BAGAIMANA MANUSIA BERTUHAN

Comienza Ya. Es Gratis
ó regístrate con tu dirección de correo electrónico
BAGAIMANA MANUSIA BERTUHAN por Mind Map: BAGAIMANA MANUSIA BERTUHAN

1. selama seseorang memiliki indikator keimanan walaupun ibarat sinyal HPhanya tinggal segaris saja, ia tetap dikatakan beriman. Meskipun dikatakan masih beriman, ia memiliki juga indikator-indikator kekufuran. Apabila si pendosa ini terus-menerus melakukan indikator-indikator kekufuran dan sampai puncaknya ketika ia berani secara terang-terangan melawan Tuhan dan rasul-Nya, maka ketika itu ia dikatakan telah terjerumus dalam kekufuran (yang bersifat mutlak).

2. B. Menanyakan Alasan Mengapa Manusia Memerlukan Spiritualitas

2.1. 1. spriritual

2.1.1. engalaman yang unik dan autentik. Setiap orang memiliki pengalaman yang khas dalam hal merasakan kehadiran Tuhan. Pengalaman bertuhan dapat menjadi bagian yang sangat erat dan mempengaruhi kepribadian seseorang. Meskipun demikian, dalam kehidupan modern saat ini, orientasi kehidupan yang lebih menekankan aspek fisik-material telah menjadikan aspek keberagamaan dan spiritualitas terpojok ke wilayah pinggiran.

2.1.2. odernisasi dan globalisasi memiliki lima ciri: 1) munculnya budaya global, 2) penekanan yang berlebihan terhadap kebebasan manusia dalam bersikap, 3) menguatnya rasionalisme, 4) orientasi hidup materialistis, dan 5) dominasi si kuat atas si lemah. Dengan lima ciri di atas, modernisasi dan globalisasi membuat ruang spiritual (spiritual space) dalam diri kita mengalami krisis yang luar biasa hebat

2.2. 2.penguatan spritualitas

2.2.1. penguatan spiritualitas ini secara filosofis dikatakan sebagai penguatan visi Ilahi, potensi bertuhan, atau kebertuhanan. Untuk mencapai visi Ilahi yang kokoh, diperlukan proses pengaktualisasian akhlakTuhan yang ada dalam diri setiap manusia.

2.2.1.1. Masyarakat dunia saat ini mulai mengalami titik jenuh dengan peradaban materialisme yang sekuler. Peradaban yang menjauhkan fenomena alam, sosial, dan budaya dari makna spiritual tersebut tampaknya mulai menghadapi kebangkrutan

2.3. 3. akal, syahwat, dan nafsu amarah.

2.3.1. tasawuf mengandung prinsip-prinsip positif yang mampu mengembangkan masa depan manusia, seperti melakukan instropeksi (muḫāsabah), baik berkaitan dengan masalah-masalah vertikal maupun horizontal, kemudian meluruskan hal-hal yang kurang baik

2.3.2. Bertasawuf yang benar berarti sebuah pendidikan bagi kecerdasan emosi dan spiritual.

2.3.3. tasawuf mempunyai peran dalam membangun spiritualitas umat. Tasawuf dapat membuat manusia mengerem egosentrisme, dorongan hawa nafsu, dan orientasi kepada materi yang berlebihan. Melalui tasawuf,manusia dilatih untuk mengedepankan makna dan visi ilahiah dalam kehidupan

2.3.4. Orang yang memiliki kesadaran spiritual akan memiliki beberapa mampu menemukan kekuatan Yang Mahabesar, merasakan kelezatan ibadah, menemukan nilai keabadian, menemukan maknadan keindahan hidup, membangun harmonisasi dan keselarasan dengan semesta, menghadirkan intuisi dan menemukan hakikat metafisik, menemukan pemahaman yang menyeluruh, dan mampu mengakses hal-hal gaib yang suprarasional

3. E. Mendeskripsikan Esensi dan Urgensi Visi Ilahi untuk Membangun Dunia yang Damai

3.1. dapat dipahami bahwa agar manusia dapat membangun kehidupan yang damai, aman, penuh kasih, dan sejahtera,maka dibutuhkan pemaknaan tentang kesejatian hidup dan kehidupan yang lebih holistik, komprehensif, dan empatik. Ketiga hal itu tidak akan mungkin dicapai kecuali oleh mereka yang memiliki kesadaran dan kecerdasan spiritual, karena kesadaran ini merupakan visi Ilahi yang dikaruniakan kepada orang-orang pilihan-Nya.

3.2. agar manusia dapat tetap konsisten dalam kebaikan dan kebenaran Tuhan, maka manusia dituntut untuk membangun relasi yang baik dengan Tuhan. Manusia tidak akan mampu membangun relasi yang harmonis dengan Tuhan apabila hidupnya lebih didominasi oleh kepentingan ragawi dan bendawi. Oleh karena itu, sisi spiritualitas harus memainkan peran utama dalam kehidupan manusia sehingga ia mampu merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap gerak dan sikapnya

3.3. Apabila manusia telah mampu mengasah spiritualitasnya sehingga ia dapat merasakan kehadiran Tuhan, maka ia akan dapat melihat segala sesuatu dengan visi Tuhan (Ilahi).Visi Ilahiinilah yang saat ini dibutuhkan oleh umat manusia sehingga setiap tindaktanduk dan sikapperilaku manusia didasari dengan semangat kecintaan kepada Tuhan sebagai manifestasi kebenaran universal dan pengabdian serta pelayanan kepada sesama ciptaan Tuhan.

4. pembahasan tentang cara manusia bertuhan melalui rasioakan menjadi fokus utama pokok bahasan ini. Banyak argumen yang diajukan oleh para filsuf Islam, sebagai kaum pemikir/ rasionalis untuk menjelaskan hakikat Tuhan dan cara bertuhan yang benar. Menurut Mulyadhi Kartanegara, paling tidak terdapat tiga argumen filsafat untuk menjelaskan haltersebut, yaitu: 1) dalilal-ḫudūts, 2) dalilal-īmkān,dan 3) dalilal-‘ināyah. Argumen pertama diperkenalkan oleh al-Kindi (w. 866), yang kedua oleh Ibn Sina (w.1037), dan yang ketiga oleh Ibn Rusyd (w.1198)

5. D. Membangun Argumen tentang Cara Manusia Meyakini dan Mengimani Tuhan

5.1. Motivasi menurut ilmuan sosial

5.1.1. orang beriman kepada Tuhan atau memiliki karakter bertuhan adalah seseorang yang meyakini Tuhan sebagai sumber kebenaran dan kebajikan tertinggi, mengidentikkan diri dengan cara banyak meniru akhlak Tuhan dalam bersikap dan berperilaku, dan memiliki komitmen kepada nilai-nilai tersebut.

5.1.2. mengarahkan hidupnya agar berjalan sesuai tujuan yang benOrang yang beriman adalah orang yang berkarakter. Beriman kepada Allah berarti memiliki karakter bertuhanar (bertaqwa kepada Tuhan)

6. A.menelusuri konsep spritualitas sebagai landasan kebertuhanan

6.1. spritualitas

6.1.1. dasar bagi tumbuhnya harga diri ,nilai-nilai,moral dan rasa memiliki.

6.1.1.1. spritualitas memberi arah dan arti pada kehidupan.

6.1.1.2. Al-Qusyairi dalam tafsirnya Latha'if al-isyaratmenunjukkan bahwa roh memang lathi'fah (jiwa halus)

6.1.2. kpercayaan akan adanya kekuatan non-fisik yang lebih besar daripada kekuatan diri kita

6.1.2.1. salah satu pengaruh roh dalam diri manusia adalah adanya potensi untuk mengenal yang baik dan yang buruk. Dengan roh, manusia bisa mengetahui bahwa seharusnya ia mengikuti dan menjalankan hal-halyang baik, dan meninggalkanyang buruk. Dengan adanya roh,manusia memiliki bakat untuk menjadi makhluk yang baik dan berorientasi kepada kebenaran dan kebaikan Tuhan.

6.2. perbedaan antara spiritualitas dan religiositas

6.2.1. eligiositas menyaranpada eskpresi keagamaan seseorang

6.2.2. spritualitas menyaranpada ekspresi rasa bertuhan

6.2.2.1. spiritualisme seringkali diterjemahkan sebagai paham yang lebih memprioritaskan hal-hal yang batin, metafisik, dan substantif.

6.2.2.2. Penyakit spiritual adalah kondisi diri yang terfragmentasi (a condition of being fragmented), terutama dari pusat diri. Sebaliknya,“kesehatan spiritual” (spiritual health) adalah kondisi keutuhan yang terpusat (a condition of centred wholeness).Jika seseorangingin mengalami kesehatan secara spiritual, sudah sewajarnya iamenjalani kehidupan ini dengan mengambil lokus dalam pusat diri, pusat spiritual, dan pusat hakiki sense of securityyang sebenarnya ada dan bersemayam dalam dirinya

6.2.2.3. kesadaran manusia terletak di hati. Ketika hati telah suci, maka jiwa manusia akan menerima pancaran rahmat Tuhan sehingga darinya terpancar energi positif yang kemudian mempengaruhi penilaian dan sikapnya.

6.3. Bagaimana Tuhan dirasakan kehadiranya dalam Perspektif Psikologis

6.3.1. adanya keterbukaan pada Yang Adikodrati adalah fithrah manusia sejak dia lahir ke dunia (fithrah mukhallaqah). Manusia secara naturedapat merasakan Yang Gaib karena di dalam dirinya ada unsur spirit. Spirit sering digambarkan dengan jiwa halus yang ditiupkan oleh Tuhan ke dalam diri manusia Sistem kepercayaan kita dibangun oleh gagasan-gagasan yang diajarkan secara intens sehingga tertanam secara neurologis di dalam memori, dan akhirnya dapat mempengaruhi perilaku dan pemikiran kita.pengalaman ketidakberdayaan adalah pengalaman hidup yang membuat seseorang merasakan bahwa dirinya memiliki kekurangan dalam memahami fenomena alam, sosial, budaya, dan psikis

7. C. menggali Sumber Psikologis, Sosiologis, Filosofis, dan Teologis tentang Konsep Ketuhanan

7.1. Bagaimana Tuhan Disembah oleh Masayarakat dalam Perspektif Sosiologis

7.1.1. Konsep tentang kebertuhanan sebagai bentuk ekspresikolektif suatu komunitas beragama merupakan wilayah pembahasan sosiologi agama.Sosiologi agama merupakan cabang ilmu sosiologi yang mempelajari secara khusus masyarakat beragama

7.1.2. berbeda dengan perspektif teologis, sosiologi memandang agama tidak berdasarkan teks keagamaan (baca kitab suci dan sejenisnya), tetapi berdasarkanpengalaman konkret pada masa kini dan pada masa lampau

7.1.3. Sebagian ilmuwan lainnya bertolak dari penelitian terhadap suku Indian primitif yang menemukan bahwa justru pangkal tolak kebertuhanan umat manusia adalah monoteisme. Menurut teori ini pada mulanya manusia merasakan kehadiran Tuhan sebagai kekuatan universal yang mengatasi segalanya. Namun,karena kepentingan identitas kelompok, Tuhan-Tuhan tersebut lambat laun mengalami proses kapitalisasi dan diciutkan wilayahnya sesuai dengan egosentrisme masing-masing komunitas beragama.

7.2. Bagaimana Tuhan Dirasionalisasikan dalam Perspektif Filosofis? dan Konsep tentang Tuhan dalam Perspektif Teologis

7.2.1. dalam perspektif teologis, masalah ketuhanan, kebenaran, dan keberagamaan harus dicarikan penjelasannya dari sesuatu yang dianggap sakral dan dikultuskan karena dimulai dari atas (dari Tuhan sendiri melalui wahyu-Nya). Artinya, kesadaran tentang Tuhan, baik-buruk, cara beragama hanya bisa diterima kalau berasal dari Tuhan sendiri

7.3. Roh manusia menurut Islam adalah suci, karena ia adalah karunia Ilahi yang dipancarkan dari Zat Tuhan. Roh bersemayam di dalam hati (qalb)sehingga dari hati terpancar kecerdasan, keinginan, kemampuan, dan perasaan. Ketika hati ditempati roh, maka hati menjadi bersinar dan memancarkan cahaya kebaikan Tuhan. Hati yang terpancari oleh kebaikan Tuhan disebut dengan hati nurani (hati yang tercahayai).