1. Proses Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan
1.1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI Tahun 1945)
1.1.1. Dalam proses perumusan UUD NRI Tahun 1945 diajukan rancangan UUD yang kemudian dibahas dalam sidang BPUPKI. UUD NRI Tahun 1945 bukan sebuah peraturan yang tidak dapat diubah. Sesuai pasal 3 ayat (1) UUD NRI Tahun 1945, MPR berwenang menetapkan dan mengubah UUD NRI Tahun 1945.
1.1.2. Adapun dalam Pasal 37 UUD NRI Tahun 1945, disebutkan tata cara perubahan sebagai berikut.
1.1.2.1. Utsul perubahan pasal-pasal Undang-Undang Dasar dapat digendakan dalam sidang MPR jika diajukan oleh sekurang-kurangnya 1/3 dari jumlah anggota MPR
1.1.2.2. Setiap usul perubahan pasal-pasal Undang-Undang Dasar diajukan secara tertulis dan ditunjukkan dengan jelas bagian yang diusulkan untuk diubah beserta alasannya
1.1.2.3. Untuk mengubah pasal-pasal Undang-Undang Dasar, sidang MPR dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota MPR
1.1.2.4. Putusan untuk mengubah pasal-pasal Undang-Undang Dasar dilakukan dengan persetujuan sekurang-kurangnya lima puluh persen ditambah satu anggota dari seluruh anggota MPR
1.1.2.5. Khusus mengenai bentuk NKRI, tidak dapat dilakukan perubahan.
1.2. Ketetapan MPR
1.2.1. Penyusunan ketetapan MPR
1.2.1.1. Tingkat 1, yaitu pembahasan oleh Badan Pekerja MPR terhadap bahan-bahan yang masuk dan hasil dari pembahasan tersebut merupakan Rancangan Keputusan MPR sebagai bahan pokok pembiraan Tingkat 2
1.2.1.2. Tingkat 2, yaitu pembahasan oleh rapat paripurna MPR yang didahului oleh penjelasan pimpinan dan dilanjutkan dengan pandangan umum fraksi-fraksi
1.2.1.3. Tingkat 3, yaitu pembahasan oleh komisi/panitia ad hoc MPR terhadap semua hasil pembicaraan tingkat 1 dan 2. Hasil pembahasan tingkat 3 meripakan Rancangan Keputusan MPR
1.2.1.4. Tingkat 4, yaitu pengambilan keputusan oleh rapat paripurna MPR setelah mendenger laporan dari pimpinan komisi/panitia ad hoc MPR dan jika perlu dengan kata terakhir dari fraksi-fraksi
1.3. UU/Perpu
1.3.1. Rancangan undang-undang dapat berasal dari DPR atau presiden. Rancangan undang-undang tertentu juga dapat berasal dari DPD. Rancangan undang-undang yang berasal dari DPR, presiden, atau DPD harus disertai naskah akademik, kecuali bagi rancangan undang-undang mengenai:
1.3.1.1. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
1.3.1.2. Penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang menjadi undang-undang
1.3.1.3. Pencabutan undang-undang atau pencabutan peraturan pemerintah pengganti undang-undang
1.4. Peraturan Pemerintah
1.4.1. Tahapan Penyusunan peraturan pemerintah
1.4.1.1. Rancangan peraturan pemerintah berasal dari kementrian dan/atau lembaga pemerintah nonkementerian sesuai dengan bidang tugasnya
1.4.1.2. Pembentukan panitia antarkementerian dan/atau lembaga pemerintah bukan kementrian untuk menyusun rancangan penyusunan Peraturan Pemerintah
1.4.1.3. Menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum mengoordinasikan rancangan PP tersebut
1.4.1.4. Perencanaan penyusunan peraturan pemerintah kemudian ditetapkan dengan keputusan presiden
1.5. Peraturan Presiden
1.5.1. Pembentukan peraturan presiden tidak melibatkan DPR, tetapi melibatkan menteri
1.5.2. Proses penyusunan peraturan presiden berdasarkan pasal 55 UU Nomor 12 Tahun 2011
1.5.2.1. Pembentukan panitia antarkementerian dan/atau lembaga pemerintahan nonkementerian oleh pengusul
1.5.2.2. Pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi rancangan
1.5.2.3. Peraturan presiden dikoordinasikan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum
1.5.2.4. Pengesahan dan penetapan oleh presiden
1.6. Peraturan Daerah Provinsi
1.6.1. Rancangan perda provinsi dapat diusulkan oleh DPRD Provinsi atau gubernur
1.6.2. Proses penyusunan peraturan daerah provinsi berdasarkan UU Nomor 12 Tahun 2011
1.6.2.1. Apabila rancangan diusulkan oleh DPRD Provinsi maka proses penyusunan adalah sebagai berikut
1.6.2.1.1. DPRD Provinsi mengajukan rancangan perda kepada gubernur secara tertulis
1.6.2.1.2. DPRD Provinsi bersama gubernur membahas rancangan perda provinsi
1.6.2.1.3. Apabila rancangan perda memperoleh persetujuan bersama, maka disahkan oleh gubernur menjadi perda provinsi.
1.6.2.2. Apabila rancangan diusulkan gubernur maka proses penyusunan adalah sebagai berikut
1.6.2.2.1. Gubernur mengajukan rancangan perda kepada DPRD Provinsi secara tertulis
1.6.2.2.2. DPRD Provinsi bersama gubernur membahas rancangan perda provinsi
1.6.2.2.3. Apabila rancangan perda memperoleh persetujuan bersama, maka disahkan oleh gubernur menjadi perda provinsi
1.7. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota
1.7.1. Rancangan perda kabupaten/kota dapat diusulkan oleh DPRD Kabupaten/Kota atau bupati/walikota gubernur
1.7.2. Proses penyusunan peraturan daerah kabupaten/kota berdasarkan UU Nomor 12 Tahun 2011 sebagai berikut
1.7.2.1. Apabila rancangan diusulkan oleh DPRD Kabupaten/Kota maka proses penyusunan adalah sebagai berikut
1.7.2.1.1. DPRD Kabupaten/Kota mengajukan rancangan perda kepada bupati/walikota secara tertulis
1.7.2.1.2. DPRD Kabupaten/Kota bersama bupati/walikota membahas rancangan perda kabupaten/kota
1.7.2.1.3. Apabila rancangan perda memperoleh persetujuan bersama, maka disahkan oleh bupati/walikota menjadi Perda Kabupaten/Kota
1.7.2.2. Apabila rancangan diusulkan oleh bupati/walikota maka proses penyusunan sebagai berikut
1.7.2.2.1. Bupati/walikota mengajukan rancangan perda kepada DPRD Kabupaten/Kota secara tertulis
1.7.2.2.2. DPRD Kabupaten/Kota bersama bupati/walikota membahas rancangan perda kabupaten/kota
1.7.2.2.3. Apabila rancangan perda memperoleh persetujuan bersama maka disahkan oleh bupati walikota menjadi perda kabupaten/kota
2. Pengertian dan Asas
2.1. Aspek dalam proses pembentukan perundang-undangan
2.1.1. Aspek Materiil atau Subtansial: Adalah aspek berkaiten dengan isi dari suatu peraturan perundang-undangan.
2.1.2. Aspek Formal atau Prosedural: Adalah aspek yang berkaitan dengan kegiatan pembentukan peraturan perundang-undangan yang berlangsung di suatu negara.
2.2. Asas dalam proses pembentukan perundang-undangan
2.2.1. Asas Formil
2.2.1.1. Asas tujuan yang jelas.
2.2.1.2. Asas organ/lembaga yang tepat.
2.2.1.3. Asas perlunya pengaturan.
2.2.1.4. Asas dapat dilaksanakan
2.2.1.5. Asas konsensus.
2.2.2. Asas Materiil
2.2.2.1. Asas terminologi dan sistematika yang benar.
2.2.2.2. Asas dapat dikenali
2.2.2.3. Asas perlakuan yang sama dalam hukum.
2.2.2.4. Asas kepastian hukum
2.2.2.5. Asas pelaksanaan hukum sesuai dengan keadaan individual
2.2.2.6. Asas harus menghormati harapan yang wajar.
2.3. Materi muatan peraturan perundang-undangan
2.3.1. Pengayoman
2.3.2. Kemanusiaan
2.3.3. Kebangsaan
2.3.4. Kekeluargaan
2.3.5. Kenusantaraan
2.3.6. Bhinneka Tunggal Ika
2.3.7. Keadilan
2.3.8. Kesamaan Kedudukan dalam Hukum dan Pemerintahan
2.3.9. Ketertiban dan Kepastian hukum.
2.3.10. Keseimbangan, Keserasian, dan Keselarasan.
3. Rancangan Undang-Undang
3.1. Dari DPR
3.1.1. Diajukan oleh anggota DPR, komisi, gabungan komisi, atau alat kelengkapan DPR yang khusus menangani bidang legislasi atau DPD
3.1.2. Proses pembuatan apabila rancangan diusulkan oleh DPR
3.1.2.1. Rancangan undang-undang dari DPR disampaikan dengan surat pimpinan DPR kepada presiden.
3.1.2.2. Presiden menugasi menteri yang mewakili yntyj membahas rancangan undang-undang bersama DPR dalam jangka waktu paling lama 60 hari terhitung sejak surat pimpinan DPR diterima. Menteri yang ditugaskan kemudian mengoordinasikan persiapan pembahasan dengan menteri yang mennyelenggarakan urusan pemeirntah di bidang hukum.
3.1.2.3. Apabila rancangan undang-undang disetujui bersama DPR dan presiden, selanjutnya disahkan oleh presiden menjadi undang-undang.
3.2. Dari Presiden
3.2.1. Rancangan undang-undang yang diajukan oleh presiden disiapkan oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian sesuai dengan lingkup tugas dan tanggung jawabnya. Dalam pentusunan rancangan undang-undang, menteri atau pimpinan lembaga pemerintah nonkementerian terkait membentuk panitia antarkementrian dan/atau antarnonkemenerian.
3.2.2. Proses pembuatan undang-undang apabila rancangan diusulkan oleh presiden
3.2.2.1. Rancangan undang-undang dari presiden diajukan dengan surat presiden kepada pimpinan DPR. Surat presiden memuat penunjukan menteri yang ditugasi mewakili presiden dalam melakukan pembahasan rancangan undang-undang bersama DPR.
3.2.2.2. DPR mulai membahas rancangan undang-undang dalam jangka waktu paling lama 60 hari terhitung sejak surat Presiden diterima.
3.2.2.3. Apabila rancangan undang-undang disetujui bersama DPR dan presiden, selanjutnya disahkan oleh presiden menjadi undang-undang.
3.3. Dari DPD
3.3.1. Rancangan undang-undang dari DPD disampaikan secara tertulis oleh pimpinan DPD kepada pimpinan DPR dan harus disertai naskah akademik.
3.3.2. Proses pembuatan undang-undang apabila rancangan diusulkan oleh DPD adalah sebagai berikut
3.3.2.1. DPD mengajukan usul rancangan undang-undang kepada DPR secara tertulis.
3.3.2.2. DPR membahas rancangan undang-undang yang diusulkan oleh DPD melalui alat kelengkapan DPR.
3.3.2.3. DPR mengajukan rancangan undang-undang secara tertulis kepada presiden.
3.3.2.4. Presiden memberi tugas kepada menteri terkait untuk membahas rancangan undang-undang bersama DPR.
3.3.2.5. Apabila rancangan undang-undang disetujui bersama DPR dan presiden, selanjutnya disahkan oleh presiden menjadi undang-undang.
3.3.3. Rancangan undang-undang yang diajukan oleh DPD adalah rancangan undang-undang yang berkaitan dengan
3.3.3.1. Otonomi daerah
3.3.3.2. Hubungi pusat dan daerah
3.3.3.3. Pembentukan dan pemekaran serta penggabukan daerah
3.3.3.4. Pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya
3.3.3.5. Perimbangan keungan pusat dan daerah