Jetzt loslegen. Gratis!
oder registrieren mit Ihrer E-Mail-Adresse
ISPA von Mind Map: ISPA

1. PENATALAKSANAAN MEDIS

1.1. Berat

1.1.1. Dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik melalui jalur infus diberi oksigen, diisolasi,Vitamin C dan ekspektoran,Vaksinasi, dsb

1.2. Sedang

1.2.1. Istirahat total

1.2.2. Peningkatan intake cairan

1.2.3. Pencegahan infeksi lebih lanjut.

1.2.4. Simtomatik (sesuai dengan gejala yang muncul) sebab antibiotik tidak efektif untuk infeksi virus

1.2.5. Obat kumur.Untuk menurunkan nyeri tenggorokan

1.2.6. Antihistamin untuk menurunkan rinorrhea

1.2.7. Vitamin C dan ekspektoran

1.2.8. Vaksinasi

1.3. Ringan

1.3.1. Kompres hangat

1.3.2. Memperbanyak minum air hangat dan madu untuk meredakan batuk

1.3.3. Memperbanyak istirahat

1.3.4. Bila demam diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol

1.3.5. Jika terjadi peradangan harus diberikan antibiotik.

2. TANDA & GEJALA

2.1. Dewasa

2.1.1. Batuk

2.1.2. Demam

2.1.3. Nyeri kepala

2.1.4. Hidung tersumbat

2.1.5. Nyeri tenggorokan

2.1.6. Timbul gejala sinusitis

2.1.7. Kekurangan oksigen sehingga menyebabkan warna kulit menjadi kebiruan

2.1.8. Kesulitan untuk bernapas

2.2. Anak dan Balita

2.2.1. Ringan

2.2.1.1. Batuk.

2.2.1.2. Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (pada waktu berbicara atau menangis).

2.2.1.3. Pilek, yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung.

2.2.1.4. Panas atau demam, suhu badan lebih dari 37°C atau jika dahi anak diraba dengan punggung tangan terasa panas

2.2.2. Sedang

2.2.2.1. Pernapasan cepat (fast breathing) sesuai umur yaitu: untuk kelompok umur < 2bln frekuensi nafas 60 kali per menit atau lebih untuk umur 2 -< 5 thn

2.2.2.2. Suhu tubuh lebih dari 39°C.

2.2.2.3. Tenggorokan berwarna merah.

2.2.2.4. Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercak campak.

2.2.2.5. Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga.

2.2.2.6. Pernapasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur).

2.2.3. Berat

2.2.3.1. Bibir atau kulit membiru.

2.2.3.2. Anak tidak sadar atau kesadaran menurun.

2.2.3.3. Sela iga tertarik kedalam pada waktu bernafas.

2.2.3.4. Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba.

2.2.3.5. Tenggorokan berwarna merah

2.2.3.6. Mual dan muntah

2.2.3.7. Demam diatas 39C

3. FAKTOR RESIKO

3.1. Umum

3.1.1. Memiliki sistem imun tubuh yang rendah. Sehingga cukup rentan terhadap berbagai infeksi virus dan bakteri.

3.1.2. Penderita gangguan paru-paru dan jantung

3.1.3. Perokok aktif karena beresiko mengalami gangguan saluran pernapasan dan fungsi paru-paru.Sehingga cukup rentan dan cenderung lebih sulit untuk segera pulih.

3.1.4. Pengidap HIV/AIDS, leukemia atau pasca transplantasi organ karnamemiliki sistem imun rendah

3.2. Lingkungan

3.2.1. Tempat tinggal

3.2.1.1. Pencemaran udara dalam rumah seperti asap rokok dan asap hasilpembakaran bahan bakar untuk memasak dengan konsentrasi tinggi dapat merusak mekanisme pertahanan paru sehingga akan memudahkan timbulnya ISPA

3.2.1.2. Ventilai rumah, yaitu penyediaan udara atau pengerahan udara keatau dari ruangan baik secara alami maupun secara mekanis.

3.2.1.3. Kepedatan hunian rumah, Keadaan tempat tinggal yang padat dapat meningkatkan faktor polusi dalam rumah yang telah ada.

3.2.2. Lingkungan sekitar

3.2.2.1. Polusi udara, asap kendaraan bermotor dan buangan industri serta kebakaran hutan, dst.

3.3. Berdasarkan Usia

3.3.1. Anak dan balita

3.3.1.1. UMUR ANAK Insiden penyakit pernapasan oleh virus melonjak pada bayi dan usia dini.Insiden ISPA tertinggi pada umur 0-59bulan.

3.3.1.2. BERAT BADAN LAHIR. Berat badan lahir menentukan pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental pada masa balita.Bayi dengan BBLR mempunyai risiko kematian yang lebih besar.Penelitian menunjukan bahwa berat bayi kurang dari 2500-gram dihubungkan dengan meningkatnya kematian akibat infeksi saluran pernapasan karna infeksi yang dialami lebih berat dibanding bayi normal

3.3.1.3. STATUS GIZI. Keadaan gizi yang buruk muncul sebagai faktor risiko yang penting untuk terjadinya ISPA.Anak dengan gizi buruk sering mendapat pneumonia.Pada penderita gizi buruk balita lebih mudah terserang ISPA berat bahkan serangannya lebih lama

3.3.1.4. STATUS IMUNISASI. Sebagian besar kematian ISPA berasal dari jenis ISPA yang berkembang dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti difteri,pertusis, campak, maka peningkatan cakupan imunisasi akan berperan besar dalam upaya pemberantasan ISPA. Bayi dan balita yang mempunyai status imunisasi lengkap bila menderita ISPA dapat diharapkan perkembangan penyakitnya tidak akan menjadi lebih berat.

3.3.2. Lansia

3.3.2.1. Lansia cendrung memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah sehingga lebih mudah dan lebih rentan terserang virus/penyakit.Dan memiliki resiko yang sama tingginya dengan bayi dan balita

4. INTERVENSI KEPERAWATAN

4.1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d obstruksi mekanik dari jalan nafas oleh sekret d.d proses inflamasi, peningkatan produksi sekret.

4.1.1. Kaji bersihan jalan napas klien

4.1.2. Auskultasi bunyi napas

4.1.3. Berikan posisi yang Nyaman

4.1.4. Lakukan suction sesuai indikasi

4.1.5. Anjurkan keluarga untuk memberikan air minum yang hangat

4.1.6. Kolaborasi ; Pemberian mukolitik dan antibiotik

4.2. Hipertermi b.d proses infeksi

4.2.1. Kaji peningkatan suhu tubuh yang dialami oleh klien

4.2.2. Observasi tanda-tanda vital

4.2.3. Berikan dan anjurkan keluarga untuk memberikan kompres dengan air pada daerah dahi dan ketiak

4.2.4. Anjurkan keluarga untuk mempertahankan pemberian cairan melalui rute oral sesuai indikasi

4.2.5. Anjurkan keluarga untuk menghindari pakaian yang tebal dan menyerap keringat

4.2.6. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antipiuretik

4.3. Pola nafas tidak efektif b.d proses inflamasi pada saluran pemafasan d.d adanya sekret

4.3.1. Observasi tanda vital, adanya cyanosis, serta pola, kedalaman dalam pernafasan

4.3.2. Berikan posisi yang nyaman pada pasien

4.3.3. Ciptakan dan pertahankan jalan nafas yang bebas

4.3.4. Anjurkan untuk tidak memberikan minum selama periode tachypnea

4.3.5. Kolaborasi ; Pemberian oksigen,nebulisasi dan obat bronchodilator

4.4. Gangguan pola tidur berhubungan dengan sesak dan batuk

4.4.1. Kaji gangguan pola tidur yang dialami klien

4.4.2. Ciptakan lingkungan yang tenang

4.4.3. Berikan bantal dan seprei yang bersih

4.4.4. Kolaborasi ; Pemberian obat sedative dan antibiotic

5. PATOFISIOLOGI

5.1. Proses terjadinya ISPA diawalidenganmasuknyabeberapabakteridari genus streptokokus, stafilokokus, pneumokokus, hemofillus, bordetelladan korinebakterium dan virus darigolonganmikrovirus (termasukdidalamnyavirus para influenza dan virus campak), adenoveirus, koronavirus, pikornavirus, herpesvirus kedalamtubuhmanusiamelaluipartikeludara (droplet infection). Kuman iniakanmelekat pada selepitelhidungdenganmengikuti proses pernapasanmakakumantersebutbisamasukkebronkus dan masukkesaluranpernapasan, yang mengakibatkandemam, batuk, pilek, sakitkepala dan sebagainya

6. KOMPLIKASI

6.1. Sinusitis

6.2. Sesak Napas Dalam/dyspnea

6.3. Otitis Medina

6.4. Pneumonia

6.5. Faringitis

6.6. Gagal napas

7. PEMERIKSAAN PENUNJANG

7.1. Pemeriksaan Laboratorium

7.1.1. Pemeriksaan Darah Rutin untukmelihat peningkatan jumlah seldarah putih dalam darah yang merupakan tanda infeksi.

7.1.2. Pemeriksaan Dahak atau Sputum,untuk mendeteksi kuman, termasuk bakteri penyebab infeksi saluran pernapasan.

7.1.3. Pemeriksaan Molekular, seperti tes PCR untuk mendeteksi penyakit akibat infeksi virus,

7.2. Non Laboratorium

7.2.1. Pemindaian dengan Rontgen dan CT scan, untuk memeriksa kondisi paru-paru serta jalan napas.

7.2.2. Pemeriksaan Pulse Oximetry, untuk mendeteksi adanya gangguan pernapasan dan memeriksa banyaknya oksigen yang masuk ke paru-paru

8. MANAJEMEN KEPERAWATAN

8.1. Terapi Non Farmakologi

8.1.1. Kompres Hangat

8.1.2. Memperbanyak Minum

8.1.3. Menghirup uap dari semangkuk air panas yang telah dicampur dengan minyak kayu putih atau mentol, untuk meredakan hidung tersumbat.

8.1.4. Berkumur dengan air hangat yang diberi garam jika mengalami sakit tenggorokan.

8.1.5. Fisioterapi dada

8.1.6. Mengonsumsi minuman lemon hangat atau madu, untuk meredakan batuk

8.1.7. Istirahat total

8.1.8. Pemberian edukasi mengenai penyakit pasien

8.1.9. Menghirup uap dari semangkuk air panas yang telah dicampur dengan minyak kayu putih atau mentol, untuk meredakan hidung tersumbat.

8.2. Terapi Farmakologi

8.2.1. Terapi Simptomatik

8.2.1.1. Dekongestan oral atau topikal

8.2.1.2. Antihistamin oral

8.2.1.3. Guaifenesin

8.2.1.4. Antiviral

8.2.2. Terapi Antibiotik

9. ETIOLOGI

9.1. Penyebab ISPA dapat terjadi melalui kontak dengan percikan airliur orang yang terinfeksi. Virus atau bakteri dalam percikan liur akan menyebar melalui udara kemudian masuk kehidung atau mulut orang lain. Selain kontak langsung dengan percikan liur penderita, virus juga dapat menyebar melalui sentuhan dengan benda yang terkontaminasi atau berjabat tangan dengan penderita.

9.1.1. Virus

9.1.1.1. Rhinovirus

9.1.1.2. Respiratory syntical viruses (RSVs)

9.1.1.3. Adenovirus

9.1.1.4. Para influenza virus

9.1.1.5. Virus Corona

9.1.2. Bakteri

9.1.2.1. Streptococcus

9.1.2.2. Haemophilus

9.1.2.3. Staphylococcus aureus

9.1.2.4. Klebsiella pneumoniae

9.1.2.5. Mycoplasma pneumoniae

9.1.2.6. Chlamydia

9.1.3. Jamur

9.1.3.1. Candidiasis

9.1.3.2. Histoplasmosis

9.1.3.3. Aspergifosis

9.1.3.4. Coccidioido mycosis

9.1.3.5. Cryptococosis,

9.1.3.6. Pneumocytis carinii

9.1.4. Lingkungan

9.1.4.1. ISPA juga disebabkan oleh polusi, antara lain disebabkan oleh asap rokok, asap pembakaran di rumah tangga, asap kendaraan bermotor dan buangan industri serta kebakaran hutan dan lain-lain