1. Tahap perkembangan kemampuan berbahasa anak
1.1. Reflexsive vocalizaction
1.2. Babling
1.3. Lalling
1.4. True speech
1.5. Echolalia
2. Pemerolehan bahasa menurut Komponen-komponennya
2.1. Perkembangan pragmatik
2.2. Perkembangan semantik
2.3. Perkembangan sentasik
3. Piramida perkembangan
3.1. Bunyi bicara
3.2. Bahasa ekspresif
3.3. Bahasa reseptif
3.4. Sosial interaksi dan bermain
3.5. Memperhatikan dan mendengarkan
3.6. Pre verbal-interkasi dini
4. Kemampuan bawan berbahasa
4.1. Anak-anak dari berbagai budaya mengalami tahan perkembangan bahasa serupa. Sebagai contoh mereka sering menyusun kalimat negatif dengan membutuhkan kata- kata "Not " atau "no" pada awal atau akhir kalimat
4.1.1. Anak-anak menggunakan kata- kata dalam susunan yang tdk akan digunakan orang dewasa. Mereka menyingkat kalimat orangtuanya. Mereka juga membuat kekeliruan yang lucu dan tdk dilakukan oleh orang dewasa. Kekeliruan seperti ini yang oleh para ahli bahasa disebut overregulasi, tidak terjadi secara anak. Semuanya menunjukkan bahwa anak mampu memahami peraturan tata bahasa dan mereka sekedar mengovergeneralisasikan
4.2. Orang tua tidak secara konsisten memperbaiki kekeliruan tata bahasa anak, meskipun demikian anak-anak tetap belajar bicara dan memberi isyarat dengan benar. Penjelasan tenang penguasaan bahasa mengasumsikan adanya reward bagi anak bila menggunakan katakata secara benar dan sebaliknya punishment bila keliru. Akan tetapi biasanya orang tua tidak menghentikan ucapan anaknya yang berbicara keliru, selama ia masih dapat memahami apa yang sebenarnya ingin dikatakannya (Brown, Cazden, Bellugi, 1969).
4.2.1. Anak-anak yang tidak terbiasa dengan bahasa orang dewasa, akan menemukan bahasa mereka sendiri. Anak-anak tunarungu yang tidak pernah mendengar bahasa baku, baik yang diucapkan maupun yang diisyaratkan, menciptakan isyarat mereka sendiri. Bayi berusia 7 bulan dapat menyimpulkan tata bahasa sederhana melalui serangkaian bunyi. Bila bayi berkali-kali dihadapkan pada “bahasa” buatan yang menggunakan pola ABA, misalnya “Ga ti ga” sampai mereka menjadi bosan, bayi itu kemudian akan lebih memilih kalimat baru yang berpola ABB, misalnya “wo fe fe”. Bagi banyak peneliti, tanggapan bayi seperti itu mengindikasikan bahwa bayi mampu mengenali perbedaan pola yang berlainan (Marcus dkk, 1999).