PSIKOLOGI KONSELING

Começar. É Gratuito
ou inscrever-se com seu endereço de e-mail
PSIKOLOGI KONSELING por Mind Map: PSIKOLOGI KONSELING

1. Teori Psikoanalisis

1.1. Struktur kepribadian

1.1.1. Id

1.1.1.1. Id berisi semua aspek psikologi yeng diturunkan seperti insting, impuls dan drives. Didalamnya terdapat dorongan yang didasari pemenuhan biologis guna kepuasan bagi dirinya sendiri

1.1.2. Ego

1.1.2.1. Aspek kepribadian ini terjadi akibat pengaruh yang ia dapatkan dari apa yang terjadi didunia/lingkungannya

1.1.3. Super ego

1.1.3.1. Aspek kepribadian yang satu ini akan lekat kaitannya moral atau nilai kehidupan. Ranah superego berisi tentang batasan untuk membedakan mana yang baik dan yang buruk

1.2. Fase kepribadian

1.2.1. Fase infatile

1.2.1.1. Oral

1.2.1.2. Anal

1.2.1.3. Falik

1.2.2. Fase laten

1.2.2.1. Fase ini dikenal juga dengan fase pubertas (puberity). Yang menjadi ciri khas dari fase in iadalah seseorang mulai merasa malu dan mementingkan aspek moral (estetika).

1.2.3. Genital

1.2.3.1. Tahapan lanjutan ini, seseorang mulai menyalurkan keinginan seksual mereka melalui objek luar. Contohnya saja, keikutsertaan pada sebuah komunitas

1.3. Teknik konseling psikoanalisi

1.3.1. Case historis

1.3.1.1. Pendekatan Dinamika penyakit gangguan kepribadian dengan melihat dinamika dari pengalaman primitif (libido) dilakukan terhadap Ego

1.3.2. Asiosasi bebas

1.3.2.1. teknik yang kebebasan anggota pada klien untuk mengungkapkan perasaan apa saja, pemikiran dan renungan yang ada dalam pikiran klien tanpa memandang buruknya atau logis tidaknya

1.3.3. Analisis mimpi

1.3.3.1. teknik untuk membuka hal-hal yang tidak disadari dan kesempatan anggota pada klien untuk masalah-masalah yang belum terpecahkan.

1.3.4. Trasferensi

1.3.4.1. Teknik ini akan mendorong klien menghidupkan kembali masa lalunya sehingga anggota pemahaman pada klien pengaruh masa lalunya terhadap kehidupannya saat ini.

1.3.5. Interpretasi

1.3.5.1. pengembangan dari teknik Asosiasi bebas. Pada saat melakukan interpretasi, konselor membantu konseli memahami peristiwa masa lalu dan sekarang.

2. Teori Humanistik

2.1. Tokoh teori humanistik

2.1.1. Abraham maslow

2.1.1.1. Sebagian dari teorinya yang penting didasarkan atas asumsi bahwa dalam diri manusia terdapat dorongan positif untuk tumbuh dan kekuatan-kekuatan yang melawan atau menghalangi pertumbuhan

2.1.2. Carl R Rogers

2.1.3. Atur combs

2.1.3.1. perilaku yang keliru atau tidak baik terjadi karena tidak adanya kesediaan seseorang melakukan apa yang seharusnya dilakukan sebagai akibat dari adanya sesuatu yang lain, yang lebih menarik atau memuaskan

2.2. Tujuan teori humanistik

2.2.1. Mengoptimalkan kesadaran

2.2.2. Memperbaiki sikap

2.2.3. Membantu individu

2.3. Ciri humanistik

2.3.1. Menawarkan nilai

2.3.1.1. Psikologi humanis menawarkan satu nilai yang baru sebagai pendekatan untuk memahami sifat dan keadaan manusia.

2.3.2. Pengetahun

2.3.2.1. Psikologi humanis menawarkan pengetahuan yang luas akan kaidah penyelidikan dalam bidang tingkah laku.

2.3.3. Metode

2.3.3.1. Psikologi humanis menawarkan metode yang lebih luas akan kaedah-kaedah yang lebih efektif dalam pelaksanaan psikoterapi.

2.4. Kelebihan

2.4.1. Mengedepankan demokratis

2.4.2. Keterlibatan siswa

2.4.3. Pembentukan kepribadian

2.5. Kekurangan

2.5.1. Bersifat individual

2.5.2. Siswa banyak kesulitan

2.6. Faktor keterampilan interpersonal

2.6.1. Keterbukaan

2.6.2. Kepercayaan

2.6.3. Komunikasi

2.6.4. Mendengarkan

2.7. Etika konseloe

2.7.1. Menjamin rahasia

2.7.1.1. identitas, data, dan permasalahan klien.

2.7.2. Frofesionalitas kerja

2.7.2.1. melalui pelatihan, penelitian, dan upaya pengembangan-diri lainnya, sesuai dengan perkembangan ilmu, kemajuan teknologi, dan pemekaran seni dalam bidang terkait.

2.7.3. Kerja sama

3. Komunikasi dalam Konseling

3.1. Terdapat 19 proses

3.1.1. Pembukaan

3.1.2. Penerimaan

3.1.2.1. ketrampilan konselor ketika menunjukan minat dan pemahaman terhadap hal yang dikemukakan teman sejawat, penerimaan dapat berupa lisan pendek

3.1.3. Mendengarkan

3.1.3.1. Mengamati

3.1.3.1.1. Yaitu mendengar, melihat, dan merasakan apa yang dilakukan teman sejawat ketika wawancara konseling.

3.1.3.2. mendengarkan dengan tepat dan mengingat apa yang teman sejawat katakan, dan bagaimana mengatakannya.

3.1.4. Pemulasan

3.2. Komunikasi sebagai keterampilan konseling

3.2.1. Verbal

3.2.1.1. terdiri atas pesan-pesan yang dikirim oleh konselor kepada konseli dengan menggunakan kata-kata. Dimensi komunikasi verbal meliputi bahasa, isi, frekuensi pembicaraan, dan kepemilikan atas perbendaharaan kata-kata.

3.2.2. Vokal

3.2.2.1. konselor dapat menyampaikan tentang apa yang sesungguhnya dirasakan dan seberapa responsif konselor secara emosional memahami perasaan konseli. Komunikasi vokal mencakup lima dimensi, yaitu: volume; artikulasi; nada; penekanan; dan kecepatan berbicara.

3.2.3. Tubuh

3.2.3.1. terdiri atas pesan-pesan yang dikirim oleh anggota tubuh, yaitu ekspresi wajah, tatapan, kontak mata, gestur, postur atau posisi tubuh, kedekatan secara fisik, pakaian dan cara berdandan

3.2.4. Sentuhan

3.2.4.1. merupakan upaya mengirim pesan melalui sentuhan fisik. Beberapa hal yang perlu jadi perhatian terkait komunikasi sentuhan, yaitu bagian tubuh apa yang digunakan konselor untuk menyentuh, bagian tubuh konseli yang disentuh dan seberapa lembut atau tegas sentuhan tersebut

3.2.5. Tindakan

3.3. Teknik keterampilan konseling

3.3.1. Informatif

3.3.1.1. suatu ketrampilan berkomunikasi dengan menyampaikan berbagai tanda informasi baik yang bersifat verbal, non-verbal maupun paralinguistik

3.3.2. Koersif

3.3.2.1. teknik komunikasi yang berlawanan dengan teknik komunikasi persuasif yaitu penyampaikan pesan komunikasi pada orang lain dengan cara memaksa orang untuk berbuat sehingga menimbulkan rasa ketakutan dan rasa tunduk serta patuh

3.3.3. Persuasif

3.3.3.1. cara menyampaikan pesan pada orang lain dengan memperhatikan aspek psikologis, cara ini menadasarkan pada kesadaran pribadi dan menjauhi adanya paksaan.

3.3.4. Instruktif

3.3.4.1. penyampaian pesan komunikasi dikemas sedemikian rupa sehingga pesan itu dipahami sebagai perintah yang harus dilaksanakan. Teknik ini agar dilaksanakan oleh audien terlebih dahulu dikondisikan agar segala sesuatu itu diperlukan.

3.3.5. Pervasif

3.3.5.1. cara menyampaikan pesan pada orang lain dengan berulang-ulang, sehingga sedikit demi sedikit akan merember pada bawah sadar yang pada akhirnya akan membentuk sikap dan kepribadiannya

3.4. Komunikasi verbal

3.4.1. Bahasa

3.4.1.1. Dalam berkomunikasi dengan klien, konselor harus memperhatikan perkataan dan waktu bicara yang tepat terhadap klien agar klien tidak tersinggung.

3.4.2. Isi

3.4.2.1. Banyaknya pembicaraan Dalam kenyataan di lapangan sering di jumpai konselor yang terlalu banyak berbicara atau sebaliknya, klien yang banyak bicara.

3.4.3. Volume

3.4.3.1. mengacu pada keras lembutnya suara. Konselor perlu mengungkapkan dengan suara yang cukup didengar, yang nyaman dan mudah didengar klien.

3.4.4. Artikulasi

3.4.4.1. Articulation mengacu pada kejelasan/kejernian suara. Konselor dan klien yang memiliki artikulasi jelas dapat dengan mudah berkomunikasi daripada yang tidak.

3.4.5. Rate

3.4.5.1. Rate atau kecepatan berbicara merupakan faktor dalam komunikasi verbal yang harus diperhatikan

3.5. Komunikasi non verbal

3.5.1. Ekspresi wajah

3.5.1.1. Hanya dapat melalui ekspresi wajah konselor dapat menunjukkan bahwa dirinya bersikap empati atau siap sedia membantu klien. Ataupun bisa juga dengan ekspresi wajah klien, konselor dapat melihat apakah ia sedang bahagia, sedih, marah, takjub ataupun perasaan lainnya.

3.5.2. Gaze

3.5.2.1. memandang orang lain di daerah wajahnya. Hal tersebut merupakan cara yang dapat menunjukkan ketertarikan pada orang lain

3.5.3. Kontak mata

3.5.3.1. cara yang lebih langsung dilakukan daripada gaze. Kontak mata dapat menunjukan ekspresi kemarahan, ketertarikan atau yang lainnya.

3.5.4. Gesture

3.5.4.1. gerakan fisik yang dapat membingkai atau mengilustrasikan kata kata yang datang sebelum, selama, atau sesudah berbicara.

4. Kerangka analisis

4.1. Metode pengembangan psikologi konseling

4.1.1. Cross sectional

4.1.1.1. Introspeksi

4.1.1.1.1. penghayatan terhadap kehidupan psikisnya sendiri, ini merupakan sumber pengenalan yang penting dalam psikologi konseling. Metode introspeksi dapat dilakukan secara eksperimental dan noneksperimental. Penggunaan metode ini dijalankan dengan penuh kesadaran dan sistematis menurut norma-norma ilmiah

4.1.1.2. Ekstrospeksi

4.1.1.2.1. pengamatan yang sistematis terhadap kehidupan psikis orang lain, untuk memahami ciri-ciri khas individu tersebut. Dalam konseling, seorang konselor melakukan pengamatan terhadap kehidupan psikis konseli setelah diberikan layanan konseling

4.1.1.3. Kuesioner

4.1.1.3.1. pengembangan psikologi konseling dengan menggunakan daftar pertanyaan atau pernyataan yang harus dijawab secara tertulis oleh responden dari kegiatan pengembangan tersebut

4.1.1.4. Interview

4.1.1.4.1. metode pengembangan pikologi konseling yang dilaksanakan dengan melakukan wawancara kepada sejumlah responden dengan menggunakan pedoman wawancara. Pedoman wawancara bisa disusun bentuk tertutup dan benuk terbuka

4.1.1.5. Dokumentasi

4.1.1.5.1. metode yang efektif bila digunakan untuk menggali informasi yang mendalam mengenai berbagai kejadian yang telah dialami oleh individu konseli

4.1.2. Kelompok,

4.1.2.1. pengembangan yang dilakukan dengan menggunkan dinamika kelompok (group dinamics). Menurut Prayitno (2005) dinamika kelompok merupakan ssinergi dari semua factor yang ada di dalam suatu kelompok, artinya merupakan pengerahan secara serentak atas semua faktor yang dapat digerakkan dalam kelompok itu, dengan demikian dinamika kelompok merupakan jiwa yang menghidupkan suatu kelompok

4.1.3. Longitudional

4.1.3.1. merupakan metode pengembangan yang dilakukan dalam kurun waktu relative lama untuk mencapai suatu hasil yang diharapkan. Aktivitas pengembangan dilakukan hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun. Karena itu bila dilihat dari aspek pengembangan, metode ini digunakan untuk mengembangkan psikologi konseling secara vertical (kedalaman).

4.1.4. Sosio metri

4.1.4.1. merupakan metode yang paling tepat untuk memperoleh data mengenai hubungan social siswa. Dengan tekhnik ini, kita dapat meperoleh data tentang susunan hubungan antar-individu, struktur hubungan individu, intensitas hubungan, dan arah hubungan social individu.

4.1.5. Biografi

4.1.5.1. merupakan metode yang efektif bila digunakan untuk menggali informasi yang mendalam mengenai berbagai kejadian yang telah dialami oleh individu konseli.

4.2. Pendekatan dalam bimbingan konseling

4.2.1. Psikoanalisis

4.2.1.1. Psikoanalisis adalah cabang ilmu yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya sebagai studi fungsi dan perilaku

4.2.1.1.1. Terdiri dari tujuan dan peranan konselor, pandangan terhadap manusia dan prinsip psikoanalisi

4.2.2. Humanistis

4.2.2.1. penekanan keunikan setiap individu serta memusatkan perhatian pada kecenderungan alami dalam pertumbuhan dan perwujudan dirinya. Dalam terapi ini para ahli tidak mencoba menafsirkan perilaku penderita, tetapi bertujuan untuk memperlancar kajian pikiran dan perasaan seseorang dan membantunya memecahkan masalahnya sendiri. Salah satu pendekatan yang dikenal dalam terapi humanistic ini adalah terapi yang berpusat pada klien (client-contered theraphy).

4.2.2.1.1. Terdiri dari tujuan konselor, pandangan terhadap manusia dan teori-teori terapi

4.2.3. REBT

4.2.3.1. Rasional Emotive Behavior Therapy sebelumnya dikenal dengan rational therapy dan rational emotive therapy, merupakan terapi yang komperhensif, aktif-direktif, filososfis dan empiris berdasarkan psikoterapi yang berfokus pada penyelesaian masalah-masalah gangguan emosional dan perilaku serta menghantarkan individu untuk hidup lebih bahagia dan bermakna (fulfilling lives)

4.2.4. Behavioral

4.2.4.1. Konseling behavioral merupakan sebuah teknik konseling yang terbukti efektif dalam melakukan modifikasi sebuah tingkah laku individu, baik dalam mengurangi tingkah laku maladaptive maupun meningkatkan perilaku adaptif. Berbagai hasil penelitian telah menunjukkan efektivitas konseling behavioral dalam melakukan modifikasi tingkah laku, seperti kecanduan alcohol, obesitas, dan tingkah laku merokok yang membahayakan kesehatan

4.2.5. Terapi realistic

4.2.5.1. Terapi realitas merupakan suatu bentuk hubungan pertolongan yang praktis, relative sederhana dan bentuk bantuan langsung kepada konseli, yang dapat dilakukan oleh guru atau konselor di sekolah dalah rangka mengembangkan dan membina kepribadian atau kesehatan mental konseli secara sukses, dengan cara memberi tanggung jawab kepada konseli yang bersangkutan.

4.2.6. Gesltalt

4.2.6.1. Terapi ini dikembangkan oleh Fredrick S. Pearls (1894-1970) dalam Latipun (2006) yang didasari oleh empat aliran yakni psikoanalisis, fenomenologis, eksistensialisme dan psikologi gestalt. Menurut pearls individu itu aktif secara keseluruhan. Individu bukanlah jumlah dari bagian-bagian atau organ semata.

4.2.7. Analisis transaksioal

4.2.7.1. State parent

4.2.7.1.1. yaitu bagian dari kepribadian yang menunjukkan sifat-sifat orang tua berisi perintah (harus dan semestinya). Jika individu merasa dan bertingkah laku sebagaimana orang tuanya dahulu maka dapat dikatakan bahwa individu tersebut dalam status ego orang tua

4.2.7.2. State adult

4.2.7.2.1. yaitu bagian dari kepribadian yang objektif, stabil, tidak emosional, rasional, logis, tidak menghakimi, bekerja dengan fakta dan kenyataan kenyataan, selalu berusaha untuk menggunakan informasi yang tersedia untuk menghasilkan pemecahan yang terbaik dalam pemecahan berbagai masalah. Dalam status orang dewasa selalu akan berisi hal-hal yang produktif, objektif, tegas, dan efektif serta tanggung jawab dalam menghadapi kehidupan.

4.2.7.3. State cild

4.2.7.3.1. yaitu bagian dari kepribadian yang menunjukkan ketidakstabilan, reaktif, humor, kreatif, serta inisiatif, masih dalam perkembangan, berubah-ubah, ingin tahu dan sebagainya. Status ego anak berisi perasaan, tingkah laku, dan bagaimana berpikir ketika masih kanak-kanak dan berkembang bersama dengan pengalaman semasa kanak-kanak

5. Hakikat teori Behavioristik

5.1. Tujuan teori Behavioristik

5.1.1. Mencipatan kondisi kondisi baru

5.1.2. Membuang respon lama

5.1.3. Penetapan tujuan

5.2. Teknik teori Behavioristik

5.2.1. Tingkah laku umum

5.2.1.1. Skedul, yaitu konselor membuat sarannya sendiri saat meneliti perilaku baru. - Itu harus terus diperkuat hingga terbentuk perilaku di dalam diri konseli. - Shaping adalah teknik terapi yang dilakukan dengan mempelajari perilaku baru secara bertahap.. - Ekstasi adalah teknik pengobatan yang menghilangkan bentuk-bentuk intensif, sehingga perilaku adaptif tidak terulang kembali

5.2.2. Spesifik

5.2.2.1. - Desensitisasi sistematik adalah teknik yang paling sering digunakan. Desensitiasi sistematik adalah teknik yang cocok untuk menangani fobia-fobia, tetapi keliru apabila menganggap teknik ini hanya bisa diterapkan pada penanganan ketakutan-ketakutan

5.2.2.2. Latihan Asertif, yaitu pendekatan behavioral yang dengan cepat mencapai popularitas adalah latihan asertif yang bisa diterapkan terutama pada situasi-situasi interpersonal dimana individu mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa menyatakan atau menegaskan diri adalah tindakan yang layak atau benar

5.2.2.3. Terapi Aversi, teknik-teknik pengondisian aversi yang telah digunakan secara luas untuk meredakan gangguan-gangguan behavioral yang spesifik, melibatkan pengasosiasisan tingkah laku simtomatik dengan suatu stimulus yang menyakitkan sampai tingkah laku yang tidak diinginkan terhambat kemunculannya. Stimulus-stimulus aversi biasanya berupa hukuman dengan kejutan listrik atau pemberian ramuan yang membuat mual.

5.3. Langkah teori abehavioristik

5.3.1. Assesment

5.3.1.1. Langkah ini bertujuan untuk menetukan apa yang dilakukan oleh konselor saat ini. Assesmen ini merupakan kehidupan nyata, perasaan, dan pikiran oleh seorang konseli.

5.3.1.1.1. yaitu: - Analisis perilaku bermasalah yang dihadapi konseli saat ini. Perilaku yang dianalisis adalah perilaku tertentu. - Analisis perilaku dari masalah konseli. . - Analisis motivasi konseli.

5.3.2. Goal setting

5.3.2.1. Setelah tahap assesmen, konselor dan konseli menyusun tujuan dalam konseling , kemudian informasi disusun dan dianaliss

5.3.2.1.1. yaitu: - Membantu konseli untuk memandang masalahnya atas dasar tujuan-tujuan yang diinginkan. - Memperhatikan tujuan konseli berdasarkan kemungkinan hambatan-hambatan situasional tujuan belajar yang dapat diterima dan dapat diukur. - Memecahkan tujuan ke dalam sub-tujuan dan menyusun tujuan menjadi susunan yang berurutan.

5.3.3. Tecnique implementation

5.3.3.1. Setelah menetapkan tujuan konseling, konselor dan konseli menentukan strategi pembelajaran terbaik untuk membantu konseli mencapai perubahan perilaku yang dilakukan. Menurut Willis (2005:134),”Konselor yang memiliki pengetahuan yang luas tentang permasalahan yang dihadapi konseli, akan lebih mudah menanganinya ketika proses konseling berlangsung.” Untuk dapat mencapai pengetahuan terhadap permasalahan konseli, konselor harus mengetahui ilmu perilaku, filsafat, dan pengetahuan tentang lingkungan sekitar konseli.

5.3.4. Evaluation termination

5.3.4.1. Evaluasi pembinaan perilaku adalah proses yang berkelanjutan. Evaluasi perilaku orang yang diajak berkonsultasi. Perilaku konseli digunakan sebagai dasar untuk mengevaluasi efektivitas konseli dan efektivitas spesifik dari teknologi yang digunakan. Pemutusan hubungan konselor dan koseli lebih dari sekedar mengakhiri konseling.

5.3.4.1.1. - Menguji apa yang konseli lakukan terakhir. - Eksplorasi kemungkinan kebutuhan konseling tambahan. - Membantu konseli mentransfer apa yang dipelajari dalam konseling ke tingkah laku konseli.