Financial Mind Maping
Jesi Melanidaにより
1. Bank Yang Gagal (BPR)
1.1. Distrupsi Teknologi BPR tidak menentukan strategi untuk berkompetisi atau berkolaborasi dengan bank umum, padahal bank umum sudah menggunakan teknologi finansial seperti m-banking dan i-banking.
1.2. Kondisi sekarang dan trends Bisnis Bank Perkreditan Rakyat (BPR) masih berhasil tumbuh meskipun dihadapkan dengan tekanan pandemi Covid-19 dan himpitan dari fintech. Di saat kredit perbankan umum mengalami kontraksi tahun 2020, BPR justru masih berhasil mencetak pertumbuhan positif sebesar 1,82% secara year on year (yoy) menjadi Rp 110,7 triliun. Ketua Umum Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) mengatakan, pertumbuhan tersebut merupakan bukti bahwa BPR dan BPRS masih survive dalam menghadapi besarnya tekanan sepanjang tahun lalu.
1.3. Tantangan Masa Depan 1. Pertama, permodalan kecil dan skala usaha yang kecil. Aspek permodalan harus tetap menjadi prioritas. 2. Kedua, infrastruktur dan sumber daya manusia yang terbatas. BPR harus mampu ikut bersaing dalam perekrutan kaum muda berbakat untuk dapat terus menjaga kesinambungan bisnisnya, khususnya kaum muda yang lebih dominan akan membuat implementasi digital dalam BPR akan lebih cepat. 3. Ketiga, kompetisi dengan teknologi finansial dan bank umum yang tinggi. Dia berharap BPR harus paham dalam menentukan strategi untuk berkompetisi atau berkolaborasi. 4. Keempat, keterbatasan produk. BPR mendapat tantangan yang semakin berat dengan perkembangan teknologi, yang bahkan membuat masyarakat dapat memberikan pinjaman, yakni dengan konsep peer to peer lending. 5. Terakhir, peningkatan tata kelola. Bukan hanya pada compliance, BPR juga diharap mampu menyadari keberadaannya juga merupakan stimulan bagi pengembangan ekonomi di daerah operasionalnya.
1.4. Butuh Diganti BPR harus memperbaiki infrastruktur dan menambah sumber daya manusia (diutamakan kamumuda yang berbakat), membutuhkan teknologi finansial agar tidak tergerus oleh jaman dan bank bank lain, memilih strategi yang cocok untuk perlembangan bisnisnya, dan membutuhkan inovasi agar masyarakat dapat melakukan pinjaman dengan hanya menggunakan handphone.
2. Bank Yang Berhasil (DBS)
2.1. 1. DBS mampu mentransformasikan pola bisnis dengan kemajuan teknologi era digital 2. DBS memanfaatkan teknologi big data, dan mampu mengurangi resiko fraud 2. Bank DBS Indonesia telah menerapkan full fledge digital banking melalui digibank by DBS. 3. Memberikan pelayanan berbasis digital dan tanpa tatap muka seperti pendaftaran dan mengurus rekening hanya lewat aplikasi di smart phone. 4. Mampu menangani keuangan yang kuat dan memiliki hudaya tanggung jawab sosial perusahaan yang baik. 5. Terus berupaya menarik nasabah melalui pengembangan teknologi informasi, sehingga layanan kian sederhana dan lebih efisien 6. DBS kian berinovasi dengan meluncurkan produk berjenis kredit tanpa agunan (KTA) Instan yang berbasis data digital, dan tanpa mengurus berkas.
2.2. Tantangan masa depan bank dbs: 1. Adanya penerapan Basel 3 terhadap pendanaan. 2. Menghadapi pasar bebas (ASEAN). 3. Kompetisi pada iklim margin bunga bersih (net interest margin/NIM). 4. Tantangan pengembangan fee based income, disrupsi, dan efisiensi biaya. 5. Memikat nasabah melalui digitalisasi
2.3. Perubahan yang dibutuhkan: 1. Lebih selektif terhadap pendanaan agar tidak menggangu permodalan dan perbankan harus memperbaiki management untuk disalurkan pendanaan jangka panjang. 2. Memperbaiki dan meningkatkan kinerja, terutama dari sisi struktur pendanaan agar mampu bersaing. 3. Adanya financial technology.