Teori Pembentukan Bumi
von Vrisman Sulaksana
1. Bentuk permukaan bumi
1.1. Bentuk permukaan bumi dipengaruhi oleh tenaga endogen yaitu tenaga yang berasal dari dalam bumi seperti Vulkanisme, Tektonisme, dan Gempa bumi
2. Teori Kontraksi (Contraction Theory)
2.1. Teori ini mendapat dukungan dari James Dana (1847) Elie de Baumant (1852), yang keduanya berpendapat bahwa bumi mengalami pengerutan karena terjadi proses pendinginan pada bagian dalam bumi yang mengakibatkan bagian permukaan bumi mengerut dan terbentuk pegunungan dan lembah-lembah.
3. Teori Laurasia dan Gondwana
3.1. Awalnya bumi terdiri atas dua benua yaitu Laurasia yang berada di sekitar kutub utara dan Gondwana di sekitar kutub selatan bumi. Kedua benua tersebut bergerak perlahan ke arah equator bumi yang pada akhirnya terpecah membentuk benua-benua kecil. Laurasia terpecah menjadi Amerika utara, Asia, Eropa. Sedangkan Gondwana terpecah menjadi Amerika selatan, Australia, dan Afrika. Teori Laurasia-Gondwana pertama kali ditemukan pada tahun 1884 oleh Edward Zeuss.
4. Teori Apungan Benua atau Continental Drift
4.1. Teori Apungan Benua (Continental Drift Theory) Teori apungan benua dikemukakan oleh Alfred Lothar Wegener tahun 1912 dalam bukunya The Origin of the Continents and Oceans. Wegener mengemukakan teori tentang perkembangan bentuk permukaan bumi berhubungan dengan pergeseran benua. Menurut Wegener, di permukaan bumi pada awalnya hanya terdapat sebuah benua besar yang disebut Pangea (dalam bahasa Yunani berarti keseluruhan bumi), serta sebuah samudra bernama Panthalasa. Benua tersebut kemudian bergeser secara perlahan ke arah ekuator dan barat mencapai posisi seperti sekarang. Teori apungan benua diperkuat dengan adanya kesamaan garis pantai antara Amerika Selatan dan Afrika, serta kesamaan lapisan batuan dan fosil-fosil pada lapisan di kedua daerah tersebut. Gerakan tersebut menurut Wegener disebabkan oleh adanya rotasi bumi yang menghasilkan gaya sentrifugal sehingga gerakan cenderung ke arah ekuator, sedangkan adanya gaya tarik-menarik antara bumi dan bulan menghasilkan gerak ke arah barat. Gerakan ke arah barat tersebut terjadi seperti halnya pada saat terjadinya gelombang pasang, yaitu akibat revolusi bulan yang bergerak dari arah barat ke timur. Akan tetapi, sekitar tahun 1960-an muncul kritik terhadap teori itu yang mempertanyakan kemungkinan massa benua yang sangat besar dan berat dapat bergeser di atas lautan yang keras.
5. NAMA : VRISMAN SULAKSANA KELAS : X AK 3 TUGAS : MIND MAP SEJARAH
6. Teori Konveksi
6.1. Teori konveksi ini pertama kali dicetuskan oleh Arthur Holmes sekitar tahun 1927 dan kemudia dikembangkan oleh Harry H. Hess dan Robert Diesz. Teori ini menyebutkan bahwa terdapat arus konveksi dari dalam mantel bumi yang terdiri dari massa berupa lava. Ketika arus konveksi ini membawa lava sampai ke permukaan bumi di bagian punggung tengah samudra (mid oceanic ridge), akan menyebabkan lava tersebut membeku dan membentuk lapisan kulit bumi yang baru sehingga menggeser dan menggantikan kulit bumi yang lama. Teori ini didukung dengan adanya bukti bahwa terdapatnya bagian mid oceanic ridge itu sendiri, seperti mid Atlantic Ridge dan Pasific Atlantic Ridge. Selain itu berdasarkan sebuah penelitian mengenai umur laut juga dibuktikan bahwa semakin jauh dari punggung tengah samudra, umur batuan-batuannya semakin tua.
7. Teori Lempeng Tektonik
7.1. Teori yang dikemukakan oleh Tozo Wilson sekitar tahun 1965 ini menyebutkan bahwa kulit bumi terdiri atas beberapa lempeng tektonik yang berada di atas lapisan astenosfer, dan lempeng-lempeng pembentuk kulit bumi ini selalu bergerak karena adanya pengaruh arus konveksi dari lapisan astenosfer. Pergerakan lempeng tektonik ini dapat dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan arahnya, yaitu Konvergensi berupa gerakan saling bertumbukan antar lempeng tektonik, baik lempeng benua maupun lempeng samudra. Beberapa pegunungan seperti Himalaya muda, Alpen, Rocky dan Andes disebut merupakan relief yang terbentuk akibat proses konvergensi ini. Divergensi, yaitu gerakan saling menjauh antar lempeng tektonik dan Sesar Mendatar yaitu gerakan berlawanan arah yang menyebabkan terjadinya pergesekan antar lempeng tektonik. Sesar San Andreas yang terbentang sepanjang 1.200 km merupakan salah satu relief yang terbnetuk akibat adanya proses transform ini. • Pergerakan lempeng saling mendekati (Konvergen) akan menyebabkan tumbukan dimana salah satu dari lempeng akan menunjam ke bawah yang lain. Daerah penunjaman membentuk suatu palung yang dalam, yang biasanya merupakan jalur gempa bumi yang kuat. Dibelakang jalur penunjaman akan terbentuk rangkaian kegiatan Magmatik dan Gunung Api serta berbagai cekungan pengendapan. Salah satu contohnya terjadi di Indonesia, pertemuan antara lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia menghasilkan jalur penunjaman di selatan pulau Jawa dan jalur Gunung Api Sumatera. • Pergerakan lempeng saling menjauh (Divergen) akan menyebabkan penipisan dan peregangan kerak Bumi dan akhirnya terjadi pengeluaran material baru dari mantel membentuk jalur Magmatik atau Gunungapi. Contoh pembentukan gunung api di Pematang Tengah Samudera di Lautan Pasific dan Benua Afrika. • Pergerakan saling berpapasan (Transform) dicirikan oleh adanya sesar mendatar yang besar seperti misalnya sesar besar San Andreas di Amerika