1. Respon Kuantal
1.1. Contoh 1
1.1.1. Judul: Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun SIrih Merah (Piper crotacum) Dosis Bertingkat Terhadap Proliferasi Limfosit Limpa Mencit BALB/C yang Diinfeksi Salmonella typhimurium
1.1.2. Metode: Post test only control group design dengan Sampel merupakan mencit Balb/c jantan yang berumur 8-12 minggu, berat 20-25 gram, dan tidak terdapat kecacatan anatomis.
1.1.3. Variabel: kelompok kontrol K1 (ekstrak daun Piper crocatum 10 mg/hari/mencit) dan K2 (diinfeksikan Salmonella Typhimurium dengan injeksi intraperitoneal), serta kelompok perlakuan (P1, P2, P3) yang diinfeksikan Salmonella Typhimurium dan diberi ekstrak daun Piper crocatumdosis bertingkat (10, 30, 100 mg/mencit/hari).
1.1.4. Hubungan dosis respon: dosis optimal pemberian ekstrak daun Piper crocatum = 30 mg/mencit/hari secara per oral. Hubungan dosis-respon menunjukkan hubungan kuantal karena penelitian difokuskan untuk melihat adanya respon dari mencit dan respon optimal ada pada dosis 30 mg/mencit/hari.
1.1.5. Christobed, A., Purnawati, R. D. dan Susilaningsih, N. 2017. Pengaruh Pemberian Ekstrak daun sirih merah (Piper crocatum) dosis bertingkat terhadap proliferasi limfosit limpa mencit balb/c yang diinfeksi Salmonella typhimurium. Jurnal Kedokteran Dipenogoro 6(2): 337-346.
1.2. melihat ada atau tidaknya efek obat pada suatu populasi
1.3. variasi dosis ditentukan untuk mencapai suatu efek tertentu
1.4. kurva menbentuk distribusi Gaussian atau bell curve dan persentase kumulatif peningkatan dosis membentuk kurva sigmoid
1.5. Contoh 2
1.5.1. Judul: Pengaruh Pemberian Akut Jus Wortel (Daucus carota L.) pada Tikus Jantan Wistar: Kajian terhadap Organ Hati dan Aktivitas Alanin Aminotransferase
1.5.2. Variabel bebas: dosis jus wortel (Daucus carota L.)
1.5.3. Variabel terikat: toksisitas akut jus wortel yang ditunjukkan jumlah kematian hewan uji dan histopatologi organ hati
1.5.4. Hubungan dosis respon: respon dalam uji berupa kematian hewan uji pada dosis yang dapat menyebabkan kematian, jika dosis dinaikkan dan diturunkan maka jumlah hewan uji yang mati akan berubah sehingga termasuk dalam respon kuantal (ada kematian/ tidak)
1.5.5. Kesimpulan: LD50 yang diperoleh bersifat semu karena tidak ada hewan uji yang mati pada dosis maksimal yang diberikan, yang terjadi adalah kerusakan organ hati
1.5.6. Novianti. 2009. Pengaruh Pemberian Akut Jus Wortel (Daucus carota L.) pada Tikus Jantan Wistar: Kajian terhadap Organ Hati dan Aktivitas Alanin Aminotransferase. Skripsi-S1. Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
2. Hubungan Dosis Respon
2.1. distribusi frekuensi dari respon individu terhadap dosis obat tertentu
2.2. membentuk kurva sigmoid = kurva dosis-persen responder
2.3. dibedakan menjadi: bertingkat dan kuantitatif
3. Respon Gradual
3.1. Contoh 1
3.1.1. Judul: Pengaruh Formalin Peroral Dosis Bertingkat Selama 12 Minggu terhadap Gambaran Histologis Esofagus Tikus Wistar
3.1.2. Metode: simple random sampling
3.1.3. Variabel bebas: Formalin peroral dosis 0 ml/hari (kontrol); 1/16 dosis lethal (0,019-0,025 ml/hari), 1/8 dosis lethal (0,038-0,050 ml/hari) dan 1/4 dosis lethal (0,075-0,100 ml/hari)
3.1.4. Variabel terikat: kerusakan mukosa esofagus secara mikroskopik
3.1.5. Hubungan kurva dosis respon: semakin tinggi dosis maka efek toksik pada esofagus akan semakin besar sehingga dapat disimpulkan bahwa dosis dan respon linear dan membentuk kurva gradual atau bertingkat
3.1.6. Sari, N. D., Suharto, G. Margawati, A. 2012. Pengaruh formalin peroral dosis bertingkat selama 12 minggu terhadap gambaran histopatologis esofagus tikus Wistar. Skripsi-S1. Fakultas Kedokteran Universitas Dipenogoro, Semarang.
3.2. menggambarkan persentase respon maksimal dengan konsentrasi dosis berskala logaritmik
3.3. dosis dan obat meningkat secara linear
3.4. parameter kurva: potensi (EC50), slope, dosis maksimum (Emax) dan dosis minimum (Threshold dose)
3.5. Contoh 2
3.5.1. Judul: Uji efek antihipertensi fraksi etil-asetat ekstrak etanol biji alpukat (Persea americana Mill.) pada tikus hipertensi yang diinduksi monosodium glutamat (MSG)
3.5.2. Variabel bebas: Fraksi etil-asetat ekstrak etanol biji alpukat dengan dosis 120, 240 dan 480 mg/kgBB/hari Variabel terikat: efek antihipertensi pada tikus hipertensi yang diinduksi monosodium glutamat (MSG)
3.5.3. Hubungan kurva dosis respon: Bila konsentrasi obat yang terikat pada reseptor meningkat, maka akan terjadi peningkatan efek farmakologi sampai efek maksimal. Kurva dosis-efek dapat digambarkan sebagai kurva log-dosis efek yang sigmoid
3.5.4. Diah, A. A. 2018. Uji efek antihipertensi fraksi etil-asetat ekstrak etanol biji alpukat (Persea americana Mill.) pada tikus hipertensi yang diinduksi monosodium glutamat (MSG). Fakultas Kedokteran Universitas Wahid Hasyim, Semarang.