Pendidikan sebagai belajar seumur hidup

Laten we beginnen. Het is Gratis
of registreren met je e-mailadres
Pendidikan sebagai belajar seumur hidup Door Mind Map: Pendidikan sebagai belajar seumur hidup

1. Implikasi Konsep Pendidikan Sepanjang Hayat

1.1. Pendidikan Baca Tulis Fungsional

1.2. Pendidikan Vokasional

1.3. Pendidikan Profesional

1.4. Pendidikan ke Arah Pembangunan dan Perubahan

1.5. Pendidikan Kewarganegaraan dan Kedewasaan Politik

2. Indikator Mutu Program Pendidikan Sepanjang Hayat

2.1. Pendekatan Pendidikan Sepanjang Hayat tersebut merupakan strategi kebijakan untuk pembangunan kewarganegaraan, kohesi sosial, ketenagakerjaan, dan pemenuhan kebutuhan pribadi.

2.1.1. Indikator Mutu Program Pendidikan Sepanjang Hayat

2.1.1.1. Berkembangnya kemitraan antara semua faktor, baikyang ada dalam lingkungan pendidikan formal, informal, dan nonformal agar bekerja sama dalam melaksanakan program di lapangan

2.1.1.2. Kegiatan difokuskan pada kebutuhan peserta belajar dan peserta belajar potensial, sejalan dengan kebutuhan pribadi, lembaga, masyarakat, dan pasar kerja.

2.1.1.3. Adanya jaminan ketersediaaan sumber belajar disertai pembiayaan yang memadai.

2.1.1.4. Tersedianya akses untuk untuk belajar apa saja,dari siapa saja, di mana saja, kapan saja, sesuai dengan kaidah moral dan hukum yang ada.

2.1.1.5. Adanya penghargaan yang berimbang kepada hasil pendidikan formal, informal dan nonformal.

2.1.1.6. Terciptanya budaya belajar pada semua jenjang,jalur, dan jenis pendidikan.

2.1.1.7. Adanya mekanisme penjaminan mutu melalui evaluasi dan monitoring secara berkelanjutan.

2.1.2. Indikator Pendidikan Sepanjang Hayat Pada Suatu Masyarakat

2.1.2.1. Pendidikan yang luas.

2.1.2.2. Masyarakat Belajar (Learning Society).

2.1.2.3. Pengembangan dan peningkatan kualitas masyarakat, standar kehidupan.

2.1.2.4. Masyarakat tercermin dalam kualitasnya yang terus meningkat.

3. Tujuan dan Strategi Pendidikan Sepanjang Hayat

3.1. Tujuan pendidikan manusia seutuhnya dan dilaksanakan seumur hidup adalah untuk mengembangkan potensi kepribadian manusia sesuai dengan kodrat dan hakekatnya, dan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian manusia bersifat hidup dan dinamis serta untuk mempertahankan dan meningkatkan mutu kehidupan.

3.1.1. Tinjauan Ideologis

3.1.2. Tinjauan ekonomis

3.1.3. Tinjauan sosiologis

3.1.4. Tinjauan Politis

3.1.5. Tinjauan Teknologis

3.1.6. Tinjauan filosofis

3.1.7. Tinjauan Psikologis

3.1.8. Paedagogis

4. Karakteristik pendidikan sepanjang hayat

4.1. konsep yang menekankan bahwa pendidikan bukan hanya terbatas pada masa sekolah atau perguruan tinggi, tetapi harus terjadi sepanjang hidup.

4.1.1. a. Hidup, seumur hidup, dan pendidikan merupakan tiga istilah pokok yang menentukan lingkup dan makna pendidikan sepanjang hayat.

4.1.2. b. Pendidikan tidaklah selesai setelah berakhirnya masa sekolah, tetapi merupakan sebuah proses yang berlangsung sepanjang hidup

4.1.3. c. Pendidikan sepanjang hayat tidak diartikan sebagai pendidikan orang dewasa, tetapi mencakup dan memadukan semua tahap pendidikan baik itu pendidikan dasar, menengah, dan sebagainya.

4.1.4. d. Pendidikan sepanjang hayat mencakup pola-pola pendidikan formal maupun polapola pendidikan non formal, baik kegiatan-kegiatan belajar terencana maupun kegiatankegiatan belajar insidental.

4.1.5. e. Rumah/keluarga memainkan peran pertama, peranan yang paling halus dan sangat penting dalam memulai proses belajar seumur hidup.

4.1.6. f. Masyarakat juga memainkan peranan penting dalam sistem pendidikan sepanjang hayat. Mulai sejak anak-anak mulai berinteraksi dengan masyarakat, dan terus berlanjut fungsi edukatifnya dalam keseluruhan hidup, baik dalam bidang professional maupun umum.

4.1.7. g. Lembaga-lembaga seperti sekolah, universitas, dan pusat latihan tentu memiliki peranan yang penting, tetapi itu hanya sebuah bentuk dari pendidikan sepanjang hayat.

4.1.8. h. Pendidikan seumur hidup menghendaki keberlanjutan atau kebersambungannya dimensidimensi vertikal atau longitudinal pendidikan.

4.1.9. i. Pendidikan seumur hidup juga menghendaki pendidikan dari setiap tahap hidup sehingga menjadikannya bersifat sebagai pendidikan yang universal tidak bersifat elitis.

4.1.10. j. Pendidikan sepanjang hayat memiliki dua komponen besar, yaitu pendidikan profesional dan pendidikan umum. Kedua komponen tersebut tidaklah dapat dipisahkan antara satu dan yang lainnya, karena saling berhubungan dan dengan sendirinya bersifat interaktif.

4.1.11. k. Pendidikan seumur hidup mengandung fungsi-fungsi adaptif dan inovatif dari individu dan masyarakat.

4.1.12. l. Tujuan akhir pendidikan seumur hidup adalah untuk mempertahankan dan meningkatkan mutu hidup.

4.1.13. m. Ada tiga syarat utama bagi pendidikan seumur hidup, yaitu kesempatan, motivasi dan edukabilitas.

4.1.14. n. Pendidikan seumur hidup membolehkan adanya pola-pola dan bentuk-bentuk alternatif dalam memperoleh pendidikan.

4.1.15. o. Pada tingkat operasional, pendidikan seumur hidup membentuk sebuah system keseluruhan dari semua pendidikan.

5. Pengertian Pendidikan Sepanjang Hayat

5.1. Sebuah system konsep-konsep pendidikan yang menerangkan keseluruhan peristiwa-peristiwa kegiatan belajar mengajar yang berlangsung dalam keseluruhan kehidupan manusia

5.2. Sebuah konsep pendidikan yang menerangkan tentang keseluruhan peristiwa kegiatan belajar mengajar dalam proses pembinaan kepribadian yang berlangsung secara kontinyu dalam keseluruhan hidup manusia.

5.2.1. Dilihat secara antropologis, yang mendorong pendidikan sepanjang hayat adalah atas dasar bahwa anak dan orang dewasa memiliki perbedaan yang nyata. Baik pada masa anak maupun masa dewasa diperlukan upaya penyesuaian diri untuk merespon lingkungan, sehingga manusia membutuhkan pendidikan sepanjang hayat.

5.3. Pendidikan yang menekankan bahwa proses pendidikan berlangsung terus menerus sejak seseorang dilahirkan hingga meningeal dunia, baik dilaksanakan di jalur pendidikan formal, non formal maupun informal.

6. Perlunya Pendidikan Sepanjang Hayat

6.1. Keterbatasan Kemampuan Pendidikan

6.1.1. Banyak lulusan yang tidak dapat diserap dalam dunia kerja yang antara lain karena mutunya yang rendah.

6.1.2. Daya serap rata-rata lulusan sekolah yang masih rendah, karena pelajar tidak dapat belajar optimal.

6.1.3. Pelaksanaan pendidikan sekolah tidak efisien sehingga terjadi penghamburan pendidikan.

6.2. Perubahan Masyarakat dan Peranan Sosial

6.2.1. Globalisasi dan pembangunan mengakibatkan perubahan-perubahan yang cepat dalam masyarakat dan ikut mempengaruhi aspek-aspek sosial yang ada.

6.3. Pendayagunaan Sumber Daya yang belum optimal

6.3.1. upaya mengoptimalkannya

6.3.1.1. Penghematan dan optimalisasi dalam penggunaan sumber yang telah tersedia bagi pendidikan.

6.3.1.2. Perlunya penggalian sumber-sumber yang baru dan masih terpendam dalam masyarakat, serta yang dapat dimanfaatkan untuk memperlancar dan meningkatkan proses pendidikan.