MODIFIKASI PERILAKU

TUGAS UTS MODIFIKASI PERILAKU ADILFI RIYANDA JUANG1911010024

Get Started. It's Free
or sign up with your email address
MODIFIKASI PERILAKU by Mind Map: MODIFIKASI PERILAKU

1. Tunawicara (gangguan komunikasi)

2. Target Modifikasi Perilaku

2.1. Perilaku defisit (perilaku yang terlalu sedikit)

2.2. Perilaku excessive (perilaku yang terlalu banyak).

3. KONSEP DASAR

3.1. Pengertian perilaku

3.1.1. (Kegiatan, tindakan, dibicarakan manusia) yang dapat diukur serta berdampak ke lingkungan

3.2. Pengertian Modifikasi perilaku

3.2.1. Pengaplikasian sistematis prinsip-prinsip dan teknik belajar untuk menilai serta memperbaiki perilaku yang terlihat dan tidak terlihat untuk mengembangkan fungsi seseorang dalam kehidupan sehari-hari

3.3. Krakteristik modifikasi perilaku

3.3.1. Fokus pada perilaku,

3.3.2. prosedur sistematis

3.3.3. metode alasannya secara detail

3.3.4. Teknik dapat langsung diaplikasikan,

3.3.5. Teknik dan prosedur nya dikembangkan dari riset dasar dan terapan di studi pembelajaran

3.3.6. Menekankan pembuktian ilmiah

3.3.7. Menghargai semua pihak yang terlibat di dalam program modifikasi perilaku.

4. CIRI CIRI

4.1. Fokus pada perilaku (Focuses On Behaviour ) / Mengukur dan mengamati

4.1.1. Behafioral axceses (Perilaku negatif dikurangi)

4.1.2. (Behavioral deficit (Perilaku yang positif ditingkatkan)

4.2. Menekankan pengaruh belajar dan lingkungan (emphasizes influences of learding and the environment)

4.2.1. Orang

4.2.2. Objek

4.2.3. Peristiwa

4.2.4. Situasi

4.3. Mengikuti pendekatan ilmiah (takes a scientific approach)

4.3.1. Memakai Prinsip Psikologi belajar

4.3.2. Sebagai Stimulus

4.3.3. Dapat dipertanggungjawabkan

4.4. Menggunakan metode-metode aktif dan pragmatic untuk mengubah perilaku (uses pragmatic and active methods to change behavior)

4.4.1. Lebih mengutamakan aplikasi dari metode atau teknik-teknik yang telah dikembangkan dan mudah untuk diterapkan

4.4.2. Terlibat secara aktif

4.4.3. Memberikan tugas

5. PRINSIP DASAR

5.1. Pengertian Modifikasi Perilaku

5.1.1. Behavioristik aliran klasik, sebagai pengguna secara sistematik teknik kondisioning

5.1.2. Aliran behaviour analist, penerapan dari psikologi eksperimen seperti dalam laboratorium (diukur)

5.1.3. Menurut para Ahli

5.1.3.1. Eysenk, upaya merubah perilaku dan emosi manusia berdasarkan teori yang modern dalam prinsip psikologi belajar

5.1.3.2. Wolpe, yaitu penerapan prinsip belajar yang teruji secara eksperimental untuk mengubah perilaku tidak adaptif (dihilangkan) dan mengkukuhkan adptif

5.1.3.3. Hana Panggabean, penerapan dari teori skinner, behaviour therapy(terapi behavior) merupakan penerapan dari shaping (pembentukan TL bertahap), penggunaan positive reinforcement secara selektif dan extinction

5.2. Tujuan

5.2.1. Menghendaki adanya suatu perubahan dari hal negative menuju positif

5.2.2. Peningkatan perilaku yang dikehendaki

5.2.3. Pemeliharaann perilaku yang dikehendaki

5.2.4. Pengurangan atau penghilangan perilaku yang tidak dikehendaki

5.2.5. Perkembangan atau perluasan perilaku.

5.3. Prinsip Dasar

5.3.1. Kondisioning Respons (Clasiccal Conditioning).

5.3.1.1. Unconditioning Stimulus (US)

5.3.1.2. Unconditioning Respons (UR)

5.3.1.3. Netral Stimulus (NS)

5.3.1.4. Conditioning Respons (CR)

5.3.2. Kondisioning Operan (Operant Conditioning)

5.3.2.1. Metode pembelajarannya menggunakan hukuman atau memberikan suatu hadiah sebagai konsekuensi dari perilaku yang dilakukan oleh manusia

5.3.2.1.1. Memperkuat/ mengakibatkan mereka akan mendapat reward akan cenderung diulang terus.

5.3.2.1.2. Terjadinya reword akan meningkatkan kecepatan untuk terjadinya suatu respons

5.3.2.1.3. Akan menyebabkan manusia / individu aktif dalam pembelajaran

5.3.3. Modelling

5.3.3.1. Menggunakan penjelasan dari suatu penjelasan yang nantinya digunakan untuk memahami bagaimana kita/ individu belajar dari orang lain

5.3.3.2. Belajar dari kegagalan orang lain dan tidak mengikutinya

5.3.3.3. Fase

5.3.3.3.1. Fase perhatian

5.3.3.3.2. Fase Retensi

5.3.3.3.3. Fase reproduksi

5.3.3.3.4. Fase motivasi

5.3.4. Manfaat Mempelajari Prinsip Dasar

5.3.4.1. Tahap perencanaan, mudah , direncanakan, dibicarakan dan meminta izin klien yang akan dimodifikasi perilakunya

5.3.4.2. Rangkaian pelaksanaan dapat diubah dan dissuaikan dengan kebutuhan

5.3.4.3. Evaluasi (hasilnya tidak puas) dapat segera diganti dengan teknik yang lain agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai.

5.3.4.4. Membutuhkan waktu yang relative lebih singkat tentunya.

5.3.4.5. Memanfaatkan penelitian yang cermat mengenai cara lingkungan dapat mempengaruhi perilaku manusia terutama penelitian yang menggunakan prinsip proses belajar yang telah teruji dan terbukti dapat mengubah perilaku seseorang.

6. MASALAH PERILAKU (ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS)

6.1. Pengertian (ABK)

6.1.1. Memiliki kelainan dan keberbedaan dengan anak normal pada umumnya atau kelaianan/ bwaan lahir (memiliki kebutuhan khusus)

6.2. Jenis-Jenis (ABK)

6.2.1. Tunadaksa (Cacat Tubuh/fisik)

6.2.2. Tunanetra (Gangguan Penglihatan)

6.2.3. Tunarungu (gangguan Pendengaran)

6.2.4. Anak lambat Belajar (slow learner)

6.2.5. Tunagrahita (Retardasi Mental)

6.2.6. Kesulitan Belajar

6.3. Karakteristik

6.3.1. Tunanetra/ masalah dalam penglihatan (buta, buta fungsional dan low vision)

6.3.1.1. Pelayanan khusus (dengan menggunakan Brile, bidang timbul dan dibimbing untuk belajar mengenang lingkungan dengan perasa)

6.3.2. Tunarungu gangguan pendengaran (tuli dan kurang dengar)

6.3.2.1. Hilangnya fungsi pendengaran sejak usia dini

6.3.2.2. Mengalami miskin kosakata karena terhambatnya proses masuknya informasi berupa suara melalui telinga

6.3.3. Tunagrahita, maslah Intelegensi dibawah rata-rata

6.3.3.1. intelegensi normal manusia dengan Skala Binet berkisar antara 90-110

6.3.3.2. klasifikasi berdasarkan tingkat intelegensi adalah Ringan (IQ 65- 80)

6.3.3.3. Sedang (IQ 50-65), Berat (IQ 35-50)

6.3.4. Tunadaksa, gangguan motorik

6.3.4.1. Rusak atau terganggu/ abnormal atau organ tulang, otot, dan sendi tidak dapat berfungsi dengan baik

6.3.4.2. Club-foot (kaku kaki)

6.3.4.3. Club-hand (kaku tangan)

6.3.4.4. Polydactylism (jari lebih banyak)

6.3.4.5. Syndactylism (jari berselaput)

6.3.4.6. Torticolis (gangguan tulang leher)

6.3.4.7. Spina Bifida (abnormalitas sumsum tulang belakang)

6.3.5. Tunalaras mengalami permasalahan pada perilaku, sosial, dan emosional.

6.3.5.1. Merespon lingkungan yang menyimpang tanpa ada kepuasan pribadi namun masih dapat diajarkan perilaku baik.

6.3.6. Anak cerdas dan bakat istimewa

6.3.6.1. IQ di atas rata-rata serta dapat berprestasi

6.3.6.2. Apabila terjadi kegagalan, menutup diri, stress tinggi, sampai dengan bunuh diri

6.4. Cara menghadapi perilaku ABK

6.4.1. Berkolaborasi dengan seluruh elemen terkait

6.4.2. Membimbing dengan layanan khusus

6.4.3. Memberikan Support

6.4.4. Mengenalkan lingkungan

6.4.5. dan membimbing dengan sepenuh hadapi

6.5. Layanan Pendidikan ABK

6.5.1. Layanan Pendidikan Segregrasi

6.5.1.1. Sekolah Luar Biasa (SLB)

6.5.1.2. Sekolah Luar Biasa Berasrama

6.5.1.3. Kelas Kunjung

6.5.1.4. Sekolah Dasar Luar Biasa

6.5.2. Layanan Pendidikan Terpadu/Integrasi

6.5.2.1. Bentuk Kelas Biasa

6.5.2.2. Kelas Biasa dengan Ruang Bimbingan Khusus.

6.5.2.3. Bentuk Kelas Khusus

6.5.3. Bentuk Layanan Inklusif

6.5.3.1. Sangat bebas (kelas biasa penuh)

6.5.3.2. Paling berbatas (sekolah khusus sepanjang hari).