Mengenal Ibnu Khaldun dan Beberapa pemikirannya sebagai Bapak sosiologi

登録は簡単!. 無料です
または 登録 あなたのEメールアドレスで登録
Mengenal Ibnu Khaldun dan Beberapa pemikirannya sebagai Bapak sosiologi により Mind Map: Mengenal  Ibnu Khaldun  dan Beberapa  pemikirannya sebagai  Bapak sosiologi

1. Pemikiran Ibnu Khaldun Sebagai bapak sosiologi

2. karena pemikiran-pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis telah dikemukakannya jauh sebelum Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo (1772-1823) mengemukakan teori-teori ekonominya. Tulisan-tulisan dan pemikiran Ibnu Khaldun terlahir karena studinya yang sangat dalam, pengamatan terhadap berbagai masyarakat yang dikenalnya dengan ilmu dan pengetahuan yang luas, serta ia hidup di tengah-tengah mereka dalam pengembaraannya yang luas pula.

3. Beberapa Pemikiran Ibnu Khaldun

3.1. 1.Al-Umrân; Membangun Paradigma Peradaban Masyarakat Ibnu Khaldun menyatakan bahwa ilmu ini merupakan kumpulan dari segala ilmu pengetahuan, termasuk di antaranya ilmu sosiologi.Al-Umrân mempunyai makna luas, meliputi seluruh aspek aktifitas kemanusiaan,di antaranya frame geografi peradaban, perekonomian, sosial, politik, dan ilmu pengetahuanMaksud dari al-umrân dalam kerangka pemikiran Ibnu Khaldun adalah ilmu metodologi umum yang membahas tentang dasar-dasar peradaban, dan dengannya, tercapai puncak peradaban bumi. Secara natural, menurut Ibn Khaldun, manusia membutuhkan interaksi dalam menumbuhkan peradaban, karena menurutnya manusia secara tabiat adalah makhluk sosial. Oleh karena itu, manusia harus berkumpul, karena hal ini merupakan karakteristik kesosialannya.

3.2. 2.Tradisi Hermeneutika dalam Pemikiran Ibnu Khaldun Dalam wacana hermeneutika, sebuah tradisi akan mati, kering dan mandeg jika tidak dihidupkan secara terus-menerus melalui penafsiran ulang sejalan dengan dinamika sosial. Sebagai seorang sosiolog yang juga pemerhati sejarah, Ibnu Khaldun menganjurkan untuk memahami sejarah, sebagai substansi dan kondisi pelaku sejarah tersebut. Hermeneutika terdiri dari tiga elemen pokok, yaitu: pengarang, teks dan pembaca. Ketiganya mempunyai dunia tersendiri, sehingga harus terjalin hubungan yang dinamis, dialogis dan terbuka. Ada interaksi yang saling terkait antara ketiganya. Di satu sisi seorang pembaca ketika berhadapan dengan teks, hasil yang ia peroleh tergantung pada keberaniannya mengenali arti dan muatan teks. Sedangkan di sisi lain, pembaca dituntut untuk mengenali lebih jauh terhadap pribadi pengarang sehingga mampu menangkap aspirasi yang ada dalam nurani pengarang secara keseluruhan. Sering pembaca menarik benang merah yang tidak sesuai dengan pesan pengarang, karena kurang memahami maksud pengarang.

3.3. 3.Peletak Dasar Sosiologi Ibnu Khaldun bukan hanya seorang filosuf, melainkan juga sosiolog, politikus dan ahli sejarah. Sosiologi menurutnya merupakan sarana untuk memahami sejarah dan kondisi sosial Dalam konteks sosiologi, Ibnu Khaldun membagi masyarakat menjadi dua tingkatan: pertama, masyarakat primitif (wahsy), dimana mereka belum mengenal peradaban, hidup berpindah-pindah dan hidup secara liar. Kedua, masyarakat pedesaan, hidup menetap walaupun masih sederhana. Mata pencaharian mereka dari pertanian dan peternakan. Kondisi di atas, menurut Ibnu Khaldun semakin lama mengalami pergeseran, dengan bergantinya waktu. Struktur masyarakat Arab juga mengalami perubahan berdasarkan perubahan orientasi dan sosiologi,

4. Lelaki yang lahir di Tunisia pada 1 Ramadan 732 H/27 Mei 1332 M ini dikenal sebagai sejarawan dan bapak sosiologi Islam yang hafal Al-Qur'an sejak usia dini. Abdurahman bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin bin Abdurahman bin Ibnu Khaldun, yang dikenal sebagai "Ibnu Khaldun", berasal dari keluarga Andalusia kelas atas keturunan Arab. Leluhur keluarga tersebut memiliki hubungan kekerabatan dengan Waíl ibn Hujr, seorang teman Nabi Muhammad. 

5. Ibnu Khaldun bukan hanya seorang filsuf, melainkan juga sosiolog, politikus dan ahli sejarah. Sosiologi menurutnya merupakan sarana untuk memahami sejarah dan kondisi sosial masyarakat pada suatu generasi, proses perubahan dalam suatu masyarakat, faktor dan pengaruhnya dalam peta peradaban suatu bangsa

6. Dalam otobiografinya, Ibnu Khaldun menelusuri keturunannya hingga masa Nabi Muhammad melalui suku Arab dari Yaman, khususnya Hadramaut yang datang ke Semenanjung Iberia pada abad ke-8 pada awal penaklukan Islam. Dengan kata-katanya sendiri: "Dan keturunan kita berasal dari Hadramaut, dari orang-orang Arab Yaman, melalui Wa'il ibn Hujr yang juga dikenal sebagai Hujr bin Adi, dari orang-orang Arab terbaik, terkenal dan dihormati."