UAS Psikologi Konseling (Meynola Khima Auliya) (2011010098)

Jetzt loslegen. Gratis!
oder registrieren mit Ihrer E-Mail-Adresse
UAS Psikologi Konseling (Meynola Khima Auliya) (2011010098) von Mind Map: UAS Psikologi Konseling (Meynola Khima Auliya) (2011010098)

1. Praktik Kasus Konseling Anak Normal

1.1. pengertian indentikfiasi masalah

1.1.1. Guru memperoleh informasi dari oarangtua farhan mengenai perilaku anaknya yang menolak ketika diajari membaca dan menulis. guru mulai berfikir dan menelah informasi dari orang tua tersebut mengapa anaknya bisa seperti itu.

1.2. Analisis masalah

1.2.1. Guru melalui analisis masalah dengan cara mengumpulkan berbagai data yang dibutuhkan untuk menganalisis. selain itu, guru juga melakukan observasi setiap kegiatan pembelajaran mengenal dan menullis angka dan huruf.

1.3. Diagnosis

1.3.1. Guru mendiagnosis masalah dengan melakukan pendekatan terhadap dengan menggunakan metode bercakap-cakap dengan metode tersebut tidak membuat farhan takut.

1.4. Evaluasi dan tidak lanjut

1.4.1. Rangkaian pemberian bantuan yang telah dilakukan guru langkah selanjtnya yaitu mengevaluasi dan menindak lanjut jika pelayanan yang sebelumnya belum mendapatkan titik temu atau tanda-tanda mengubah perilaku farhan yang menolak untuk diajari membaca dan menulis

1.4.2. Layanan evaluasi

1.4.3. Layanan tidak dilanjuti

2. Praktik Kasus Konseling Dewasa Anak

2.1. Peran guru BK dalam meningkatkan prestasi belajar siswa

2.1.1. setelah guru bk memberikan pemahaman mengenai minat dan bakat peserta didik, guru bk dapat mengarahkan peserta didik sesuatu yang lebih ia dalami dengan salah satu motivasi untuk mengembangkan kemampuan belajarnya

2.1.1.1. cara meningkatkan motivasi belajar siswa

2.1.1.1.1. 1. menggunakan metode pemebelajaran yang tepat dan beragam

2.1.1.1.2. 2. Menjadikan siswa sebagai peserta didik yang aktif

2.1.1.1.3. 3. menciptakan kompetensi

2.1.1.1.4. 4. Mengadakan evaluasi secara berkala

2.1.1.1.5. 5. Sampaikan motivasi secara langsung

2.1.1.1.6. 6. Dermawan aan pilihan

2.2. Hamabatan guru bk dalam meningkatkan prestasi belajar siswa

2.2.1. Hambatan-hambatan yang mungkin datang atau berhasil dari konseli dapat berupa hal-hal sebagai berikut :

2.2.1.1. 1. Konseli tidak terbuka sepenuhnya kepada konselor atas persoalakn yang sedang dihadapi

2.2.1.2. 2. konseli merasa tidak bebas untuk mengungkapkan persoalannya

2.2.1.3. 3. Suasana di sekitar tempat pelayanan kurang nyaman.

3. Lima Tahap Struktur Interview

3.1. Pengertian Lima tahap struktur interview

3.1.1. Dalam proses wawancara konseling ini berlangsung melalui beberapa proses yaitu :

3.1.1.1. 1. Membuktian kedua pihak benar-benar mendengarkan penuturan teman bicaranya

3.1.1.2. 2. Lingkup kemiripan

3.2. Praktik Interview Konseling

3.2.1. Interview konseling terdiri dari rangkaian ungkapan dan dialog dari konseli, yang disusul dengan ungkapan balik dari konselor. dengan begitu, wawancara mebentuk rangkaian mata rantai, dimana mata rantai terdiri dari suatu ungakapan konselor. ungkapan konselor berupa tanggapan verbal juga diikutik bahasa nonverbal dimaksudkan untuk membantu konseli, dengan menggunakan struktur atau teknik verbal ini tergantung dari insentasi dari konselor terhadap persoalan konseli.

3.3. Lima Tahap Struktur Interview

3.3.1. Ada lima tahap interview sebagaik berikut :

3.3.1.1. 1. rappot

3.3.1.2. 2. pengumpulan data

3.3.1.3. 3. menentukan hasil sesuai dengan arah kemana klien yang diinginkan

3.3.1.4. 4, generalisasi dan pengalihan proses belajar

3.3.1.5. 5. mengemukakan masalah alternatif

3.4. Mengakhiri Interview Konseling

3.4.1. Setelah melakukan proses konseling, tentunya klien tida dipaksa untuk mengikuti hal-hal yang telah dijelaskan.

4. Konfrontasi, memutuskan perhatian, refleksi makna, ketrampilan memengaruhi da mengembangkan strategi,intregrasi ketrampilan penentuan gaya dan teori pribadi

4.1. Pengertian Kontrofersi

4.1.1. Kontrofersi adalah menurut Supriyono dan Mulawarman kontrofersi adalah ketrampilan atau tenik yang digunakan oleh konselor untuk menunjukan adanya kesengajaan, deskripansi atau inkronguensi dalam diri klien dan kemudian konselor mengumpan balikkan kepada klien.

4.2. Tujuan Tenik Kontrofersi

4.2.1. Tenik kontrofersi dilakukan klien suapaya menyadari akan adanya kesengajaan, perbedaan dalam pemikiran, perasaan dan perilaku. kontrofersi juga dapat membantu orang agar mengubah pertahanan yang telah dibangun guna menghiindari pertimbangan bidang tertentu dan untuk meningkatkan komunikasi terus menerus.

4.3. Perilaku Atteding (Menghampiri Klien)

4.3.1. Menurut Wiils (2009), Attending yang baik yang dibutuhkan karena dapat :

4.3.1.1. 1. Meningkatan harga diri klien, sebab sikap dan perilaku attending memungkinkan konselor menghargai klien. karena dia dihargai, dia merasa harga diri ada atau meningkatkan

4.3.1.2. 2. Dengan perilaku attending dapat menciptakan suasana aman bagi klien, karena klien merasa ada orang yang bisa dipercaya, teman untuk berbicara, dan merasa terlindungi secara emosional

4.3.1.3. 3. Perilaku attending memberikan keyakiknan kepada klien bahwa konselor adalah tempat dia mudah untuk mencurahkan segala isis hati dan perasaannya

4.3.1.4. 4. Refleksi

4.3.1.4.1. Refleksi ada tiga macam yaitu :

4.3.1.4.2. Jenis-jenis refleksi yang bisa dilakukan untuk kenyamanan kita :

4.4. Ketrampilan Integrasi

4.4.1. Ketrampilan integrasi mengacu pada kemampuan-kemapuan konselor untuk menerapkan strategi-strategi pada khusus , sambil mengingat kontraks budaya sosio-ekonomi konseli.

4.4.1.1. Faktor-faktor pendorong integrasi yaitu :

4.4.1.1.1. Fatktor internal

4.4.1.1.2. Faktor Eksternal

4.4.2. Teori membentukan kepribadian menurut Goerge herbert mead memperkenalkan Role Thoery (teori peran) menurutnya tahapan sosialisasi yang dilakukan oleh manusia peran-peran yang dijalankan

4.4.2.1. Teori kepribadian

4.4.2.1.1. 1. Tingkah laku itu merupakan hasil belajar baik tingkah laku yang normal maupun tingkah laku yang malasiui

4.4.2.1.2. 2. Tingkah laku normal berkembang karena interaksinya dengan lingkungan menadapatkan penguatan

4.4.2.1.3. 3. Tingkah laku melasui berkembang karena dalam interaksinya dengan lingkungan mendapatkan penguatan