flashback) dimana anak merasa atau menunjukkan tingkahlaku seolah-olah peristiwa traumatik yang pernah dialaminya terulang atau dialami kembali. Reaksi disosiatif tersebut dapat tampil dalam kadar yang berbeda-beda, dengan perwujudan yang paling parah berupa sepenuhnya kehilangan kesadaran akan lingkungan saat ini. Pengulangan pengalaman traumatik yang khas-trauma semacam ini dapat terjadi dalam kegiatan bermain 4. Mengalami distres yang kuat dan berkepanjangan ketika terpapar pada tanda-tanda internal atau eksternal yang menjadi simbol atau menyerupai salah satu aspek dari peristiwa traumatik. 5. Reaksi fisiologis yang jelas (mencolok) terhadap hal-hal yang mengingatkan pada peristiwa traumatic C. Tingkahlaku menghindari stimuli yang terkait dengan peristiwa traumatik (setelah alami peristiwa traumatik): 1. Menghindari atau usaha menghindari ingatan, pikiran atau perasaan yang distressing terkait dengan peristiwa traumatik. 2. Menghindari atau usaha menghindari pengingat pengalaman traumatik (orang-orang, tempat, pembicaraan, kegiatan, objek, situasi) yang membangkitkan ingatan, pikiran atau perasaan yang serupa atau terkait dengan peristiwa traumatik. D. Perubahan negatif pada aspek kognisi dan mood terkait peristiwa traumatik, yang mulai terjadi atau bertambah parah setelah mengalami peristiwa traumatik : (2 atau lebih) 1. Tidak dapat ingat aspek penting dari peristiwa traumatik , karena amnesia disosiatif, bukan karena trauma kepala, pengaruh obat/alkohol. 2. Negative belief atau expectation yang kuat dan berlebihan mengenai diri, oranglain atau dunianya (Saya jahat, Tidak ada orang yang bisa dipercaya, Dunia ini sangat bahaya, Otak saya hancur permanen, Saya pecundang tidak berharga) 3. Kognisi-keliru yang kuat mengenai sebab-akibat peristiwa traumatik yang membuat individu menyalahkan diri sendiri atau orang lain. 4. Status emosional negatif yang menetap kuat (takut, ngeri, marah, bersalah, malu 5. Berkurangnya minat dan partisipasi dalam kegiatan penting sehari-hari 6. Ada perasaan tidak terhubung (detachment) atau terasing (estrangement) dari orang lain 7. Ketidakmampuan-yang-menetap untuk mengalami emosi positif (perasaan senang, puas, sayang) E. Perubahan mencolok pada arousal dan reaktivitas terkait peristiwa traumatik, mulai dialami atau bertambah parah setelah alami peristiwa traumatik (dua atau lebih di antara) yang berikut ini: 1. Mudah marah, ledakan kemarahan (dengan sedikit atau tanpa provokasi) biasanya tampil dalam bentuk agresi verbal atau fisik terhadap orang atau objek. 2. Tingkahlaku serampangan (ceroboh) atau merusak diri. 3. Hypervigilance 4. Respon terkejut berlebihan 5. Masalah/gangguan konsentrasi 6. Gangguan tidur (sulit jatuh tidur, sulit bertahan tidur, mudah terbangun, tidak lelap, gelisah) F. Gangguan (kriteria B,C, D dan E) sudah dialami dalam jangka waktu lebih dari satu bulan. G. Gangguan menyebabkan distres yang parah atau kerusakan pada hubungan sosial, kerja atau konteks fungsi penting lain H. Gangguan bukan terjadi karena dampak fisiologis dari suatu zat (misal obat, alkohol) atau kondisi medis (penyakit). Sebutkan secara khusus apakah: Disertai gejala disosiasi: jika gejala yg tampil memenuhi kriteria PTSD, dan selain itu juga, ketika hadapi stressor individu juga berulang kali alami gejala sbb: 1. Depersonalisasi: berulang kali atau terus menerus merasa terasing/terpisah, seakan-akan menjadi pengamat proses mental atau tubuh sendiri (misal: seperti dalam mimpi, merasa aneh mengenai diri/tubuh, waktu berjalan lambat atau terhenti) 2. Derealisasi : berulang, terus menerus mengalami perasaan aneh (unreality) mengenai lingkungan ( merasakan dunia seperti dalam mimpi, jauh atau terdistorsi, menyimpang dari aslinya) Catatan: untuk tetapkan sebagai subjenis gangguan ini, gejala disosiatif harus bukan terjadi karena dampak fisiologis dari suatu zat (misal blackouts, dalam pengaruh alkohol) atau kondisi medis lain (misalnya complex partial seizures). Sebutkan jika disertai: Kemunculan gejala yang tertunda: jika semua kriteria diagnostik tidak terpenuhi sampai minimal 6 bulan setelah mengalami peristiwa traumatik (meski ada beberapa gejala yang segera muncul dan tampil)

3.1.1.3. Etiologi : terjadinya “breakdown”, kerusakan atau guncangan pada sistem makna dan asumsi dasar individu mengenai diri, dunia dan hubungan antara diri dan dunianya. Pengalaman traumatik mengguncang asumsi dasar individu mengenai keamanan, keadilan, kebaikan dunia dan keberhargaan diri individu

3.1.1.4. Komorbiditas : Kecemasan, emosi tidak stabil,

3.1.1.5. Faktor protektif : dipandu dengan terapi untuk dipandu oleh asumsi dasar bahwa : dunia ini aman dan baik, diri individu berharga dan dicintai, dan, hubungan individu dengan dunianya pun baik

3.1.1.6. Faktor resiko : dipaksa menghadapi trauma secara paksa dan sekaligus

3.1.2. Perbedaan : PTSD akibat suatu one -time event atau kejadian traumatis, kalau DTD sifat exposurenya lebih lama selama masa perkembangan dengan waktu yang konsisten dan panjang.

3.1.3. DEVELOPMENTAL TRAUMA DISORDER

3.1.3.1. n

3.1.3.2. A. Exposure: experienced or witnessed multiple or prolonged adverse events over a period of at least one year beginning in childhood or early adolescence, including: A.1. direct experienced or witnessing of repeated and severe episodes of interpersonal violence, and A.2. significant disruptions of protective caregiving as the result of repeated changes in primary caregiver, repeated separation from the primary caregiver, or exposure to severe and persistent emotional abuse. B. Affective and Physiological Dysregulation Impaired normative developmental competencies related to arousal regulation (min. 2): B.1. Inability to modulate, tolerate, or recover from extreme affect states (e.g. Fear, anger, shame), including prolonged and extreme tantrums, or immobilization. B.2. Disturbances in regulation in bodily functions (.e.g. Persistent disturbances disturbances in sleeping, eating, and elimination, over-reactivity or under-reactivity to touch and sounds; disorganization during routine transitions) B.3. Diminished awareness/dissociation of sensations, emotions and bodily states B.4. Impaired capacity to describe emotions or bodily states C. Attentional and Behavioral Dysregulation: impaired normative developmental competencies related to sustained attention, learning, or coping with stress (min.3): C.1. Preoccupation with threat, or impaired capacity to perceive threat, including misreading of safety and danger cues C.2. Impaired capacity for self-protection, including extreme risk-taking or thrill-seeking C.3. Maladaptive attemps at self soothing (e.g. Rocking and other rhytmical movements, compulsive mastrubation) C.4. Habitual (intentional or automatic) or reactive self-harm. C.5. Inability to initiate or sustain goal-directed behavior D. Self and Relational Dysregulation: impaired normative developmental competencies in their sense of personal identity and involvement in relationships: (min.3) D.1. Intense preoccupation with safety of the caregiver or other loved ones ( including precocious caregiving) or difficulty tolerating reunion with them after separation D.2. Persistent negative sense of self, including self-loathing, helplessness, worthlessness, ineffectiveness, or defectiveness. D.3. Extreme and persistence distrust, defiance or lack of reciprocal behavior in close relationships with adults or peers D.4. Reactive physical or verbal aggression towards peers, caregivers or other adults. D.5. Inappropriate (excessive or promiscuous) attempts to get intimate contact (including but not limited to sexual or physical intimacy) or excessive reliance on peers or adults for safety and reassurance. D.6. Impaired capacity to regulate empathic arousal as evidenced by lack of empathy for, or intolerance of, expression of distress of others, or excessive responsiveness to the distress of others. E. Posttraumatic Spectrum Symptoms. (2 out of 3 PTSD symptom cluster B, C, & D) F. Duration of disturbance (symptoms in DTD criteria B, C, D, E) min 6 months G. Functional Impairment.The disturbance causes clinically significant distress or impairment in min. 2 of the areas of functioning: • Scholastic • Familial • Peer group • Legal • Health • Vocational (for youth involved in, seeking or referred for employment, volunteer work or job training)

3.1.3.3. Komorbiditas : gangguan anxiety lainnya, gangguan mood dan penyalahgunaan zat (Brewin, Dalgleish & Joseph, 1996), Depresi.

3.1.3.4. Faktor resiko : multiple atau cummulative trauma (maltreatment, KDRT, perundungan, penyerangan dan sebagainya. alami peristiwa yang mengancam keselamatan jiwa atau trauma interpersonal berkepanjangan (abuse atau maltreatment), temperamen, sos-ek rendah, dll.

3.1.3.5. Faktor protektif : Perceived self-efficacy, Strategi regulasi kognitif-emosional (mengatasi gejala hypervigilance dan pikiran-pikiran intrusive.)

4. CONDUCT PROBLEMS

4.1. CONDUCT DISORDER

4.1.1. Pola tindakan agresif dan antisosial berat yang berulang dan menetap yang menyakitkan atau melukai orang lain, atau melanggar hak orang lain dengan agresi fisik atau verbal, mencuri atau merusak (vandalism).

4.1.2. Gejala CD dikelompokkan dalam 4 dimensi (DSM-5): Agresi/tindak kekerasan terhadap orang/hewan Pengrusakan properti Penipuan atau pencurian Pelanggaran berat/serius terhadap aturan

4.1.3. Etiologi : Faktor Genetik, Faktor Prenatal dan komplikasi kelahiran Faktor Neurobiologis: Behavioral Activation System (BAS) terlalu aktif dan Behavioral Inhibition System (BIS) kurang aktif Kelainan pada mekanisme regulasi-stres: tingkat arousal korteks/fisiologis rendah, reaktivitas SSO rendah Abnormalitas struktural dan fungsional otak: pada amygdala, prefrontal cortex, anterior cingulate, dan insula

4.1.4. Komorbiditas : ADHD, kesulitan akademis, hubungan buruk dengan teman sebaya, depresi, kecemasan

4.1.5. Faktor Resiko : Cara pengasuhan yang sering menggunakan hukuman-berat (tindak kekerasan fisik). Stres dalam keluarga, konflik antara orangtua, ortu alami gangguan jiwa atau pengangguran. Ortu merasa tidak mampu kendalikan dan atasi tingkahlaku anak.

4.2. Perbedaan ; CD itu pure perilaku yang merugikan dengan tugas merusak atau merugikan orang lain. Kalau ODD tujuannya utnuk menentang, tidak ingin mengikuti otoritas.

4.3. OPPOSITIONAL DEFIANT DISORDER

4.3.1. Muncul berulang pola tingkahlaku tidak-sesuai-usia meliputi sikap keras kepala, bermusuhan, tidak patuh, dan menentang.

4.3.2. A. Pola suasana hati penuh amarah/mudah jengkel, suka mendebat, membantah, menentang, atau mendendam yang terus berlangsung minimal selama kurun waktu 6 bulan, yang ditunjukkan oleh adanya 4 gejala di antara yang tercantum berikut ini, dan tampil dalam interaksi dengan minimal satu orang lain yang bukan saudara kandung. Angry/irritable mood: (1) Sering marah meledak (2) Sering mudah tersinggung, marah/jengkel (3) Sering marah, penuh kebencian Argumentative/Defiant behavior (4) Sering mendebat tokoh otoritas, atau org dewasa (utk anak/remaja) (5) Sering aktif membantah/menolak memenuhi permintaan tokoh otoritas atau mematuhi aturan (6) Sering sengaja membuat orang lain jengkel. (7) Sering menyalahkan orang lain atas kesalahan atau tindakan buruk yang dilakukannya. (8) Vindictiveness (9) Penuh dendam, ingin balas dendam, minimal 2x dlm 6 bln terakhir B. Gangguan tingkahlaku menimbulkan distress pada diri pelaku atau orang lain di lingkungan terdekatnya (keluarga, teman sebaya, rekan kerja), atau berdampak negatif pada fungsi individu dalam lingkup sosial, pendidikan, pekerjaan dll. C. Tingkahlaku tsb tidak hanya terjadi ketika individu berada dlm kondisi psikotik, menggunakan-obat, depresi, atau gangguan bipolar. Juga, tingkahlaku tidak memenuhi kriteria diagnostik disruptive mood disorder. Spesifikasi keparahan: Mild: terjadi hanya pada 1 setting Moderate: minimal pada 2 setting Severe: pada 3 setting atau lebih

4.3.3. Etiologi : Diawali dengan tingkahlaku agresif dan antisosial di usia prasekolah atau di awal usia sekolah

4.3.4. Komorbiditas : berisiko tinggi untuk alami gangguan impulse-control, penyalahgunaan zat, gangguan mood dan gangguan kecemasan.

5. FEEDING PROBLEMS

5.1. Gangguan yang konsisten dan terus - menerus ketika makan dan perilaku yang menyangkut makan, menghasilkan konsumsi atau penyerapan makanan yang tidak baik dan secara signifikan merusak keberfungsian kesehatan fisik dan psikologis

5.1.1. PICA

5.1.1.1. Gejala utama : Memakan sesuatu yang tidak bernutrisi, bukan makanan secara konsisten sehari-harinya minimal selama 1 bulan, jika sudah seperti ini maka sudah cukup parah untuk diperiksa. Ex. sabun, kertas,rambut, dll. Onset : bisa dimulai ketika anak - anakremaja atau dewasa, dari anak2 yang paling sering.

5.1.1.2. DSM - V ; Diagnostic criteria: A. Persistent eating of non-nutritive, non food substance, over a period of at least one month B. The eating of non-nutritive, non-food substance is in appropriate to the developmental level of individual. C. The eating behaviour is not part of a culturally supported or socially normative practice. D. If the eating behaviour occurs in the context of another mental disorder (e.g., intellectual disability [intellectual developmental disorder], autism spectrum disorder, schizophrenia) or medical condition (including pregnancy), it is sufficiently severe to warrant additional clinical attention. - Coding note: The ICD 9-CM code for Pica is 307.52 and is used for children or adults - The ICD 10-CM codes for pica are (F98.3) in children and (F50.8) in adults - Specify if: in remission: After full criteria for Pica were previously met, the criteria have not been met for a sustained period of time

5.1.1.3. Etiologi : Kekurangan vitamin atau mineral. Bukan faktor gen.

5.1.1.4. Komorbiditas : Keracunan, infeksi, kekurangan nutrisi, kerusakan sistem pencernaan, ASD, Trichotillomania (hair pulling) dan excoriation dis (skin picking), avoidant food intake disorder.

5.1.1.5. Faktor Resiko : Neglect, kurang pengawasan dari orang sekitar, keterlambatan perkembangan.

5.1.1.6. Faktor protektif : terapi operant conditioning dari awal ditemukan gejala, lingkungan yang mendukung (mengingatkan dan menjauhi barang aneh dan berbahaya dari lingkungan anak.

5.1.2. Perbedaan : PICA tetap mau makan namun yang dimakan adalah selain makanan dan tidak bernutrisi bahkan memabhayakan. Sedangkan ARFID membatasi dan tidak ingin makan sama sekali.

5.1.3. AVOIDANT RESTRICTIVE FOOD INTAKE DISORDER

5.1.3.1. Menghindari atau pembatasan masuknya makanan, dilihat dari penurunan berat badan yang signifikan dalam waktu singkat, kekurangan nutrisi,hanya bergantung pada obat suplemen dan perkembangan emosi dan sosial yang melambat pada anak dibawah 6 tahun. FAilure to thrive ; kurangnya rasa kasih sayang dari ibu

5.1.3.2. DSM - V ; Diagnostic Criteria An eating or feeding disturbance (e.g. apparent lack of interest in eating or food; avoidance based on sensory characteristics of food; concern about aversive consequences of eating) as manifested by persistent failure to meet appropriate nutritional and/or energy needs associated with one (or more) of the following: Significant weight loss (or failure to achieve expected weight gain or faltering growth in children) Significant nutritional deficiency Dependence on enteral feeding or oral nutritional supplements Marked interference with psychological functioning B. The disturbance is not better explained by lack of available food or by an associated culturally sanctioned practice. C. The eating disturbance does not occur exclusively during the course of anorexia nervosa or bulimia nervosa, and there is no evidence of a disturbance in the way in which one’s body weight or shape is experienced D. The eating disturbance is not attributable to a concurrent medical condition or not better explained by another mental disorder. When the eating disturbance occurs in the context of another condition or disorder, the severity of the eating disturbance exceeds that routinely associated with the condition or disorder and warrants additional clinical attention Specify if: In remission: After full criteria for avoidant/restrictive food intake disorder were previously met, the criteria have not been met for a sustained period of time

5.1.3.3. Etiologi : Kemiskinan, pengangguran, isolasi sosial, orang tua mengalami gangguan jiwa, dan ibu yang mengalami eating disorder. lebih banyak kasus yang dimulai ketika bayi dan anak-anak, beberapa tetap ada hingga dewasa.

5.1.3.4. Komorbiditas : ANxiety disorder, OCD, ASD, ADHD, ID

5.1.3.5. Faktor Resiko : Temperamen, Anxiety dis, ASD, OCD, ADHD. DAri lingkungan (keluarga,ibu), genetik (riwayat gastrointestinal, dll)

5.1.3.6. Faktor protektif : diganosis dan terapi diawal.

6. ELIMINATION PROBLEMS

6.1. Anak - anak atau remaja yang tidak mengetahui atau mampu menahan keinginan buang air besar dan kecil. Semakinn lama anak-anak akan bisa mengontrolnya ketika bertambah dewasa, namun ketika masih dialami eliminationdisorder dapat membuat stress dan kesulitan di edukasi serta sosialisasi.

6.1.1. ENURESIS

6.1.1.1. Membuang air kecil tanpa sadar dimalam atau siang hari

6.1.1.1.1. Noctural - mengompol ketika tidur malam saja

6.1.1.1.2. Diurnal - mengompol ketika sedang sadar atau bangun - biasanya perempuan

6.1.1.1.3. kombinasi keduanya

6.1.1.2. DSM-V : A. Berulang kali berkemih membasahi tempat tidur atau pakaian, secara tidak terkendali atau pun disengaja. B. Tingkahlaku tersebut amat mengganggu: terjadi minimal 2 kali seminggu selama 3 bulan berturut-turut. menyebabkan distres, gangguan fungsi sosial, akademik, kerja dan/atau area kehidupan penting lainnnya C. Berusia kronologis minimal 5 tahun (atau tingkat perkembangan setara usia 5 tahun) D. Tingkahlaku pada A bukan merupakan dampak fisiologis penggunaan obat-obatan (diuretik, antipsikotik) atau akibat kondisi penyakit lain (diabetes, spina bifida, gangguan kejang-kejang) Spesifikasi: Nocturnal only: ngompol di waktu tidur malam Diurnal only: ngompol ketika terjaga di siang hari Nocturnal and Diurnal: ngompol siang dan malam

6.1.1.3. Etiologi : Kekurangan hormon antidiuretik (ADH) Mekanisme “alarm” pemberi tanda yang belum matang Faktor genetik diturunkan, Maturational, Anatomical Abnormalities, Endocrine, Urinary Tract Disease, Neurological Medications Psychological

6.1.1.4. Faktor resiko : SES rendah, pendidikan rendah, depresi, menarik diri, hubungan dengan ortu tidak baik (Diomelin,dll), suasana pertemanan/ interaksi negatif (diejek mengompol, dll).

6.1.1.5. Faktor Protektif : Lingkungan (keluarga, teman) yang suportif, menerima diagnosa dan menjalankan terapi diawal ketika symptom muncul

6.1.2. Perbedaan, Enuresis itu buang air kecil dan encopresis itu buang air besar.

6.1.3. ENCOPRESIS

6.1.3.1. DSM-V : A. Berulangkali buang air besar (di tempat tidak semestinya (di celana, lantai), sengaja atau tidak terkendali. B. Minimal terjadi 1 kali setiap bulan, selama 3 bulan berturut-turut. C. Berusia kronologis minimal 4 tahun (perkembangan setara usia 4 tahun). D. Bukan reaksi fisiologis akibat konsumsi obat-obatan (pencahar), atau akibat penyakit lain, kecuali terjadi terkait mekanisme yang melibatkan konstipasi (sembelit). Spesifikasi: - With constipation and overflow incontinence: diketahui dari riwayat keluhan dan/atau pemeriksaan fisik. - Without constipation and overflow incontinence

6.1.3.2. Etiologi : Delay in Maturation, Underlying Medical Condition, Psychological/Behavioral, Constipation, atau Birth of sibling Parental Divorce, Abuse, ODD or CD MR/Autism/ Psychosis/RAD

6.1.3.3. Faktor resiko : SES rendah, pendidikan rendah, depresi, menarik diri, hubungan dengan ortu tidak baik (Diomelin,dll), suasana pertemanan/ interaksi negatif (diejek mengompol, dll).

6.1.3.4. Faktor Protektif : Lingkungan (keluarga, teman) yang suportif, menerima diagnosa dan menjalankan terapi perilaku dan intervensi medis diawal ketika symptom muncul.