Organisasi Radikal Non-Kooperatif FITANDISA XIIPS2

Começar. É Gratuito
ou inscrever-se com seu endereço de e-mail
Organisasi Radikal Non-Kooperatif FITANDISA XIIPS2 por Mind Map: Organisasi Radikal Non-Kooperatif                      FITANDISA XIIPS2

1. 1.Indische Partij

1.1. Terbentuknya Indische Partij merupakan gagasan utama dari E.F.E Douwes Dekker.

1.2. Selanjutnya pada 1912, Douwes Dekker mengajak Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat mendirikan partai sendiri bernama Indische Partij. Cipto dan Suwardi sendiri merupakan dua tokoh yang berasal asli dari Indonesia atau pribumi.

1.2.1. Tujuan dari didirikannya Indische Partij sendiri adalah agar terciptanya kerjasama antara orang Indo dengan bumiputera.

1.2.1.1. Untuk menimbulkan adanya kerjasama antara orang Indo dengan bumiputera, Indische Partij memiliki beberapa program kerja, yaitu: Menyerap cita-cita nasional Hindia (Indonesia). Memberantas kesombongan sosial dalam pergaulan, baik dalam bidang pemerintahan maupun kemasyarakatan. Memberantas berbagai usaha yang mengakibatkan kebencian antaragama. Memperbesar pengaruh pro Hindia di pemerintahan. Berusaha mendapatkan hak bagi semua orang Hindia. Dalam pengajaran, harus bertujuan bagi kepentingan ekonomi Hindia dan memperkuat ekonomi mereka yang lemah.

1.2.1.1.1. Indische Partij sebagai sebuah partai yang bergerak di bidang politik dengan jelas menunjukkan pergerakkan untuk menentang kolonialisme Belanda dan berani mengkritik Belanda habis-habisan

2. 2.Partai Komunis Indonesia (PKI)

2.1. Pada 9 Mei 1914 Henk Sneevliet mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) atau Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda. Keanggotaan awal ISDV pada dasarnya terdiri atas 85 anggota dari dua partai sosialis Belanda, yaitu SDAP (Partai Buruh Sosial Demokratis) dan SDP (Partai Sosial Demokratis), yang aktif di Hindia Belanda.

2.1.1. ISDV kemudian bersalin nama menjadi Partai Komunis Indonesia pada Mei 1920 di Semarang. Semaoen dan Darsono berperan dalam pendirian tersebut. Semaoen terpilih sebagai Ketua, Darsono Wakil Ketua, Piet Bergsma sebagai Sekretaris, dan H.W. Dekker sebagai Bendahara. Adolf Baars, J. Stam, Dengah, C. Kraan, dan Soegono menjadi komisaris partai.

2.1.1.1. Adapun tujuan utama PKI adalah untuk menantang imperialisme dan kapitalisme pemerintah Belanda dengan membangun serikat pekerja dan untuk mempromosikan pentingnya kesadaran politik di antara para petani.

2.1.1.1.1. TOKOH - Henk Sneevliet - Musso - Dipa Nusantara Aidit - Amir Syarifuddin - Semaun - Njoto - Oetomo Ramelan - Abdul Latief Hendraningrat - Alimin Prawirodirdjo - Darsono - Misbach

3. 3. Perhimpunan Indonesia (PI)

3.1. awal mula : Pada 1908, terbentuklah perhimpunan Hindia (Indische Vereeniging) yang merupakan organisasi perhimpunan mahasiswa Indonesia di Belanda. Indische Vereeniging dipelopori oleh Noto Soeroto dan Sutan Kasayangan. Mulanya Indische Vereeniging merupakan organisasi mahasiswa bersifat sosial-budaya yang menaungi para pemuda Indonesia di negeri Belanda.

3.1.1. Selama pendiriannya saat itu, Indische Vereeniging mengalami 2 kali pergantian nama organisasi. Indonesische Vereeniging pada tahun 1922 dan Perhimpunan Indonesia pada tahun 1925 di bawah pimpinan Iwa Kusuma Sumantri. Tepatnya pada 3 Februari 1925, organisasi Indische Vereeniging berubah namanya menjadi Perhimpunan Indonesia. Tujuannya agar mempertegas prinsip perjuangan organisasi ini. Sejak terpilihnya Iwa Kusuma Sumantri sebagai ketua yang baru pada 1923, sifat perjuangan politik organisasi semakin kuat. Pemberontakan Perhimpunan Indonesia yang paling fenomenal pada 1925 yang dikenal dengan manifesto politik.

3.1.1.1. Pada awalnya pula, Perhimpunan Indonesia ini dikenal sebagai organisasi yang berfokus pada kegiatan sosial-budaya yang menyatukan pelajar Indonesia yang sama-sama tinggal di Belanda . Namun seiring berjalannya waktu, organisasi ini mulai bergerak dalam bidang politik

3.1.1.1.1. Asas Pokok Perhimpunan Indonesia Sementara itu, dalam rapat umum 1923, organisasi ini menegaskan tiga asas pokok Perhimpunan Indonesia yaitu; 1. Indonesia menentukan nasib sendiri 2. Indonesia harus mengandalkan kekuatan dan kemauan sendiri 3. Untuk melawan pemerintah kolonial Belanda, bangsa Indonesia harus bersatu.

4. 4.Partai Nasional Indonesia (PNI)

4.1. Partai Nasional Indonesia merupakan salah satu organisasi pergerakan nasional yang berdiri di Bandung pada tanggal 4 juli 1927 yang dipimpin oleh beberapa tokoh-tokoh besar seperti Ir. Soekarno, Dr. Cipto Mangunkusumo, Ir. Anwari, Sartono SH, Budiarto SH, dan Dr. Samsi. Lahirnya partai nasional Indonesia dilatarbelakangi oleh situasi sosio politik yang kompleks.

4.1.1. Pemberontakan PKI pada tahun 1926 membangkitkan semangat untuk menyusun kekuatan baru dalam menghadapi pemerintahan kolonial Belanda. Untuk mengobarkan semangat perjuangan nasional, Ir. Soekarno mengeluarkan triologi sebagai pegangan perjuangan Partai Nasional Indonesia. Triologi tersebut mencakup kesadaran nasional, kemauan nasional, dan perbuatan nasional.

4.1.1.1. Partai Nasional Indonesia lahir sebagai organisasi untuk mengekspreksikan rasa nasionalisme Indonesia pada masa pra kemerdekaan. Kemudian pada 4 Juli 1927, Soekarno, membentuk sebuah gerakan yang dinamakan Persatuan Nasional Indonesia. Kemudian pada Mei 1928, terjadi perubahan nama menjadi Partai Nasional Indonesia. Tujuan adanya organisasi ini adalah kemandirian ekonomi dan politik untuk kepulauan Indonesia.

4.1.1.2. PNI sendiri dibentuk didasarkan pada gagasan untuk tidak bekerja sama dengan pemerintah Hindia Belanda. Pada akhir Desember 1929, PNI memiliki sebanyak 10.000 anggota. Hal ini kemudian membuat para pihak berwenang merasa khawatir, sehingga Soekarno dan tujuh pemimpin partai lainnya ditangkap pada Desember 1929. Mereka diadili karena dianggap mengancam ketertiban umum.

4.1.1.2.1. Berikut ini ada beberapa tokoh PNI yang bisa Anda ketahui, diantaranya: 1. Tjipto Mangunkusumo 2. Sartono 3. Iskaw Tjokrohadisuryo 4. Sunaryo 5. Soekarno 6. Moh. Hatta 7. Gatot Mangkoepradja 8. Soepriadinata 9. Maskun Sumadiredja 10. Amir Sjarifuddin 11. Wilopo 12. Hardi 13. Suwiryo 14. Ali Sastroamidjojo 15. Djuanda Kartawidjaja 16. Mohammad Isnaeni 17. Supeni 18. Sanusi Hardjadinata 19. Sarmidi Mangunsarkoro