1. RX Transfusi Alergi
1.1. diklasifikasikan sebagai alergi
1.1.1. Alergen Plasma donor
1.1.2. Antibodi donor
1.2. IG E
1.2.1. Sel mast + Basofil
1.2.1.1. Histamin dan amin vasokatif
1.3. Reaksi ringan
1.3.1. Utrikaria
1.3.2. Edema
1.3.3. Pusing
1.3.4. Sakit Kepala
1.3.5. Dypsnea
1.3.6. Mengi
1.3.7. Inkotinensisa
1.3.7.1. Spasme Otot
1.4. Reaksi alergi terjadi
1.4.1. Ringan
1.4.1.1. Antihistamin
1.4.1.1.1. Profilaksis (Riwayat Alergi)
1.4.2. Berat
1.4.2.1. Epinephrine
1.4.2.2. Sel darah merah beku / cuci dengan degliserolisasi
1.4.3. Kortikosteroid
2. Dx Anafilaksis
2.1. Kematian
2.1.1. 1 jam pertama setelah paparan
2.1.1.1. Tindakan Cepat
2.2. Kriteria Klinis
2.2.1. Paparan Antigen yang tidak diikenali, namun muncul gejala utrikaria atau gejala pada lapisan mukosa
2.2.1.1. Gejala Pernafasan
2.2.1.2. Hipotensi
2.2.1.3. Tanda Dan Gejala Disfungsi Organ
2.2.2. Paparan Antigen Melibatkan 2 Sistem Tubuh
2.2.2.1. Gejala Integumen
2.2.2.2. Gejala Pernafasan
2.2.2.3. Hipotensi
2.2.2.4. Gejala GI
2.2.2.5. Paparan Antigen Dan Hipotensi
3. Tipe Rekasi Transfusi Akut + Manajemen awal
3.1. Shock Anaphylaxis
3.1.1. Epinephrine 0,5 ml IM
3.1.2. Menghentikan Transfusi
4. Pemberian Epinephrine pd anafilaksis
4.1. IM
4.1.1. 0,3-0,5 ml
4.1.1.1. Konsentrasi 1:1.000
4.1.2. 0,01-0,015 mg
4.1.2.1. Pediatrik
4.2. IV
4.2.1. 1:10.000
4.3. Dosis
4.3.1. Tunggal
4.3.2. Berulang
4.3.2.1. IV
4.3.2.1.1. 0,1 mg 1:10.000
4.3.2.1.2. Jika Perlu lebih
4.3.2.1.3. Hentikan
4.3.2.1.4. Resiko CVS
5. Epidemologi Rx Transfusi
5.1. Platelet + RBC
5.1.1. 3,7 % & 0,15 %
5.1.1.1. Transfusi PLT lebih beresiko
5.1.1.1.1. Sifat Komonen
5.1.1.1.2. Faktor Pasien
6. Pathogenesis Rx Transfusi
6.1. Defisiensi IG A
6.1.1. Terjadi 1 dari 20.000-47.000 transfusi
6.1.2. Onset Cepat
6.1.2.1. Muncul setelah paparan
6.1.2.1.1. Protein IG-A
6.2. Memiliki Antibodi IG A
6.2.1. Imunisasi
6.2.2. Transfusi Sebelumnya
6.2.3. Kehamilan
6.3. Gejala
6.3.1. Mual
6.3.2. Muntah
6.3.3. Kram Abdomen
6.3.4. Diare
6.3.5. Hipertensi sementara
6.3.6. Hipotensi
6.3.6.1. Shock
6.3.6.1.1. Penurunan kesadaran
6.3.7. Tanpa Demam
7. Invesitgasi Laboratorium
7.1. Immediate Lab Investigation
7.2. Clerical Checks
7.3. Visual Inspection
7.4. DAT
7.5. Additional Testing
7.6. ABO Grouping and Rh Typing
7.7. Compatibilty Test
7.8. Antibody Screen and Alloantibody Identification
7.9. Cause of False-Negative Antibody Screen Results
7.10. Urine Test
7.11. Bilirubin Test
7.12. Hemoglobulin and hematokrit
8. Investigasi Incompatible Crossmatch
8.1. Cross Match +, Auto Control -, Antibody screen -
8.2. Cross Match +, Auto Control +, Antibody screen -
8.3. Cross Match +, Auto Control +, Antibody screen +
9. Langkah Jika terjadi Rx Transfusi Akut
9.1. Reaksi pada Produk darah
9.1.1. Seberapa keparahan + Gejala
9.1.1.1. Mild
9.1.1.2. Moderate
9.1.1.3. Severe
10. Manajemen Reaksi Transfusi Akut
10.1. Utrikaria
10.1.1. Dipenhydramine
10.1.2. Methyl Prednisolone (Parah)
10.1.3. Prednisone (Parah)
10.2. Anafilaksis
10.2.1. Epinephrine
10.2.1.1. IM
10.2.1.2. Subkutan
10.3. Shock
10.3.1. Epinephrine
10.3.1.1. IV
10.4. Broncospasme
10.4.1. β-2-agonis / aminofilin
11. Pengobatan Pre Transfusi + Bukti
11.1. Acetaminophen + Dipenhydramine
11.1.1. Kenedy
11.1.1.1. Jumlah besar, prospektif, acak, double blind, diberikan 30 menit sebelum transfusi, dipantau 4 jam
11.1.1.1.1. Reaksi Transfusi
11.1.1.1.2. Plasebo
11.1.2. Dipenhydramine
11.1.2.1. Efektivitas tidak diketahui
12. Peran Kortikosteroid
12.1. Mengurangi respon bifasik anafikalsis
12.1.1. Methyl prednisolone
12.1.1.1. 80-125 mg IV
12.1.2. Hidrokortison
12.1.2.1. 250-500 mg IV
12.1.3. Prednisolone
12.1.3.1. Oral
12.1.3.1.1. 40-60 mg
12.2. Aktivitas Mineralkortikoid
12.2.1. Dapat menyebabkan retensi cairan
12.2.1.1. Deksametason & Methylprednisolone (Efek Mineralkortikoid lbh sedikit)
13. Prognosis
13.1. Jika pengobatan pengobatan dan pemantauan yang cepat dan adekuat
13.1.1. Resiko Mortalitas dan morbiditas rendah
13.2. Masuk rumah sakit
13.2.1. 4 % yg didiagnosis
13.2.1.1. Epinephrine
13.2.2. Pengamatan Emergency
13.2.2.1. Setelah 4 jam
13.2.3. Tidak ada interverensi
13.2.3.1. Pasien Pulang
13.2.3.1.1. Auto Injector Epinephrine
13.2.4. Inteverensi saluran nafas / Kondisi tidak stabil
13.2.4.1. ICU
13.2.5. Reaksi bifasik, Lansia, reaksi parah dll
13.2.5.1. Pemantauan lebih lama
13.2.6. Resep
13.2.6.1. Epinephrine
13.2.6.2. Antihistamin
13.2.6.3. Kortikosteroid
13.3. Sumber tidak diketahui
13.3.1. Kortikosteroid
13.3.1.1. 1-2 Minggu disertai penurunan dosis
13.4. Alergi parah + Anafilaksis
13.4.1. β-blocker
13.4.1.1. Gejala Berkepanjangan
14. Hipotesis
14.1. Reaksi Transfusi Akut
15. Definisi Dan Insiden
15.1. Definisi
15.1.1. efek samping dari reaksi transfusi yang fatal.
15.2. Insiden
15.2.1. 1/1 juta unit
15.2.2. Rx berat : 1/200 tiap transfusi
15.3. Penyebab
15.3.1. Salah identifikasi Pasien
15.3.2. Salah memberi label
15.3.3. Salah pencatatan lab
15.3.4. Salah penetuan Goldar
15.3.5. Salah pada skrining reaksi silang
15.4. Penyebab kematian
15.4.1. Hemolisis Akut
15.4.2. Edema paru akut
15.4.3. Kontaminasi Bakteri
15.4.4. Reaksi transfusi tipe Lambat
15.4.5. Anafilaksis
15.4.6. Reaksi transfusi tipe lambat
15.4.7. Transfusion Associated Grafted Versus Host Disease (TA- GVHD)
15.5. TRALI
15.6. TACO
16. Clinical sign + Tipe reaksi Transfusi
16.1. Reaksi Transfusi
16.1.1. Mediasi Imun
16.1.2. Tidak Dimediasi imun
16.2. Reaksi Transfusi
16.2.1. Akut (<24jam)
16.2.2. Lambat (>24jam)
16.3. Clinical Sign
16.3.1. Demam
16.3.2. Mengigil
16.3.3. Distress Nafas
16.3.4. Nyeri
16.3.5. Infusion Site
16.3.6. Manifestasi Kulit
16.3.7. Edema
16.3.8. Jaundice
16.3.9. Hemoglobin Uria
16.3.10. Mual Muntah
16.3.11. Pendarahan Abnormal
16.3.12. Oliguri/Anuria
16.4. Tipe Rekasi
16.4.1. TA-GVHD
16.4.2. HTR
16.4.3. Demam
16.4.4. Hemoglobinuria
16.4.5. PTP
16.4.6. Overload Sirkulasi
16.4.7. Tromboflebitis
16.4.8. Utrikaria
16.4.9. Hyperkalemia
16.4.10. Edema Paru Non Cardiogenik
16.4.11. Rx Alergi & Anafilaktik
17. Mengenali Tipe Reaksi Transfusi
17.1. Fever,Chills
17.1.1. Administrative Error
17.1.1.1. Yes
17.1.1.1.1. AHTR
17.1.1.1.2. Kontaminasi bakteri
17.1.1.2. No
17.1.1.2.1. Plasma Hemolitik
17.2. Pruritus,utricaria
17.2.1. Gejala Lain
17.2.1.1. No
17.2.1.1.1. Alergi ringan
17.2.1.2. Yes
17.2.1.2.1. Anafilaksis
17.3. dsypnea
17.3.1. Evaluasi Klinis
17.3.1.1. Hypotensi Parah
17.3.1.1.1. Anafilaksis
17.3.1.2. pasien beresiko
17.3.1.2.1. TACO
17.3.1.3. TRALI
17.4. Hypotensi
17.4.1. Mengecualikan (Eror Admin dan Plasma Hemolytic)
17.4.1.1. Parah
17.4.1.1.1. Anafilaksis
17.4.1.2. TRALI
17.4.1.3. Kontaminasi Bakteri
17.4.1.4. AHTR
17.5. DD
17.5.1. Anafilaksis
17.5.2. TRALI
17.5.3. TACO
18. TRALI & TACO
18.1. TRALI
18.1.1. Transfussion related acute lung injury
18.1.1.1. Jarang Terjadi
18.1.1.1.1. Mengancam Nyawa
18.1.1.2. Mirip ARDS
18.1.1.2.1. Angka kematian
18.1.1.3. Dimulai 6 jam stlh transfusi
18.1.1.3.1. Edema paru berat
18.1.1.3.2. Hipotensi
18.1.1.3.3. Hipoksemia berat
18.1.1.3.4. Mengigil
18.1.1.3.5. Demam
18.1.1.4. Membaik setelah 48-96 jam
18.2. TACO
18.2.1. Transfussion-associated-circulatory-overload
18.2.1.1. TRALI dengan komplikasi transfusi
18.2.1.2. Overload sirkulasi
18.2.1.3. Terjadi akibat transfusi komponen darah