1. The Evolutionary Perspective
1.1. Natural Selection and Adaptive Behavior
1.1.1. Seleksi Alam
1.1.1.1. Proses evolusi dimana individu dari suatu spesies yang paling baik adalah yang bertahan hidup dan meninggalkan keturunan yang paling cocok
1.1.2. Perilaku Adaptif
1.1.2.1. Perilaku yang mendorong kelangsungan hidup suatu organisme di habitat aslinya (Mason & Others, 2018)
1.2. Evolutionary Psychology
1.2.1. Psikologi Perkembangan Evolusi
1.2.1.1. Mekanisme
1.2.1.1.1. spesifik domain
1.2.1.2. Menurut Psikologi Evolusioner:
1.2.1.2.1. Pikiran bukanlah perangkat tujuan umum yang dapat diterapkan secara merata untuk berbagai macam masalah
1.2.2. Menghubungkan Evolusi & Life Span Development
1.2.2.1. Paul Baltes (2003)
1.2.2.1.1. Manfaat yang diberikan evolusioner menurun seiring bertambahnya usia
2. Genetic Foundations of Development
2.1. The Collaborative Gane
2.1.1. Pendekatan Utama
2.1.1.1. Genome-Wide Association Method
2.1.1.1.1. Mengindentifikasi variasi genetik yang terkait dengan penyakit tertentu (Yaukochi & Others, 2018)
2.1.1.2. Linkage Analysis
2.1.1.2.1. Menemukan lokasi gen dalam kaitannya dengan gen penanda (yang posisinya sudah diketahui)
2.1.1.3. Next-generation Sequencing
2.1.1.3.1. Menggambarkan peningkatan besar dalam data genetik yang dihasilkan yang dihasilkan dengan biaya lebih rendah dan periode yang lebih singkat daripada di masa lalu
2.1.1.4. Thousand Genome Project
2.1.1.4.1. Menentukan urutan genom setidaknya 1.000 individu dari berbagai kelompok etnis diseluruh dunia (Li & Others, 2017)
2.2. Genes & Chromosomes
2.2.1. Mitosis, Meiosis dan Fertilisasi
2.2.1.1. Mistosis
2.2.1.1.1. Inti sel termasuk kromosom menggandakan dirinya sendiri dan membelah sel
2.2.1.2. Meiosis
2.2.1.2.1. Membentuk sel telur dan sperma (disebut gamet)
2.2.1.2.2. Sel testis atau ovarium menggandakan kromosomnya yang kemudian memebelah 2 kali, sehingga membentuk 4 sel, yang masing-masing hanya memilki setengah matri genetik induknya
2.2.1.2.3. Pada akhir meiosis setiap sel telur atau sperma memilki 23 kromosom tidak berpasangan
2.2.1.3. Fertilisasi
2.2.1.3.1. Sel telur dan sperma bergabung untuk membuat satu sel yang disebut zigot
2.2.2. Sumber Variabilitas
2.2.2.1. Menggabungkan dari 2 orang tua pada keturunan
2.2.2.2. DNA
2.2.2.2.1. Genotipe
2.2.2.2.2. Fenotipe
2.3. Genetic Principles
2.3.1. Gen Dominan-Resesif
2.3.1.1. Resesif
2.3.1.1.1. Sifat yang tidak terlihat namun ada/diwariskan
2.3.1.2. Dominan
2.3.1.2.1. Sifat mendominasi dan terlihat
2.3.2. Gen Tertaut Seks
2.3.2.1. X-Linked Inheritance
2.3.2.1.1. Gen yang bermutasi bersifat resesif dan dibawa kromosom X
2.3.3. Pencetakan Genetik
2.3.3.1. Brooker & Others, 2018 ; Simon, 2017
2.3.3.1.1. Pencetakan genetik terjadi ketika ekspresi gen memilki perbedaan efek yang berbeda tergantung apakah ayah atau ibu yang mewariskan
2.3.4. Pewarisan Poligenik
2.3.4.1. Definisi
2.3.4.1.1. Banyak gen yang berbeda menentukan suatu karakter (Hill & Others, 2018 ; Oreland & Others 2017)
2.4. Chromosomal & Gene-Linked Abnormalistas
2.4.1. Kelainan Kromosom
2.4.1.1. Down Syndrome
2.4.1.1.1. Kelebihan salinan dari kormosom 21
2.4.1.2. Sindrom Klinefelter
2.4.1.2.1. Kelebihan kromosom X pada laki-laki (XXY)
2.4.1.3. Sindrom Fragile X
2.4.1.3.1. Kelainan pada kromosom X yang menyempit dan sering putus
2.4.1.4. Sindrom Turner
2.4.1.4.1. Kehilangan 1 kromosom X pada wanita (XO)
2.4.1.5. Sindrom XYY
2.4.1.5.1. Kelebihan kromosom Y pada laki-laki
2.4.2. Kelainan Gen Terkait
2.4.2.1. Contoh
2.4.2.1.1. Cystic Fibrosis
2.4.2.1.2. Diabetes
2.4.2.1.3. Hutintington's disease
2.4.2.1.4. Phenylketonuria
2.4.2.1.5. Sickle-cell anemia
2.4.2.1.6. Spina Bilfida
2.4.2.1.7. Tey-Sachs disease
2.4.2.2. Cara Menghadapi
2.4.2.2.1. Pergi ke konselor genetik
3. Reproductive Challenges and Choices
3.1. Prenatal Diagnostic Test
3.1.1. USG Sonografi
3.1.1.1. Waktu
3.1.1.1.1. 7 minggu setelah kehamilan dan pada waktu yang berbeda nanti dalam kehamilan
3.1.1.2. Fungsi
3.1.1.2.1. Dapat mendeteksi kelainan pada janin
3.1.2. Teknik Pencitraan Otak
3.1.2.1. Waktu
3.1.2.1.1. Memberikan hasil yang baik jika dilakukan di trisemester 3
3.1.2.2. Fungsi
3.1.2.2.1. Mendeteksi malformasi janin dan menilai kelaian saraf pusat
3.1.3. Pengambilan sampel Chorionic Villus
3.1.3.1. Waktu
3.1.3.1.1. Antara minggu ke-10 dan ke-12
3.1.3.2. Fungsi
3.1.3.2.1. Mendeteksi cacat genetik dan kelainan kromosom
3.1.4. Amniosentensis
3.1.4.1. Waktu
3.1.4.1.1. Antara minggu ke-15 dan ke-18
3.1.4.2. Fungsi
3.1.4.2.1. Mengambil sampel cairan ketuban untuk mendeteksi kelainan kromosom atau metabolisme
3.1.5. Maternal Blood Screening
3.1.5.1. Waktu
3.1.5.1.1. Minggu ke-15 hingga ke-19
3.1.5.2. Fungsi
3.1.5.2.1. Mengidentifikasi kehamilan yang memilki peningkatan cacat lahir dan mendeteksi penyakit jantung bawaan lahir
3.1.6. Penentuan Jenis Kelamin
3.1.6.1. Waktu
3.1.6.1.1. Minggu ke-11 sampai ke-13
3.1.6.2. Fungsi
3.1.6.2.1. Mendeteksi jenis kelamin
3.2. Infertility & Reproductive Technology
3.2.1. Infertilitas
3.2.1.1. Definisi
3.2.1.1.1. Ketidakmampuan untuk mengandung/memilki anak
3.2.1.2. Penyebab
3.2.1.2.1. Wanita: memproduksi sel telur yang tidak normal, saluran tuba falopi tersumbat, memilki penyakit yang mencegah implantasi embrio ke rahim
3.2.1.2.2. Pria: memilkiki sedikit sperma, sperma kurang motilitas, memilki saluran yang tersumbat
3.3. Adoption
3.3.1. Meningkatkan Keragaman Anak Adopsi dan Orang Tua Angkat
3.3.1.1. Peningkatan
3.3.1.1.1. Banyak agen adopsi sekarang tidak memberikan syarat untuk orang tua angkat dan mengizinkan orang dewasa dari berbagai latar belangkang untuk mengadopsi
3.3.2. Hasil Untuk Anak Adopsi
3.3.2.1. Memilki hasil positif
4. Heredity-Enviroment Interaction: The Nature-Nurture Debate
4.1. Behavior Genetics
4.1.1. Definisi Menurut:
4.1.1.1. Charney, 2017 ; Machalek & Others, 2017 ; Pinheiri & Others, 2018 ; Rana & Others, 2018
4.1.1.1.1. Bidang yang berusaha menemukan pengaruh hereditas dan lingkungan terhadap perbedaan individu dalm sifat dan perkembangan manusia
4.2. Heredity-Enviroment Correlations
4.2.1. Terdapat 3 Cara
4.2.1.1. Korelasi Genotipe - Lingkungan Pasif
4.2.1.1.1. Terjadi karena orang tua biologis yang secara genetik terkait dengan anak, menyediakan lingkungan pengasuhan bagi anak
4.2.1.2. Korelasi Genotipe - Lingkungan Eksokatif
4.2.1.2.1. Terjadi karena karakteristik anak yang dipengaruhi secara genetik memunculkan jenis lingkungan tertentu
4.2.1.3. Korelasi Genotipe - Lingkungan Aktif
4.2.1.3.1. Terjadi ketika anak-anak mencari lingkungan yang menurut mereka cocok dan merengsang
4.3. The Epigenetics View & Gene-Enviroment (G×E) Interaction
4.3.1. Pandangan Epigenetik
4.3.1.1. Penekanan
4.3.1.1.1. Bahwa perkembangan mencerminkan suatu yang sedang berlangsung, pertukaran 2 arah antara hereditas dan lingkungan
4.3.2. Interaksi Gen-Lingkungan (G×E)
4.3.2.1. Fokus
4.3.2.1.1. Keterikatan
4.3.2.1.2. Pengasuhan
4.3.2.1.3. Lingkungan
4.4. Conclusions About Heredity-Eviroment Interaction
4.4.1. Dipengaruhi
4.4.1.1. Gen & Lingkungan
4.4.2. Interaksinya
4.4.2.1. Sangat Luas