PSIKOLOGI KONSELING

Lancez-Vous. C'est gratuit
ou s'inscrire avec votre adresse e-mail
PSIKOLOGI KONSELING par Mind Map: PSIKOLOGI KONSELING

1. PRAKTEK KASUS KONSELING ANAK NORMAL

1.1. STUDI KASUS

1.2. IDENTIFIKASI MASALAH

1.2.1. Guru memperoleh informasi dari orang tua Farhan mengenai perilaku anaknya yang menolak ketika diajari membaca dan menulis. Guru mulai berpikir dan menelaah informasi dari orang tua tersebut mengapa anak didiknya (Farhan) bisa seperti itu dan dikaitkan dengan perilakunya ketika mengikuti pembelajaran di sekolah. Apakah sama atau menyimpang. Dan ternyata apa yang dilakukan Farhan di rumah dan di sekolah sama, sama-sama tidak mau ketika harus berhadapan dengan kegiatan membaca dan menulis. Guru juga menanyakan kepada guru lain dan juga melihat catatan-catatan yang dibuat guru/pengajar lain yang mengajar Farhan.

1.3. ANALISIS MASALAH

1.3.1. Guru memulai analisis masalah dengan cara mengupulkan berbagai data yang dibutuhkan untuk menganalisis. Selain itu, guru juga melakukan observasi (misal: selama 2-6 hari/lebih) setiap kegiatan pembelajaran mengenal dan menulis angka dan huruf. Observasi tersebut untuk melihat apakah Farhan memang benar-benar tidak mau menulis atau memang hanya malas atau lebih asyik dengan mainan yang lain. Selain itu, observasi yang dilakukan untuk melihat lebih jauh mengapa Farhan selalu menolak jika diajari membaca dan menulis. Guru juga dapat mengidentifikasi masalah Farhan tersebut dengan menelaah dan mempelajari lebih mendalam mengenai perilaku Farhan tersebut dengan dikaitkan pada bidang ilmu pengetahuan dan teori-teori.

1.4. DIAGNOSIS

1.4.1. Guru mendiagnosis masalah dengan melakukan pendekatan terhadap Farhan dengan menggunakan metode bercakap-cakap. Dengan metode tersebut tidak membuat Farhan takut dan terasa dibedakan dengan teman yang lain. Dengan bercakap-cakap guru dapat menggali informasi lebih mendalam dari Farhan mengapa ia selalu menolak ketika diajari membaca dna menulis. Selain itu, guru juga menggali informasi dari ibu Farhan secara lebih detail mengenai kegiatan Farhan sepulang sekolah, teman-temannya bermain ketika dirumah, mainan yang disediakan di rumah apa saja dan kondisi lingkungan tempat tinggalnya. Hasil dari percakapan dengan Farhan dan informasi dari orang tua dikumpulkan dan didiagnosis oleh guru. Kemungkinan penyebabnya adalah permainan lain yang disedikan Ibu Farhan ada yang lebih canggih yang seharusnya belum dikenalkan ke anak.

1.5. PROGNOSIS

1.5.1. Hasil identifikasi awal terkait masalah Farhan tersebut, guru membuat berbagai alternatif pemecahan masalah yang mungkin dan efektif mengatasi masalah Farhan. Alternatif pemecahan masalah diambil dari hal-hal yang sederhana, yang dimulai dari pembelajaran sehari-hari di sekolah. Beberapa alternatif yang dapat dilakukan guru untuk membantu menyelesaikan masalah Farhan, yaitu sebagai berikut

1.5.1.1. Berdialog/bercakap-cakap dengan anak menanyakan kainginan Farhan ketika pembelajaran membaca dan menulis.

1.5.1.2. Membuat variasi pembelajaran membaca dan menulis dengan media yang menarik anak (misal: flashcard, menempel, kolase, membuat huruf dari plastisin/dought).

1.5.1.3. Bermain tebak huruf dan angka dengan teman di luar ruangan.

1.5.1.4. Membuat proyek dengan tema huruf dan angka yang melibatkan anak utuk menyusun dengan rapi angka dan huruf dalam papan proyek untuk menarik minat anak belajar angka dan huruf.

1.5.1.5. Melakukan kerjasama pembelajaran dengan orang tua.

1.5.1.6. Membawa anak kepada ahli yang lebih tepat jika ditemukan penyebabnya merupakan faktor internal dan perlu penanganan lebih lanjut.

1.6. PELAKSANAAN BANTUAN

1.6.1. Hasil diagnosis dan prognosis yang telah dilakukan, langkah selanjutnya yaitu tindakan konkret pelaksanaan bantuan. Dari hasil prognosis didapat banyak pemecahan masalah yang memungkinkan diterapkan pada Farhan. Dari hasil tersebut, untuk memberikan bantuan pada Farhan agar mau membaca dan menulis dengan melibatkan Farhan dan anak lain yaitu dengan membuat variasi pembelajaran menjadi lebih menarik anak.

1.6.1.1. Guru atau pendamping memilih bahan-bahan yang menarik untuk dapat dijadikan bentuk huruf dan angka.

1.6.1.2. Guru atau pendamping membuat games yang menarik minat anak untuk bermain dan secara tidak langsung mereka belajar angka dan huruf.

1.6.1.3. Guru atau pendamping mengajak diskusi anak bagaimana cara membuat huruf dan angka yang unik dari bahan yang tidak biasa.

1.6.1.4. Guru atau pendamping mengobservasi kerja anak dari segi proses dan hasil kerja anak serta keterlibatan anak dalam membuat.

1.6.2. Guru atau pendamping dapat mengumpulkan data menggunakan berbagai cara yaitu sebagai berikut

1.6.2.1. Pengamatan (observasi) untuk melihat hasil kerja anak etika games dengan menggunakan plastisin/dought.

1.6.2.2. Pedoman wawancara untuk tanya jawab terhadap anak terkait keinginannya ketika pembelajaran membaca dan menulis.

1.6.2.3. Angket (kuesioner) untuk mendapatkan informasi terkait anak dari orang tua.

1.6.2.4. Kunjungan rumah (home visit) untuk mengamati laporan yang elah diutarakan orang tua terhadap guru.

1.7. EVALUASI DAN TINDAK LANJUT

1.7.1. Rangkaian pemberian bantuan yang telah dilakukan guru langkah selanjutnya yaitu mengevaluasi dan menindaklanjuti jika pelayanan yang sebelumnya belum mendapatka titik temu atau tanda-tanda mengubah perilaku Farhan yang menolak untuk diajari membaca dan menulis.

1.7.2. Layanan Evaluasi.

1.7.2.1. Guru menelaah hasil bantuan yang diberikan kepada Farhan dan mengobservasi ada atau tidak perubahan yang terjadi pada diri Farhan. Dalam mengevaluasi guru juga berpedoman pada data-data yang telah terkumpul dan dari laporan orang tua Farhan dirumah. Evaluasi diperlukan untuk melihat apakah bantuan yang diberikan dapat memberikan kemajuan tindakan ke arah yang lebih baik atau sebaliknya.

1.7.2.2. Hasilnya setelah dievaluasi guru ternyata Farhan mulai tertarik untuk belajar membaca dan menulis. Tetapi dengan catatan kegiatan belajar harus melibatkan fisik motorik dan tidak berkutat pada kertas . Farhan lebih tertarik jika ia membuat sendiri angka atau huruf dan dalam mempelajarinya dengan cara menempel dan menyusun.

1.7.3. Layanan Tindak Lanjut.

1.7.3.1. Lagkah tindak lanjut yang dilakukan guru untuk mengoptimalkan perilaku Farhan agar lebih tertarik untuk belajar membaca dan menulis yaitu dengan membuat pembelajaran menarik lain yang melibatkan kertas. Karena Farhan seolah bosan dan tidak suka jika menulis di kertas. Guru mengubah media yang digunakan untuk menulis tidak selalu pensil tetapi bisa diganti dengan pensil warna, krayon atau alat tulis lain yang dapat menarik minat Farhan. Selain itu metode yang digunakan lebih bervariasi dan baru di kenal Farhan sehingga akan menarik minatnya untuk belajar. Guru juga meminta bantuan orang tua Farhan untuk lebih intens memperhatikan Farhan danmbujuknya untuk terus belajar secara berkesinambungan dan dilakukan rutin setiap hari meskipun hanya sebentar.

1.8. KESIMPULAN

1.8.1. Bentuk perilaku bermasalah pada anak usia dini secara umum ada banyak yang mengalami kesulitan belajar. Hal ini dibuktikan dengan dari hasil observasi dan wawancara.

1.8.2. Penanganan perilaku bermasalah oleh guru sudah dilakukan, namun penanganan dilakukan secara umum atau klasikal. Bentuk perilaku bermasalah pada anak usia dini mempunyai masalah yang berbeda-beda sesuai dengan penyebabnya. Dengan demikian, dalam penanganan perilaku bermasalah pada siswa sekolah dasar, juga harus berbeda sesuai dengan masalah yang ada. Guru berperan penting dalam penanganan perilaku bermasalah siswa.

2. Seorang anak bernama Farhan, kini ia memasuki TK B (TK besar). Di sekolah Farhan dikenalkan dengan bermacam-macam huruf dan angka serta cara menulis yang baik. Tetapi setiap bu guru mengajarinya menulis, selalu ia tolak dengan menangis, asyik bermain sendiri atau tidak memperdulikan. Suatu ketika ibu Farhan datang ke sekolah dan bertanya kepada guru mengenai sikap Farhan yang tidak mau menulis ketika di ajari ibunya di rumah. Ibu Farhan bercerita jika Farhan tidak mau diajari menulis dan membaca atau mempelajari angka dan huruf padahal ia sudah di kelas TK besar dan sebentar lagi akan memasuki sekolah dasar. Ibu Farhan juga mengutarakan bahwa di rumah juga disediakan berbagai APE untuk menunjang perkembangan Farhan. Tetapi yang menarik minatnya hanya puzzle. Ibu Farhan merasa gelisah dan kebingungan dengan sikap Farhan yang acuh terhadap kegiatan belajar menulis dan membaca. Ibu Farhan meminta tolong kepada guru untuk membantu Farhan agar mau menulis dan membaca agar siap memasuki sekolah dasar.

3. PRAKTEK KASUS KONSELING DEWASA NORMAL

3.1. STUDI KASUS

3.1.1. Rara adalah seorang anak dewasa yang masih duduk di bangku kelas XII SMA 6 Negeri Malang menjalani kehidupannya yang mana dialah yang harus mengurusi keluarganya. Dia tergolong siwa berprestasi namun tidak didukung dengan latar perekonomian yang baik. Rara terlihat individu yang memiliki semangat atau optimis yang tinggi. Terbukti dengan jawaban ia terkait hasil belajar dia ada perasaan bangga terhadap dirinya dan yakin bahwa hasilnya akan naik. Dari hasil tes tersebut bahwa Rara kurang percaya diri tetapi mudah bergaul dengan lingkungan sekitarnya. Rara juga merasa tidak nyaman dengan orang yang baru di kenal selalu waspada dengan sesuatu dan mudah sensitif. Rara cenderung merasa bangga dengan dirinya dan berperilaku apa adanya. Rara merupakan seorang putri yang menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Hal ini disebabkan karena kondisi yang mendesak dimana ayah Rara mengalami stroke yang menyebabkannya tidak bisa berjalan. Selain itu, ibu subjek juga tidak bisa berjalan pasca kecelakaan yang menimpanya. Kakaknya mengalami retardasi mental ringan yang tidak bisa membantu banyak dalam perekonomian keluarga. Maka dari itu, keadaan tersebut membuat subjek mau tidak mau harus mencari uang untuk bertahan hidup. Dalam situasi tertentu subjek sebenarnya memiliki rasa optimis yang tinggi tapi kurang mendapatkan dukungan dari orang tua dan lingkungannya. Subjek memiliki kecenderungan paranoid, yaitu tidak langsung mempercayai orang baru. Hal ini dikarenakan beberapa tahun subjek dan keluarganya hidup dalam serba keterbatasan kurang mendapatkan perhatian dari lingkungan sekitarnya terutama tetangga. Sehingga tiba-tiba ada orang baru atau asing yang hadir dalam kehidupannya subjek tidak langsung mempercayai orang tersebut.

3.2. IDENTIFIKAI MASALAH

3.2.1. Seorang Konselor memperhatikan perubahan Rara semenjak ia menjadi tulang punggung keluarga. Kemudian konselor mulai berfikir dan menelaah informasi dari orang tua dari Rara mengapa ia mengalami penurunan prestasi dan hilang semangat dalam belajar. Dan ternyata orang tuanya menjelaskan bahwa indikasi penurunan semangat belajar Rara adalah karna dia harus membantu menjadi tulang punggung keluarga. Dia harus membagi waktu antara sekolah dan berkerja untuk kehidupan sehari harinya.

3.3. ANALISIS MASALAH

3.3.1. Kemudian Konselor menganalisis dari keterangan orang tua Rara dalam memperoleh data yang dibutuhkan. Selain itu juga dari Konselor melakukan observasi yang dilakukan terkait hilangnya semngatnya dalam belajar. Konselor juga dapat mengidentifikasikan permasalahan Rara tersebut dengan menelaah dan mempelajari lebih mendalam mengenai permasalahan yang dihadapi.

3.4. DIAGNOSIS

3.4.1. Konselor mendekati Rara untuk memperoleh data data yang dibutuhkan dengan melakukan interview yang baik agar si Konseli dapat menceritakan permasalahan yang dihadapinya dengan tenang dan nyaman. Dengan begitu, kita akan lebih mudah menggali informasi lebih dalam dari Rara mengapa ia mengalami penurunan prestasi dan hilang semangat belajar. Kemungkinan permasalahannya adalah karna Rara tidak bisa membagi waktu antara urusan untuk keluarga dan sekolah dengan baik. Selain faktor itu, latar belakang orang tua yang pernah mengalami kecelakaan menyebabkan Rara kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya.

3.5. PELAKSANAAN BANTUAN

3.5.1. Menggunakan metode pembelajaran yang tepat dan beragam.

3.5.2. Menjadikan siswa sebagai peserta didik yang aktif Bisa dengan menunjuk Rara sebagai perwakilan Sekolah untuk lomba lomba, sehingga memacu ia untuk lebih semangat lagi dalam belajar.

3.5.3. Memanfaatkan media seoptimal mungkin.

3.5.4. Menciptakan Kompetisi.

3.5.5. Mengadakan evaluasi secara berkala.

3.5.6. Sampaikatkan motivasi secara langsung.

3.5.7. Dermawan pujian. Sesekali Rara diberikan pujian untuk membangkitkan semangat ia dalam belajar.

3.6. KESIMPULAN

3.6.1. Perilaku bermasalah merupakan suatu persoalan yang juga harus mendapatkan perhatian. Ini tidak hanya mengganggu dalam proses pembelajaran, tetapi juga perilaku yang dapat menimbulkan kesulitan dalam bekerja sama dengan teman. Dan merupakan perilaku yang dapat menimbulkan masalah belajar peserta didik. Perilaku bermasalah ini umumnya timbul karena peserta didik mengalami kecemasan dan bukan memcahkan masalah yang menyebabkan munculnya kecemasan itu.