SEJARAH BAHASA INDONESIA

:))

Jetzt loslegen. Gratis!
oder registrieren mit Ihrer E-Mail-Adresse
SEJARAH BAHASA INDONESIA von Mind Map: SEJARAH BAHASA INDONESIA

1. ERA KOLONIAL BELANDA

1.1. TAHUN 1901

1.1.1. Indonesia (Hindia Belanda) mengadopsi ejaan Van Ophuijsen

1.2. TAHUN 1904

1.2.1. Persekutuan Tanah Melayu (Malaysia) dibawah Inggris mengadopsi ejaan Wilkinson

1.3. TAHUN 1908

1.3.1. Dibentuk Commissie Voor de Volkslectuur (Komisi Bacaan Rakyat) sekarang dikenal sebagai Balai Pustaka

1.4. TAHUN 1910

1.4.1. Dibawah D.A Rinkes membentuk Taman Poestaka (perpustakaan kecil diberbagai sekolah pribumi & beberapa instansi pemerintah)

2. KELAHIRAN BAHASA INDONESIA

2.1. KONGRES BAHASA INDONESIA I

2.1.1. Dilaksanakan pada tanggal 25 - 28 Juni 1938 di Solo, Jawa Tengah

2.1.2. Menghasilkan kesepakatan & kesepahaman tentang urgensi dari usaha pembinaan & pengembangan Bahasa Indonesia

2.1.3. Pada 18 Agustus 1945 Bahasa Indonesia disahkan menjadi bahasa nasional dalam UUD 1945 pasal 36

2.1.4. Ejaan yang sebelumnya Van Ophuijsen berganti penggunaannya menjadi Ejaan Republik

2.2. KONGRES BAHASA INDONESIA II

2.2.1. Dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober - 1 November 1954 di Medan, Sumatera Utara

2.2.2. Kongres kedua ini diadakan karena keinginan kuat untuk menyempurnakan Bahasa Indonesia yang telah menjadi bahasa nasional.

2.2.3. Pada tanggal 16 Agustus 1972 Pemerintah meresmikan penggunaan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) dalam Keputusan Presiden No. 57 Tahun 1972

2.2.4. Menteri Pendidikan & Kebudayaan Indonesia meresmikan Pedoman Umum Bahasa Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan & Pedoman Umum Pembentukan Istilah yang berlaku di seluruh wilayah Indonesia pada tanggal 31 Agustus 1972

2.3. KONGRES BAHASA INDONESIA III

2.3.1. Dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober - 2 November 1978 di Jakarta

2.4. Membahas kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan Bahasa Indonesia sejak tahun 1928 serta berusaha untuk memantapkan kedudukan & fungsi Bahasa Indonesia dengan optimal

2.5. KONGRES BAHASA INDONESIA IV

2.5.1. Dilaksanakan pada tanggal 21 - 26 November 1983 di Jakarta

2.5.2. Menghasilkan kesepakatan bahwa pembinaan & pengembangan Bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan sehingga amanat dalam GBHN yang mewajibkan warga negara Indonesia untuk menggunakan Bahasa Indonesia yang baik & benar tercapai seoptimal mungkin

2.6. KONGRES BAHASA INDONESIA V

2.6.1. Dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober - 3 November 1988 di Jakarta

2.6.2. Menghasilkan karya monumental yaitu Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia

2.7. KONGRES BAHASA INDONESIA VI

2.7.1. Dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober - 2 November 1993 di Jakarta

2.7.2. Menghasilkan pengusulan peningkatan Pusat Pembinaan & Pengembangan Bahasa Indonesia menjadi Lembaga Bahasa Indonesia

2.8. KONGRES BAHASA INDONESIA VII

2.8.1. Dilaksanakan pada tanggal 26 - 30 Oktober 1998 di Jakarta

2.8.2. Mengusulkan dibentuknya Badan Pertimbangan Bahasa Indonesia

2.9. KONGRES BAHASA INDONESIA VIII

2.9.1. Dilaksanakan pada tanggal 14 - 17 Oktober 2003 di Jakarta

2.9.2. Pengusulan dijadikannya bulan Oktober menjadi bulan bahasa yang akan mengagendakan seminar Bahasa Indonesia diberbagai lembaga

2.10. KONGRES BAHASA INDONESIA IX

2.10.1. Dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober - 1 November 2008 di Jakarta

2.10.2. Membahas 5 hal utama yaitu Bahasa Indonesia, bahasa daerah, penggunaan bahasa asing, pengajaran bahasa & sastra, serta bahasa media massa

2.11. KONGRES BAHASA INDONESIA X

2.11.1. Dilaksanakan pada tanggal 28 - 31 Oktober 2013 di Jakarta

2.11.2. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) merekomendasikan hal-hal yang perlu dilakukan pemerintah

3. PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA DI MASA KINI

3.1. Penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu hanya berlaku di kota-kota besar di Indonesia

3.2. Kebanyakan warga Indonesia menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua menjadikan bahasa daerah sebagai bahasa pertama yang dipelajari

3.3. Bahasa Indonesia lisan yang digunakan sehari-hari juga berbeda dengan Bahasa Indonesia baku baik dalam tata bahasa maupun kosakata

4. PENYEMPURNAAN EJAAN

4.1. EJAAN VAN OPHUIJSEN

4.1.1. Ejaan ini merupakan ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin

4.1.2. Ejaan ini disusun oleh Charles Van Ophuijsen yang dibantu oleh Nawawi Soetan Malmoer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim

4.1.3. Dibuat pada tahun 1896 dan diresmikan pemerintah kolonial pada tahun 1901

4.1.4. Perbedaan ini terjadi karena pengaruh aspek bahasa daerah masing-masing yang digabungkan dengan Bahasa Indonesia sehingga menciptakan adanya dialek Bahasa Indonesia

4.1.5. Ciri - ciri ejaan Van Ophuijsen :

4.1.5.1. Huruf ï untuk membedakan antara huruf i sebagai akhiran dan karenanya harus disuarakan tersendiri dengan diftong seperti mulaï dengan ramai. Juga digunakan untuk menulis huruf y seperti dalam Soerabaïa

4.1.5.2. Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang, dan sebagainya

4.1.5.3. Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer, dan sebagainya

4.1.5.4. Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma’moer, ’akal, ta’, pa’, dan sebagainya

4.2. EJAAN REPUBLIK

4.2.1. Diresmikan pada tanggal 19 Maret 1947

4.2.2. Dikenal juga sebagai ejaan Soewandi

4.2.3. Ciri - ciri ejaan Republik :

4.2.3.1. Huruf oe diganti dengan u pada kata-kata guru, itu, umur, dan sebagainya

4.2.3.2. Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k pada kata-kata tak, pak, rakjat, dan sebagainya

4.2.3.3. Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2 seperti pada kanak2, ber-jalan2, ke-barat2-an

4.2.3.4. Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mendampinginya

4.3. EJAAN PEMBAHARUAN

4.3.1. Ejaan Pembaharuan dirancang oleh sebuah panitia yang diketuai oleh Prijono dan E. Katoppo pada tahun 1957 sebagai hasil keputusan Kongres Bahasa Indonesia II di Medan. Namun, sistem ejaan ini tidak pernah dilaksanakan

4.4. EJAAN MELINDO

4.4.1. Konsep ejaan ini dikenal pada akhir tahun 1959. Karena perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya, diurungkanlah peresmian ejaan ini

4.5. EJAAN YANG DISEMPURNAKAN (EYD)

4.5.1. Diresmikan pada tanggal 16 Agustus 1972 oleh Presiden Republik Indonesia

4.5.2. Peresmian ejaan berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972

4.5.3. EYD merupakan campuran Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu yang dibakukan

4.5.4. Perubahan dalam EYD :

4.5.4.1. Huruf tj dalam Bahasa Indonesia & ch dalam Bahasa Melayu menjadi c

4.5.4.2. Huruf dj dalam Bahasa Indonesia & j dalam Bahasa Melayu menjadi j

4.5.4.3. Huruf ch dalam Bahasa Indonesia & kh dalam Bahasa Melayu menjadi kh

4.5.4.4. Huruf nj dalam Bahasa Indonesia & ny dalam Bahasa Melayu menjadi ny

4.5.4.5. Huruf sj dalam Bahasa Indonesia & sh dalam Bahasa Melayu menjadi sy

4.5.4.6. Huruf j dalam Bahasa Indonesia & y dalam Bahasa Melayu menjadi y

4.5.4.7. Huruf oe dalam Bahasa Indonesia & u dalam Bahasa Melayu menjadi u

4.6. EJAAN BAHASA INDONESIA (EBI)

4.6.1. Ejaan Bahasa Indonesia berlaku tahun 2015 berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia

4.6.2. EBI menggantikan EYD

4.6.3. Perbedaan EBI dengan EYD :

4.6.3.1. Penambahan satu huruf diftong yaitu huruf ei sehingga huruf diftong dalam Bahasa Indonesia menjadi empat huruf, yakni ai, ei, au, dan oi

4.6.3.2. Penambahan aturan pada penggunaan huruf tebal dan huruf kapital

5. DIALEK & RAGAM BAHASA

5.1. DIALEK REGIONAL

5.1.1. Rupa-rupa bahasa yang digunakan di daerah tertentu sehingga ia membedakan bahasa yang digunakan di suatu daerah dengan bahasa yang digunakan di daerah yang lain meskipun mereka berasal dari ekabahasa

5.2. DIALEK SOSIAL

5.2.1. Dialek yang digunakan oleh kelompok masyarakat tertentu atau yang menandai tingkat masyarakat tertentu

5.3. DIALEK TEMPORAL

5.3.1. Dialek yang digunakan pada kurun waktu tertentu

5.4. IDIOLEK

5.4.1. Keseluruhan ciri bahasa seseorang

5.5. RAGAM BAHASA

5.5.1. Ragam Bahasa Menurut Pokok Pembicaraan

5.5.1.1. Ragam undang-undang

5.5.1.2. Ragam jurnalistik

5.5.1.3. Ragam ilmiah

5.5.1.4. Ragam sastra

5.5.2. Ragam Bahasa Menurut Hubungan Antar Pembicara

5.5.2.1. Ragam Lisan

5.5.2.1.1. Ragam percakapan

5.5.2.1.2. Ragam pidato

5.5.2.1.3. Ragam kuliah

5.5.2.1.4. Ragam panggung

5.5.2.2. Ragam Tulis

5.5.2.2.1. Ragam teknis

5.5.2.2.2. Ragam undang-undang

5.5.2.2.3. Ragam catatan

5.5.2.2.4. Ragam surat menyurat