Aliran dalam Perkembangan Psikologi

Kom i gang. Det er Gratis
eller tilmeld med din email adresse
Aliran dalam Perkembangan Psikologi af Mind Map: Aliran dalam Perkembangan Psikologi

1. Sensasionalisme

1.1. *Pengertian Sensasionalisme* Sensasionalisme berasal dari kata “ sense “, berarti sensasi, yaitu berita yang isi dan cara mengemukakannya bertujuan untuk menarik perhatian, membangkitkan perasaan dan emosi pada manusia. Menurut para ahli : 1. Danies ( 2001 ) sensasionalisme adalah yang menyalahi zona nyaman khalayak terhadap suatu kejadian yang sebenarnya terjadi. 2. Graber Sensasionalisme dianggap sebagai keadaan fitur – fitur atau tampilan dalam berita yang mampu memprovokasikan emosi dan rangsangan psikologis atau bangkitnya rasa terntentu dari pribadi khalaya

1.2. *Karakteristik Sensasionalisme* Harus hebat memberikan keterangan, kekaguman, ketakjuban, kengerian, harus dapat meluapakan berbagai perasaan.

2. *Derajat Empirisisme* Menurut Britannica Encyclopedia (1983): 1. Empirisisme absolut menganggap bahwa tidak ada a priori, baik dalam konsep formal maupun kategorikal, juga dalam proposisi. A priori berasal dari bahasa Latin yang artinya adalah from the former, kebalikan dari posteriori (from the latter). Beberapa ilmuwan menyebutkan a priori ini sebagai ide bawaan, yang dimiliki seseorang sebelum ia bersentuhan dengan dunia empiri. 2. Empirisisme substantifempirisisme ini lebih moderat, mengakui bahwa di dalam konsep formal ada a priori, tetapi tidak mengakui adanya a priori dalam konsep kategorikal dan proposisi. 3. Empirisisme parsial mengakui bahwa ada konsep lain selain konsep formal yang bersifat a priori, dan bahwa kadang-kadang ada proposisi informatif substansial tentang alam yang tidak empiris.

3. Empirisisme

3.1. *Sejarah Perkembangan Empirisisme* Sejak zaman Yunani Kuno, sudah ada pemikir yang lebih mempercayai inderanya dan mencoba menemukan pengetahuan atas dasar pengalaman, ini yang disebut paham empirisisme.

3.2. *Pengertian Empirisisme* Berasal dari bahasa Yunani 'empiris' yaitu pengalaman indrawi. Empirisisme adalah aliran yang menjadikan pengalaman sebagi sumber pengetahuan dengan metode observasi atau penginderaan

3.3. *Kelebihan Empirisisme* pengalaman indera merupakan sumber pengetahuan yang benar, karena faham empiris mengedepankan fakta – fakta yang terjadi di lapangan

3.4. *Karakter Empirisisme* Menurut Sudaryono (2001): 1. Dunia merupakan suatu keseluruhan sebab akibat. 2. Perkembangan akal ditentukan oleh perkembangan pengalaman empiris (sensual). 3. Sumber pengetahuan adalah kebenaran yang nyata (empiris) 4. Pengetahuan datang dari pengalaman (rasio pasif waktu pertama kali pengetahuan didapatkan) 5. Akal tidak melahirkan pengtahuan dari dirinya sendiri 6. Mengajukan kritik terhadap rasionalisme yang dianggap tidak membawa kemajuan apapun. 7. Asas filsafatnya bersifat praktis (bermanfaat) 8. Awal digunakannya prosedur ilmiah dalam penemuan pengetahuan, karena sesungguhnya hakikat ilmu pengetahuan itu adalah pengamatan, percobaan, penyusunan fakta, dan penarikan hukum- hukum umum. 9. Metoda yang dipakai adalah metode induktif empirisme

3.5. *Kelemahan Empirisisme* 1. Empirisisme didasarkan atas pengalaman. Pengalaman merupakan pengertian yang terlalu samar untuk dijadikan dasar bagi sebuah teori pengetahuan yang sistematis. 2. Empirisisme tidak mempunyai perlengkapan untuk membedakan antara khayalan dan fakta, karena panca indera manusia terbatas dan tidak sempurna. 3. Empirisisme tidak memberikan kepastian. Apa yang disebut pengetahuan sebenarnya juga meragukan karena adanya kelemahan inderawi manusia.

3.6. *Tokoh-tokoh Empirisisme* 1. Francis Bacon de Verulam (1561-1626) pengetahuan akan maju jika menggunakan cara kerja yang baik, yaitu melalui pengamatan, pemeriksaan, percobaan, pengaturan dan penyusunan. 2. Thomas Hobes (1588-1679) pengalaman adalah permulaan, dasar segala pengenalan. Pengenalan intelektual tidak lebih dari perhitungan, penggabungan data inderawi dengan cara berbeda-beda. 3. John Locke (1632-1704) pengalaman adalah satu- satunya sumber pengenalan. Akal budi manusia sama sekali tidak dibekali oleh ide bawaan. Akal manusia bagai sehelai kertas putih kosong yang akan terisi dan ditulisi dengan pengalaman inderawi. 4. George Berkeley (1685-1753) seorang filsuf Irlandia yang mengungkapkan “idealisme pengamatan”, artinya segala pengetahuan manusia didasarkan atas pengamatan. 5. David Hume (1711-1776) pencetus empirisisme radikal, yang juga dianggap sebagai puncak empirisisme. Hume sangat kritis terhadap masalah pengenalan dan pengetahuan manusia, sehingga ia sampai pada kesimpulan yang menolak substansi dan kausalitas (setiap perubahan karena sesuatu).

4. Positivisme

4.1. *Sejarah Kemunculan Positivisme* Hadirnya aliran positivisme dalam ranah ilmu pengetahuan sosial erat kaitan- nya dengan tokoh Augeste Comte, seorang filosof sekaligus sosiolog ternama. Aliran ini mulai dikembangkan oleh Comte sejak abad ke-19 yaitu setelah masa perkembangan empirisme dan rasionalisme. Seiring dengan kemajuan jaman, positivisme juga dikembangkan oleh beberapa tokoh teoritis lainnya.

4.1.1. 3 tahap dalam perkembangan positivisme yaitu : 1. Tempat utama dalam positivisme diberikan pada sosiologi (positivisme sosial dan evolusioner), perhatiannya juga diberikan pada teori pengetahuan yang diungkapkan oleh comte dan tentang logika yang dikemukakan oleh Mill. Tokoh – tokohnya Auguste Comte, E. Litre , P. Laffitle, JS. Mill dan Spencer. 2. Empirio positivisme, berawal pada tahun 1870 – 1890 dan berpautan dengan dengan Mch dan Avenarius ( positivisme kritis ). Keduanya meninggalkan pengetahuan formal tetang obyek – obyek nyata obyektif, yang merupakan suatu ciri positivism awal. 3. Tahap terakhir berkaitan dengan lingkaran Wina dengan tokoh – tokohnya, O. Neurath, Camap, Schilk, dan Frank ( positivism logis ). Serta kelompok yang turut berpengaruh pada tahap perkembangan yang ketiga adalah Masyarakat filsafat ilmiah Berlin.

4.2. *Pengertian* Positivisme secara etimologi berasal dari kata positive, yang dalam bahasa filsafat bermakna sebagai suatu realitas. Positivisme secara termninologi berarti suatu paham yang dalam pencapaian kebenarannya bersumber dan berpangkal pada kejadian yang benar– benar tejadi. Menurut Comte Positivisme adalah suatu metode pengkajian ilmiah dan suatu tingkatan dalam perkembangan pikiran manusia (Saifuddin, 2005). Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafesik. Positivisme di anggap bisa memberikan sebuah kunci pencapaian hidup manusia dan merupakan satu – satunya formasi sosial yang benar – benar bisa dipercaya.

4.3. *Asumsi Dasar Positivisme* Istilah asumsi dasar dapat dikatakan sebagai pandangan - pandangan mengenai suatu hal yang telah diterima kebenarannya (Ahimsa-Putra, 2016). “Suatu hal” dalam konsep tersebut dapat di maknai sebagai ilmu pengetahuan, tujuan sebuah disiplin maupun suatu benda. Sumber pandangan ini dapat diperoleh dari berbagai hal, antara lain dari perenungan- perenungan filosofis dan reflektif; penelitian-penelitian empiris yang canggih dan pengamatan yang seksama.

4.3.1. Terdapat enam elemen asumsi dasar, yaitu 1.Basis pengetahuan 2.Manusia 3.Gejala yang diteliti atau objek material 4. Ilmu pengetahuan 5. Ilmu sosial budaya 6. Disiplin atau cabang ilmu yang dipelajari.

4.4. *Manusia dalam Positivisme* positivisme memandang manusia memiliki berbagai fungsi dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini terlihat ketika manusia diletakkan pada suatu komunitas atau masyarakat. Hal ini kemudian memperlihatkan bahwa manusia selalu memiliki fungsi ketika dikaitkan dengan relasi-relasi sosial antar individu lainnya. Misalnya, terdapat hubungan patron-klien dalam suatu masyarakat. Setiap inidividu ada yang berperan sebagai patron, sementara individu lainnya berperan sebagai klien.

4.5. *Keunggulan positivisme* 1. keobjektifan dalam positivisme dapat ter- ukur dan teruji secara empirik. 2. positivisme mengakui adanya relativisme ilmu pengetahuan. 3. lebih toleran dengan adanya perbedaan hasil suatu penelitian. penelitian dengan memakai positivisme mampu diterapkan untuk memahami masa lalu, masa kini dan memprediksi masa depan.

4.6. *Kelemahan positivisme* 1. Di dalam memahami gejala sosial-budaya. Sosial budaya yang bersifat empiris. Itu artinya, mereka hanya terpaku pada realitas empiris dan menafikkan realitas imajiner (wacana) ketika melakukan penilitian. Padahal, suatu masyarakat memiliki kedua realitas tersebut dalam kesehari- annya 2. Dengan menggunakan positivisme, seorang peneliti hanya terbatas pada kajian fenomena Contohnya yaitu tidak mampu menggali secara mendalam mengenai makna dibalik fenomena ritual pada suatu masyarakat. 3. positivisme sulit dipakai untuk menangkap dan memahami gejala sosial yang sifatnya non-empiris serta hal-hal yang terkandung di alam bawah sadar manusia. Artinya, pemaknaan terhadap pengetahuan suatu masyarakat dalam menjalankan aktivitasnya sulit dipahami dengan memakai epistemologi positivisme.

4.7. *Positivisme Utilitarian dan Anti-Intelektual* Talcott Parson membagi positivisme ke dalam dua kategori yaitu positivisme utilitarian dan positivisme anti-intelektual. Persamaan keduanya adalah bahwa metode ilmiah menjadi titik tekan upaya menjelaskan perilaku manusia yang deterministik.Dengan asumsi deterministik ini, terkandung implikasi perilaku hanya suatu fungsi saja dari situasi. Positivisme utilitarian dikembangkan pemikiran sosial lnggris,terutama dalam teori ekonomi. Teori ekonomi dan pemikiran sosial di lnggris cenderung bersifat individualistik, dan mengasumsikan model perilaku manusia rasional, di mana manusia dilihat sebagai penganalisis dan penilai lingkungannya menurut skema alat tujuan yang bersifat rasional. Tindakan manusia diperhitungkan untuk memaksimalkan kesenangan, atau keuntungan, dan meminimalkan penderitaan, atau kerugian. Dalam positivisme jenis ini, faktor subjektivitas manusia masih diperhitungkan. Walaupun tekanan lingkungan kuat, manusia dipandang memiliki kemampuan untuk memilih.