KURIKULUM PENDIDIKAN DI INDONESIA

Iniziamo. È gratuito!
o registrati con il tuo indirizzo email
KURIKULUM PENDIDIKAN DI INDONESIA da Mind Map: KURIKULUM PENDIDIKAN DI INDONESIA

1. Kurikulum 1947

1.1. Contoh dari Kurikulum 1947

1.1.1. Merupakan kurikulum pertama setelah kemerdekaan. Kurikulum ini lebih dikenal dengan sebutan Rencana Pelajaran 1947. Kurikulum ini disusun dengan menerapkan asas Pancasila. Kurikulum ini diterapkan pada tahun 1950.

1.1.1.1. Contoh dalam penyelenggaraan pendidikan perlu memperhatikan bahwa “ belajar” pada anak dengan melakukan permainan-permainan. Oleh karena itu, tidak mungkin disediakan daftar mainan yang sama yang dapat digunakan anak untuk setiap minggunya. Setiap anak juga membutuhkan jenis permainan yang berbeda. Oleh karena itu, para guru atau pendidik perlu mempersiapkan terlebih dahulu suatu perencanaan yang dapat dipertanggung jawabkan terutama dalam hal pemilihan permainan-permainan tersebut, penyusunan rencana tersebut harus didasarkan pada hasil observasi, organisasi, dan penyesuaian pada hal-hal yang kita amati.

1.1.1.1.1. Ciri-ciri Yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD. Kurikulum 1964 yang menitikberatkan pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral, yang kemudian dikenal dengan istilah Pancawardhana. Disebut Pancawardhana karena lima kelompok bidang studi, yaitu kelompok perkembangan moral, kecerdasan, emosional/artisitik, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah. Pada saat itu pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis, yang disesuaikan dengan perkembangan anak.

1.1.2. Ciri-ciri Kurikulum 1950/Rencana Pembelajaran 1947

1.1.2.1. 1. Kurikulum pertama setelah kemerdekaan

1.1.2.2. 2. Dikenal sebagai leer plane atau rencana pembelajaran

1.1.2.3. 3. Bermuatan politis untuk menghilangkan pengaruh Belanda pada pendidikan Indonesia

1.1.2.4. 4. Kurikulum ini baru diterapkan tahun 1950

1.1.2.5. 6. Memprioritaskan pendidikan watak, kesadaran berbangsa dan bernegara

1.1.2.6. 7. Disusun dengan menerapkan asas Pancasila

1.1.3. Kelebihan Kurikulum 1947 1) Mengunggulkan pendidikan yang berkonsep pada kesadaran sebagai bangsa yang berdaulat, dan mengedepankan pendidikan sebagai salah satu faktor yang penting dalam berdirinya negara Indonesia melalui persatuan dan kesatuan dalam rangka mengusir penjajah. 2) Memiliki fungsi strategis dalam mempersatukan bangsa Indonesia. 3) Mengadopsi kurikulum yang telah berlaku sebelumnya di masa penjajahan sehingga lebih mudah dalam penyusunan kurikulum 1947.

1.1.4. Kelemahan 1. Mengarah pada pola pendidikan penjajahan karena kurikulum 1947 diadopsi dari kurikulum kolonial. 2. Lebih dominan pada ranah efektif dan belum berorientasi pada ranah kognitif dan psikomotor. 3. Belum diterapkan disekolah sekolah hingga tahun 1950 sehingga mengalami keterlambatan untuk mencapai hasil yang telah ditentukan.

2. Nama kelompok 3 :

2.1. 1. Alwi Imanuel Barus_239 2. Jelita Ayunda Fitria_186 3. Bernadeta Mutiara w_022 4. Sebastiana Bei_052 5. Vania Selly E.W_079 6. Dora Sitaresmi_142 7. Nurasiska_252

3. kurikulum 1952

3.1. Kurikulum ini dapat dikatkan sebagai cikal bakal sistem pendidikan Indonesia.

3.1.1. KELEBIHAN KURIKULUM 1952 1. Kurikulum 1952 telah mengarah pada sistem pendidikan nasional, walaupun belum merata pada seluruh wilayah di Indonesia, namun dapat mencerminkan suatu pemahaman dan cita-cita para praktisi pendidikan akan pentingnya pemerataan pendidikan bagi seluruh bangsa Indonesia. 2. Pada Kurikulum 1952, materi pelajaran sudah berorientasi pada kebutuhan hidup para siswa, sehingga hasil pembelajaran dapat berguna ketika ditengah masyarakat. 3. Karena setiap guru mengajar satu mata pelajaran, maka memiliki keuntungan untuk lebih menguasai bidang pengajarannya dengan lebih baik, dari pada mengajar berbagai mata pelajaran.

3.1.1.1. KELEMAHAN KURIKULUM 1952 1. Karena kurikulum 1952 baru mengarah pada sistem pendidikan nasional, maka belum mampu menjangkau seluruh wilayah Indonesia. 2. Materi pelajaran belum orientasi masa depan, karena yang diajarkan berorientasi kebutuhan untuk hidup dimasyarakat saat itu, dengan demikian belum memiliki visi kebutuhan dimasa mendatang. 3. Kurang membangkitkan kreatifitas dan inovasi guru, karena setiap mata pelajaran sudah terinci dalam rencana pelajaran terurai, hal ini mempersempit kreatifitas dan inovasi guru baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun menentukan sumber materi pelajaran.

3.2. KARAKTERISTIK KURIKULUM 1952 : 1.Setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari 2. dibentuklah kelas masyarakat yaitu sekolahnya khusus bagi yang tidak dapat melanjutkan ke jenjang SMP.

4. kurikulum 1964

4.1. Kurikulum 1964 adalah alat untuk membentuk manusia pancasialis yang sosialis Indonesia, dengan sifat-sifat seperti pada ketetapan MPRS No II tahun 1960

4.2. Memprioritaskan pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat, oleh karena itu muatan pelajaran selalu berhubugan dengan peristiwa keseharian, pengetahuan tentang kesenian, dan pendidikan jasmani.

4.3. Manfaat Manfaat pembelajaran ini mewajibkan sekolah membimbing anak agar mampu memikirkan sendiri pemecahan persoalan (problem solving).manfaat pendidikan pada kurikulum tahun 1964 ini adalah untuk menanamkan rasa tanggung jawab terhadap tujuan-tujuan yang telah tercapai, bagi anak usia dini diarahkan dan dibentuk sifat-sifatnya menjadi manusia sosialis Indonesia, dimana kesiapan mental, pemupukan budi pekerti yang luhur perlu dibentuk dalam kehidupan anak sehari-hari.

4.4. Prinsip Prinsip-prinsip menyangkut hampir seluruh aspek kepribadian manusia. Mendidik bukan hanya untuk melatih jasmaninya saja tetapi juga melatih kesanggupan berpikir, memperluas pengalaman dan melatih kemauan, memelihara perasaan dan memperkembangkan serta membentuk watak anak, dengan kata lain membentuk pribadi anak sebulat-bulatnya.

5. Kurikulum 1968

5.1. Kelebihan Pendidikan diarahkan pada mempertinggi kecerdasaan dan keterampilan, serta mengembembangkan fisik yang kuat dan sehat.

5.1.1. kurikulum tahun 1968 adalah kurikulum pembaharuan dari kurikulum 1964.

5.2. Kelemahan 1. Hanya memuat mata pelajaran pokok saja. 2. Tidak mengaitkan materi dengan permasalahan faktual di lapangan.

5.2.1. Manfaat Untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, mempertinggi kecerdasan, moral dan keyakinan agama.

5.2.1.1. ciri-ciri 1. Perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksaanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. 2. jumlah matapelajaran SD 10 bidang studi SMP 18 Bidang studi (Bahasa Indonesia dibekan menjadi Bahasa Indonesia I dan II, Sma 18 bidang studi.

5.2.1.1.1. Contoh : Penerapan metode pembekajaran ini adalah metode eja ketika pebelajaran membaca. Begitu juga pada pembelajaran yang lain."anak belajar melalui unsur-unsur dulu".

6. Kurikulum 1975

6.1. Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan efektif.

6.2. Prinsip - Prinsip Kurikulum 1975 : Fleksibilitas program, Efisiensi dan efektivitas, Kontinuitas, Berorientasi pada tujuan, Pendidikan seumur hidup.

6.3. Kelemahan kurikulum 1975‎ ‎1). Terdapat ketidakserasian antara materi kurikulum berbagai bidang studi dengan ‎kemampuan anak didik ‎2). Terdapat kesenjangan antara program kurikulum dan pelaksanaannya di sekolah. ‎3). Terlalu padatnya isi kurikulum yang harus diajarkan hampir di setiap jenjang.‎ ‎4).Guru dibuat sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran.‎ ‎5). Pada kurikulum ini menekankan pada pencapaian tujuan pendidikan secara sentralistik, ‎sehingga kurang memberi peluang untuk berkembangnya potensi daerah.‎ ‎6). Metode-metode ceramah dan metode dikte menonjol ‎digunakan oleh para guru ‎7). Kreativitas murid kurang berkembang

6.4. Kelebihan kurikulum 1975‎ ‎1). Berorientasi pada tujuan.‎ ‎2) .Mengarah pembentukan tingkah laku siswa.‎ ‎3). Relevans dengan kebutuhan masyarakat.‎ ‎4). Menggunakan pendekatan psikolog.‎ ‎5). Menekankan efektivitas dan efisiensi.‎ ‎6). Menekankan fleksibilitas yaitu mempertimbangkan faktor- faktor ekosistem dan ‎kemampuan penyediaan fasilitas yang menunjang terlaksananya program.‎ ‎7). Prinsip berkesinambungan.‎

6.4.1. Selama dilaksanakannya kurikulum 1994 muncul beberapa permasalahan, terutama sebagai akibat dari kecenderungan kepada pendekatan penguasaan materi (content oriented), di antaranya sebagai berikut : 1) Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/substansi setiap mata pelajaran 2) Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang relevan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, dan kurang bermakna karena kurang terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-hari. Permasalahan di atas terasa saat berlangsungnya pelaksanaan kurikulum 1994. Hal ini mendorong para pembuat kebijakan untuk menyempurnakan kurikulum tersebut. Salah satu upaya penyempurnaan itu diberlakukannya Suplemen Kurikulum 1999.

6.4.1.1. Penyempurnaan Kurikulum 1999 adalah sebagai berikut; 1. Tujuan; • Meningkatkan mutu pendidikan : siswa mampu menguasai materi yang diberikan, bahan ajar berdasarkan TIU (Tujuan Institusional Umum) TIK (Tujuan Institusional Khusus) • Menyiapkan siswa melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi • mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan dan di dunia yang selalu berkembang melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, efektif, dan efisien. 2. Materi Pembelajaran aspek normatif dan adaptif ditekankan agar tidak lagi menggunakan metode dan teknik pembelajaran konvensional 3. Proses pembelajaran Pembelajaran aspek normatif dan adaptif ditekankan agar tidak lagi menggunakan metode dan teknik pembelajaran konvensional 4. Cara penilaian • Cara penilaian di fokuskan pada aspek kognitif, pemahaman siswa tentang materi. Penyusunan bahan penilaian didasarkan pada tujuan perkelas dan persemester • Di akhir tingkat suatu jenjang pendidikan siswa diwajibkan mengikuti ujian EBTANAS. EBTANAS sifatnya wajib diikuti oleh seluruh siswa untuk dapat dinyatakan lulus dari SD,SMP atau SMA/SMK.

6.5. Contoh : Seorang murid selain belajar tentang moral 5 dasar Pancasila tidak hanya dipelajari dalam proses pembelajaran namun dapat diterapkan di kehidupan sehari-hari.

6.6. Tujuannya agar siswa mampu mengembangkan pikiran dan memecahkan problem belajar dan kehidupan. Siswa dipersiapkan agar dapat melanjutkan pendidikan selanjutnya atau mereka dapat bekerja setelah lulus sekolah.

7. Ciri - ciri Kurikulum 1975 : Menganut pendekatan yang berorientasi pada tujuan, Menganut pendekatan yang integratif, Kurikulum 1975 menekankan pada efisiensi dan efektivitas pengguna dana, daya dan ‎waktu yang tersedia, Mengharuskan guru untuk menggunakan teknik (PPSI), Sistem Evaluasi diakukan penialain murid-murid pada setiap akhir satuan pembelajaran ‎terkecil dan memperhitungkan nilai-nilai yang dicapai murid-murid pada setiap akhir satuan ‎pembelajaran.

8. Tujuan Kurilulum 1984 meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan dan keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air, agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa

9. Kurikulum 1984

9.1. kurikulum 1994 dan 1999

9.1.1. Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan dilaksanakan sesuai dengan undang-undang no. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran, yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan. Dengan sistem caturwulan yang pembagiannya dalam satu tahun menjadi tiga tahap diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi pelajaran cukup banyak.

9.1.1.1. 2

9.1.1.1.1. Karakteristik Kurikulum 1994; 1) Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem caturwulan. 2) Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi). 3) Bersifat populis, yaitu yang memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. 4) Menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial. 5) Disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa, 6) Pengajaran dari hal yang konkrit ke hal yang abstrak, dari hal yang mudah ke hal yang sulit, dan dari hal yang sederhana ke hal yang komplek 7) Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit 3. Kelemahan dan Kelebihan Kurikilum 1994

9.1.2. Kelebihan kurikulum 1984 1. Kurikulum ini memuat materi dan metode yang disebut secara rinci. 2. Prakarsa siswa dapat lebih dalam kegiatan belajar yang ditunjukkan melalui keberanian memberikan pendapat 3. Keterlibatan siswa di dalam kegiatan-kegiatan belajar yang telah berlangsung yang ditunjukkan dengan peningkatan diri dalam melaksanakan tugas. 4. Anak dapat belajar dar ipengalaman langsung. 5. Kualitas interaksi antara siswa sangat tinggi, baik intelektual maupun sosial. 6.Memasyarakatkan keterampilan berdiskusi yang diperlukan dengan berpartisipasi secara aktif

9.2. Kurikulum 1984 adalah Kurikulum yang disebut juga sebagai “Kurikulum 1975 yang disempurnakan”.

9.3. Kelemahan kurikulum 1984 1. Banyak sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA. 2. Adanya ketergantungan pada guru dan siswa pada materi dalam suatu buku . 3. Dapat didominasi oleh seorang atau sejumlah siswa sehingga dia menolak pendapat peserta lain. 4. Siswa yang pandai akan bertambah pandai sedangkan yang bodoh akan ketinggalan. 5. Peranan guru yang lebih banyak sebagai fasilitator. 6. Diperlukan waktu yang banyak dalam pembelajaran menyebabkan materi pelajaran tidak dapat tuntas dikuasai siswa. 7. Guru kurang berperan aktif

9.4. Ciri-ciri 1. Berorientasi pada tujuan instruksional 2. Pendekatan pembelajaran adalah berpusat pada anak didik; Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) 3. Pelaksanaan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) 4. Materi pelajaran menggunakan pendekatan spiral, semakin tinggi tingkat kelas semakin banyak materi pelajaran yang di bebankan pada peserta didik 5.Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan

9.5. Prinsip efisiensi dan efektivitas, relevansi dengan kebutuhan, keluwesan dan pendidikan seumur hidup

9.6. Contoh : Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Learning (SAL) yaitu siswa siswa ditempatkan sebagai subjek belajar dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan.

10. kurikulum 2004

10.1. Kurikulum 2004 atau biasa disebut dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). KBK merupakan salah satu bentuk inovasi kurikulum karena adanya semangat reformasi pendidikan. Hal ini diawali dengan kebijakan pemerintah dalam pemerintahan daerah atau dikenal dengan otonomi daerah Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999.

10.2. KEKURANGAN DAN KELEBIHAN Kelebihan Kurikulum 2004 - Dalam pembelajaran adanya komunikasi dua arah antara guru dan siswa. - Pembelajaran berpusat pada siswa. - Penggunaan pendekatan dan metode yang bervariasi. - Sumber belajar yang bervariasi. Kekurangan Kurikulum 2004 - Kurangnya sumber manusia yang potensial dalam menjabarkan KBK dengan kata lain masih rendahnya kualitas sorang guru, karena dalam KBK seorang guru dituntut untuk lebih kreatif dalam menjalankan pendidikan.

10.3. MANFAAT Pengembangan Proses Pembelajaran Belajar yang dinginkan KBK, bukan menumpuk ilmu pengetahuan tetapi proses perubahan perilaku melalui pengalaman belajar dan diharapkan terjadi pengembangan berbagai aspek pada setiap peserta didik. Pengembangan Evaluasi Kriteria keberhasilan belajar siswa meliputi : aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Aspek kognitif berhubungan dengan kemampuan kecerdasan dan intelektual siswa.

10.4. CONTOH Kegiatan pembelajaran dalam KBK diarahkan untuk menggali dan megembangkan potensi yang dimiliki peserta didik. Proses pembelajaran berorientasi pada siswa sebagai subjek pembelajaran. Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merancang pembelajaran. Rancangan kegiatan pembelajaran harus memberikan kesempatan pada siswa untuk mencari, mengolah, dan menemukan sendiri pengetahuannya. Kegiatan pembelajaran dirancang agar siswa dapat mengembangkan keterampilan dasar mata pelajaran yang bersangkutan.

10.5. PRINSIP Pengetahuan (knowledge), yaitu pengetahuan untuk melakukan proses berpikir Pemahaman (understanding), yaitu kedalaman kognitif dan afektif yang dimiliki individu Keterampilan (skill), yaitu sesuatu yang dimiliki individu untuk melakukan tugas yang dibebankan Nilai (value), yaitu dasar standar perilaku yang telah diyakini sehingga akan mewarnai dalam segala tindakan Sikap (attitude), yaitu perasaan atau reaksi terhadap suatu rangsang yang datang dari luar, perasaan senang tidak senang terhadap suatu masalah Minat (interest), yaitu kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu tindakan atau perbuatan untuk mempelajari materi pelajaran.

11. kurikulum 2006

11.1. KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN

11.2. KTSP

11.3. Pengertian:

11.3.1. SI: Standar Isi SKL: Standard Kompetensi Lulusan

11.4. kurikulum yang disusun dan dikembangkan oleh masing-masing satuan pendidikan dengan mengacu pada SI dan SKL.

11.5. Latar belakang:

11.5.1. Kurikulum yang sebelumnya belum menyentuh permasalah dan kenyataan pendidikan di sekolah ataupun masyarakat.

11.6. Ciri Khusus:

11.6.1. Penyusunan dan pengembangan kurikuluk KTSP harus mengacu pada Standar Nasional Pendidikan, yaitu:

11.6.1.1. - Standar Isi - Standar Proses - Standar Kompetensi Lulusan - Standar Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan - Standar Sarana dan Prasarana - Standar Pengelolaan - Standar Pembiayaan - Standar Penilaian Pendidikan

11.7. Komponen Kurikulum:

11.7.1. - Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan - Struktur dan Muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan - Kalender Pendidikan

11.8. KTSP: Tujuan dan Harapan:

11.8.1. Mewujudkan kurikulum yang sesuai dengan karakteristik dan potensi daerah yang mengacu pada tujuan pendidikan nasional.

11.9. Tahap pemberlakuan KTSP:

11.9.1. - dapat diterapkan mulai tahun 2006/2007 - kurikulum ini harus sudah dilaksanakan paling lambat tahun 2009/2010

11.10. Landasan Yuridis:

11.10.1. Amanah UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional