1. Sejarah
1.1. Teori ini dikemukakan oleh Jim Sidanius dan Felicia Pratto pada tahun 1991. Pada awalnya, teori dominasi sosial dikembangkan untuk menjelaskan fenomena rasisme, diskriminasi dan stereotipe melalui penjelasan mekanisme proses intrapersonal yang ada pada individu. Teori ini dirancang untuk menjelaskan asal-usul dan konsekuensi dari hirarki sosial serta penindasan. Secara khusus teori dominasi sosial mencoba untuk menjelaskan mengapa masyarakat tampaknya didukung oleh suatu hirarki. Teori dominasi sosial mengatakan bahwa faktor perbedaan individu dikatakan sebagai Orientasi Dominansi Sosial (ODS) atau sejauh mana individu berkeinginan untuk mendominasi dan menjadi unggul.
1.1.1. Kelompok atau individu dominan dikarakteristikan dengan nilai-nilai positif yang mereka miliki atau berdasarkan hal-hal yang bersifat materi atau simbolik. Biasanya memiliki kekuasaan politik atau otoritas, memiliki sumber daya yang baik dan banyak, memiliki kekayaan atau status sosial yang tinggi. Sedangkan kelompok atau individu subordinat adalah kelompok atau individu yang memiliki status sosial dan kekuasaan rendah.
2. Kelompok atau individu dominan dan kelompok atau individu subordinat terbentuk melalui tiga sistem stratifikasi berdasarkan hal berikut.
2.1. 1. Umur (age system), yaitu anggota kelompok atau individu yang memiliki usia lebih tua dibandingkan dengan anggota kelompok atau individu lain memiliki kekuasaan yang lebih tinggi dari yang lain (yang lebih muda).
2.2. 2. Jenis kelamin (gender system), laki-laki dilihat memiliki kekuasaan lebih apabila dibandingkan dengan perempuan.
2.3. 3. Arbitrary system, terbentuknya konstruksi sosial yang membuat suatu kelompok atau individu menonjol dikarenakan suatu karakteristik tertentu, contohnya ras, suku, kelas sosial, agama, dan lain sebagainya.
3. Nama : Sonia Candra NPM : 6018210173 Kelas : D
4. Individu yang memiliki orientasi dominasi sosial tinggi cenderung lebih tertarik dalam mendapatkan dan menggunakan kekuatan, sedangnya individu dengan orientasi dominasi sosial rendah lebih cenderung untuk mencari cara-cara koperatif dalam menangani konflik. Selain itu, individu dengan orientasi dominasi sosial yang tinggi juga sangat termotivasi untuk memaksimalkan keuntungan mereka terhadap individu di kelompok lain.
5. Mekanisme Pembentukan dan Pemeliharaan Hirarki Sosial
5.1. Legitimising myths Legitimising myths merupakan consensually dari nilai yang dipegang, sikap, kepercayaan, stereotip, dan ideologi budaya.
5.1.1. 2 jenis fungsional dari legitimizing myths:
5.1.2. Legitimising myths yang meningkatkan hirarki (Hierarchy-enhancing legitimising myths / HE-LMs). HE-LMs memberikan kebenaran moral dan intelektual untuk penindasan dan ketidaksetaraan.Contohnya seperti berbagai bentuk rasisme, seksisme, stereotip, nasionalisme atau kebangsaan, classism, dan atribusi internal untuk kemiskinan.
5.1.3. Legitimizing myths yang melemahkan hirarki (Hierarchy-attenuating legitimizing myths / HA-LMs). Contoh dari legitimising myths yang melemahkan hirarki diantaranya: doktrin politik seperti demokrasi sosial, sosialisme, dan komunisme, doktrin keagamaan, doktrin budayawan seperti hak-hak universal manusia, dan hak asasi manusia.
5.2. Diskriminasi Institusional (Lembaga)
5.2.1. Meningkatkan hirarki (Hierarchy Enhancing / HE) Lembaga yang meningkatkan hirarki (HE) mendukung dan mempertahankan ketidaksetaraan dengan mengalokasikan nilai sosial yang lebih positif kepada kelompok atu individu dominan. Lembaga yang meningkatkan hirarki (HE) memiliki kekuasaan atas keuntungan lembaga, perusahaan antar negara (perusahaan internasional), organisasi keamanan dalam negeri, dan sistem peradilan pidana.
5.2.2. Melemahkan hirarki (Hierarchy Attenuating / HA). Kelompok atau individu subordinat (kelompok bawah) seperti orang-orang tidak mampu, suku dan agama minoritas. Lembaga yang melemahkan hirarki (HA) meliputi hak asasi manusia, hak penduduk, organisasi kebebasan, organisasi keagamaan yang dikhususkan menjaga orang-orang lemah, rentan, dan tertindas. Institusi sosial dapat melakukan systematic terror untuk tetap menjaga hirarki sosial.
5.2.3. Systematic error: Suatu tindakan atau ancaman kekerasan yang lebih banyak ditujukan kepada kelompok atau individu subordinat (kelompok bawah). Berfungsi untuk menjaga hubungan yang bersifat penaklukan kelompok atau individu subordinat oleh kelompok dominan serta memelihara rasa hormat kelompok atau individu subordinat terhadap kelompok atau individu dominan.
5.3. Diskriminasi Individu
5.3.1. Diskriminasi individu merupakan perbedaan perlakuan yang dilakukan oleh satu individu terhadap individu lain dikarenakan keanggotaan mereka dalam kelompok sosial tertentu. Individu yang berada pada hirarki yang memiliki kekuatan tinggi biasanya memiliki lebih banyak hal-hal yang berkaitan dengan nilai-nilai positif dimana mereka dapat menyalurkan nilai-nilai tersebut kepada individu lain di dalam hirarkinya, dan kekuatan lain untuk memastikan bahwa nilai-nilai sosial yang negatif disalurkan ke individu lain di luar tingkatan hirarki mereka.
5.4. Orientasi Dominasi Sosial (ODS) Orientasi dominasi sosial mengacu pada sejauh mana seorang individu menerima suatu hirarki. Orientasi dominasi sosial adalah bagaimana individu menganut suatu mitos atau ideologi yang mempertahankan atau memperkuat hirarki di dalam suatu masyarakat
5.4.1. Konsep terbesar dari kerangka berpikir orientasi dominasi sosial terdiri atas tiga asumsi.
5.4.1.1. Manusia merupakan makhluk yang cenderung disusun berdasarkan kelompok-kelompok hirarki, dimana paling tidak terdapat satu kelompok atau individu yang berada di atas dan satu kelompok atau individu lain yang berada di bawahnya.
5.4.1.2. Hirarki atau tingkatan dapat didasarkan pada usia, jenis kelamin, kelas sosial, ras, kebangsaan, agama, dan karakteristik lainnya yang mungkin dapat digunakan sebagai pembeda di antara kelompok atau individu yang berbeda.
5.4.1.3. Masyarakat secara individu harus menyeimbangkan kekuatan yang ada di dalam dirinya, yaitu diantara satu hirarki kelompok atau individu menuju kelompok hirarki atau individu lain yang memiliki keseimbangan.