Teori Motif dan Motivasi

Jetzt loslegen. Gratis!
oder registrieren mit Ihrer E-Mail-Adresse
Teori Motif dan Motivasi von Mind Map: Teori Motif dan Motivasi

1. Motif

1.1. Teori

1.1.1. Teori Insting

1.1.1.1. Daftar Insting menurut MC Dougall

1.1.1.1.1. Memelihara

1.1.1.1.2. Menyerang

1.1.1.1.3. Simpati

1.1.1.1.4. Mempertahankan diri

1.1.1.1.5. Menyerah

1.1.1.1.6. Mencari makan

1.1.1.1.7. Kawin

1.1.1.1.8. Menolak

1.1.1.1.9. Membangun

1.1.1.1.10. Melarikan diri

1.1.1.1.11. Memohon

1.1.1.1.12. Berkelompok

1.1.1.2. Menurut McDougall, insting dapat diubah melalui empat cara

1.1.1.2.1. Suatu insting tidak hanya diakktifkan oleh objek eksternal yang spesifik langsung saja, tetapi diaktifkan juga oleh objek yang tidak langsung serta ide-ide atau bayangan-bayangan dari objek tadi.

1.1.1.2.2. Kemunculan perilaku instingtif dapat dimodifikasi sesuai dengan tahapan perkembangan.

1.1.1.2.3. beberapa insting mungkin dapat dipicu secara simultan dan dengan demikian tingkahlaku yang muncul dipicu oleh sejumlah insting yang menyenangkan atau menggairahkan secara bersama-sama.

1.1.1.2.4. perilaku-perilaku instingtif mungkin mengarah secara teroeganisir terhadap sejumlah objek tersebut dan sebab itu organisme tidak responsif terhadap objek-objek lain.

1.1.2. Teori Dorongan

1.1.2.1. Menurut Weiner (1990) motivasi dapat didefenisikan sebagai kondisi internal yang mampu membangkitkan kita untuk bertindak, mendorong kita mencapai tujuan tertentu, dan membuat kita tetap tertarik dalam kegiatan tertentu.

1.1.2.2. Menurut Uno (2007), motivasi dapat diartikan sebagai sebuah dorongan internal dan eksternal dalam diri seseorang yang diindikasikan dengan adanya; hasrat dan minat; dorongan dan kebutuhan; harapan dan cita-cita; penghargaan dan penghormatan.

1.1.3. Teori Insentif

1.1.3.1. Teori insentif beranggapan jika lingkungan yang sebenarnya bisa mempengaruhi perilaku seseorang

1.1.3.2. Bagian terpenting dari sekian banyak teori insentif adalah jika individu akan berharap kesenangan dari pencapaian dari apa yang disebut dengan insentif positif dan juga dari penghindaran atas apa yang disebut dengan insentif negatif.

1.1.3.3. Tujuan Insentif

1.1.3.3.1. Agar bisa lebih meningkatkan produktivitas.

1.1.3.3.2. Agar bisa mendorong atau membangkitkan stimulasi kerja.

1.1.3.3.3. Untuk meningkatkan komitmen dalam prestasi kerja dan faktor psikologi dalam lingkungan kerja.

1.1.3.3.4. Agar secara psikologis bisa memuaskan seseorang yang mengarah ke kepuasan bekerja.

1.1.3.3.5. Agar bisa membentuk perilaku atau pandangan dari bawahan mengenai sebuah pekerjaan.

1.1.3.3.6. Agar bisa menanamkan semangat serta antusiasme terhadap sebuah pekerjaan.

1.1.3.3.7. Agar mendapatkan hasil yang lebih maksimal dari kemampuan seseorang sehingga individu tersebut bisa digunakan dan dimanfaatkan dengan maksimal.

1.1.3.3.8. Insentif positif merupakan insentif yang memberikan jaminan positif agar bisa memenuhi keinginan dan juga kebutuhan serta jenis perilaku manusia menurut psikologi. Insentif positif biasanya mempunyai sikap yang optimistis dan insentif biasanya akan diberikan untuk memenuhi kebutuhan psikologis seseorang seperti contohnya pujian, promosi, pengakuan, pinjaman, tunjangan dan lain sebagainya.

1.1.3.4. Jenis Insensif

1.1.3.4.1. Insentif negatif merupakan insentif yang memiliki tujuan untuk memperbaiki kesalahan atau standar dari seseorang. Tujuan utama dari insentif ini adalah memperbaiki kesalahan agar bisa mendapatkan hasil yang lebih efektif dan biasanya secara terpaksa diberikan pada saat insentif positif tidak bisa bekerja dengan baik. Contoh dari insentif negatif diantaranya adalah transfer, penurunan pangkat, hukuman, denda dan lain sebagainya.

1.1.3.5. yang bisa memenuhi kebutuhan ego dan juga aktualitas diri karyawan, insentif tidak bisa diukur dalam bentuk uang yang berada dalam insentif non moneter.

1.1.3.6. Kategori Insentif

1.1.3.6.1. Insentif Monter

1.1.3.6.2. Insentif Non Moneter

1.1.3.6.3. Kombinasi dari insentif moneter dan juga non moneter nantinya akan saling membantu agar bisa menumbuhkan motivasi serta semangat dalam bekerja.

1.1.4. Teori Kognitif

1.1.4.1. Teori belajar kognitiv lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri.

1.1.4.2. Belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati.

1.1.5. Teori Atribusi

1.1.5.1. Teori atribusi menyuguhkan sebuah kerangka kerja untuk memahami bagaimana setiap individu menafsirkan perilaku mereka sendiri dan perilaku orang lain.

1.1.5.2. Tokohya

1.1.5.2.1. Fritz Heider (1958)

1.1.5.2.2. Edward E. Jones (1965)

1.2. Jenis

1.2.1. Motif Fisiolgi

1.2.2. Motif Sosial (McClelland)

1.2.2.1. Motif Berprestasi

1.2.2.2. Motif Berafiliasi

1.2.2.3. Motif Berkuasa

1.2.3. Teori Kebutuhan

1.2.3.1. Murray

1.2.3.1.1. 1. Merendah atau merendahkan diri 2. Berprestasi 3. Afiliasi 4. Agresi 5. Otonomi 6. Counteraction 7. Pertahanan 8. Hormat 9. Ekshibisi atau pamer 10. Penolakan kerusakan 11. Infavoidance 12. Member bantuan 13. Teratur 14. Bermain 15. Menolak 16. Sentience 17. Seks 18. Bantuan tau pertolongan 19. Mengertis 20. Mtif eksplorasi, kompetensi, dan self-aktualisasi 21. Motif untuk mengadakan eksplorasi terhadap lingkungan yang oleh Woodworth dan Marquis disebut sebagai motif objektif

1.2.3.2. Motif Explorisasi Woodworth dan Marquia (1957)

1.2.3.2.1. 1. Motif yang berkaitan dengan kebutuhan organis 2. Motif darurat 3. Motif objektif dan minat. 4. Motif untuk menguasai tantangan yang ada dalam lingkungan dan menanganinya dengan secara selektif ( motif kompetensi )

2. Motivasi

2.1. Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan)

2.1.1. kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat dan sex;

2.1.2. kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual;

2.1.3. kebutuhan akan kasih sayang (love needs);

2.1.4. kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status;

2.1.5. aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.

2.2. Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi)

2.2.1. menyukai situasi-situasi di mana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri, dan bukan karena faktor-faktor lain, seperti kemujuran misalnya;

2.2.2. sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat;

2.3. Teori Clyton Alderfer (Teori “ERG)(Existence,Relatedness,Growth)

2.3.1. Makin tidak terpenuhinya suatu kebutuhan tertentu, makin besar pula keinginan untuk memuaskannya;

2.3.2. Kuatnya keinginan memuaskan kebutuhan yang “lebih tinggi” semakin besar apabila kebutuhan yang lebih rendah telah dipuaskan;

2.3.3. Sebaliknya, semakin sulit memuaskan kebutuhan yang tingkatnya lebih tinggi, semakin besar keinginan untuk memuasakan kebutuhan yang lebih mendasar.

2.3.4. menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka, dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah.

2.4. Teori Herzberg (Teori Dua Faktor)

2.4.1. faktor motivasional

2.4.1.1. hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang

2.4.1.2. pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih, kesempatan bertumbuh, kemajuan dalam karier dan pengakuan orang lain.

2.4.2. faktor hygiene atau “pemeliharaan”.

2.4.2.1. faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang.

2.4.2.2. status seseorang dalam organisasi, hubungan seorang individu dengan atasannya, hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik penyeliaan yang diterapkan oleh para penyelia, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi, kondisi kerja dan sistem imbalan yang berlaku.

2.4.3. Salah satu tantangan dalam memahami dan menerapkan teori Herzberg ialah memperhitungkan dengan tepat faktor mana yang lebih berpengaruh kuat dalam kehidupan seseorang, apakah yang bersifat intrinsik ataukah yang bersifat ekstrinsik

2.5. Teori Keadilan

2.6. Teori penetapan tujuan (goal setting theory)

2.7. Teori Victor H. Vroom (Teori Harapan )

2.8. Teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku

2.9. Teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi.

3. Remaja Broken Home

3.1. Hubungan Sosial

3.1.1. Dimanjakan

3.1.2. Dikeraskan/Disipilin

3.1.3. Diabaikan

3.2. Ketidakdewasaan sikap dan tanggung jawab orang tua

3.3. Dampak Broken Home Bagi Prestasi Anak

3.3.1. Cendreungm tidak emiliki motivasi untuk belajar

3.3.1.1. Kurangnya Belajar

3.3.2. Cenderung lebih memilih diam atau jarang berpendapat

3.3.3. Cenderung rasa peduli terhadap teman terkadang rendah

3.3.4. Prestasi belajar menjadi terganggu

3.3.5. Perdapat perbedaan motivassi belajar pada siswa yang berasal dari keluarga brokenhome dengan motivassi belajar siswa dari keluarga utuh. motivaasi belajar anak yang berasal dari keluarga broken home lebih rendah daripada motivasi belajar siswa darikeluarga yang utuh

3.4. Faktor Penyebab Broken Home; Biasnya

3.4.1. Terjadinya Perpecahan

3.4.2. Memiliki prinsip dan Keyakinan yang berbeda

3.4.3. Adanya masalah ekonomi dan/ pendidikan

3.5. lain-lain;

3.5.1. Anak-anak broken home memerlukan seseorang untuk menjadi mentor dan pemandu, mereka butuh waktu, afeksi, semangat, dan meyakinkannya bahwa kedua orangtuanya itu sangatmencintainya

3.5.1.1. Terkadang Orang tua tidak tau bagaimana cara menyayangi anaknya dengan cara yang baik dan benar.

3.5.1.2. Gimana Kita Menderita lebih Baik dari kemarin.