Get Started. It's Free
or sign up with your email address
KERATITIS by Mind Map: KERATITIS

1. DEFINISI

2. KLASIFIKASI

2.1. ETIOLOGI

2.1.1. Keratitis noninfeksius

2.1.1.1. Cedera karena goresan benda asing pada kornea

2.1.1.2. Pemakaian lensa kontak yang tidak benar

2.1.1.3. Paparan sinar matahari secara berlebihan, yang dapat menyebabkan photokeratitis

2.1.1.4. Sistem imun yang lemah

2.1.1.5. Kekurangan vitamin A

2.1.2. Keratitis infeksius

2.1.2.1. Bakteri

2.1.2.2. Virus

2.1.2.3. Jamur

2.1.2.4. Parasit

2.2. Resiko

2.2.1. Risiko rendah

2.2.2. Risiko sedang

2.2.3. Risiko tinggi

2.3. lapisan yang terkena

2.3.1. Keratitis Pungtata

2.3.1.1. Keratitis Pungtata Superfisial

2.3.1.2. Keratitis Pungtata Subepitel

2.3.2. Keratitis Marginal

2.3.3. Keratitis Interstisial

3. PENGLIHATAN

3.1. EYE ANATOMY

3.2. EYE HISTOLOGY

3.3. PENDARAHAN DAN PERSARAFAN

3.4. FISIOLOGI

3.5. BIOKIMIA

3.5.1. sel kerucut

3.5.2. sel batang

4. ETIOLOGI

4.1. Bakteri

4.1.1. Pseudomonas aeruginosa

4.1.2. Staphylococcus aureus

4.2. Virus

4.2.1. herpes simpleks

4.2.2. varicella-zoster

4.3. Jamur

4.3.1. Aspergillus

4.3.2. Candida

4.3.3. Fusarium

5. FAKTOR RESIKO

5.1. Memakai lensa kontak terlalu lama

5.2. Memakai lensa kontak saat tidur atau berenang

5.3. Tidak membersihkan lensa kontak dengan baik

5.4. Memiliki riwayat cedera pada kornea mata sebelumnya

5.5. Menggunakan tetes mata kortikosteroid untuk mengobati penyakit mata

5.6. Menderita penyakit atau menjalani pengobatan yang melemahkan sistem kekebalan tubuh

6. CMD

6.1. ANAMNESIS

6.1.1. Mata merah, nyeri, dan bengkak

6.1.2. Mata gatal atau terasa seperti terbakar

6.1.3. Mata menjadi sensitif terhadap cahaya

6.1.4. Mata terus menerus mengeluarkan air mata atau kotoran

6.1.5. Terasa seperti ada sesuatu di dalam mata

6.1.6. Penglihatan kabur atau tidak fokus

6.1.7. Sulit membuka mata

6.2. PEMERIKSAAN FISIK

6.2.1. Keratitis Marginal

6.2.1.1. blefarospasme pada satu mata

6.2.1.2. injeksi konjungtiva

6.2.1.3. infiltrat atau ulkus yang memanjang

6.2.1.4. dangkal unilateral dapat tunggal ataupun multipel

6.2.1.5. sering disertai neovaskularisasi dari arah limbus

6.2.2. Keratitis Interstisial

6.2.2.1. fotofobia

6.2.2.2. lakrimasi

6.2.2.3. menurunnya visus

6.2.2.4. keratitis sifilis kongenital

6.2.2.4.1. trias Hutchinson

6.2.2.5. keratitis tb

6.2.2.5.1. ada gejala tb

6.2.3. Keratitis Bakteri

6.2.3.1. hiperemis perikornea

6.2.3.2. blefarospasme

6.2.3.3. edema kornea

6.2.3.4. infiltrasi kornea

6.2.4. Keratitis Virus

6.2.4.1. Herpes simpleks

6.2.4.1.1. konjungtivitis folikularis akut disertai blefaritis vesikuler yang ulseratif

6.2.4.1.2. serta pembengkakan kelenjar limfe regional

6.2.5. Keratitis Jamur

6.2.5.1. Riwayat trauma terutama tumbuhan, pemakaian steroid topikal lama

6.2.5.2. Lesi satelit.

6.2.5.3. Tepi ulkus sedikit menonjol dan kering, tepi yang ireguler dan tonjolan seperti hifa di bawah endotel utuh

6.2.5.4. Plak endotel

6.2.5.5. Hipopion, kadang-kadang rekuren

6.2.5.6. Formasi cincin sekeliling ulkus.

6.2.5.7. Lesi kornea yang indolen.

6.2.6. Keratitis Acanthamoeba

6.2.6.1. ulkus kornea indolen

6.2.6.2. cincin stroma

6.2.6.3. infiltrat perineural

6.3. PEMERIKSAAN PENUNJANG

6.3.1. oftalmoskop

6.3.2. slit lamp

6.3.3. sampel cairan atau jaringan bola mata

6.3.4. Uji fluoresein

6.3.5. Pemeriksaan kerokan kornea

7. TATALAKSANA

7.1. Terapi Suportif

7.1.1. Sikloplegik Topikal

7.1.2. Analgesik

7.1.3. Vitamin A

7.1.4. Pengguna Lensa Kontak

7.2. Antibiotik Empiris

7.2.1. Pasien risiko rendah

7.2.2. Pasien risiko sedang

7.2.3. Pasien risiko tinggi

7.2.4. Antibiotik topikal nonkuinolon

7.3. Antibiotik Definitif

7.3.1. Aminoglikosida

7.3.2. Sefalosporin

7.3.3. Chloramphenicol

7.3.4. Makrolida

7.3.5. Fluorokuinolon

7.3.6. Keratitis Fungal

7.3.7. Keratitis Herpetik

7.3.8. Keratitis Acanthamoeba (Curigai pada Pengguna Lensa Kontak)

7.4. Terapi Imunosupresan

7.4.1. methylprednisolone intravena

7.4.2. Imunosupresan lainnya

8. KOMPLIKASI

8.1. Peradangan kronis pada kornea

8.2. Terbentuknya jaringan parut pada kornea

8.3. Robekan, luka terbuka, atau ulkus kornea

8.4. Penurunan penglihatan sementara atau permanen

8.5. Kebutaan

9. PROGNOSIS

10. PATOFISIOLOGI

10.1. BURAM

10.2. INFEKSI

11. DD MATA MERAH

11.1. Konjungtivitis

11.2. Keratitis/ tukak kornea

11.3. Iritis akut

11.4. Glaukoma akut

12. EDUKASI

12.1. definisi

12.2. obat

12.3. kontak lensa

12.4. kebersihan

12.5. vit a

12.6. komplikasi

13. PENCEGAHAN

13.1. Melepas lensa kontak sebelum tidur atau berenang

13.2. Mencuci tangan dan mengeringkannya sebelum memegang lensa kontak

13.3. Menggunakan produk pembersih yang khusus untuk lensa kontak

13.4. Mengganti lensa kontak secara teratur sesuai petunjuk penggunaan yang tertera pada kemasan atau bila lensa kontak sudah rusak

13.5. Rutin mencuci tangan menggunakan air dan sabun

13.6. Hindari menyentuh mata dan area sekitarnya dengan tangan yang tidak steril, terutama bila Anda sedang menderita herpes.

13.7. kenakan kacamata hitam yang dapat menangkal sinar UV