1. ASAM AMINO DAN PROTEIN
1.1. UJI BIURET
1.1.1. TUJUAN :untuk memperlihatkan bahwa protein mempunyai ikatan peptide Yang bereaksi positif dengan uji biuret
1.1.1.1. Larutan kasein : warna ungu(+) dan larutan albumin 2% : warna ungu (+)
1.1.2. PRINSIP :Ikatan-ikatan peptide yang menyusun protein dan polipeptida, dalam larutan bersuasana alkali akan berwarna lembayung bila direaksikan dengan Cu2+.
1.2. UJI XANTOPROTEAT
1.2.1. TUJUAN : uji identifikasi protein yang memiliki asam amino
1.2.1.1. Larutan kasein 3% : warna kuning pucat (+) dan Larutan albumin 2% : Kuning pucat (+)
1.2.2. PRINSIP :Pereaksi uji ini adalah asam nitrat pekat. Jika ditambahkan protein kedalamnya, akan terbentuk endapan putih, dan berubah menjadi warna kuning atau jingga jika dilakukan pemanasan.
1.3. PENGENDAPAN PROTEIN DENGAN LARUTAN GARAM KONSENTRASI TINGGI
1.3.1. TUJUAN :Memperlihatkan bahwa sebagai makromolekul yang larut dalam bentuk larutan koloid,
1.3.1.1. Larutan Kasein 3% Tabung Pb-Asetat :Bening endapan putih (+) dan Larutan Albumin Telur (1:5) : Tabung Pb-Asetat : putih : Bening endapan putih (+)
1.3.2. PRINSIP :protein dapat dipisahkan satu dari yang lain, dengan menggunakan larutan garam divalent konsentrasi tinggi.
2. PENGARUH SUHU DAN PH TERHADAP AKTIVITAS ENZIM
2.1. PENGARUH SUHU TERHADAP ENZIM AMILASE AIR LIUR
2.1.1. TUJUAN :meningkatkan laju, jumlah molekul dan frekuensi reaksi
2.1.1.1. PRINSIP : jika pada suhu sangat rendah aktivitas enzim akan berhenti secara revisible dan jika terlalu tinggi maka aktivitas enzim akan menurun
2.1.1.1.1. optimal pada suhu 37-40 oC :orange(+) dan biru muda (+)
2.2. PENGARUH PH TERHADAP ENZIM AMILASE AIR LIUR
2.2.1. TUJUAN : agar konformasi struktur enzimnya tetap berada pada fungsinya
2.2.1.1. ph 7 dan 9 : warna kuning (+)
2.2.2. PRINSIP :Pengaruh pH terhadap enzim misalnya pada pH tinggi protein akan terdenaturasi, mengubah residu/struktur fungsional dan muatannya. Pada pH rendah protein akan terprotonasi (enz-) kehilangan muatan negatif
2.3. HIDROLISIS PATI MATANG ENZIM AMILASE AIR LIUR
2.3.1. TUJUAN : untuk mengetahui aktivitas enzim amilase pada pati matang
2.3.1.1. PRINSIP : amilase(ALPHA-AMYLASE) : katalis hidrolis dari alpha-1,4, glikosik amilosa pati menghasilkan glukosa
2.3.1.1.1. uji iodium : coklat dan pada uji menit 1-5 menit (+). Menit ke 7 merupakan titik akromatik : berwarna coklat kekuningan. Uji benedict : merah bata dan pada menit ke 7 berwarna biru muda (+)
2.4. HIDROLISIS PATI MENTAH ENZIM AMILASE AIR LIUR
2.4.1. TUJUAN :untuk mengetahui aktivitas enzim amilase pada pati mentah
2.4.1.1. PRINSIP : pemecahan amilase pati mentah dibantu oleh residu asam amino pada sisi aktif enzim
2.4.1.1.1. uji iodium : coklat dan pada uji menit ke 1-5 berwarna coklat (+). Menit ke 6 merupakan titik aktomatik karena berwarna coklat kekuningan. uji benedict : berwarna merah bata dan pada menit ke 6 berwaran biru kehijauan (+).
2.5. PENGARUH PH DAN SUHU TERHADAP ENZIM KATALASE HATI
2.5.1. TUJUAN : mengetahui ada tidaknya enzim katalase pada hati ayam
2.5.1.1. PRINSIP : pada suhu rendah enzim katalase akan berhenti bekerja tetapi tidak mengalami kerusakan. Pada suhu yang tinggi akan mengalami denaturasi
2.5.1.1.1. Kontrol H2O2 : adanya nyala terang dan ada gelembung (+)
3. NAMA : aMANDA ROSIDATUL MUFIDA
4. NIM :I1021201019
5. KELAS : A1
6. MIND MAPPING BIOKIMKIA
7. KARBOHIDRAT
7.1. UJI BENEDICT
7.1.1. PRINSIP :gula yang mempunyai gugus aldehid atau keton bebas akan mereduksi Cu2+
7.1.1.1. TUJUAN : untuk membuktikan adanya gula pereduksi
7.1.1.1.1. kompleks biru, merah ungu, atau merah coklat (+)
7.2. UJI FEHLING
7.2.1. PRINSI : ada Padanya gula pereduksi pada karbohidrat
7.2.1.1. TUJUAN :gula yang mempunyai kemampuan untuk mereduksi ion-ion, logam-logam, Cu dan Ag dalam larutan basa.
7.2.1.1.1. endapan merah bata (++++), orange (+++), kuning (++), hijau (+)
7.3. UJI IODIUM
7.3.1. pRINSIP : Amilum atau pati akan membentuk warna biru, dekstrin membentuk warna merah keunguan
7.3.1.1. TUJUAN : membuktikan adanya polisakarida
7.3.1.1.1. berwarna merah bata(+)
7.4. UJI MOLISCH
7.4.1. PRINSIP :Identifikasi karbohidrat oleh molisch didasarkan pada hidrolisis karbohidrat oleh asam sulfat pekat yang menghasilkan monosakarida
7.4.1.1. TUJUAN : membuktikan adanya karbohidrat secara kualitatif
7.4.1.1.1. cincin berwarna ungu pada batas antara kedua lapisan(+)
7.5. UJI SELIWANOFF
7.5.1. PRINSIP :dehidrasi fruktosa oleh HCl pekat menghasilkan hidroksimetilfurfural dan dengan penambahan resorcinol akan mengalami kondensasi membentuk senyawa kompleks
7.5.1.1. TUJUAN : membuktikan adanya ketosa (fruktosa)
7.5.1.1.1. warna merah oranye(+)
7.6. UJI BARFOED
7.6.1. PRINSIP :pengujian ini adalah ion Cu2+ dari pereaksi Barfoed dalam suasana asam akan direduksi lebih cepat oleh gula reduksi monosakarida daripada disakarida
7.6.1.1. TUJUAN : membedakan antara monosakarida dengan disakarida
7.6.1.1.1. endapan Cu2O berwarna merah bata(+)
7.7. UJI BIAL
7.7.1. PRINSIP :dedrasi pentosal oleh HCL
7.7.1.1. TUJUAN :membuktikan adanya pentosa.
7.7.1.1.1. warna biru (adanya pentosa)
8. LIPIDA
8.1. UJI KELARUTAN LIPID
8.1.1. TUJUAN : Untuk terbentuk emulsi yang stabil
8.1.1.1. Na2CO3 0,5% / NaOH 1 N(terjadi penyabunan)
8.1.2. PRINSIP : Jika minyak dikocok kuat dengan air akan terjadi emulsi yang tidak mantap karena butir- butir minyak kecil akan memisah dari air
8.2. UJI KEASAMAN MINYAK
8.2.1. TUJUAN : Untuk mengetahui sifat asam dan basa lemah
8.2.1.1. Minyak ikan(asam : 5), minyak kelapa (asam : 5) , minyak tengik ( asam : 6)
8.2.2. PRINSIP :mengidentifikasi sifat asam dan basa pada lemak
8.3. UJI KOLESTROL
8.3.1. TUJUAN : untuk mengetahui kandungan kolestrol
8.3.1.1. minyak ikan : warna merah (+) dan minyak tengik : warna coklat muda titik merah muda (+)
8.3.2. PRINSIP : asam sulfat ditambahkan dalam campuran yang berisi kolesterol, maka molekul air berpindah dari gugus C kolesterol
9. ANALISIS PROKSIMAT
9.1. TUJUAN : Untuk memberi kualitas penilaian pangan pada standar zat makanan untuk menjamin nutrisinya
9.1.1. UJI KUANTITATIF KARBOHIDRAT
9.1.1.1. sampel cair : harus jernih dan bebas dari pengotor dan gula terukur berasal dari gula dan karbohidrat yang larut dalam air
9.1.1.2. Sampel padat : gula diektrak dengan etanol. Gula terukur harus larut dalam etanol 80%
9.1.2. UJI KUANTITATIF LIPID
9.1.2.1. Ekstraksi soxhlet : prinsip ekstraksi lemak dengan pelarut lemak
9.1.2.2. metode Babcock : prinsip penentuan volume lemak cair dengan pelarutan sampel pada pelarut organik
9.1.3. UJI KUALITAS MINYAK DAN LEMAK
9.1.3.1. Cara fisika : metode titik cair dan bobot jenis
9.1.3.2. cara kimia : bilangan asam, penentuan bilangan penyabunan, penentuan bilangan ester, dan lain-lain
9.1.4. UJI KUANTITATIF PROTEIN
9.1.4.1. Metode kjeidahl, titrasi formol dan metode biuret