1. PENDEKATAN BEHAVIORISTIK
1.1. Pengertian Behaviorisme
1.1.1. Behaviorisme adalah suatu pandangan ilmiah tentang tingkah laku manusia. Behaviorisme atau Aliran Perilaku adalah filosofi dalam psikologi yang berdasar pada proposisi bahwa semua yang dilakukan organisme termasuk tindakan, pikiran, atau perasaan dapat dan harus dianggap sebagai perilaku.
1.2. Pendekatan Behavioristik
1.2.1. Terapi dengan pendekatan behaviorisme dinamakan behavior therapy.
1.2.1.1. insight therapy(dinamakan jugaterapi tradisional) yang dipelopori oleh Freud pada dasarnya masih mempertahankan model penyakit yang diterapkan pada keadaan mental. Pusat perhatian terapis adalah pada masa lalu yang dianggap sebagai sumber permulaan gangguan. Konflik-konflik dimasa lalu yang tidak disadari itu harus disadarkan agar terjadi penyembuhan.
1.2.2. pada psikoanalisis disebut dengan insight therapy.
1.2.2.1. Behavior therapy memusatkan perhatian tingkah laku yang dapat diobservasi dan tidak mencari determinan-determinan didalam diri individu, melainkan mencari determinan-determinan luar. Terapi perilaku (Behaviourtherapy)pendekatan untuk psikoterapi yangdidasari oleh Teori Belajar (Learning Theory) yang bertujuan untukmenyembuhkan psikopatologi seperti : depression,anxietydisorders,phobias,dengan memakai teknik yang didesain menguatkan kembali perilaku yang diinginkan dan menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan
1.3. Karakteristik Perilaku Bermasalah
1.3.1. Tingkah laku bermasalah adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tepat yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan.
1.3.2. Tingkah laku yang salah hakikatnya terbentuk dari cara belajar atau lingkungan yang salah.
1.3.3. Manusia yang bermasalah itu mempunyai kecenderungan merespon tingkah laku negatif dari lingkungannya
1.3.4. Seluruh tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga tingkah laku tersebut juga dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar.
1.4. Tujuan dan Kegunaan Pendekatan Behavioristik
1.4.1. Tujuan Pendekatan Behavioristik
1.4.1.1. 1. tujuan pendekatan behavioristik adalah sebagairefleksi masalah konseli, dasar pemilihan dan penggunaan strategi konseling dansebagai kerangka untuk menilai hasil konseling. 2. Pendekatan behavior bertujuan untuk menghilangkan tingkah lakuyang salah suai dan membentuk tingkah laku baru.
1.4.2. Kegunaan Pendekatan Behavioristik
1.4.2.1. Kegunaan Teori BehavioristikPendekatan behavioristik merupakan usaha untuk memanfaatkan secarasistematis pengetahuan teoritis dan empiris yang dihasilkan dari penggunaanmetode eksperimen dalam psikologi untuk memahami dan menyembuhkan polatingkah laku abnormal. Untuk pencegahan dan penyembuhan abnormalitas tersebut dimanfaatkan hasil studi eksperimental baik secara deskriptif maupunremedial.
1.5. Prosedur Konseling Behavioristik
1.5.1. Belajar operan (operant learning)
1.5.1.1. belajar didasarkan atas perlunya pemberian ganjaran untuk menghasilkan perubahan tingkah laku yang diharapkan.
1.5.2. Belajar mencontoh (imitative learning)
1.5.2.1. cara dalam memberikan respons baru melalui menunjukkan atau mengerjakan model-model perilaku yang diinginkan sehingga dapat dilakukan oleh klien.
1.5.3. Belajar kognitif (cognitive learning)
1.5.3.1. belajar memelihara respons yang diharapkan dan boleh mengadaptasi perilaku yang lebih baik melalui instruksi sederhana.
1.5.4. Belajar emosi (emotional learning)
1.5.4.1. cara yang digunakan untuk mengganti respons-respons emosional klien yang tidak dapat diterima menjadi respons emosional yang dapat diterima sesuai dengan konteks
1.6. Deskripsi Langkah-Langkah Konseling
1.6.1. Assesment
1.6.1.1. langkah awal. assesment diperlukan untuk mengidentifiasi metode atau tehnik mana yang akan dipilih sesuai dengan tingkah laku yang ingin diubah.
1.6.2. Technique implementation
1.6.2.1. menentukan dan melaksanakan tehnik konseling yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling
1.6.3. Evaluation termination
1.6.3.1. melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling.
1.6.4. Feedback
1.6.4.1. memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meningkatkan proses konseling.
1.7. Teknik-Teknik Spesifik Konseling Behavioral
1.7.1. desentisisasi sistematik
1.7.1.1. Desentisisasi sistematik ini digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif, dan ia menyertakan pemunculan tingkah laku atau respons yang berlawanan dengan tingkah laku yang hendak dihapuskannya itu.
1.7.2. terapi implosif
1.7.2.1. Terapi implosif ini terdiri atas pemunculan stimulus berkondisi secara berulang-ulang tanpa pemberian perkuatan
1.7.3. latihan asertif
1.7.3.1. Terapi latihan asertif pada dasarnya merupakan penerapan latihan tingkah laku pada kelompok dengan sasaran membantu individu-individu dalam mengembangkan cara-cara berhubungan yang lebih langsung dalam situasi-situasi interpersonal.
2. PENDEKATAN TEORI HUMANISTIK, INTERPERSONAL DAN ETIKA KONSELOR
2.1. Pengertian Teori Pendekatan Humanistik
2.1.1. Pendekatan Humanistik adalah suatu pendekatan yang multifaset terhadap pengalaman dan tingkah laku manusia, yang memusatkan perhatian pada keunikan diri manusia.
2.2. Teknik Teknik Pendekatan Humanistik
2.2.1. Teori humanistik secara eksistensial tidak memiliki teknik-teknik yang ditentukan secara ketat. Teknik-teknik yang digunakan dalam konseling eksistensial-humanistik, yaitu:Penerimaan, rasa hormat, memahami, menentramkan, memberi dorongan, pertanyaan terbatas, memantulkan pernyataan dan perasaan klien, menunjukan sikap yang mencerminkan ikut merasakan apa yang dirasakan, bersikap mengijinkan untuk apa saja yang bermakna.
2.3. Pendekatan Interpersonal
2.3.1. Hubungan interpersonal adalah hubungan yang terdiri dari dua orang atau lebih yang saling tergantung satu sama lain dan menggunakan pola interaksi yang konsisten. Hubungan intrpersonal yang baik adalah hubungan yang didalamnya terdapat saling mempercayai, mempunyai rasa simpati dan empati yang tinggi, dapat terbuka antar individu, dan sebagainya menurut kemampuan dalam hubungan interpersonal.
2.4. Ciri-ciri Hubungan Interpersonal
2.4.1. Arus pesan dua arah
2.4.1.1. antara konselor dan konseli dalam posisi sejajar tidak ada yang dianggap lebih menggurui, arus pesan dua arah ini secara berkelanjutan.
2.4.2. Suasana formal
2.4.2.1. hubungan ini lebih bersifat pendekatan secara individu yang bersifat pertemanan dan kekeluargaan.
2.4.3. Umpan balik segera
2.4.3.1. pelaku dapat mengetahui umpan balik pesan yang disampaikan dengan segera, baik secara verbal maupun nonverbal.
2.4.4. Peserta atau orang yang terlibat dalam konseling
2.4.4.1. melalui hubungan interpersonal ini berada dalam jarak dekat baik dalam arti fisik atau psikologis atau dalam satu ruang
2.5. Faktor-Faktor Terjadinya Hubungan Interpersonal
2.5.1. Faktor Internal
2.5.1.1. Kebutuhan untuk berinteraksi
2.5.1.2. Pengaruh Perasaan
2.5.2. Faktor Eksternal
2.5.2.1. Kedekatan
2.5.2.2. Daya tarik fisik
2.5.2.3. Kemampuan
2.6. Kode Etik Konselor
2.6.1. Kode Etik konselor merupakan landasan moral dan pedoman tingkah laku profesional yang dijunjung tinggi, diamalkan dan diamankan oleh setiap anggota profesi Bimbingan dan Konseling Indonesia. Kode Etik konselorIndonesia wajib dipatuhi dan diamalkan oleh pengurus dan anggota organisasi tingkat nasional , propinsi, dan kebupaten/kota.
2.7. Macam Macam Kode Etik Konselor
2.7.1. Kualifikasi konselor dalam nilai, sikap, keterampilan, pengetahuan dan wawasan.
2.7.2. Hubungan dengan Klien.
2.7.3. Alih Tangan Kasus
3. TINGKAH LAKU MEMPERHATIKAN
3.1. Definisi Ketrampilan Komunikasi dalam Konseling
3.1.1. komunikasi dalam konseling merupakan suatu proses pemindahan/ penyampaian informasi, pikiran dan sikap antara konselor dan konseli, terjadi dalam konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu dan ada kesempatan untuk melakukan umpan balik sehingga dapat meningkatkan pemahaman informasi diantara kedua belah pihak.
3.2. Keterampilan-keterampilan Komunikasi dalam Konseling
3.2.1. Pembukaan
3.2.2. Penerimaan
3.2.3. Pengulangan Pernyataan
3.2.4. Mendengarkan
3.2.5. Mengamati
3.2.6. Menanggaapi
3.2.7. Klarifikasi
3.2.8. Pemantulan perasan
3.2.9. Pemantulan makna
3.2.10. Pemusatan
3.2.11. Penstrukturan
3.2.12. Pengarahan
3.2.13. Penguatan
3.2.14. Nasehat
3.2.15. Penolakan
3.2.16. Ringkasan
3.2.17. Konfrontasi
3.2.18. Penghentian
3.2.19. Mempengaruhi
3.3. Komunikasi Sebagai Landasan Keterampilan Konseling
3.3.1. komunikasi verbal
3.3.1.1. Komunikasi verbal atau percakapan terdiri atas pesan-pesan yang dikirim oleh konselor kepada konseli dengan menggunakan kata-kata.
3.3.2. komunikasi vokal
3.3.2.1. Komunikasi vokal konselor dapat menyampaikan tentang apa yang sesungguhnya dirasakan dan seberapa responsif konselor secara emosional memahami perasaan konseli.
3.3.3. komunikasi tubuh
3.3.3.1. Komunikasi tubuh terdiri atas pesan-pesan yang dikirim oleh anggota tubuh, yaitu ekspresi wajah, tatapan, kontak mata, gestur, postur atau posisi tubuh, kedekatan secara fisik, pakaian dan cara berdandan.
3.3.4. komunikasi sentuhan
3.3.4.1. komunikasi sentuhan, yaitu bagian tubuh apa yang digunakan konselor untuk menyentuh, bagian tubuh konseli yang disentuh dan seberapa lembut atau tegas sentuhan tersebut. Terkait dengan jenis keterampilan komunikasi ini, perlu diperhatikan pertimbangan budaya yang dianut oleh masing-masing konseli. Komunikasi mengambil tindakan berupa pesan-pesan yang disampaikan konselor dalam situasi tidak bertatap muka, misalnya mengirimkan catatan tindak lanjut kepada konseli
3.3.5. komunikasi mengambil tindakan.
3.4. Teknik –Teknik Keterampilan Komunikasi Konseling
3.4.1. Teknik Komunikasi Informatif
3.4.1.1. ketrampilan berkomunikasi dengan menyampaikan berbagai tanda informasi baik yang bersifat verbal, non-verbal maupun paralinguistik.
3.4.2. Teknik Komunikasi Persuasif.
3.4.2.1. cara menyampaikan pesan pada orang lain dengan memperhatikan aspek psikologis, cara ini menadasarkan pada kesadaran pribadi dan menjauhi adanya paksaan.
3.4.3. Teknik Komunikasi Pervasif.
3.4.3.1. cara menyampaikan pesan pada orang lain dengan berulang-ulang, sehingga sedikit demi sedikit akan merember pada bawah sadar yang pada akhirnya akan membentuk sikap dan kepribadiannya.
3.4.4. Teknik Komunikasi Koersif.
3.4.4.1. teknik komunikasi yang berlawanan dengan teknik komunikasi persuasif yaitu penyampaikan pesan komunikasi pada orang lain dengan cara memaksa orang untuk berbuat sehingga menimbulkan rasa ketakutan dan rasa tunduk serta patuh
3.4.5. Teknik Komunikasi Instruktif.
3.4.5.1. penyampaian pesan komunikasi dikemas sedemikian rupa sehingga pesan itu dipahami sebagai perintah yang harus dilaksanakan.
3.4.6. Teknik hubungan manusiawi
3.4.6.1. kemasan informasi yang disampaikan dengan mendasarkan aspek psikologis secara tatap muka untuk merubah sikap dan perilaku dan kehidupan sehingga menimbulkan rasa kepuasan kepada berbagai pihak.
3.5. Komunikasi Verbal dan Non-Verbal
3.5.1. Komunikasi verbal adalah komunikasi dengan menggunakan Bahasa lisan (kata-kata) atau tertulis. Dimensi komunikasi verbal meliputi bahasa, isi, frekuensi pembicaraan, dan kepemilikan atas perbendaharaan kata-kata. Dimensi bahasa tidak hanya meliputi jenis bahasa, tetapi juga mencakup elemen seperti gaya bahasa formal dan/atau informal yang digunakan
3.5.2. Teknik komunikasi non-verbal merupakan teknik komunikasi dengan menggunakan sikap memerhatikan yang seolah mengomunikasikan tanpa suara atau hanya mengekspresikan pesan yang ingin disampaikan. Dengan kata lain komunikasi non verbal adalah komunikasi dengan menggunakan isyarat, ekspresi muka dan gerak tubuh.
3.6. Pengertian Tingkah Laku Memperhatikan
3.6.1. tingkah laku memperhatikan adalah suatu kegiatan atau aktivitas memusatkan perhatian seorang konselor kepada seorang konseli agar dapat mengamati secara langsung maupun tidak langsung agar konseli merasa dihargai sehingga konseli dapat mengungkapkan apa saja yang ada dalam pikirannya.
3.7. Aspek-Aspek Keterampilan Dalam Tingkah Laku Memperhatikan
3.7.1. Posisi badan (termasuk gerak isyarat dan ekspresi muka)
3.7.2. Kontak mata
3.7.3. Mendengarkan
4. PENGERTIAN DAN KERANGKA ANALISIS PSIKOLOGI KONSELING
4.1. Pengertian Psikologi Konseling
4.1.1. Psikologi Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang mengalami sesuatu masalah (disebut konsele) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.
4.2. Peranan Psikologi Konseling
4.2.1. 1. Konseling sebagai Proses
4.2.1.1. Konseling merupakan kegiatan yang membutuhkan proses dan keberlanjutan sampai masalah teratasi dengan baik.
4.2.2. 2. Konseling untuk Membantu Klien
4.2.2.1. Konseling bersifat membantu menyelesaikan masalah klien dengan membuka pikiran klien lebih luas lagi dan memberikan dorongan positif rasa percaya diri pada klien untuk bisa menyelesaikan masalahnya dengan baik.
4.2.3. 3. Konseling sebagai Hubungan Spesifik
4.2.3.1. Hubungan yang spesifik perlu dibangun dalam proses konseling agar tujuan yang diinginkan bisa tercapai dengan mudah.
4.2.4. 4. Konseling untuk Mencapai Tujuan Hidup
4.2.4.1. Konseling memberikan masukan atau pendapat pada klien terkait masalahnya atau adanya perilaku maladaptif yang kemudian diberikan pemahaman untuk perubahan perilaku ke adaptif.
4.3. Kerangka dalam Psikologi Konseling
4.3.1. 1) Menyatakan Kepedulian dan Kebutuhan terhadap Bantuan
4.3.1.1. Kepedulian menyatakan akan adanya keinginan untuk memahami klien dengan menjalin hubungan lebih dekat.
4.3.2. 2) Membentuk Hubungan
4.3.2.1. Membangun rasa kepercayaan, keyakinan dan didasari oleh keterbukaan dan kejujuran dari pernyataan yang disampaikan oleh klien.
4.3.3. 3) Menentukan Tujuan
4.3.3.1. hal yang penting yang harus dilakukan.
4.3.4. 4) Menyelesaikan Masalah
4.3.4.1. Konselor membuat klien bisa menentukan masalah utamanya dan masalah mana yang penting untuk diselesaikan terlebih dahulu
4.3.5. 5) Menumbuhkan Kesadaran
4.3.5.1. Konselor berusaha menyadarkan klien terhadap permasalahan yang sedang dihadapi, asal mula perkara, apa yang harus dikerjakan dalam menyelesaikannya.
4.3.6. 6) Merencanakan Cara Bertindak
4.3.6.1. konselor membantu klien untuk merencanakan tindakan atau keputusan untuk menyelesaikan masalahnya
4.3.7. 7) Menilai Hasil / Evaluasi
4.3.7.1. Evaluasi merupakan langkah akhir untuk menilai apakah konseling ini berakhir sesuai tujuan awal
4.4. Tahapan Konseling dalam Psikologi Konseling
4.4.1. 1. Tahapan Awal
4.4.1.1. Tahap awal merupakan tahapan dimana hubungan baik antara konselor dan klien perlu dibentuk.
4.4.2. 2. Tahapan Inti
4.4.2.1. penanganan
4.4.3. 3. Tahapan Akhir
4.4.3.1. memberikan penilaian apakah proses konseling tersebut sudah efektif.
4.5. Bentuk Bantuan dalam Konsultasi
4.5.1. 1) Identifikasi Alternatif Penyelesaian Masalah
4.5.1.1. cara alternatif untuk menyelesaikan masalah dari berbagai sudut pandang dan pikiran objektif.
4.5.2. 2) Pemilihan Alternatif Penyelesaian Masalah
4.5.2.1. Alternatif penyelesaian yang mungkin peluangnya lebih baik perlu dijadikan prioritas penyelesaian masalah.
4.5.3. 3) Tindak lanjut
4.5.3.1. Tindak lanjut ini dilakukan untuk memberikan penilaian tentang pelaksanaan alternatif penyelesaian masalah tersebut apakah efektif atau tidak.
5. PENDEKATAN TEORI PSIKOANALISIS
5.1. Pengertian Pendekatan Psikoanalisis
5.1.1. teknik terapi psikoanalisi adalah teknik dalam dalam mengobati gangguan-gangguan psikis. psikoanalisis merupakan pengetahuan psikologis yang diperoleh melalui penelitian terhadap proses psikis. Sebagai aliran psikologi, psikoanalisis banyak berbicara mengenai kepribadian, khususnya dari segi struktur, dinamika, dan perkembangannya.
5.2. Pandangan Psikoanalisis Terhadap Kepribadian Manusia
5.2.1. 1. Topografi kepribadian
5.2.1.1. teori psikoanalisis yang menjelaskan tentang kepribadian manusia yang terdiri dari sub – subsistem. kepribadian itu berhubungan dengan alam kesadaran
5.2.1.1.1. Alam sadar
5.2.1.1.2. Alam prasadar
5.2.1.1.3. Alam bawah sadar
5.2.2. 2. Struktur kepribadian
5.2.2.1. Dalam dunia kesadaran (awareness) individu terdapat pula subsistem struktur kepribadian yang berinteraksi secara dinamis
5.2.2.1.1. Id
5.2.2.1.2. Ego
5.2.2.1.3. Superego
5.2.3. 3. Perkembangan kepribadian
5.2.3.1. tahapan perkembangan ini sangat penting terutama bagi pembentukan kepribadian di kemudian hari.
5.2.3.1.1. Fase oral
5.2.3.1.2. Fase anal
5.2.3.1.3. Fase falik
5.2.3.1.4. Fase laten
5.2.3.1.5. Fase genital
5.2.4. 4. Dinamika kepribadian
5.2.4.1. Insting
5.2.4.1.1. sumber energi psikis dalam mengarahkan tindakannya memenuhi keinginan dan kebutuhannya
5.2.4.2. Kecemasan
5.2.4.2.1. perasaan kekhawatiran karena keinginan dan tuntunan internal tidak terpenuhi dengan sebaiknya
5.2.4.3. Kecemasan realitas
5.2.4.3.1. takut akan bahaya yang datang dari luar.
5.2.4.4. Kecemasan neurosis
5.2.4.4.1. khawatir tidak mampu mengatasi atau menekan keinginan-keinginan primitifnya.
5.2.4.5. Kecemasan moral
5.2.4.5.1. kecemasan akibat dari rasa bersalah dan ketakutan dihukum oleh nilai-nilai dalam hati nuraninya
5.2.5. 5. Mekanisme pertahanan ego
5.2.5.1. Cara individu menghindari kecemasan biasanya dilakukan dengan mekanisme pertahanan ego
5.3. Prinsip Dan Tujuan Konseling Psikoanalisis
5.3.1. Prinsip Konseling Psikoanalisis
5.3.1.1. Prinsip Konstansi
5.3.1.1.1. kehidupan psikis cenderung untuk mempertahankan kualitas ketegangan psikis. kata lain bahwa kondisi psikis manusia cenderung dalam konflik yang permanen.
5.3.1.2. Prinsip Kesenangan
5.3.1.2.1. kehidupan psikis cenderung untuk menghindarkan ketidaksenangan dan sebanyak mungkin memperoleh kesenangan.
5.3.1.3. Prinsip Realitas
5.3.1.3.1. prinsip kesenangan yang disesuaikan dengan keadaan nyata.
5.3.2. Tujuan Konseling Psikoanalisis
5.3.2.1. Menolong individu mendapatkan pengertian yang terus menerus tentang mekanisme penyesuaian dirinya.
5.3.2.2. Membentuk kembali struktur kepribadian konseli dengan jalan mengembalikan hal-hal yang tidak disadari menjadi sadar kembali, dengan menitik beratkan pada pemahaman dan pengenalan pengalaman-pengalaman masa anak-anak, terutama usia 2-5 tahun, untuk ditata, di diskusikan, di analisis dan di tafsirkan sehingga kepribadian konseli bisa direkonstruksi lagi.
5.4. Teknik Konseling Psikoanalisis
5.4.1. 1. Asosiasi Bebas
5.4.1.1. teknik yang memberikan kebebasan kepada klien untuk mengemukakan segenap perasaan dan pikirannya yang terlintas pada benak klien, baik yang menyenangkan maupun tidak.
5.4.2. 2. Interpretasi Mimpi
5.4.2.1. klien diajak konselor untuk menafsikan mimpi-mimpi yang tersirat dalam mimpi yang berhubungan dengan dorongan ketidaksadarannya.
5.4.3. 3. Analisis Tranferensi
5.4.3.1. bentuk pengalihan segenap pengalaman masa lalunya dalam hubungannya orang-orang berpengaruh kepada terapis di saat konseling.
5.4.4. 4. Analisis Resistensi
5.4.4.1. sikap dan tindakan klien untuk menolak berlangsungnya terapi atau mengungkpkan hal-hal yang menimbulkan kecemasa.